
Pagi ini Anggi bangun tanpa ada sosok suaminya tercinta di sampingnya. Biasanya Prana akan memberinya sebuah kecupan hangat di kening dan pipi. Namun, kali ini cowok itu menghilang.
Namun, Anggi sama sekali tak risau. Suaminya memang sudah berpesan semalam. Katanya, hari ini jadwal kantor amat padat. Selepas salat Subuh, pagi-pagi buta ia harus sudah mengendarai mobil mewahnya menuju kantor perusahaan miliknya. Meski Prana merupakan pemilik perusahaan yang bisa datang kapan saja dia mau, namun ia sama sekali tak ingin berleha-leha dan memanfaatkan statusnya tersebut.
Baru seminggu jadwalnya longgar, panggilan tugas sudah menariknya lagi dari Anggi. Biarlah cewek itu mulai terbiasa tanpa suaminya. Siapa tahu ke depannya jadwal perusahaan jauh lebih padat, bukan? Bisa-bisa Anggi bahkan tak dapat menemui Prana seharian penuh. Yang lebih parah, jika ternyata ada klien yang berada di luar kota. Alhasil, Anggi mau tidak mau harus menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR).
Cewek itu perlahan keluar dari zona nyamannya. Langkah kakinya sedikit gontai, ia bawa menuju lantai bawah untuk memasak. Berhubung suaminya tak di rumah. Hari ini ia berniat untuk memasak sendiri. Rasanya tangannya sudah gatal karena tak memegang bumbu dan peralatan dapur sejak lama.
"Loh, Mbak Anggi? Mbak Anggi lagi apa di dapur?"
Ijah baru saja melintas dan langsung terhenyak saat mendapati majikan perempuannya sedang berada di dapur. Sontak, perempuan itu segera berlari kecil menghampiri Anggi dengan perasaan campur aduk.
"Aduh-aduh, Mbak. Kenapa di dapur? Mau memasak? Biar saya saja, Mbak yang memasak. Mbak Anggi istirahat saja di kamar. Duh, nanti saya kena marah Tuan Muda, Mbak." Ijah mulai panik sendiri. Perempuan itu terus berusaha membujuk majikannya itu untuk menurut.
Bukannya kurang ajar atau apa, pasalnya Prana sudah mewanti-wanti Ijah untuk memastikan Anggi supaya tidak melakukan pekerjaan rumah. Apa pun alasannya dan sekecil apa aktivitasnya. Berlebihan memang, tapi itulah Prana. Jika sudah perhatian sekali, akan overprotective pada istrinya. Apalagi Anggi sedang menjalani program hamil saat ini.
"Mbak Ijah ini. Sudah kaya apa saja. Saya nggak apa-apa kok, Mbak. Gak perlu khawatir. Kan, cuma memasak biasa. Lagian, Mas Prana nggak bakal tahu kok, Mbak. Santai saja. Mbak Ijah istirahat dulu saja hari ini, biar saya yang memasak," balas Anggi dengan senang hati.
Perlakuan Ijah itu membuatnya menahan tawa. Ya, memang benar kalau dia sedang berusaha mematuhi perintah majikannya. Tapi, tak perlu ikut berlebihan juga, kan seharusnya? Lucu memang.
"Tapi, Mbak. Mbak, kan juga tahu sendiri saya sudah dipesani Tuan Muda untuk melarang Mbak bekerja. Sudah, Mbak Anggi saja yang istirahat. Lagipula saya juga ikut khawatir lho, Mbak semenjak Mbak Anggi ikut program hamil. Badannya harus fit, sehat, jangan kecapean apalagi mikir yang enggak-enggak." Ijah tak menyerah. Ia terus membujuk majikannya itu. Rasa-rasanya memang Anggi seharusnya menurut supaya programnya bisa maksimal.
Anggi geleng-geleng kepala mengetahui kalau asisten rumah tangganya itu ternyata jadi ikut overprotective seperti suaminya. "Mbak Ijah ini, nggak perlu khawatir yang berlebihan sama saya. Saya bisa jaga kesehatan tubuh saya kok, Mbak. Lagipula, kan kalau nggak gerak sama sekali juga bisa bikin badan sakit, Mbak. Sudah, nggak papa sekali-kali gerak, Mbak. Nanti biar saya bilang kalau ini masakan Mbak Ijah supaya Mas Prana nggak marah-marah. Sudah, Mbak Ijah istirahat saja," suruh Anggi dengan penuh keseriusan dan lemah lembut. Yang dibicarakannya ada benarnya juga. Sebaiknya ia juga tidak terlalu dimanjakan karena terlalu sering rebahan juga tidak baik, kan?
"Tapi, Mbak-"
"Sudah, nggak papa. Oh iya, nanti saya kepengin anter ini ke kantor sekaligus pengin ketemu sama para pegawai. Nanti saya minta tolong dianterin Mas Ojek saja, Mbak. Mbak Ijah jaga rumah, ya? Saya nggak bakal lama, kok." Anggi menjelaskan keinginannya hari ini. Belum pernah cewek itu berkunjung ke kantor suaminya sendiri.
Bukan tanpa alasan, Prana memang melarangnya untuk berkunjung. Bukannya Prana malu atau apa, namun katanya kantornya terlalu ramai dan Anggi akan cepat merasa bosan di sana. Namun, bukan Anggi namanya kalau tidak kukuh pada pendiriannya sendiri. Keinginannya hari ini sudah bulat, Anggi akan berkunjung dan mengantar sarapan untuk suaminya tercinta itu.
