Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Ratu Ular


__ADS_3

"Waduh-waduh, baunya harum banget nih."


Anggi mendekat ke arah dapur saat indra penciumannya itu menangkap aroma harum masakan yang menjalar ke seantero ruangan.


"Eh, Sayang? Mau sarapan sekarang?" tawarnya dengan lembut.


Anggi geleng-geleng kepala menyambutnya. "Gaya ya kamu sekarang bisa masak," ejeknya sambil terkekeh menatap suaminya itu.


"Dih, orang aku udah jago masak dari dulu kok. Nih-nih, kamu cobain," ujar Prana lalu menyodorkan sesendok kuah sup buatannya itu ke mulut istrinya.


Anggi pun segera membuka mulut, menyambut kuah sup buatan Prana itu. "Kayanya kurang gula dikit deh, Mas. Terlalu asin," komentarnya dengan pandangan yang mengira-ngira.


"Iya, ya?"


"Apa jangan-jangan kamu pengin nikah lagi? Katanya, kan kalau masak keasinan, itu tandanya orang yang masak pengin nikah," tutur Anggi seenak jidatnya. Cewek itu segera tertawa renyah mendengar ucapannya sendiri.


"Enggaklah, Sayang. Buat apa nikah lagi kalau aku aja udah dapet istri sesempurna ini? Ha?" rayu Prana seraya mencolek dagu istrinya. Tak lupa cowok itu selalu mengedipkan matanya sebelah saat menggoda Anggi.


"Bisa aja kamu. Orang aku aja masih banyak kurangnya kok. Aku yang beruntung punya suami ganteng sama multitalenta kaya kamu." Kini, Anggi yang gantian mencolek dagu suaminya.


Mereka mendadak saling goda seperti itu. Beruntung karena Tuhan sudah membuat kedekatan mereka semakin menguat. Dan bahkan, cinta mereka kini berkali-kali lipat bertambah dalam. Anggi dan Prana sama-sama terikat dan tak ingin melepas satu sama lain.


"Kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, Nggi. Makasih ya, kamu udah mau nerima semua kekurangan aku dengan sabar selama ini," ucap Prana lantas mengecup punggung tangan istrinya itu.


Rasanya ia benar-benar tak bisa pergi dari sisi seorang Anggia Soraya. Bagaimana bisa ia jatuh cinta sedalam ini? Bahkan, dengan Rena waktu dahulu pun rasanya cowok itu tak pernah merasa takut kehilangan. Ada apa dengan Anggia Soraya? Mengapa berbeda? Pelet apa yang sebenarnya ia gunakan sampai membuat Prana gila seperti itu? Panjat syukur bagi Maha Cinta yang mampu mengubah benci menjadi sebuah ketulusan cinta.

__ADS_1


"Makasih kembali, Mas." Anggi tersenyum pada suaminya.


Prana juga membalas senyum itu dengan amat teduh sehingga berhasil membuat Anggi tak ingin kehilangan senyum itu.


"Ya udah, yuk makan! Keburu dingin supnya," ajak Prana lalu segera bergerak untuk menyiapkan semuanya.


Sementara Anggi tidak tinggal diam. "Aku bantu, ya?" tawarnya dan tanpa menunggu balasan dari suaminya, cewek itu langsung membantu Prana menyiapkan keperluan untuk sarapan mereka pagi ini.


***


"Tumben lo ngunjungin gue?"


"Yaelah, Ren. Sinis amat lo sekarang. Kurang baik apa gue jauh-jauh dateng ke sini buat cuma jenguk lo?" Nita cekikikan mendengar kalimat yang dilontarkannya sendiri.


"Jadi, gak ikhlas nih?" ujar cewek dengan jarum infus yang masih setia menancap pada tangannya.


Sementara Rena yang duduk bersandar pada sandaran ranjang rumah sakit hanya bisa menggeleng sambil berdecak pelan. "Gitu, ya sekarang? Bangga lo?" ejek cewek itu tak tahu malu.


"Bangga dong," jawab Nita.


Mendadak cewek itu mengubah raut wajahnya menjadi suram dan sendu. Ia menatap lamat-lamat lingkaran hitam pada kedua mata Rena serta bibir yang kering dan pucat itu.


