Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Dia Menepati Janji


__ADS_3

Hai! Kita ketemu lagi akhirnya.


Sebelum baca, LIKE sama comment atau vote dulu boleh? Xixixi, makasiii.


***


"Makasih ya, Nggi. Buat traktirannya sama udah bersedia aku curhatin," ucap Rena pada Anggi yang berdiri di sebelahnya.


Cewek itu menarik kedua ujung bibirnya, membentuk sebuah lengkung senyum. "Santai aja kali, Ren. Aku juga malah seneng kalau kamu mau cerita gini. Kalau butuh apa-apa, kamu bisa telepon di nomor yang aku kasih tadi. Siapa tahu aku bisa dengerin dan kasih saran. Kapan pun itu, i**nsyaAllah aku bakal langsung jawab kalau nggak sibuk." Anggi menawarkan. Cewek itu tak henti mengembangkan senyuman.


"Kamu baik banget sih, Nggi. Pasti suami kamu beruntung banget bisa dapetin istri semulia kamu. Semoga langgeng sampai jannah dan segera dikasih kepercayaan sama Allah buat punya keturunan ya," kata Rena sembari mengusap bahu sahabat barunya itu.


"Aamiin, makasih, Ren. Kamu juga, semoga bisa segera ketemu sama mantan kamu dan balikan ya?"


Mereka saling melempar senyum. Dari pembicaraan mereka sejak kali pertama bertemu, keduanya memang sama-sama ramah dan terbuka. Sudah bisa saling percaya satu sama lain. Sama-sama mampu menjadi pendengar yang baik. Dan dari nada bicara mereka, baik Anggi maupun Rana sama-sama punya kelembutannya masing-masing. Sudah seperti dua bidadari yang tiba-tiba dipertemukan dalam sebuah pertemuan yang tak terduga.


Anggi menatap ke arah jalan masuk dan senyumnya seketika merekah saat mendapati plat nomor mobil suaminya sedang berjalan menuju ke arah keduanya.


"Ren, kayanya suamiku udah sampai tuh. Kamu udah dapet ojek online belum? Kalau belum, gimana kalau bareng kami aja? Lagipula, kan kita juga searah. Suamiku juga pasti dengan senang hati mau nganter," tawarnya. Kasihan bila Rena sendirian di sana nanti, pikirnya.


Rena tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. "Nggak perlu repot-repot, Nggi. Ini ojek online aku udah sampai depan kok. Ya udah, aku duluan ya. Sampai ketemu lagi, Anggi," pamitnya dengan ramah.


"Oh, gitu. Ya udah, hati-hati ya," balas Anggi sembari melambaikan tangan pada Rena yang semakin menjauh.


Sementara itu, mobil suaminya sudah semakin mendekat. Ia maju beberapa langkah menuju mobil Prana lantas tersenyum lebar saat suaminya itu membuka kaca mobilnya.


"Yuk, Cantik! Silakan masuk," ujar Prana dari dalam mobil seraya mengedipkan sebelah matanya.


Kebiasaan. Prana selalu menggodanya di berbagai kesempatan. Entah di rumah, di luar, bahkan di tempat umum. Namun, Anggi tak bisa berbohong kalau ia memang menyukai perlakuan suaminya yang seperti itu. Katanya, hatinya selalu berbunga-bunda dan ia merasa seperti terbang bebas ke udara.


Anggi menjulurkan lidah pada suaminya lantas segera masuk ke dalam mobil. "Genit ya, kamu," celetuknya sambil mencubit hidung mancung suaminya yang terlewat tampan itu.


Prana tertawa renyah mendengar cibiran istrinya itu. "Nggak papa kalau genitnya ke istri sendiri," balasnya sambil mengacak gemas rambut istri tersayangnya itu, membuat Anggi harus susah payah menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya kini.


"Cielah, merah-merah pipinya. Kenapa, Neng? Blushing? Salang tingkah, ya?" goda Prana tak henti-hentinya membuat istrinya kesal sekaligus bahagia dalam satu waktu yang bersamaan.


"Ih! Mas Prana musti gitu! Anggi nggak suka."


Prana jadi melepas tawa mendengarnya. Ah, Anggi selalu benci momen seperti ini. Tidak bisakah ia menyembunyikan perasaan berbunga-bunganya setiap kali Prana membuatnya seperti itu?


