
Keluarga yang bahagia, Nisa memeluk kedua putranya sangat erat ketika hendak tidur. Seakan takut salah satu dari mereka pergi dari hidupnya lagi.
"Lalu, aku tidur di mana?" Vans menatap kedua putranya yang mendampingi istrinya. Sehingga dia tidak mendapatkan cela untuk mendekati sang istri. Padahal dia juga ingin memeluk istrinya ketika tidur.
"Selama 12 tahun aku tidak ada di dekat mommy ku. Maka biarkan aku untuk mendekatinya selamanya. Jangan coba coba ganggu aku!" peringat Sean dengan tatapan tajam tertuju pada papi nya. Begitu juga dengan Aeron. Mereka terlihat sangat kompak bola melawan Vans
"Selama 12 tahun aku bersama mommy, aku tidak pernah merasa puas. Jadi, jangan coba coba menyingkirkan aku!" ujar Aeron pula. Dia memberi kode pada kakaknya dan mereka menatap sinis pada Vans.
Nisa tertawa melihat tingkah lucu kedua putranya. Dia merasa bahagia melihat suami dan kedua putranya saling memperebutkan dirinya.
Beginilah yang Nisa inginkan, keluarganya adalah miliknya. Tidak boleh satu orang pun bisa memisahkan mereka.
"Ini tidak adil, sayang ayo kemari lah. Aku sudah merindukan mu" rengek Vans. Namun tidak di hiraukan oleh Nisa. Dia memilih memeluk lengan Aeron dan Sean.
Melihat itu Vans menekuk wajahnya,dia duduk di sofa memperhatikan kemesraan mereka semua.
"Pilih kasih" rutuknya.
Di tempat lain, seseorang juga merasa bahagia. Dia kembali menyatu dengan keluarga yang telah lama hilang.
Sinta memeluk Edo yang ternyata adalah adik kandung Sinta. Selain membantu Aeron, Sinta ternyata memiliki musuh yang sama dengan Aeron. Dia kehilangan jejak Jessy setelah wanita itu operasi plastik.
Sudah bertahun tahun Sinta mencari keberadaan adiknya. Edo di culik sejak dia masih kecil.Memang bukan Jessy yang menculiknya, namun Fran yang melakukan nya.
Edo memiliki otak genius, dia sejak kecil sudah bisa menciptakan racun sekaligus penawarnya. Dia juga jago dalam teknologi. Karena itu lah banyak yang mengincar bocah itu sejak kecil.
"Kalian kakak adik?" suara seseorang membuat Sinta dan Edo mengurai pelukan mereka.
Sinta menatap Edo, dengan senyum penuh kebahagiaan dia mengangguk.
"Sudah 20 tahun kami kehilangan dia, Papa dan mama ku sampai stress karena memikirkan dia yang mungkin menjadi mall praktek oleh orang orang berbisnis gelap!" tutur Sinta, tanpa sadar air matanya menetes membayangkan bagaimana rasa khawatir mereka dulu.
Sekarang dia sudah bisa bernafas lega, Edo sudah kembali.
"Kak, maaf. Aku tidak bisa kembali. Aku tidak mengingat apapun, karena itulah aku tidak bisa kemana mana. Mereka terus memberi ku obat yang aku ciptakan sendiri. Namun tidak ada penawarnya. Hanya menunggu dosisnya habis barulah bisa kembali seperti semula" jelas Edo memohon agar kakaknya tidak kecewa kepadanya.
"Tanpa kamu jelaskan pun kakak sudah tahu sayang. Kakak tidak akan mengalahkan kamu, aku sayang pada mu" Sinta kembali memeluknya. Dia tidak bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya dia di pertemukan kembali dengan sang adik.
Abay yang mendengar kisah mereka ikut meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya dia terharu dengan kisah orang lain selain Nisa.
__ADS_1
"Abai" Sinta menghadap Abai, pria yang tanpa sengaja membantu dirinya menemukan Edo.
Sinta berdiri di depan Abai, pria yang diam diam mencuri hatinya.
"Terimakasih, kamu sudah membantu aku"
"Untuk apa, aku tidak melakukan apapun" ujar Abai tersenyum canggung.
"Eh"
Abai terkejut, tiba tiba Sinta memeluk dirinya. Untuk beberapa detik abai terdiam, kemudian membalas pelukan Sinta.
Mereka mengabaikan Edo yang saat ini mengerucutkan bibirnya kesal. Bisa bisanya mereka bermesraan di hadapannya.
...----------------...
