
"Kamu cantik."
Anggi tertegun sejenak mendengarnya. "Makasih," balasnya kemudian dengan ragu-ragu. Perasaannya menjadi tidak enak saat cowok itu mengucapkan kalimat terakhirnya.
Apa salahnya cowok memuji seorang cewek? Toh, sah-sah saja, kan?
"Kamu kok keluar malem-malem gini? Nggak baik loh buat anak gadis," ujar Deva, membuat Anggi mengerutkan kening.
"Oh, iya. Nggak papa kok. Soalnya udah ada yang ja-"
"Emang gak dimarahi orang tua kamu?" potongnya lagi-lagi, membuat Anggi spontan menghela napas.
"Orang tua aku udah meninggal. Aku anak yatim piatu," balas Anggi, berusaha setegar mungkin. Cewek itu tak mau menunjukkan kesedihannya di depan orang lain, terutama orang yang baru dikenalnya.
"Maaf, ya. Aku gak tau," kata Deva sambil menatap Anggi dengan sendu. Cowok itu menjadi tidak enak hati membahas persoalan tadi.
"Permisi. Meja nomor 17, pesanan choco matcha dingin." Salah seorang waiter datang membawa senampan pesanan Deva. Ia lantas segera menyajikan di meja mereka.
"Wah-wah, pacarnya toh, Mas?" tanya waiter itu dengan ramah sambil mengulas senyum yang tidak dapat diartikan.
"Bu-"
"Secepatnya, doakan ya, Mas," jawab Deva cepat, lagi dan lagi memotong perkataan Anggi. Dan sudah kesekian kalinya cewek itu juga mulai kesal sendiri.
"Kamu kok gitu sih? Kita, kan baru kenal. Kok bisa bilang pacaran-pacaran aja?" protes Anggi kesal dengan tingkah cowok yang baru dikenalnya itu.
Deva lantas tertawa renyah mendengar kalimat dari Anggi. "Kan, aku gak bilang udah jadian. Aku bilangnya secepatnya, siapa tahu kita jodoh, kan?" goda Deva semakin membuat cewek di hadapannya tidak nyaman.
"Hm." Ya, cukup itulah kata yang terlontar dari mulut Anggi. Ia kini mencoba bersikap bodo amat dan menanggapinya dengan biasa saja.
"Nanti aku anter pulang deh, ya?" tawar Deva ikhlas dan tulus dari dalam hatinya. Cowok itu memang terlihat cowok baik-baik dan tidak neko-neko.
Anggi tersenyum. "Makasih, Dev. Tapi, aku bisa pulang sendiri kok. Nggak perlu repot," tolaknya sehalus mungkin dan mencoba tidak menyinggung cowok yang duduk di depannya.
"Yakin?"
"Iya."
"Boleh pinjem handphone kamu?" katanya, meminta izin dengan ramah.
"Buat apa?" tanya Anggi sambil mengernyit.
"Pinjem bentar doang," kata Deva lagi seraya mengulas senyumnya.
__ADS_1
Anggi pun akhirnya menyodorkan ponselnya dan memberikannya pada Deva. Ia pikir Deva mungkin hanya akan melihat-lihat ponselnya. Namun, Anggi lupa tidak mengunci layar ponselnya itu. Dan kini entah apa yang dilakukan oleh Deva terhadap benda persegi di tangannya tersebut.
"Udah. Makasih ya," ucap Deva lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya lagi, sementara Anggi hanya bisa terus mengerutkan dahinya.
"Sekolah di mana? Kalau dilihat-lihat dari wajah kamu, kamu masih SMA, kan ya?" tebak Deva sekenanya.
Bagaimana Anggi harus menjawab? Haruskah ia menjawab kalau ia baru saja di-drop out dari sekolahnya? Atau pura-pura masih bersekolah saja?
"Oh, aku tahu deh. Kayanya aku pernah lihat kamu di depan gedungnya SMA Tarumanegara. Kamu anak situ, ya?" Lagi, seolah-olah Deva merupakan peramal yang tahu apa saja tentang orang-orang yang ditemuinya. Atau dia memang seorang dukun yang bisa membaca pikiran orang lain?
Anggi hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Mungkin, diam lebih baik.
Detik berikutnya, ponsel Deva bergetar di atas meja. Layar ponselnya menampilkan sebuah panggilan masuk dari entah siapa, namun kalau tidak salah Anggi sempat membaca satu kata di layar tersebut, yakni nama Raihan.
"Halo? Oh, oke. Tunggu gue di sana," kata Deva bersama orang di seberang telepon sana. Raut wajahnya seketika berubah dan terlihat tergesa-gesa memasukkan ponselnya ke dalam saku jeans-nya.
"Anggi. Maaf ya, aku gak bisa lama-lama. Aku ada urusan penting," ujar Deva dengan air muka paniknya. Cowok itu lantas perlahan bangkit dari kursinya.
"Iya, nggak papa," balas Anggi sambil mengulas senyum hangatnya yang khas.
"Makasih udah ngasih waktu buat sempetin ngobrol, ya Anggi. Semoga kita bisa ketemu lagi." Deva menyempatkan mengucapkan kalimat itu sebelum ia pergi dari hadapan Anggi.
