Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Malam yang Hangat (Semoga Kita)


__ADS_3

Anggi masih setia mengurung diri di dalam kamar. Istri dari Prana itu masih belum mau berinteraksi dengan suaminya. Selesai merampungkan buku romannya sampai bab terakhir, cewek itu beralih menulis cerita di laptop.


Menulis merupakan kegiatan yang paling membuatnya nyaman. Dengan menulis, ia dapat menuangkan semua isi kepalanya yang tidak bisa ia ungkapkan secara langsung melalui lisan ke dalam kata-kata, frasa, dan kalimat


Sialnya, di saat seperti ini perutnya tiba-tiba keroncongan. Padahal, ia sedang malas-malasnya bergerak apalagi untuk turun ke bawah. Baru saja Anggi mengeluhkan perutnya, tiba-tiba seseorang datang dan mengetuk pintu kamarnya.


Cewek itu acuh. Ia tidak mau membuka karena sudah menyangka kalau orang tersebut tak lain adalah Prana, suaminya. Anggi berdecak sebal. “Aku tahu itu pasti kamu, Mas. Aku nggak mau bukain pintunya," ujarnya terang-terangan. Kedua matanya masih fokus menatap lurus ke layar laptop di hadapannya.


Nyali Prana segera menciut. Namun, ia tidak boleh menyerah secepat ini. “Buka dulu dong. Nanti nyesel lo,” iming-imingnya.


Namun, Anggi sama sekali tak tertarik dengan ucapan Prana itu. “Nggak mau,” tolaknya lagi-lagi dengan sedikit berteriak malas.


Seolah mendapat ide brilian, Prana iseng menaruh bungkus tahu lontong yang ia beli di depan kompleks tadi di sela-sela ventilasi atas pintu kamar Anggi. Cowok itu terkekeh kecil saat membayangkan bagaimana reaksi istrinya nanti.


Di dalam kamar, Anggi mengendus kala mencium bau-bau yang menggugah selera dan semakin membuat cacing-cacing berdemo di dalam sana. “Kok bau tahu lontong, ya?” gumamnya sambil mengikuti sumber aroma.


“Yakin nih nggak mau? Awas aja nyesel gara-gara udah habis aku makan nanti," goda Prana di luar sana.


“Mas Prana!”


Ceklek!


Tanpa mau membuang waktu lagi, Anggi segera membuka pintu dan langsung mendapati suaminya sedang duduk di lantai, bersiap hendak memakan sebungkus tahu lontong di tangannya. Anggi yang melihat hal tersebut lantas cepat-cepat merebutnya. Namun, Prana juga tidak tinggal diam. Cowok itu segera menarik dan menjauhkan tahu lontong di tangannya dari jangkauan istrinya.


“Eits, nggak semudah itu. Ada syaratnya dulu dong,” ujarnya sambil menarik salah satu ujung bibirnya, membentuk sebuah seringai senyum jahil.


“Ih, Mas Prana jahat!” protes Anggi sembari melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang muka. Bagaimana bisa suaminya usil seperti itu saat perutnya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi?


Prana segera mencubit pipi istrinya dengan gemas. “Ngambek mulu ih kamu. Sini, ikut aku," ajaknya sambil menggandeng tangan Anggi secara tiba-tiba.


Anggi lantas menepis tangan suaminya itu. “Aku nggak mau," tolaknya sambil membuang muka.


Lalu, tiba-tiba saja Prana menggendong tubuh Anggi di pundaknya, membuat istrinya itu meraung kesal dan memukuli punggungnya. "Mas! Turunin aku!" perintahnya, namun diacuhkan oleh suaminya.


Sampailah mereka di sini. Ternyata Prana membawa Anggi ke balkon kamarnya. Cowok itu menurunkan tubuh istrinya secara perlahan.


"Berat juga ya, kamu."


"Salah siapa main gendong gitu aja."


Anggi mengalihkan pandangannya ke luar balkon. Cewek itu ber-wow ria setelahnya. Pemandangan seluruh kota tampak jelas dari sana. Sudah seperti bintang-bintang di langit yang berkerlipan sana-sini.

__ADS_1


Anggi melangkah maju perlahan untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas lagi. “Wah! Kok bisa sih, Mas?” kagumnya.


Prana juga turut mengikuti istrinya di sampingnya. “Baru tahu, kan kamu?” tebaknya benar, Prana memang menyembunyikan sisi lain di rumahnya ini dari Anggi selama ini. Wajar saja istrinya itu baru tahu dan terkagum-kagum sendiri.


“Ini mah keren banget.”


“Suka?”


“Suka, Mas.”


“Sama aku?”


“Su- Enggak!”


Prana terkekeh kecil mendengarnya. “Tahu lontongnya masih di tangan aku loh,” ujarnya lagi-lagi mengejek.


“Ih, curang kamu,” protes Anggi sambil meninju pelan lengan kanan suaminya.


Prana lalu mengajak Anggi duduk di bangku ujung sana. Pemandangan kota di malam hari akan lebih indah terlihat dari sana. Semilir angin berembus dengan irama yang menenangkan. Namun, mereka merasakan kehangatan di tengah-tengah kota ini.


“Syaratnya kamu harus aku suapin.” Prana memulai dan setelahnya membuka bungkus tahu lontong di tangannya.


“Tapi-"


“Ih, kok gitu sih? Curang.” Anggi menggembungkan kedua pipinya, membuat suaminya semakin gemas karenanya.


“Biarin," balas Prana sambil menjulurkan lidahnya.


“Ya udah, aaa.” Anggi mulai membuka mulutnya, bersiap menerima sesuap tahu lontong dari Prana.


Cup!


Bukannya menyuapi istrinya dengan tahu lontong, Prana justru menciumnya singkat. Anggi tertegun sesaat dan langsung mencebik setelahnya. “Mas Prana! Aku, kan maunya tahu lontong bukan bibir kamu," katanya dengan kesal.


Prana lantas tertawa lepas melihat ekspresi istrinya. “Tapi kamu suka, kan?” godanya sambil mengangkat salah satu alisnya.


Dengan cepat Anggi memalingkan wajahnya. “Enggak. Aku marah lagi sama kamu. Kan, kamu belum izin sebelum cium aku,” gerutunya kesal dengan perlakuan tiba-tiba dari suaminya tadi.


“Jutek banget sih kamu. Mau nyium istri sendiri harus izin dulu ya?” tanyanya.


“Iya dong, harus. Udah ah, laper. Mana tahu lontongnya?" desaknya karena perutnya lagi-lagi bergejolak.

__ADS_1


Prana pun segera mengakhiri keusilannya dan mulai menyuapi istrinya dengan lembut dan telaten. Ia tersenyum tipis saat melihat raut wajah istrinya yang mulai kembali seperti biasanya, sudah tidak judes lagi.


“Enak, Mas," komentar Anggi segera setelah tahu lontong tadi sudah menyelam ke dalam perutnya.


“Kapan sih kamu bilang kalau tahu lontong itu nggak enak?” sindir Prana sambil cekikikan. Anggi hanya bisa menyengir mendengarnya.


“Tetep tersenyum dan ceria ya, istriku,” ujar Prana mendadak melow.


Tangan Prana tergerak menghapus belepotan di ujung bibir Anggi dengan lembut. “Semoga kita bisa gini terus," katanya lagi.


Anggi lantas hanya bisa membatin, Tapi, dengan sifat kamu yang kaya gitu, aku nggak yakin, Mas. Aku takut berekspetasi terlalu tinggi.


“Kamu nggak usah ragu, ya," ujar Prana seolah bisa membaca isi kepala istrinya.


Mas Prana ini bisa telepati apa gimana sih? Kok dia tahu isi pikiran aku?


batin Anggi lagi.


Prana tersenyum hangat. “Kamu jangan takut. Dulu kamu udah berjuang demi aku. Kini waktunya aku yang bahagiain kamu. Aku janji kalau aku-“


Anggi segera memotong, “Jangan janji ya, Mas?”


“Kenapa nggak boleh janji?”


tanya Prana langsung mengerutkan dahinya.


Anggi tersenyum tipis. “Karena nggak semua janji bisa ditepati. Karena kita cuma manusia biasa yang sering lupa, terutama terhadap janji yang kita ikrarkan sendiri," jelasnya tegas membuat Prana jadi kagum sendiri mendengarnya.


“Beruntungnya aku punya kamu, Nggi.”


Kamu udah bener-bener buat aku gila selama ini. Aku gak pernah nyangka kalau aku ternyata bisa jatuh cinta ke kamu sedalam ini, ucap Prana dalam hati.


Cowok itu lalu membawa tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya dengan erat. Ia tak mau berbagi dengan orang lain. Prana cuma mau Anggi untuknya. Anggi menyukai posisi seperti ini karena selalu membuatnya nyaman dan tidak ingin pergi dari sana. Pun dengan Prana yang kini sudah mulai menaruh hati pada istrinya.


***


Halo, semua!


Kira-kira mereka bakal kayak gitu terus nggak, ya?


Yuk! Dukung author dengan cara rate BINTANG 5, COMMENT, VOTE, LIKE, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author lebih semangat lagi buat nulis kelanjutannya!

__ADS_1


TERIMA KASIH BANYAK


__ADS_2