
...[Hati-Hati]...
...Part ini mungkin akan membuat kalian dag dig dug ser, hehehe....
...Selamat membaca...
***
Saka sudah menjelaskan semuanya. Anggi dan Jesi sama-sama bergeming. Mereka hanya bisa saling tatap dalam diamnya.
"Jadi, emang bener Prana sebenernya nggak ngapa-ngapain sama Nita?" Jesi mengulang pertanyaannya, mencoba memastikan lagi.
Saka mengangguk. "Kita waktu itu emang lagi kepepet. Gue, Prana, Nita, sama Elang habis pulang dari bar dan taunya ada yang lagi pesta miras di sana. Polisi dateng, terus kita lari kebirit-birit. Kita udah gak bisa mikir logis lagi waktu itu dan jalan satu-satunya cuma sembunyi ke kamar hotelnya si Elang. Alhasil, karena polisi masih rame di luar, kita nginep di sana." Cowok itu kembali memperjelas ucapannya tadi.
"Ya Allah, syukur deh kalau emang gitu ceritanya. Nggi, gue saranin banget lo cepet ngobrolin ini deh ke suami lo karena secara gak langsung lo udah ikut ngefitnah suami lo sendiri," ujar Jesi sambil mengusap bahu sahabatnya itu.
"Dari awal gue percaya kok sama dia. Soal kepenginan gue buat berjarak sama Mas Prana itu cuma biar gue bisa nenangin diri dulu aja, bukannya gue marah sama dia atau apa," balas Anggi sambil mengulas senyum tipisnya. Rasa lega seketika menyeruak dalam relung hatinya. Suaminya memang orang yang jujur.
"Iya, Nggi. Waktu Prana cerita soal ini ke gue, gue juga yakin kalau sebenernya lo itu punya maksud baik dalam berjarak sama suami lo. Lo pasti akan percaya sama Prana dan nggak mungkin lo bakal gituin dia terus. Kasihan banget dia, Nggi. Setiap kali kami kumpul, wajahnya pasti lesu dan setiap kali ditanyain pasti jawabnya nggak papa. Padahal, gue yakin banget kalau dia itu lagi mikirin lo," tambah Saka, semakin membuat Anggi merasa bersalah.
"Emang keterlaluan si cabe itu. Udah gila apa nyebari fitnah yang enggak-enggak." Jesi menjadi gemas sendiri saat mengerti ternyata Nita sejahat itu pada sahabatnya.
"Hus! Gak baik kaya gitu," tegur Anggi dengan lembut.
"Tapi, bener yang dibilang Jesi, Nggi. Kelihatan banget kalau Nita itu emang ratunya ular. Lo harus lebih hati-hati lagi sama dia. Jangan langsung percaya sama semua kata-katanya karena gue yakin dia emang punya rencana buat misahin lo sama Prana." Saka memperingati Anggi. Cowok itu terdengar menekankan setiap kalimatnya, membuat hati Anggi langsung berdenyut.
"Iya. Makasih ya, Sak, Jes."
***
"Mas? Mas Prana udah pulang belum?"
Cewek itu langsung mondar-mandir setibanya di rumah. Perasaannya semakin campur aduk saat mengingat semua ucapan Saka tadi. Ia tidak bisa mendeskripsikannya. Namun, yang pasti istri Prana itu sedang gelisah dan dilanda rasa bersalah.
"Mbak Ijah? Belum istirahat juga?"
Bukannya bertemu dengan suaminya, Anggi justru mendapati Ijah sedang membersihkan sisa kotoran bekas memasak di dapur. Perempuan itu terlihat fokus pada pekerjaannya.
"Eh, Mbak Anggi." Ijah langsung menghentikan aktivitasnya saat majikannya itu memanggil namanya.
"Udah, Mbak Ijah istirahat aja ke kamar. Lagian, ini udah malam. Nanti Mbak Ijah kecapean loh," tegurnya sambil mengambil alih semua pekerjaan Ijah tadi.
"Loh-loh, Mbak Anggi. Jangan, sini biar saya saja. Ini sudah menjadi tugas saya," tolak Ijah sembari kelabakan menghampiri majikannya itu.
"Udah, Mbak Ijah ke kamar aja. Ini tinggal dikit kok. Oh iya, ngomong-ngomong Mas Prana ke mana ya, Mbak? Kok saya nggak lihat dari tadi," tanyanya sambil merampungkan sisa pekerjaan Ijah tadi.
__ADS_1
"Tadi Tuan Muda pesan sama saya kalau pulang larut, Mbak. Seingat saya sih mungkin sekitar jam 10, Tuan Muda baru pulang. Lima belas menit lagi, Mbak," jelas Ijah pada Anggi, membuat cewek itu mengangguk paham.
"Begitu, ya. Ya sudah, Mbak Ijah ke kamar biar saya yang mbuatin teh sama nyiapin air hangat buat Mas Prana ya," suruh Anggi lembut dan disambut oleh anggukan kepala oleh Ijah.
Tak berselang lama, bunyi bel rumah megah itu terdengar. Dengan bersemangat Anggi segera berlari kecil menuju pintu utama di bagian depan. "Iya, Mas. Tunggu," ujarnya lalu segera membukakan pintu untuk suaminya itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Anggi? Sayang, kok belum tidur?" Prana mengerutkan keningnya saat pasang matanya menangkap sosok yang berhasil mengusik pikirannya belakangan ini.