"Baik, Mbak. Mbak Anggi yang hati-hati, ya."
__ADS_1
"Siap, deh."
***
Seorang cewek dengan pakaian sederhana, kaos lengan pendek dengan outer rajut yang menutupi lengannya beserta kulot dan flatshoes favoritnya, sedang berjalan menuju gedung yang menjulang tinggi di tengah-tengah kota.
Bangunan raksasa itu memang cukup berhasil membuatnya deg-degan. Pasti isinya orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi. Pasti akan banyak orang berjas dan berpakaian sangat rapi di dalamnya. Sedangkan Anggi, ia justru berpakaian ala kadarnya dan sama sekali tak memoles wajah. Bagaimana jika nanti Prana malu dengan penampilannya yang seperti itu?
"Bodoh banget sih, Anggia." Ia merutuki dirinya sendiri.
Di depan, para penjaga sudah menyambutnya dengan sangat hangat. Anggi sampai kikuk dibuatnya.
"Pagi, Nyonya," sapa dua penjaga itu.
Anggi lantas tersenyum ramah. "Pagi," balasnya.
"Nyonya Virgo hari ini cantik sekali," lanjut mereka.
Tanpa ba-bi-bu, istri pemilik perusahaan itu segera masuk. Tak lupa kotak bekal sarapan yang sudah disiapkannya dari rumah tadi di bawa di kedua tangannya. Ia tampak bersemangat sekali pagi ini. Membayangkan wajah suaminya yang terkejut karena kedatangannya tiba-tiba.
"Nyonya Virgo? Ini Nyonya Virgo, kan?"
Suara seorang perempuan itu berhasil membuat Anggi menghentikan langkah. Ia menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan bingung. Siapa, ya? tanyanya dalam hati.
"Wah, iya. Ini pasti Nyonya Virgo, kan? Apa kabar, Nyonya?" sapa perempuan tadi dengan mata berbinar. Sudah seperti seorang fan yang baru bertemu dengan idolanya.
"Iya. Eum, Mbak siapa, ya?" tanyanya spontan. Duh, haruskah Anggi menanyakan itu? Rasanya sedikit aneh kalau dipikir lagi.
Perempuan itu terkekeh kecil dan Anggi tak tahu apa maksudnya. "Saya kepala manajer di sini, Nyonya. Perkenalkan, nama saya Yuni," jeda celingukan, "Nyonya kemari seorang diri? Tidak ada yang menemani Nyonya memangnya?" tanya perempuan yang tak lain ternyata adalah kepala manajer di perusahaan Prana, bernama Yuni. Dilihat dari sikapnya, sepertinya merupakan seorang yang ramah dan lembut. Sekiranya itulah yang ditangkap Anggi di pertemuan pertama mereka ini.
"Oh, iya, Mbak Yuni. Saya memang sengaja kemari sendirian," jawab Anggi sembari tersenyum hangat. Ia memang sengaja memanggilnya 'Mbak' karena pasti usia perempuan itu berada di atasnya.
__ADS_1
Yuni tiba-tiba berubah antusias. Ia tersenyum lebar seolah baru menemukan ide cemerlang. "Ya udah, Nyonya mau tur gratis nggak? Saya yang akan jadi pemandu. Kalau Nyonya berkenan sih," tawarnya dengan hati-hati.
Istri Prana itu pun segera tersenyum tipis. "Boleh, Mbak. Tapi, ini nggak ganggu Mbak Yuni memang?" tanyanya balik. Takut kalau saja ternyata ia justru merusuhi pekerjaannya.
"Sama sekali enggak, Nyonya. Saya kebetulan lagi agak longgar hari ini. Jadi, saya buat menemani Nyonya tur saja, mumpung ketemu ini. Perdana lagi," jeda kekehan kecil, "mari, Nyonya Virgo. Oh iya, manggil saya Yuni saja, Nyonya. Nggak enak didengar pegawai lain," katanya menjelaskan. Katanya, memang sudah etikanya begitu.
"Mari. Mbak, eh, Yuni manggil saya Anggi saja nggak papa. Santai saja," ujar Anggi. Supaya tidak aneh didengar di telinganya saja.
***
"Jadi, itu tadi kira-kira gambaran perusahaan kita, Nyonya, eh, Anggi. Ya Allah, maaf, Nggi. Sering kelupaan."
Mereka berada di kantor pegawai bagian D sekarang. Tujuan terakhir Yuni dan Anggi untuk tur singkat kali ini. Anggi tak henti memuji tiap sudut ruangan, juga para pegawai yang terlihat sangat serius dan fokus pada pekerjaannya masing-masing. Tak ayal bila perusahaan suaminya bisa sebesar ini sekarang.
Anggi terkekeh mendengarnya. "Nggak papa, Yun," balasnya santai.
"Eh, itu bukannya suaminya Tuan Prana, ya? Kok kucel amat, sih?"
"Hus, jangan keras-keras. Nanti dia dengar."
"Ya emang kok. Lagian kenapa sih, Tuan Prana nggak milih cewek lain aja? Masih banyak tau cewek-cewek seksi dan cantik di luar sana. Si Nyonya Virgo itu emangnya nggal takut apa kalau suaminya diembat cewek lain yang lebih bohay dan cantik?"
***
[Baca sampai akhir, ya]
Sementara, sampai sini dulu ya buat bab ini. Hehe. Nggak papa, kan?
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK.