Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Kejujuran yang Menyakitkan


__ADS_3

Hai! Alhamdulillah, kita ketemu lagi.


Author punya karya baru loh btw.


Judulnya "MY COLD BOY" asikk


Yuk, mari dicek! :D


Sebelum baca, LIKE sama COMMENT dulu boleh? Xixixi makasih yaaa


***


"Alasan apa lagi, Ren? Gak usah pura-pura lagi sekarang. Karena gue udah muak dengerin semua omongan palsu lo itu."


Prana mengepalkan kedua tangannya di samping badan, mencoba menahan amarah yang mulai meledak.


"Pra, please. Satu kali ini aja. Ini penting buat kamu tahu, Pra. Biar nggak ada salah paham lagi di antara kita. Dan setelah aku jelasin semuanya, kamu boleh ambil keputusan apa aja. Terserah kamu, insyaAllah aku bakal ikhlas nerima," pinta Rena, bersimpuh pada mantannya itu.


Rena kini mulai terguncang. Kesehatannya belum sepenuhnya pulih dan ia harus dihadapkan dengan kenyataan seperti di depannya saat ini. Bayangan wajah sumringah Prana yang menyambut kedatangannya setelah sekian lama sirna, lenyap tak bersisa. Cowok itu sudah benar-benar berubah. Hanya rasa kebencian padanyalah yang kini menyelimuti seluruh jiwa raganya.


Prana menghela napas kasar lantas mengacak rambut kesal. "Oke, lo boleh cerita sekarang," katanya kemudian, mengizinkan cewek yang pernah singgah di hatinya itu untuk menjelaskan semua.


Senyum Rena perlahan mulai merekah lagi. Setidaknya muncul secercah harapan untuknya kali ini. Ia perlahan bangkit, dengan tenaga seadanya mencoba untuk menopang tubuh dengan kedua kakinya yang lemas.


"Tiga tahun yang lalu, Pra. Kamu masih inget, kan tanggal anniversary kita? Ya, semoga kamu masih ingat. 30 Maret 2017. Waktu itu kamu undang aku ke rumah kamu. Semua keluarga kamu ikut kumpul waktu itu. Kita makan malam bareng. Awalnya semua baik-baik aja, semua orang bahagia. Tapi, setelah ayah kamu ngajak kamu keluar karena satu urusan-" Rena sengaja menggantung kalimatnya. Ekor matanya melirik pada cowok di hadapannya dengan ekspresi datar, bahkan seolah muak dengannya itu. Mencoba memastikan apakah cowok yang pernah begitu mencintainya itu setia mendengarkan apakah tidak.


Prana berdeham, seolah menjadi satu isyarat bagi Rena untuk segera melanjutkan sekaligus supaya jangan terus-menerus menatapnya seperti itu. Cowok itu sudah muak dengan muka topengnya.


"Waktu itu mama kamu ngomong sesuatu ke aku, Pra. Mama bilang, 'Jangan dekati anak saya lagi, ya. Tolong sekali, Nak. Dia sudah mau kami jodohkan dengan perempuan lain.' Mama kamu bilang gitu seolah gak pernah mau mikirin perasaan aku, Pra. Dan kamu benar-benar gak tau soal ini, kan? Maaf, aku nggak ngasih tau kamu waktu itu karena memang aku bukan siapa-siapa kamu, bukan?" Bulir air mata semakin deras terjun dari pelupuk-pelupuk mata Rena. Kecantikan dan aura positif dari wajahnya seketika lenyap, tergantikan oleh kemuraman dan mendung yang menyelimutinya.

__ADS_1


Prana menoleh pada Rena. Seolah tak percaya, cowok itu membulatkan kedua matanya. "Ma-Mama bilang gitu ke kamu?" tanyanya mendesak, ingin memastikan apakah ia salah mendengar atau tidak tadi.


Rena mengangguk lemah. Kedua pipinya basah karena air mata terus mengalir. "Aku pengin, Pra. Pengin banget bisa perjuangin cinta kita waktu itu. Tapi, sehari setelahnya, tiba-tiba kesehatan aku drop. Dadaku sakit banget, Pra. Sakit banget. Bibirku tiba-tiba pucat pasi dan semua kulitku biru-biru. Mama sempat syok dan langsung bawa aku ke rumah sakit hari itu juga. Dokter vonis aku kena pneumothorax akut. Aku sama Mama sama-sama syok dan kaget. Padahal, selama ini aku ngerasa sehat-sehat aja. Dan karena peralatan medis di rumah sakit sini kurang mendukung, akhirnya Mama bawa aku ke luar kota buat pengobatan. Nggak ada lagi kesempatan buat aku merjuangin cinta kita, Pra. Dan aku kira kamu benar-benar dijodohin terus ngelupain aku. Aku udah mencoba ikhlas, Pra. Tapi, ternyata aku gak pernah bisa ngelupain kamu. Dan satu hal yang bikin aku semangat buat sembuh itu kamu, Mahaprana Virgo." Rena menjelaskan semuanya dengan jelas. Air mata juga turut mengiringi setiap kata yang terlontar dari mulutnya. Menghujani pakaiannya yang semakin lusuh.


Prana mundur satu langkah, mengambil jarak untuknya dengan Rena. Apa-apaan semua ini? Penjelasan dari Rena justru membuatnya seperti ingin muntah saja. Rasa pening dengan sigap segera menyerang setiap sudut kepalanya. Ia kembali mengacak rambutnya gusar, lantas beralih menggaruk tengkuk dengan kasar.


"Kenapa lo nggak ngomong sih, Ren? Kalau lo jelasin waktu itu ke gue, semua gak bakal jadi kaya gini," protes Prana yang mulai ikut menteskan air mata. Bukan air mata penyesalan karena tak bisa lagi bersama Rena, melainkan air mata kekesalan karena ia mengetahui semuanya dengan amat terlambat.


"Tapi, Pra. Aku bener-bener nggak punya kesempatan waktu itu. Maafin aku," ucap Rena sembari memegang lengan cowok di hadapannya.


Namun, dengan pelan suami Anggi itu melepas genggaman tangan Rena dari lengannya. "Lo sekarang udah sehat?" tanyanya mendadak lembut.


Pertahanan dirinya hampir goyah karena air mata Rena. Namun, lagi-lagi ia terus diingatkan oleh kesabaran dan ketulusan istrinya selama ini. Ia mengingat semua janji yang pernah ia ucapkan pada Anggi. Sampai kapan pun Prana akan setia dan berada si sisinya.


"Pra? Kamu nggak mau maafin aku? Tolong, Pra. Maafin aku kali ini," mohonnya masih menarik lengan cowok yang sudah bukan siapa-siapanya lagi itu.


Prana tersenyum tipis dan lagi-lagi menepis pelan tangan Rena. "Gue maafin lo, Ren. Pasti," katanya lantas tersenyum hangat pada cewek itu. Setidaknya supaya Renata lebih tenang. Prana tahu pneumothorax bukanlah penyakit main-main dan ia juga tahu kalau Rena belum sepenuhnya pulih. Terlihat dari wajah dan bibir pucatnya, beserta lingkaran hitam di sekitar dua manik mata itu.


"Makasih, Pra. Makasih," ucapnya lagi-lagi.


Hening sesaat.


"Jadi, kamu mau menerima aku seperti saat kita pertama kali bertemu, kan Pra?" tanyanya tiba-tiba.


Deg! Bukankah ia harusnya tahu kalau Prana sudah menikah? Bukankah ia harusnya tahu kalau ada janji suci yang harus dijaga? Bukankah harusnya ia tahu kalau Prana sudah tidak lajang lagi? Apa-apaan lagi ini? Atau, mungkinkah Rena benar-benar tak tahu tentang Prana dan Anggi?


Dan, boom! Prana tiba-tiba teringat satu hal. Saat istrinya antusias bercerita tentang sahabat barunya tadi sore di mobil. Tunggu. Pakaian yang dikenakan Rena saat ini sama persis dengan pakaian yang dikenakan dengan cewek yang berdiri di samping Anggi di depan mal tadi. Dan soal pneumothorax serta luar kota. Oh, Tuhan! Benarkah mereka tidak saling tahu? Prana dihadapkan pada situasi pelik saat ini. Apa tindakan yang harus diambilnya kali ini?


"Lo? Maksud gue, Ren, lo nggak tahu?" tanya Prana dengan segala perasaan syoknya.

__ADS_1


Rena segera mengernyit. "Nggak tahu soal apa, Pra?" tanyanya balik dengan wajah polosnya.


Dua bola mata Prana kembali membelalak. Jadi, benar? Rena tidak tahu soal kehidupannya sekarang?


"Gu-gue nggak bisa, Ren. Kalau soal nerima lo lagi di kehidupan gue. Gue sama sekali nggak bisa," kata Prana dengan tegas, namun tetap lembut. Ia harus bisa menjaga hati dan perasaan Rena supaya tidak tersakiti.


Rena kembali merenggut senyum. Senyumnya mengendur dan matanya kembali sayu. " Tapi, kenapa, Pra? Apa gara-gara aku nggak cantik lagi?" tanyanya, mencoba meminta penjelasan.


Cewek itu meraba seluruh bagian mukanya. "Iya? Aku udah nggak cantik lagi di mata kamu, ya? Aku udah nggak semenarik dulu? Gara-gara penyakit ini ya, Pra?" tanyanya lagi. Air mata makin bercuruan membasahi pipi-pipi beserta pakaiannya bagian atas.


Prana menggeleng lemah. Air mata terbendung di pelupuk matanya. Ia kehabisan kata-kata. Cowok itu benar-benar lemah saat ini. Di satu sisi, Rena sangat rapuh. Namun, di sisi lain, ada hati yang tulus yang harus benar-benar dijaganya. Yang selama ini sudah terlampau sabar menghadapi sikapnya yang amat jahat.


"Terus kenapa, Pra? Apa ada orang ketiga? Iya? Jelasin, Pra! Jangan diem aja." Rena semakin terisak dan menggila. Cewek itu sampai menarik kerah Prana supaya cowok itu tak diam membisu begitu saja.


Prana mengambil dua tangan Rena, lantas menggenggamnya erat. "Tolong, Ren. Gue bener-bener nggak bisa. Jangan cari-cari gue lagi. Ya?" katanya, sama terisaknya dengan Rena.


Detik berikutnya, Prana segera melepas genggaman tangannya lalu melenggang begitu saja dari hadapan Rena. Meninggalkan cewek itu seorang diri beserta seluruh perasaan sedih, marah, kecewanya. Hanya teriak sekencang mungkinlah yang bisa ia lakukan saat ini. Hingga akhirnya cewek itu ambruk di lantai dengan pakaian yang sudah setengah basah.


***


ANNOUNCEMENT!


Hai! Author punya karya baru loh. Ceritanya nggak kalah asik dari kisah Anggi sama Prana pastinya.


Judulnya "MY COLD BOY"


Yuk-yuk, dicek dan dibaca! Semoga suka dan jangan lupa LIKE, COMMENT, sama VOTE-nyaa makasihhh


[Baca sampai akhir, ya]

__ADS_1


Satu kalimat buat bab ini?


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


__ADS_2