"Gue turut prihatin sama lo, Ren. Padahal, gue hafal betul lo gak suka bibir lo pucat gitu, kan? Lo pernah bilang gak menarik. Tapi, sekarang ternyata mau gak mau lo harus nerima kenyataan sepahit ini. Lingkaran mata lo juga semakin item, padahal lo dulu rutin pakai masker mata sama gue," kata Nita sambil mengusap punggung tangan Rena satunya yang tidak tertancap oleh jarum infus. Rasanya aneh saja melihat penampilan teman ceweknya yang sekarang berubah 180 derajat itu.


Rena lalu tertawa pelan. Bahkan, untuk tertawa saja rasanya sulit dan berat sekali. Seringkali cewek itu merasa menjadi cewek terlemah di muka bumi ini. Manja dan tidak punya harapan. Namun, jika disuruh memilih, tentu Rena tidak akan mau memilih berhari-hari tidur di atas ranjang rumah sakit seperti sekarang ini. Apa boleh buat bila ia memang diharuskan menerima kenyataan pahit yang ia telan selama ini?

__ADS_1


"Bodo amat sama mata panda sama bibir pucat. Emang apa yang bisa diharapin dari cewek penyakitan kaya gue, Nit?" ia tertawa miris, "cowok manapun pasti gak bakal mau sama cewek yang hobinya tidur sama minum obat-obatan tiap jamnya."


"Sssttt." Nita mengusap bahu temannya dengan lembut.


"Lo gak boleh ngomong kaya gitu. Lo masih punya harapan, Ren. Rena yang gue kenal dari dulu gak gampang patah semangat kaya gini. Dia bakal perjuangin semua yang dia mau dengan cara apa pun. Seorang Rena gak pernah mau nyerah sama keadaan. Lo harus bangkit, Ren. Lo harus yakin kalau lo bisa pulih secepatnya. Lo gak sendiri. Masih banyak orang yang sayang sama lo di dunia ini." Nita berusaha menenangkannya. Ingin sekali rasanya menangis saat melihat sahabatnya menjadi seperti itu. Pandangan kosong dan hilang harapan. Ia benci Rena yang seperti itu.


Rena kembali tersenyum miris meratapi nasibnya. "Gue pernah punya cita-cita waktu kecil. Gue sering banget nonton barbie dan dari situ gue punya tekad kuat, kalau gue udah besar nanti gue harus bisa dapetin pangeran yang gue mau. Dan gue pernah nemuin pangeran itu, Nit. Rasanya indah banget kalau sama dia. Seolah kita gak pernah hidup di dunia nyata, gue selalu mikir apa iya gue hidup di fantasi gue? Tapi, enggak, Nit. Itu beneran nyata. Pangeran yang gue idamkan beneran nyata di hadapan gue, di sisi gue," jelasnya panjang lebar. Air mata yang mulai kering itu mendadak terjun lagi dari pelupuk matanya.


"Prana?"


Rena mengangguk lemah. "Apa iya, Nit kalau kita terlalu terlena sama ekspetasi sampai kita lupa pada kenyataan yang sesungguhnya? Gue pernah terlena sama semua kata-kata Prana. Gue pernah jatuh terlalu dalam sama cowok itu. Tapi, untuk sekarang ini kayanya gue harus sadar diri deh, Nit. Cewek kaya gue sama sekali gak pantes dapet cintanya Prana. Yang ada malah gue nyusahin dia nanti," curhatnya dengan nada mendalam. Rasanya hatinya seperti tersayat-sayat saat mengingat momen-momen indah yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi itu.


Nita yang mendengarnya langsung menggeleng cepat. "Enggak, Ren. Lo gak boleh putus asa kaya gini terus. Cowok yang lo sebut pangeran itu berhak dapetin cewek sebaik lo. You deserve a better person, Ren. Cewek sekuat dan setangguh lo pantesnya sama cowok kaya Prana. Gue yakin kalau lo pasti bisa dapetin cintanya Prana lagi. Dan setahu gue Prana orangnya setia kok, gue yakin kalau dia juga masih cinta sama lo," dorongnya, membuat Rena ikut tertarik dan mulai kembali terlena dengan kata-kata itu. Pembohong besar! Ratu ular! Bagaimana bisa ia mengatakan semua itu, sementara Prana sudah berhasil menjatuhkan hatinya di cewek yang tepat?


"Emangnya Prana gak punya pacar lagi setelah putus sama gue? Bukannya waktu itu, ibunya pernah bilang ke gue kalau-"


"Enggak, Prana masih setia nunggu lo."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Halo, readers!


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?

__ADS_1


Ikut geregetan gak? COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2