"Dikira aku anak kecil apa tidur jam segini? Aku nungguin kamulah, Mas," balas istrinya dengan kekehan kecil di akhir kalimat.
Prana segera mengembangkan senyum. Perasaan letih dan penat seketika hilang saat mendengar suara istrinya lagi setelah beberapa hari ini mereka tidak lagi berinteraksi.
"Kamu udah nggak marah sama Mas?" tanya Prana dengan hati-hati, takut saja bila ternyata kalimatnya dapat memancing istrinya.
Ekspresi Anggi mendadak berubah datar. Tatapannya tajam, menyelidik setiap detail manik mata sosok di hadapannya. Pun dengan Prana yang kini perlahan mengendurkan senyumnya yang sempat merekah tadi. Cowok itu tiba-tiba deg-degan melihat raut wajah Anggi yang seperti itu.
"Boom!" Anggi tertawa renyah melihat ekspresi lucu suaminya.
"Kamu kalau lagi gugup gitu lucu ya, Mas?" Anggi masih tidak bisa berhenti tertawa.
Sementara, Prana merasa gemas sendiri dengan tingkah istrinya. "Kamu tuh, hobi banget ngerjain aku, ya? Jadi, gimana? Udah nggak marah lagi nih?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Siapa yang marah? Aku nggak pernah marah kok."
"Yang kemarin-kemarin?"
"Itu nggak marah kok. Aku cuma pengin ngerjain kamu aja," balas Anggi sekenanya sambil menjulurkan lidahnya.
"Dih-dih. Melet-melet tuh kenapa? Minta dicium kamu?" goda Prana sambil menaikkan alisnya sebelah. Sungguh, saat ia seperti itu, ketampanannya semakin bertambah dan langsung membuat jantung Anggi berdebar kencang.
"Ih, apaan sih kamu, Mas? Dasar mesum," ejeknya, masih sembari menjulurkan lidahnya.
"Tuh kan, kamu main kode-kodean ya sekarang?"
"Siapa? Enggak tuh. Kamu aja yang kepedean," ujar Anggi lantas segera melenggang menuju dapur saat mengingat kalau ia baru saja merebus air tadi.
Di sisi lain, Prana mengikuti langkah istrinya dari belakang. Rasanya, ah, cowok itu tidak bisa mendefinisikannya. Ia hanya bisa bersyukur pada Tuhan karena sudah membuat istrinya kembali padanya lagi.
"Nih, aku mau buatin minuman anget buat kamu. Mau dibikinin apa, Pangeran Ganteng?" rayu Anggi sambil mematikan kompor karena airnya sudah mendidih.
Prana duduk sebentar di kursi meja makan. Cowok itu mengambil selembar roti tawar dan langsung melahapnya habis. Ia lantas mendekati istrinya di dekat kompor.
__ADS_1
"Pinter ngerayu ya, kamu sekarang." Prana mencubit hidung mungil milik Anggi, membuat istrinya itu mencebik.
"Sakit tau nggak sih kamu nyubitnya," protesnya kesal. Ia sampai membuang muka dan berusaha tidak menatap wajah suaminya.
Sayangnya, cewek itu gagal saat Prana mulai memeluknya dari samping. Anggi refleks menoleh pada suaminya. Cowok itu menyandarkan kepalanya pada pundak istrinya dan berhasil membuat Anggi semakin panas dingin di tempat.
"Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Tapi, kamunya malah ngehindar dari aku sejak beberapa hari ini. Kamu nggak kasihan apa sama hatiku? Hatiku ini suka manggil-manggil nama kamu loh." Prana menggombal. Cowok itu memasang wajah sedihnya yang dibuat-buat. Namun, memang benar Prana amat merindukan istrinya itu apalagi momen-momen mereka seperti ini.
"Aku minta maaf ya, Mas. Aku suka kaya anak kecil selama ini." Anggi mengelus lengan suaminya yang melingkar pada bahunya.
"Kamar, yuk? Aku capek banget," bisik Prana dengan nada seperti anak kecil.
Anggi langsung gugup mendengarnya. "Ta-tapi, kan aku mau bikin teh dulu buat kamu," katanya dengan sedikit terbata.
Sementara, Prana justru mengulas senyum tipisnya. "Nggak mau teh, aku maunya kamu aja," balasnya masih dengan nada manja.
Anggi menghela napas pelan. "Ya udah, kalau gitu aku juga mau ke kamarku sekalian mau beres-beres sebentar," balasnya pasrah.
"Kok pisah-pisah? Aku, kan maunya kamu tidur di kamar aku, sama aku, Sayang." Prana semakin bersikap manja dan justru mengeratkan pelukannya.
Cowok itu tidak tahu saja kalau Anggi kini tengah menahan rasa gugupnya. "Se-sekamar? Sama kamu?" ujarnya polos.
"Iya, Sayang."
"Tapi-"
"Kalau kamu nggak mau, aku bakal gendong kamu loh."
Jeda sekian detik, karena Anggi belum juga merespon, Prana dengan sigapnya segera membopong tubuh istrinya ala bridal style.
"Mas! Ih, kamu tuh nyebelin. Bikin kaget aja," protes Anggi sambil memukul pundah suaminya gemas.
"Ssttt, udah. Diam kamu."
***
[Baca sampai akhir, ya]
Halo, readers! Semoga hari kalian menyenangkan, ya.
Waduh, Anggi sama Prana habis ini bakal dibuat berbunga-bunga nggak ya, kira-kira?
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini. Biar gak sider aja hehehe.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK.