
...Terima kasih, ya sudah setia sama cerita Anggi dan Prana....
...Selamat membaca!...
***
Seorang cewek dengan rambut ikal gantung, berbadan mungil, dan berkulit putih tengah menyusuri tiap penjuru mal. Ia mengenakan hoodie tebal berwarna mocca dan light blue jeans bersama dengan sneakers putih favoritnya.
Ia terlihat celingukan dari tadi, sudah seperti anak hilang. Padahal, usianya sudah hampir 18 tahun. Namun, Anggi selalu menunjukkan wajah polosnya yang seperti anak-anak itu.
"Hayolo!"
Seseorang berhasil membuatnya terkejut. Siapa lagi kalau bukan Jesi si cewek cerewet?
"Ish! Lo itu bisa gak sih, nggak usah ngagetin gue? Kerjaan lo mesti gitu terus waktu di mal. Mana musti gue yang dateng duluan. Lama banget sih, Jesiku sayangku cintaku," protes Anggi kesal dengan sahabat ceweknya yang suka ngaret itu.
Sedangkan, Jesi justru cekikikan tidak tahu malu. " Ya mangap (maaf). Biasalah, nunggu abang gue. Nyebelin banget tuh anak emang, kalau disuruh nganter musti mandinya dilama-lamain. Yang lebih parah lagi kalau udah saking malasnya, dia malah nelantarin gue di pinggir jalan, terus dianya malah ngopi ke warung," jelas Jesi dengan muka tertekuk. Benar saja, kakak laki-laki Jesi itu memang tipe kakak yang menyebalkan.
Namun, siapa sangka kalau ternyata dia punya banyak fans di kalangan teman-teman Jesi? Parasnya yang tampan dan penampilannya yang cool dapat dengan mudah menggaet para kaum hawa yang memandangnya.
"Abang lo yang cakep itu? Siapa namanya? Gaksa, kan ya? Masa dia gitu sih, Jes? Sama sekali nggak kelihatan nyebelin kok setahuku," balas Anggi sambil mengerutkan kening.
"Yeu! Lo siapanya sok tahu gitu? Kan, gue adek kandungnya. Ya jelaslah gue tau sifat aslinya dia kaya gimana. Lo sama temen cewek-cewek kita itu ketipu sama wajah gantengnya dia." Jesi melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya menyiratkan ketidaksukaannya pada sosok kakak laki-lakinya itu.
Anggi yang melihatnya seperti itu lantas hanya bisa terkekeh. "Iya-iya, Eneng Jesi. Emangnya lo gak pernah apa naksir sama abang lo sendiri? Eum, bukan itu maksud gue. Ya, kaya mengagumi aja gitu. Kan, cakepnya di atas rata-rata tuh." Anggi mengucap sekenanya. Aneh sekali bila mendengar pertanyaan semacam itu. Namun, sebenarnya memang pertanyaan itulah yang setiap hari dikonsumsi oleh Jesi.
"Gila apa gue kagum apalagi naksir sama abang gue sendiri. Amit-amit dah. Ogah pake banget, anjr*t!" umpatnya sekesal-kesalnya. Cewek itu juga mengedikkan bahu geli.
"Kali aja jodoh lo abang lo sendiri, Jes. Abisnya, lo jomblo terus sih. Buruan cari cowok sana." Anggi terkekeh dengan kalimat yang dilontarkannya sendiri.
Sementara, Jesi langsung memelotot pada sahabat ceweknya itu. "Iya-iya yang udah punya suamik. Lagian, nyari cowok yang cocok nggak segampang itu kali, Nggi. Gak bisa langsung comot kaya Dion yang suka main comot waktu gue makan gorengan di kantin. Dan soal abang gue tadi, lo ada masalah idup apa sih, Neng Anggi? Kok pikiran lo bisa sejauh itu. Hilang kata gue," balasnya sambil geleng-geleng kepala.
Anggi cengengesan. "Nggak ada sih. Masalahnya sekarang, kita udah ngebuang waktu banyak, Beb. Yuk! Langsung ke Gramedia aja," ajak Anggi antusias.
__ADS_1
Sejujurnya, Jesi merasa malas apabila berhadapan dengan rak-rak buku. Namun, ia sering memaksakan diri demi sahabat satu-satunya itu. Jesilah sahabat yang selalu mau menerima kelebihan dan kekurangan Anggi selama ini, begitu juga sebaliknya.
"Heran gue sama lo, Nggi. Kenapa bisa cinta bener ama nih benda sih? Apanya yang menarik? Malah bikin mata capek aja," ujar Jesi sambil membolak-balik benda bernama novel itu. Masih adakah orang seperti Jesi di bumi ini? Padahal, novel dan buku itu sangat menyenangkan.