"Aku pamit duluan, ya."
Dan setelahnya, cowok asing itu benar-benar menghilang dari hadapan Anggi. Setidaknya ia tidak terjebak dengan cowok aneh itu berlama-lama. Apalagi, suaminya sudah melarang keras Anggi untuk tidak terlalu dekat dengan cowok lain. Bisa repot kalau Prana sampai tahu.
"Sayang."
Deg! Suara bariton itu membuat Anggi tertegun seketika. Cewek itu dengan cepat menoleh ke belakang dan benar saja, ia langsung mendapati sosok suaminya sudah berdiri di sana.
"Mas Prana?"
Suami Anggi itu lantas menghampiri istrinya dan langsung duduk di depannya. "Nunggu lama, ya?" tebak Prana benar. Tapi, menurut Anggi tadi waktunya berjalan cepat. Mungkin, karena tadi Anggi punya teman mengobrol. Jadi, ia tidak merasa menunggu Prana dengan lama.
"Enggak kok, Mas. Aku kira meeting kamu bakal lama. Tau-tau udah nyampe aja kamu," responnya, membuat Prana tersenyum tipis mendengarnya.
"Kamu pasti capek, ya? Mau langsung pulang aja apa gimana? Eum, atau mau pesen minum dulu mungkin?"
"Cowok tadi siapa?"
Dan boom! Bukannya menanggapi ocehan Anggi, Prana justru mengalihkan topik. Bahkan, nadanya terlihat sinis dan dingin. Hal itu tentu saja langsung membuat Anggi panas dingin di tempat. Cewek itu sampai mengusap keringat yang keluar dari kedua telapak tangannya.
"Anu, Mas-"
__ADS_1
"Aku kan udah bilang, Anggi. Jangan terlalu deket sama cowok-cowok yang gak kamu kenal apalagi yang gak jelas gitu," tegur Prana dengan nada serius yang secara langsung membuat Anggi semakin cemas.
Anggi menatap kedua bola mata suaminya dengan ragu. "M-maaf, Mas. Tadi gak sengaja ketemu aja kok," jelasnya dengan sedikit terbata. Sudah jangan ditanya lagi perasaannya kini. Cewek itu langsung was-was, takut bila suaminya akan salah paham.
Namun, ternyata Prana justru tersenyum. "Lain kali jangan diulangi, ya?" katanya sambil mengusap punggung tangan istrinya.
Hal itu langsung membuat Anggi terperangah. Suaminya ternyata tidak marah? Benarkah?
"Kamu nggak marah, Mas?" tanyanya hati-hati.
"Aku percaya sama kamu kok," kata Prana masih setia dengan senyuman hangatnya, membuat hati Anggi berdesir untuk yang kesekian kalinya. Ia pun ikut tersenyum melihat senyum yang juga tercetak di bibir indah suaminya.
Benda persegi yang berharga super mahal di saku celana Prana membuat cowok itu tersentak dan segera meraihnya. Ia seketika mengerutkan kening saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Dan dengan ragu, suami Anggi itu mengusap panel berwarna hijau lalu mendekatkan benda mahal itu ke telinganya.
"Halo? Wa'alaikumussalam. Iya, Man? Ada apa?"
Anggi juga ikut mengernyit. Siapa yang menelepon suaminya malam-malam begini? Tidak mau berpikir yang tidak-tidak, cewek itu berusaha untuk berpikir positif. Mungkin, kliennya, batinnya.
Prana menghela napas berat. "Kenapa lagi sih? Gue kan udah bilang, gue gak mau lagi berurusan sama dia. Bilangin ke dia, sampai kapan pun gue gak akan pernah mau lagi lihat wajahnya," ujar Prana tegas, membuat Anggi semakin bingung karena tidak tahu apa-apa.
"Gak bisa, Man."
Jeda sekian detik dan cukup lama, cowok itu lalu menghela napasnya lagi. "Ya udah. Gue ke sana," katanya dengan nada lesu dan setelahnya segera memutus sambungan telepon.
"Kenapa, Mas? Klien lagi?" tanya Anggi khawatir. Pasalnya, hari sudah sangat malam dan ia tidak mau suaminya sampai kecapean.
Prana mengangguk. "Kamu pulang sama ojek online nggak papa, Sayang? Maaf banget, aku gak bermaksud ngingkarin janji. Aku-"
"Udah, nggak papa. Yang penting kamu gak boleh capek-capek, ya. Kalau udah selesai, langsung pulang ya, Mas. Aku khawatir sama kesehatan kamu," ujar Anggi sambil menangkup pipi suaminya.
Prana pun mengangguk dan tak lupa mengulas senyumnya yang mengisyaratkan supaya Anggi tidak terlalu cemas padanya.
***
Halo, semua! Selamat datang kembali di kisah mereka.
Masih setia nggak nih? Kangen sama bumbu-bumbu yang memancing emosi gak? Hehe.
Yuk! Dukung author dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE cerita ini ke teman-teman kalian, dan jangan lupa tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat menulis kisah mereka.
COMMENT pendapat atau saran kalian tentang bab ini, dong. Biar gak sider aja, hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK!
__ADS_1