Detik berikutnya, Prana menatap fokus ke depan dan mulai menancap gas. Sesekali ia melirik pada istrinya. Isi kepalanya tiba-tiba berputar pada waktu beberapa tahun silam. Saat almarhum mertuanya meminta, bahkan memaksanya secara halus untuk menikahi putrinya.


Lalu, Prana juga dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk mau fitting gaun pengantin bersama Anggi yang waktu itu tidak tahu apa-apa soal perjodohan ini. Kemudian, pada hari di mana ia mengucap ikrar janji untuk menjaga seorang Anggia Soraya seumur hidupnya sampai ia berjumpa dengan kematian kelak.


Dan mulai saat itu juga ternyata perlakuannya lebih banyak menyakiti istri sahnya sendiri. Betapa tersayat hatinya saat mengingat wajah tak berdosa istrinya waktu itu. Sedangkan, ia tak pernah mau peduli dengan perasaannya. Prana selalu berpaling dari topeng kebahagiaan istrinya. Dan kini ia sangat bersyukur karena Allah sudah membuka pintu hatinya untuk Anggi.


Dia berkali-kali berkata pada dirinya sendiri bahwa betapa beruntungnya dia memiliki istri selembut dan sebaik Anggi. Prana sama sekali tak meminta hal apa pun untuk saat ini kepada Allah, ia hanya ingin istrinya selalu berada di sisinya. Ia tak ingin Anggi jauh-jauh apalagi pergi dari hidupnya. Sudah, itu saja sudah sangat cukup baginya.


"Mas? Kamu kenapa ngelihatin aku kaya gitu? Kamu lagi nyetir loh, Mas. Fokus dulu sama nyetirnya," tegur Anggi yang menangkap basah suaminya sedang menatapnya diam-diam.


"Oh, iya maaf, Istriku. Maaf ya, udah bikin kamu ketakutan," balas Prana spontan. Ia lantas segera kembali berusaha fokus dengan aktivitas menyetirnya kali ini.


"Nggak papa, Mas."


Dan tiba-tiba juga bayangan cewek yang berdiri di sebelah Anggi tadi melintas di pelupuk mata Prana, membuat cowok itu bertanya-tanya. Bukannya apa, tapi suami Anggi itu hanya penasaran saja karena ia belum pernah melihat teman Anggi yang satu itu.

__ADS_1


"Istriku?"


"Ya, Mas?"


"Cewek di sebelah tadi itu temen kamu?" tanyanya sambil fokus menatap jalanan di depan.


Anggi menoleh, menatap suaminya dengan kerutan kening yang menghiasi wajah. Lantas, ia kembali menatap jalanan, sama seperti yang dilakukan suaminya saat ini. "Oh, tadi. Itu temen aku, Mas. Tadi gak sengaja ketemu di mal. Orangnya tuh baik banget, Mas. Kita aja pertama kali ketemu tadi gara-gara dia ngasih kembalian aku dari kasir yang kelupaan," jelasnya.


"Oh, jadi itu temen baru kamu ya?"


"Iya, Mas. Baik banget tau, jujur, ramah, lemah lembut. Duh, pokoknya udah kaya bidadari yang baru turun dari langit gitu. Sampai aku insecure tau nggak, Mas?" Anggi sebegitu memuji teman barunya yang ia temui tadi. Terlihat jelas dari sorotan matanya.


Prana hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terkekeh lirih. "Nggak boleh insecure. Lagian, cewek mana sih yang bisa nandingin istri semulia kamu? Udah, cantik parasnya, cantik hatinya, jago bikin suami seneng. Banyak deh pokoknya. Aku yakin gak akan pernah ada istri lain sesempurna kamu, Istriku." Prana ganti memuji istrinya. Tak mau jika Anggi terus-terusan merasa insecure terhadap dirinya sendiri.


"Ih, Mas Prana tuh kenapa sih muji-muji aku terus?"


"Kenapa memang?"


Anggi tertegun seketika. "Ya, nggak papa sih. Tapi, kalau berlebihan juga nggak enak tau. Kayak gimana, ya? Coba deh kalau kamu. Pasti kamu juga ngerasa nggak enak, kan kalau dipuji berlebihan?" katanya dengan nada yang menyiratkan rasa sebalnya pada cowok yang duduk di kursi kemudi.