"Lo sih, hidup di zaman manusia purba. Novel itu seru banget, tau gak sih lo? Kita bisa berhalu ria dari sini. Coba deh, lo sekali-kali baca bentar aja. Pasti bakal nagihin, gue berani taruhan deh," kata Anggi sambil tertawa lepas.
Sementara, Jesi hanya bisa cemberut mendengarnya. "Lagian juga gak lo beli, Nggi," ejeknya sambil menyeringai.
"Biarin. Pengin cuci mata aja sih sebenernya. Lagian, yang di rumah banyak yang belum sempat kebaca," jawab Anggi sambil menjulurkan lidahnya.
"Ya iyalah, orang lo pasti sibuk ngurusin urusan rumah. Belum lagi ngurusin suami lo yang baperan itu, ya nggak?" Jesi ceplas-ceplos sambil tertawa renyah. Bisa-bisanya mengatakan suami Anggi itu baperan.
"Bisa aja lo, Jes."
"Ngomong-ngomong, gimana masalah lo tempo hari? Udah kelarkah? Gue gak abis pikir sama si cabe-cabean itu. Bisa-bisanya kasih fitnah yang nggak-nggak ke suami lo. Dasar pembawa kayu bakar emang tuh tante gir*ng," cibir Jesi geregetan dengan cewek bernama Nita itu. Cewek super menyebalkan yang sukanya membuat onar saja.
"Hus! Gak boleh ngomong kaya gitu. Gue yakin kalau Nita itu sebenernya orang baik kok. Mungkin, belum sadar aja. Lagian masa-masa remaja kaya kita gini emang masih proses pembentukan jati diri, kan? Dan soal masalah tempo hari itu, ya bisa dibilang Alhamdulillah. Cuma, gue butuh waktu aja buat menyendiri. Sekali-kali biar Mas Prana juga lebih peka lagi," jelas Anggi dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. Membayangkan wajah suaminya yang sekarang semakin menggemaskan membuatnya jadi senyum-senyum sendiri.
"Ih, lo mah gitu. Doa yang baik-baiklah sekali-kali buat gue. Gue gak bermaksud apa-apa, Jes. Sebenernya cuma pengin ngerjain dia aja," kata Anggi sekenanya.
"Anggi?"
Suara berat itu berhasil membuat Jesi dan Anggi yang semula fokus dengan novel jadi menoleh. Suaranya terdengar asing di telinga keduanya. Dua cewek itu saling tatap sejenak dengan pandangan herannya masing-masing.
Siapa yang tiba-tiba datang dan langsung menyapa namanya? Kenal saja tidak. Anggi mencoba mengingat-ingat lagi, apakah ia pernah melihat dan mengenal wajah itu sebelumnya? Namun, nihil. Anggi benar-benar tidak pernah bertemu dengan orang tersebut.
"Iya? Maaf, Mas siapa ya?" tanyanya bingung.
Pandangan Jesi menyelidik dari ujung kaki sampai ujung kepala cowok di hadapan mereka kini. "Siapa lo? Jangan-jangan lo pembunuh bayaran, ya?" tanya Jesi dengan nada menantang. Cewek itu sudah seperti seorang laki-laki saja. Tidak ada kelembutannya sama sekali.
"Hus! Apaan sih, Jes?" Anggi memperingati sambil menyenggol lengan Jesi.
Cowok itu tertawa merespon kecurigaan Jesi. "Bukan, gue bukan pembunuh bayaran. Kalian jangan salah paham dulu. Gue cuma mau kenalan. Kenalin, nama gue Saka." Cowok itu mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Namun, Jesi justru menangkisnya. Ia masih was-was dengan cowok asing itu. "Ya. Gak usah jabat tangan segala," balasnya dingin dan judes, membuat cowok yang ternyata bernama Saka itu semakin tertawa.
"Jes," ujar Anggi sembari mendelik, gemas dengan sikap berlebihan yang ditunjukkan sahabatnya.
"Lo pasti Anggi, kan. Dan ini?"
"Jesi."
"Oh, ya. Jesi."
"Mau ngapain sih, lo sebenernya? To the point ajalah." Jesi mulai jengah karena Saka terdengar basa-basi saja, membuang waktu.
"Gue pengin nyampaiin satu hal ke Anggi."
"Hah? Gue?" Anggi menunjuk dirinya sendiri lalu menatap Jesi yang juga menatapnya dengan raut wajah yang sama bingungnya.
"Iya, soal Prana sama Nita."
"Suami gue sama Nita? Kenapa? Ada apa?"
"Iya, bener. Tapi, nggak di sini."
***
[Baca sampai akhir, ya]
Halo, teman! Semoga hari kalian menyenangkan, ya.
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini. Biar gak sider aja hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.
__ADS_1