Tepat pukul 12 malam, Nisa bangun dari tidurnya. Dia membiarkan kedua putranya tidur dan suaminya di atas ranjang bersama. Sedangkan dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Nisa membersihkan dirinya, kemudian dia mengenakan pakaian berwarna gelap terang. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan datar dan terlihat mengerikan. Persis seperti iblis berhati malaikat, begitulah penampilan Nisa saat ini.
Penampilan dan aura Nisa sangat berbeda dari biasanya.
Nisa keluar dari kamar, tatapannya tampak sadis. Entah apa yang membuat dirinya berubah seperti ini.
Vans terbangun, dia terkejut melihat penampilan Nisa yang berbeda. Dia mengikuti kemana istri nya pergi.
"Ke tahanan?" gumam Vans heran, apa yang ingin istrinya lakukan di gedung tahanan. Dia terus mengikuti Nisa masuk ke dalam tahanan Jessy.
krang!
Suara hempasan jeruji besi mengejutkan seorang wanita yang sedang terduduk lemah. Kaki dan tangannya di rantai.
"Nisa?" bibir Jessy bergetar, tatapan matanya tersirat rasa takut ketika melihat dan merasakan aura Nisa.
"Apa kabar Jesica, apa kau nyaman di kamar baru mu? apa aku harus menambah beberapa mainan agar kamu merasa nyaman?" suara Nisa terdengar mengerikan. Dia mengeluarkan beberapa alat yang menurutnya adalah mainan untuk Jessy.
Vans yang melihatnya juga terkejut, dia menekan salivanya susah payah.
Istrinya terlihat sangat mengerikan, berbeda ketika mereka tengah bersama. Sangat lembut dan hangat.
__ADS_1
Jesica menggeleng, berusaha menghindari alat setrum yang akan Nisa arahkan padanya. Tak beberapa detik kemudian, terdengar suara Jesica berteriak.
"Arrgg.... Hentikan!! Sakit!!!"
"Hahaha..." mendengar suara erangan kesakitan dari Jesica, membuat Nisa merasa sangat bahagia.
"gila, bini ku benar benar sadis." batin Vans bergidik ngeri.
"Teruslah mengerang kesakitan, aku menyukainya!"
Jessica menghembuskan nafas lega, Nisa menghentikan alat itu. Namun, baru menghembuskan nafas lega, Jessika kembali merasa ketakutan. Dia beringsut menjauh dari Nisa. Namun, rantai yang mengikat jarinya seakan melarangnya pergi.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mati Jessica, setidaknya aku bisa membuat kamu memohon agar kamu meminta aku membunuh mu!" senyum menyeringai terukir mengerikan di wajah Nisa. Dia seakan menjadi malaikat maut bagi Jessica.
Jessica berteriak, memohon agar Nisa membunuhnya saja. Sesuai seperti yang Nisa inginkan. Namun, dia tidak akan memberikan semudah itu. Dia ingin Jessica menikmati renggangan nyawanya sendiri.
Setelah puas menyiksa Jesica, Nisa mengeluarkan sebotol air mineral dari saku baju nya. Kemudian memperlihatkan pada Jessy.
"Apa kamu harus teman?"
Jessica mengangguk, dia berusaha meraih botol itu dari tangan Nisa. Namun, dengan sadisnya Nisa melempar botol itu di depan Jesica kemudian menginjak tangan Jesica ketika wanita itu hendak meraih botol yang memiliki sedikit sisa air.
"Arrrrgg... " teriakan Jessica melengking sampai ke langit ke tujuh. Runcingnya heels yang Nisa pakai menembus ke tulang belulang telapak tangannya. Bahkan suara sobekan terdengar jelas di telinganya.
"Bagaimana, apa kamu suka air nya? nikmat bukan?" ucap Nisa tersenyum puas.
"Kamu sungguh kejam Nisa, aku tidak menyangka wanita sehangat kamu ternyata memiliki sisi kejam juga" ujar seseorang.
Nisa sudah tahu itu suara siap, dia tidak perlu berbalik untuk melihatnya.
"Istri ku yang cantik" Vans berdiri di samping Nisa, menatap wajah menderita Jesica yang semakin memohon di bunuh saja dari pada di siksa perlahan begini.
Semenjak itu, tidak adalah yang berani mengganggu keluarga mereka. Nisa dan anak anaknya hidup damai dan bahagia dengan kebersamaan mereka.
Reno dan Reina turut hidup bahagia, begitu juga dengan Abai dan Sinta yang melangsungkan pernikahan sebulan setelah melakukan masa pendekatan.
Sedangkan Aeron, dia merasa sangat bahagia karena berhasil mewujudkan janjinya pada sang mommy.
Happy reading.
__ADS_1