"Kamu juga tadi. Muji temen baru kamu sebegitu berlebihannya." Prana balas melempar pernyataan istrinya tadi.


"Ya, abis menurutku sempurna aja gitu. Oh ya, tapi dia kasihan banget tahu, Mas."


Prana segera mengerutkan dahi. "Kasihan? Kasihan kenapa, Yang?" tanyanya sambil setia mendengarkan ocehan istrinya itu.


"Iya, kasihan. Katanya, dia itu putus sama mantannya gara-gara mantannya dijodohin sama cewek lain gitu. Dan yang lebih menyedihkan, ternyata dia punya pneumothorax dan harus menjalani pengobatan di luar kota. Tapi, katanya sih mantannya itu belum jadi menikah dan dia alhamdulillah udah pulih sekarang. Terus-terus, dia kan udah balik lagi ke sini, katanya dia mau merjuangin cinta lamanya lagi. Kalau dari yang aku lihat dari sorot mata sama gestur tubuhnya waktu cerita sih, kayanya dia emang cinta banget sama mantannya itu. Padahal, udah sekitar tiga tahun pisah." Anggi bercerocos panjang lebar.


Namun, Prana sama sekali tidak risih karena suara istrinya selalu terdengar indah dan membuatnya rindu bila sedang mengoceh seperti itu. Suami Anggi itu justru merasa sangat senang bila istrinya banyak bicara. Kerena dengan begitu, berarti suasana hati Anggi sedang gembira saat ini.


"Iya ya, Mas? Ya Allah, untung dia bisa pulih. Wajahnya murung banget tadi pas ketemu. Soal ketemu mantannya, katanya sih belum dan habis ini mungkin," jawabnya.


"Ya udah. Kamu jangan ikut mikirin yang berlebihan tentang dia, ya? Ingat program hamil," peringat suaminya itu. Tahu betul kalau istrinya suka memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkannya. Sementara Anggi hanya cengengesan sebagai jawaban.


"Oh iya, besok kamu jadwalnya check up. Aku yang bakal nganterin kamu ke dokter," kata Prana sambil menoleh sekilas pada Anggi yang sedang sibuk memandang ke arah jalanan yang cukup ramai sore itu.


"Loh? Udah check up lagi, ya? Emangnya, kamu nggak sibuk, Mas? Aku bisa kok naik ojek online ke dokter," jawab istrinya yang khawatir dengan pekerjaan suaminya yang semakin padat belakangan ini.


"Ojek online mulu kamu, Yang. Jadi, sebenernya suami kamu itu aku apa Mas ojek online, sih?" Prana bergurau, namun sepertinya justru membuat istrinya mengerucutkan bibirnya kesal.


"Canda, Neng. Aku besok sebenernya lumayan padat, sih. Tapi, masih bisa serahin ke Pak Burhan. Udah, kamu tenang aja," terangnya, membuat Anggi mendapatkan jawabannya.


"Beneran nggak papa?"


"Iya."


"Astaghfirullah! Anggia," pekik Prana tiba-tiba di sela-sela aktivitas mengemudinya.


Tentu Anggi tersentak kaget. Mengapa harus seperti itu, sih? Selain nyebelin dan jago menggoda istri, ternyata Prana juga ahli dalam membuat Anggi terkejut tanpa alasan.


"Subhanallah, Mas. Kenapa sih, kamu? Bikin orang kaget aja," protes Anggi yang kesal karena suaminya membuatnya terkejut setengah mati.


"Barangku ada yang ketinggalan di kantor, Yang. Terus gimana ya?" katanya sambil meminggirkan mobilnya perlahan ke tepi jalan dengan wajah yang panik minta ampun.


"Penting banget, Mas barangnya?" tanya Anggi yang jadi ikut panik karenanya.

__ADS_1


"Iya. Satu map warna biru, isinya berkas-berkas yang harus aku tanda tangani malam ini juga. Aduh, gimana dong?" jelasnya dengan raut wajah yang bertambah panik mengingat berkas-berkas penting itu.


Anggi mencoba menenangkan diri supaya tak ikut-ikutan semakin panik. Kalau sama-sama panik, siapa yang bisa memberi solusi dengan kepala dingin?


