
Maaf yaa author jadi jarang update soalnya lagi banyak banget urusan.
Sebelum baca, LIKE sama COMMENT dulu, boleh?
Sekaligus ajak semua kenalan kalian untuk baca cerita ini, ya?
Hehehe terima kasih banyak
***
Sore ini Anggi bersantai di teras rumah kecilnya. Melamun menjadi rutinitas barunya belakangan ini. Sambil bersenandung santai, cewek itu sesekali membaca buku-buku yang ia bawa dari rumah suaminya.
Sudah dua minggu ini cewek itu pisah rumah dengan Prana. Entah apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini, yang penting ia selalu berharap kalau Prana mau membuka hati lagi untuk Renata. Karena bagaimanapun juga, mereka pernah merangkai kisah bersama. Maka, pasti tak akan sulit bagi Prana untuk belajar mencintai Renata lagi.
Sesekali cewek itu menatap ke langit yang saat ini sedang agak mendung. Ia jadi teringat, saat-saat seperti ini biasanya ia habiskan waktu bersama Prana di balkon sembari bercerita ke sana dan kemari. Kalau boleh jujur, Anggi sangat merindukan momen seperti itu.
Cewek itu lantas menatap ke perutnya yang sudah mulai membuncit. "Kamu yang kuat di sana ya, Dede Bayi. Supaya Bunda juga bisa kuat di sini," bicaranya dengan calon bayinya.
Seperti siapakah nanti bayi Prana dan Anggi itu? Apakah akan mirip ayahnya yang tampan, cuek, tapi perhatian, atau akan mirip bundanya yang manis, penuh lemah lembut, dan kasih sayang? Ah, membayangkannya saja sudah cukup membuat Anggi bahagia bukan main.
"Dede Bayi tau nggak? Bunda udah gak sabar pengin ketemu sama Dede Bayi. Doain Bunda, ya supaya Bunda sehat terus dan bisa ketemu Dede Bayi yang nantinya sehat sama lucu juga."
"Oh, iya. Maaf, ya Dedek Bayi. Sekarang ini kamu belum bisa dengerin lantunan ayat suci Al-Qur'an dari mulut Ayah. Tapi, nanti Bunda janji kalau Ayah pasti bakal bacain ayat-ayat suci Allah buat Dede Bayi, ya? Dede Bayi jangan bosen di sana. Bunda bakal nemenin Dede Bayi terus. Maaf juga, ya kalau Bunda suka cerita gak jelas sampai bikin Dede Bayi bosen dengerinnya."
Cewek itu menyeruput sedikit jus di atas meja. Lantas, tatapannya kembali lurus ke depan. Dan saat itu juga Anggi hampir tersedak. Di saat yang bersamaan, hujan segera mengguyur tanah. Anggi terkejut bukan main. Terakhir kali ia melihat wajah itu sekitar dua tahun yang lalu. Dan kini secara tiba-tiba dan tanpa diundang wajah itu kembali muncul di hadapannya.
"Bima?"
Cewek itu segera bangkit dari kursi dan menatap cowok di hadapannya dengan cengo. Pasalnya, pakaiannya basah kuyup seketika karena hujan yang turun tanpa permisi.
"Kamu di sini sendirian?" tanya Bima yang baru masuk dan berteduh di bawah atap teras rumah kecil Anggi.
"Bima kenapa ke sini?" tanya Anggi bingung sekaligus penasaran.
"Maaf aku gak pernah nemuin kamu sama Prana lagi. Aku gak bermaksud buat mutus tali silaturahmi di antara kita. Tapi, Nggi ada satu hal yang aku rasa perlu buat aku sampaiin ke kamu," katanya dengan nada serius.
__ADS_1
"Bentar-bentar. Bajumu basah semua. Aku ambil handuk sama baju ganti buat kamu dulu," ujar Anggi lalu berlari kecil ke dalam untuk mengambil perlengkapan yang barusan ia maksud.
Sementara, Bima hanya bisa mondar-mandir ke sana ke sini tidak jelas. Cowok itu merasa bimbang, ragu, takut, cemas, dan gelisah dalam satu waktu sekaligus. Semuanya menjadi perpaduan yang sempurna untuk membuat cowok itu tidak tenang. Tak lama setelah itu, Anggi datang bersama perlengkapannya.
"Ini kamu pakai dulu. Kamu bisa ganti di dalam. Kamar almarhum ayah, masih ingat, kan letaknya? Aku tunggu di sini," jelas Anggi sembari menyerahkan handuk dan pakaian ganti kepada Bima.
Bima lantas mengangguk dan menurut. Dengan cekatan cowok itu mengganti seluruh pakaiannya yang basah dengan pakaian yang diberikan oleh Anggi tadi. Kemudian, ia kembali keluar rumah, masih dengan perasaan campur aduk.
"Jadi, Bima mau bilang apa tadi?"
Bima menarik napas dan mengembuskannya panjang. "Nggi, tolong kamu jangan tersinggung dulu sama perkataan aku setelah ini. Aku cuma pengin kamu tahu dan mengerti soal ini," katanya dengan sungguh-sungguh.
Anggi mengangguk setuju.
"Sebelumnya aku mau tanya, apa benar kamu sama Prana lagi ada masalah besar yang menimpa rumah tangga kalian?" tanyanya dengan ragu dan hati-hati.
Anggi kembali mengangguk samar. Matanya terlihat sendu. Hatinya pasti sedang tidak baik-baik saja kini.
"Anggia?"
"Kamu percaya nggak kalau aku masih punya rasa sama kamu?"
Deg!
Anggi melongo seketika. Tunggu, ia sedang tidak salah dengar, kan? Pendengarannya masih normal dan baik-baik saja, kan? Tapi, mengapa harus sekali Bima baru menyampaikannya di saat seperti ini? Di saat rumah tangga Anggi dan Prana sedang tidak baik-baik saja.
"Ka-kamu beneran masih ada rasa sama aku, Bim? Tapi, kenapa? Maksudku, bagaimana bisa? Kamu, kan juga tahu kalau aku sudah bersuami," kata Anggi dengan perasaan penuh tak percaya.
"Nggi, aku tahu aku memang salah. Tapi, cinta datang gitu aja tanpa diminta. Dan aku juga sadar diri, kok. Aku tahu kamu juga cinta banget sama Prana. Maka dari itu, aku mau kamu bisa terus bahagia sama laki-laki yang kamu cinta," jelas Bima sambil menatap cewek di hadapannya dengan perasaan kasihan.
"Lalu?"
"Aku tahu dalang di balik semua ini, Nggi. Kamu juga pasti tahu orangnya."
"Siapa, Bim?"
__ADS_1
"Nita. Dia penyebab semua ini terjadi."
Anggi sedikit terkejut. Bukankah dia dulu sudah pernah meminta maaf dan mengakui kesalahan? Lantas, seberani itukah ia mengulangi kesalahan yang sama, namun dengan cara yang berbeda?
"Nggi, tolong, tolong, tolong banget. Kamu harus bisa pertahanin pernikahan kamu sama Prana. Jangan biarin ratu ular itu bahagia karena semua skenario yang dia buat membuahkan hasil sesuai yang ia harapkan selama ini. Kamu tahu, Nita yang sudah membujuk dan membodohi Renata untuk kembali ke pelukan Prana? Kamu tahu kalau dia yang sudah menyembunyikan status pernikahan kalian dari Renata? Dan karena Renata masih sangat mencintai suami kamu, maka dia pasti terbujuk juga. Kamu tahu kalau Nita merupakan perempuan terbusuk yang pernah aku temui selama ini?" Bima akhirnya meluapkan semuanya. Tak tahan dengan segala kebusukan yang telah diperbuat oleh Nita.
Anggi menggeleng-gelengkan kepala saking herannya. Sebenci itukah Nita terhadapnya? Salah apa yang sebenarnya telah diperbuat oleh Anggi padanya? Anggi hanya menjalani skenario Allah saja, sama sekali tak ada niatan bila ratu ular itu menganggap kalau dia sudah merebut Prana darinya atau dari Renata.
"Bim? Lalu kenapa kamu ngasih tau aku kalau kamu masih cinta sama aku?" tanyanya dengan takut. Takut bila saja Bima hendak memaksakan egonya.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Aku cuma pengin kamu tahu aja, Nggi. Tapi, aku janji aku gak bakal memaksakan ego ini demi cinta buta. Aku ngasih tau kamu soal Nita tadi juga tujuanku supaya kamu mau pertahanin pernikahan kamu sama Prana. Aku memang cinta, cinta banget sama kamu, Nggi. Tapi, cuma Prana laki-laki satu-satunya yang bisa kasih cinta yang kamu butuhkan," terangnya.
Sekali lagi, Anggi harus bersyukur karena menemui laki-laki seperti Bima di dunia ini. Ia bersyukur karena Bima sudah memberikannya pelajaran banyak selama ini. Anggi sangat berharap bila Bima kelak akan menemukan cintanya. Cinta yang sama tulusnya dengan cinta milik Bima.
Tangan cowok itu tiba-tiba mengusap perut Anggi dengan lembut. Seketika itu juga air mata terjun dari pelupuk mata. Sungguh momen yang mengharukan di tengah-tengah derasnya hujan.
"Calon keponakan aku, ya?" katanya dengan mata berkaca-kaca.
Anggi pun mengangguk pelan dengan tatapan terharunya.
"Apa pun yang terjadi nanti, kamu harus kuat. Demi bayi ini, bayi kalian. Ingat, Nggi. Cinta sejati itu cuma ada sekali dan cinta sejati kamu itu cuma ada di Prana," nasehatnya.
Anggi sudah tak kuat lagi menahan air matanya untuk tidak terjun. Detik itu juga ia menangis hebat dan memeluk Bima dengan begitu erat. Sungguh, teman seperti Bima sudah langka dan kini betapa beruntungnya dia memiliki teman sepertinya.
"Makasih, Bim. Makasih banyak."
Awalnya, Bima membalas pelukan itu. Namun, tak lama ia segera melepasnya. Saat pasang matanya menangkap sosok tak asing di bawah payung dan derasnya rintik hujan yang mengguyurnya.
"Prana?"
***
[Baca sampai akhir, ya]
Satu kalimat buat bab ini?
__ADS_1
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?