
Hai!
Maaf baru sempat up malam-malam begini.
Semoga kalian suka dan tetap stay sama mereka, yaa
***
Seorang cewek berusia hampir kepala dua itu sedang berkutat dengan layar benda teknologi di depannya. Berkali-kali ia ketik dua-tiga kata lalu dihapus lagi. Kemudian, sudah jadi satu kalimat, ia ketik tombol delete lagi. Begitu saja terus tanpa ada akhirnya.
Secangkir thai tea menjadi temannya sore ini. Bahkan, di akhir teguk cangkir kedua pun, tulisannya belum rampung juga. Semakin pening rasanya, namun bukan Anggi Soraya namanya kalau cepat menyerah. Tidak, Anggi harus merampungkannya segera. Ia merapal, bicara pada dirinya sendiri kalau ini mungkin kesempatan terakhirnya.
Kamar luas itu sudah didekorasi ulang olehnya. Ya, ia memang memilih menulis di kamarnya sendiri. Tentu karena tak ingin suaminya tahu. Sebenarnya memang terasa kurang ajar sekali membantah suaminya. Namun, bagaimana lagi? Ini merupakan mimpinya sejak lama. Tentu saja Anggi tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja meski dengan berat hati karena menutupi dari Prana.
"Mas Prana!" ucapnya spontan saat dua pasang telapak tangan berhasil menghalangi pandangannya.
Cowok yang kini berdiri di belakang Anggi itu justru terkekeh kecil karenanya. "Ih, ngeselin. Masa aku cari di kamar nggak ada, eh, taunya di sini kamu. Lagi apa sih di sini? Kayanya istimewa banget tuh layar laptop, sampai-sampai suaminya sendiri dilupain," sindir Prana melihat istrinya sepertinya amat fokus dengan kegiatannya itu.
Sontak Anggi refleks membanting layar benda teknologi itu. ******, umpatnya dalam hati. Ia lantas segera bangkit, menghadap suaminya dengan kedua mata melotot. Mas Prana lihat nggak ya? tanyanya dalam hati.
"Kenapa melotot gitu?" tanya Prana keheranan. Meski begitu, ekspresi dari wajah istrinya berhasil membuatnya harus menahan tawa.
Anggi gelagapan mendengar respon suaminya atas tingkahnya itu. Ia harus menjawab apa sekarang?
"Eum, anu, ya habis kamu dateng tiba-tiba kaya gini. Aku, kan kaget, Mas. Takutnya maling atau apa gitu," balas Anggi dengan sedikit terbata-bata. Jantungnya berpacu hebat saat ini. Bagaimana jika suaminya melihat? Ah, tidak. Semoga Prana tidak melihat apa isi layar laptop-nya tadi.
"Mana ada maling berani masuk rumah Mahaprana Virgo. Itu maling pasti udah abis duluan sama akulah," katanya sambil melepas tawa.
Anggi mengembuskan napas sejenak. Syukurlah bila suaminya tak bertanya lebih lanjut. Bisa habis dia nanti karena belum punya cadangan alasan untuk menjawabnya. Apalagi Prana orangnya keras dan kaku. Ya, meski kini ia sudah berangsur mengubah sifatnya, namun bila urusannya menyangkut Anggi, pasti Prana kembali pada sifat awalnya yang tegas.
"I-iya, Mas. Eum, tumben kamu pulang lebih awal. Nggak lembur di kantor, Mas?" Anggi mencoba basa-basi sekaligus berusaha menghilangkan rasa gugupnya tadi.
Prana segera merenggut senyum. "Kok kamu gitu, sih. Nggak kangen apa sama suamimu ini? Padahal, aku pengin banget cepet-cepet pulang buat bisa ketemu kamu," protesnya tiba-tiba mengubah air mukanya menjadi muram karena tanggapan istrinya tadi.
******, lagi-lagi Anggi mengumpat dalam hati. Kenapa bisa pertanyaan itu keluar dari mulutnya? Pasti secara tidak langsung kata-katanya tadi sudah menyinggung dan menyakiti hati suaminya.
"Bukan itu, Mas maksudku. Pastilah aku juga kangen banget sama kamu. Maksudku, ya tumben aja gitu. Biasanya, kan kamu pulangnya malem-malem. Sering-sering gini dong, Mas biar bisa berduaan sama kamu. Aku, kan juga pengin ngobrol bareng, nonton tv bareng, pacaran sama kamu," jelas Anggi meluruskan.
Cewek itu sedikit berbohong. Benar, sih kalau Anggi tiap hari merindukan suaminya karena Prana itu sering pulang larut akhir-akhir ini. Tapi, masalah yang lain, kalau Prana pulang cepat apalagi mendadak seperti ini, Anggi jadi tidak bisa menulis. Padahal, deadline yang ditentukan oleh om Deva kurang sebentar lagi. Bagaimana ia bisa menyelesaikannya dalam waktu dekat kalau Prana sering berada di rumah?
__ADS_1
"Sini, Mas peluk dulu," kata Prana lantas melebarkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri, bersedia menyambut tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya.
Anggi segera tersenyum lebar melihat perlakuan suaminya yang seperti itu. Selalu bisa meluluhkan hatinya. Ia lantas cepat-cepat berhambur dan memeluk erat tubuh Prana. Cowok itu pun langsung membalasnya dengan lebih erat, seolah tak mau istrinya lepas dan jauh darinya.
Istri Prana itu sedang terbuai, menghirup aroma khas dari tubuh suaminya yang wangi dan selalu bisa membuatnya betah berlama-lama berada di dalam pelukannya. "Kamu wangi banget sih, Mas? Rambut kamu juga," katanya, memuja suaminya sendiri.
Prana tersenyum kecil di baliknya. "Suka? Nanti Mas mandi parfum aja deh kalau gitu," balasnya bergurau, lalu tertawa renyah setelahnya.
Ucapan itu segera mendapat sambutan satu cubitan dari Anggi yang dikenakannya tepat di perut suaminya itu.
"McD, yuk? Kamu pasti udah kangen kentang goreng sama burger-nya, kan?" tawar Prana tiba-tiba.
Ya, kentang goreng dan burger McD juga merupakan salah satu makanan favorit Anggi yang berjenis fastfood. Sejak zaman SMA, mereka memang sering ke sana sepulang sekolah untuk mengisi perut setelah seharian berkutat dengan mata pelajaran yang minta ampun.
Bila mengingat masa-masa itu, rasanya rindu sekali. Bertemu dengan teman-teman, bertukar cerita, curhat sesama pelajar, dan berbagi pengalaman. Ah, masa muda yang indah, namun terenggut begitu saja dari kehidupan Prana dan Anggi. Dua tahun yang lalu. Tak apalah, mungkin memang ini yang terbaik bagi mereka berdua. Tuhan pasti punya rencana indah di balik semua ini.
"Loh, sekarang banget? Aku belum siap-siap, Mas." Anggi menanggapi. Pasalnya, ia hanya mengenakan kaos biasa dan celana training saat ini. Make up sedikit pun tak ia pakai.
"Udah, langsung berangkat aja. Kamu tuh pakai apa aja tetep cantik, Istriku. Bahkan, waktu pakai daster," gurau Prana sambil cekikikan dan mencubit hidung mungil istrinya, hal yang bisa ia lakukan saat menggoda Anggi.
Anggi segera cemberut. Namun, dengan cepat Prana menarik pergelangan tangannya hingga mau tak mau cewek itu harus menurut.
***
"Nggak enaknya gimana coba, Mas? Kan, resepnya dari dulu juga sama aja," balas Anggi santai sambil mencomot sambal dengan kentang goreng di tangan kanannya.
"Kamu kok nggak makan, sih?" tanya Anggi balik. Heran saja, masa setiap kali Prana mengajak keluar, malah Anggi saja yang makan, sementara suaminya itu hanya sibuk memandanginya makan.
"Ini makan. Makan asupan kasih sayang cintamu," gombalnya. Kaku dan masih belum berpengalaman sepertinya.
Sungguh, itu saja sudah berhasil membuat Anggi melepas gelak tawanya. Mengapa ia diberi suami yang unik seperti itu, sih? Sedikit-sedikit kaku, sedikit-sedikit bercanda, sedikit-sedikit serius, sedikit-sedikit menggombal. Dan sampai sekian detik, istri Prana itu tak kunjung menghentikan tawanya.
"Udahan dong ketawanya. Nanti kotak suara kamu habis, tau rasa ya." Prana memperingati. Entah serius atau bercanda. Kali ini sulit ditebak, namun Anggi masih terus tertawa tanpa henti.
Baru detik berikutnya, ia berangsur meredakan gelak tawa. "Habis kamu, sih. Kalau gak bisa romantis ya udahlah, Mas. Nggak usah dipaksa. Jadi diri kamu sendiri aja udah cukup kok," cibirnya masih dengan cengengesan. Ya, setidaknya Prana sudah berusaha, bukan?
Prana mendadak melamun dan fokus pada raut wajah istrinya yang terlihat sumringah kali ini. Jarang-jarang ia bisa melihatnya seperti itu. Dengan cekatan cowok itu merogoh ponsel di sakunya lantas mengarahkannya pada wajah istrinya. Dan, cekrek! Satu jepretan berhasil diambilnya.
Satu foto candid, saat Anggi membuka mulut hendak melahap kentang goreng yang tersisa. Tentu Anggi menyadari karena Prana lupa tak mematikan volume. Dengan mulut yang masih melongo, ia memprotres, "Ih, Mas! Kamu ngapain?"
__ADS_1
"Ambil foto kamulah. Tetep seperti itu ya, Istriku karena senyuman itu berharga dan aku pengin melihatnya setiap hari," ujar Prana mendadak penuh kelembutan. Sorotan matanya menyiratkan ketulusannya.
"Iya, tapi siniin dulu handphone kamu. Aku mau hapus kalau mukaku jelek di situ," ujar Anggi dengan cemberut.
"Ya nggak maulah. Susah-sudah dapetin main mau dihapus gitu aja," semprot Prana sembari menjulurkan lidahnya, mengejek.
"Siniin nggak?" Anggi mulai melotot. Cewek itu memang suka kesal jika ada orang mengambil foto dirinya yang belum siap untuk dijepret.
"Nggak mau. Udah aku jadiin wallpaper."
"Ih! Mas Prana! Ngeselin!"
"Gini deh, siniin handphone kamu, biar aku pasang foto aib wajahku. Adil, kan?" Prana mencoba membuat tawaran.
Namun, Anggi terlanjur sebal. Meski begitu, Prana tetap kukuh mengambil ponsel istrinya lantas berpose selfie dengan mulut yang dimayunkan. Anggi segera merebut kembali ponselnya dan saat matanya menangkap foto wallpaper-nya, ia segera tersenyum tipis.
"Cielah, senyum-senyum sendiri. Iya, tahu kok kalau suamimu ini memang ganteng," celetuk Prana tidak tahu diri. Ia menarik kedua ujung kerahnya lantas kedua tangannya dilipat di depan dada. Sok ganteng. Ya, meski memang ganteng, sih.
"Dih-dih, pede kamu, Mas?"
"Iyalah."
Tunggu. Pasang mata Prana seperti menangkap sesuatu di ujung sana. Cowok itu mendongak, kembali memandang ke arah yang sama untuk memastikan kalau penglihatannya tadi tidak salah. Ia mengerjap berulang kali. Nyatakah ini? Sosok itu?
Tidak salah lagi. Wajah yang familiar dan begitu tertancap di memori Prana. Dialah sosok pembawa luka di kehidupan Prana. Dialah satu-satunya orang yang dulu pernah berhasil membuatnya gila dan buta. Dia juga satu-satunya orang yang kini amat dibencinya.
Benarkah itu Renata? Mantan Prana? Dia di sini?
***
[Baca sampai akhir, ya]
Duh, semakin tegang nggak tuh?
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.
__ADS_1