"Gimana kalau kamu ambil aja ke kantor, Mas? Belum tutup, kan ya?" Anggi menawarkan solusi dan memang satu hal itulah yang ada di kepala cewek itu saat ini.


"Iya, masih buka. Tapi, kamu nanti gimana? Nggak kemaleman, Yang?" tanyanya balik, masih sengan wajah setengah paniknya.


"Halah, nggak papa, Mas. Kan, ini juga belum malam-malam banget. Udah, buruan daripada nggak kelar nanti masalahnya," suruh istri Prana itu. Memang benar kalau langit masih cukup terang malam ini dan azan Maghrib juga baru berkumandang.


"Ya udah, kita balik kantor ya."


"Iya, Mas."


***


"Malam, Pak Prana."


"Malam."


Prana beberapa kali melempar senyum khasnya dan menyapa orang-orang yang dia temui di lorong menuju ruangan kantor pribadinya yang berada di lantai lima gedung megah yang membelah kota itu.


Sesampainya di depan ruangannya, dengan gerakan cekatan Prana merogoh saku, mengambil kartu dari dalam sana lalu menempelkan pada bawah knop pintu. Namun, belum sampai ia memutar knop, seseorang telah lebih dahulu memanggilnya. Anehnya, orang itu tidak memanggilnya menggunakan 'Pak' atau semacamnya, melainkan hanya memanggilnya nama.


"Pra! Ini bener kamu, kan?"


Cowok ganteng itu perlahan menoleh ke belakang dan kedua matanya langsung menangkap sosok perempuan yang dulu ia cari-cari keberadaannya.


"Rena? Ka-kamu, di sini?" balas Prana yang lebih terkejut dari cewek di hadapannya kini.


"Pra, ini beneran kamu, kan Pra? Cowok yang selalu manggil aku angel waktu di SMA?" kata Rena sembari menyentuh pipi cowok di depannya. Bulir air mata itu sudah membendung di pelupuk mata dan menetes dari sana.


Akan tetapi, belum sempat Rena menyentuh wajahnya, Prana segera menepis tangan cewek itu dengan pelan. "Sorry, Ren. Lo ada perlu apa di sini?" tanyanya dingin dan kaku, seperti sifatnya yang sudah lama hilang dan kini kembali bersamaan dengan kembalinya perempuan paling dibencinya.


Rena yang mendapatkan respon perlakuan yang seperti itu semakin meneteskan air matanya deras. "Pra? Kenapa? Kamu masih cinta aku, kan?" tanyanya mendesak dengan suara yang bergetar, sama bergetarnya dengan tangan serta kakinya saat ini, menatap sepasang mata yang sudah tiga tahun ini tak ditatapnya lagi.


"Kenapa apanya, Ren? Harusnya gue yang nanya ke lo, kenapa? Kenapa pergi dan menghilang gitu aja? Tiga tahun lalu," Prana tersenyum sinis, "dan sekarang lo udah berani nunjukin muka lo di depan gue seenaknya. Lo gak pernah mikirin perasaan gue waktu itu, Ren? Ke mana Renata yang gue butuhin? Nggak, ini pasti bukan lo. Karena Renata yang dulu udah mati, dia hilang tanpa alasan dan kepastian," sambungnya dengan sangat menohok.


Rena yang mendengar kalimat itu segera tersungkur ke lantai. Kaki-kakinya sudah tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya yang lemas. Air mata bercucuran dan jatuh ke lantai. Sungguh, Prana ikut tak berdaya melihat Rena yang seperti itu. Tapi, apa boleh buat. Perasaannya sudah terlanjur terluka olehnya.


"Pra. Aku mohon, maafin aku. Aku punya alasan, Pra. Tolong, dengerin dulu." Rena memohon pada mantannya itu.


Rasanya Prana juga ingin menangis. Cewek itu sudah membuatnya gila dan hilang akal. Cewek itu sudah membuatnya buta dan berpaling dari istri yang sangat mencintainya dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Anggia Soraya. Ya, Prana tak boleh goyah. Ia terus menyebut nama Anggi dalam hati dan pikirannya.


"Alasan apa lagi, Ren? Gak usah pura-pura lagi sekarang. Karena gue udah muak dengerin semua omongan palsu lo itu."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Satu kalimat buat bab ini?


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.

__ADS_1


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2