Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Dua Form Pendaftaran


__ADS_3

Kenapa, apa yang membuat aku begitu merindukan Aeron. Dia ada di sisi ku, kenapa aku begitu merindukannya.


Perasaan itu masih menghantui Nisa, hingga saat ini Aeron sudah lulus SD.


"Mommy, aku mau masuk SMP Bina Anggara yah" ucap Aeron menyebut salah satu sekolah menengah yang terkenal dengan kedisiplinan dan kepintaran murid murid di sana. Apalagi sekolah itu terkenal dengan sekolah elit.


"Baiklah nak, besok kita akan mendaftarkan pangeran tampan keluarga Lusion ke sekolah itu" jawab Nisa membelai lembut wajah putranya.


Aeron pun merasa senang, dia langsung memeluk mommy nya. Sejak kecil dia merasa selalu di manja, namun dengan didikan Nisa. Aeron tidak pernah merasa manja dan tidak semena mena. Meskipun Vans dan Nisa memenuhi apapun yang Aeron minta, tetap saja Nisa memberi nasehat agar putranya tidak sombong dan berlalu seenaknya.


Lihat saja saat ini, Aeron tengah mengantar piring ke dapur.


"Sudah selesai makan nya?" tanya Nisa.


"Sudah my, masakan mommy enak banget" balas Aeron mengacungkan kedua jempol nya.


Nisa merasa senang mendengar pujian dari putranya. Tidak ada kebahagiaan lain selain membuat anak dan suaminya bahagia dengan apa yang dia masak.


"Benar mommy, masakan mommy paling The best," Sahut Vans ikut memuji.


Nisa semakin bahagia, dia tersipu malu mendengar suaminya juga memujinya.


Keesokan harinya, seperti yang Nisa janjikan. Dia pergi ke sekolah menengah Bina Anggara untuk mendaftarkan Aeron.


Sesampainya di sekolah, Nisa langsung di arahkan menuju ke ruangan Tata usaha sekolah. Di mana terlihat banyak para orang tua datang mendaftarkan putra putri mereka.


"Pilihan Aeron memang bagus" gumam Nisa dalam hati. Dia memuji lingkungan sekolah, keramahan pegawainya juga bagus. Guru guru nya juga sangat baik dan ramah.


"Silahkan duduk Bu" ucap salah seorang panitia penerimaan siswa baru.


Nisa mengangguk, dia duduk pada kursi yang sudah di sediakan di depan meja panitia itu.


"Boleh saya minta berkas berkas nya Bu?"


"Oh tentu", Nisa langsung mengeluarkan map coklat yang berisi dengan berkas berkas milik Aeron. Lalu, nisa pun menyerahkan pada panitia itu.


Kemudian, panitia itu memberikan form pendaftaran pada Nisa agar segera di isi.


"Silahkan di isi dulu yah Bu"ucap pegawai itu seraya mengulurkan beberapa lembar form yang harus Nisa isi.


"Ini Bu" Nisa menyerahkan form itu lagi pada panitia setelah mengisinya.


Saat melihat foto yang tertempel di form pendaftaran, panitia terlihat bingung. Dia mengambil form yang sebelumnya dia terima.


"Ada apa?" tanya Nisa heran, dia melihat panitia itu membandingkan dua form pendaftaran.


"Bukan kah ibu sudah mendaftarkan anak ibu di sini?"tanya panitia itu heran.

__ADS_1


Nisa terkejut, siapa yang mendaftarkan putranya. Sudah jelas tadi suaminya yang mengantar dirinya ke sekolah ini. Tidak mungkin jika sudah mendaftarkan putranya, Vans masih mengantar dirinya ke sekolah ini. Dia pasti memberitahunya.


Lalu siapa? kakek dan bibi sedang berada di luar kota.


"Apa tidak salah Bu, saya baru saja mendaftarkan putra saya hari ini." jelas Nisa yakin.


"Tapi, putra ibu sudah terdaftar. Lihat lah fotonya sama, tapi.. Namanya berbeda"


"Sean Dirgantara!"


Nisa meminta form milik Sean pada panitia agar dia bisa melihat dengan jelas. Bagaimana bisa ada yang mirip dengan putranya.


Deg.


Nisa merasa jantungnya seakan berhenti berdetak, mata nya melebar melihat foto Aeron tertempel di form pendaftaran milik Sean.


Apa maksud semua ini. Bagaimana mungkin ada anak orang lain begitu mirip dengan Aeron.


"Apa ibu memiliki anak kembar?"


Ser...


Tiba-tiba darah Nisa berdesis, perasaan nya tidak menentu.


"Tidak Bu, saya tidak memiliki anak kembar tapi, kenapa Sean ini mirip sekali dengan putra saya?" tanya Nisa lagi, dia menatap lekat foto Sean. Dia merasa perasaan rindunya semakin kuat.


Nisa memutuskan untuk pulang setelah mendaftarkan Aeron. Dia masih syok, ingatan soal persalinan itu mulai muncul sedikit demi sedikit. Menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat sangat sakit di kepala Nisa.


"Arrgg..."


Bug.


Nisa tidak sadarkan diri, dia terjatuh tepat di ruang tengah rumahnya.


"Mommy!!"


Aeron berlari dari dapur saat melihat tubuh mommy nya tergeletak di lantai.


"Mommy, bangun. mommy kenapa???"


"Tolong!!" Aeron berlari ke luar, dia meminta bantuan supir dan satpam yang berjaga di luar untuk mengangkat tubuh Nisa masuk ke dalam kamar.


Aeron menghubungi papi nya, meminta papi nya agar segera pulang. Setelah itu, Aeron kembali mendekati mommy nya. Memeluk tubuh lemas Nisa yang masih tidak sadarkan diri.


"Mommy bangun..." Tangis Aeron.


"Nisa.... Nisa.." Vans tiba di rumah, dia berlari masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Papi" panggil Aeron melihat papinya datang.


"Aeron, bagaimana kondisi mommy kamu? kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Vans sambil mengusap usap wajah istri nya, mengecek suhu tubuh Nisa. memastikan apakah Nisa demam atau tidak.


"Papi, mommy baru pulang dari sekolah baru Ki. Tiba-tiba mommy pingsan di ruang tengah. Aeron tidak tahu kenapa.. Hiks.. Hiks tolong mommy Pi"


"Aeron gak mau kehilangan mommy Pi" rancau Aeron menangis di dalam pelukan papi nya.


"Tenang yah sayang, mommy tidak apa apa, mommy hanya kelelahan" bujuk Vans menenangkan putranya.


Setelah itu, Vans pun hendak beranjak menghubungi sila. Dia ingin dokter itu memeriksa kondisi istrinya.


Saat akan pergi menelfon, tiba-tiba Nisa sadar dan menahan tangan Vans.


"Kak.."


Vans menoleh, dia langsung mengurungkan niatnya menghubungi sila.


"Sayang"


"Mommy" panggil Aeron senang, dia menghapus air mata nya dan memeluk Nisa.


"Mommy baik baik aja kan??"


"Iya sayang, mommy baik baik saja" jawab Nisa dengan nada suara lemah.


"Sayang, apa yang terjadi, kenapa kamu tiba-tiba begini?", tanya Vans lembut.


Nisa menahan nafas, dia kembali teringat dengan kejadian tadi. Di mana dia melihat form pendaftaran anak orang lain, namun fotonya sama dengan Aeron.


"Sayang..."


Nisa menoleh, ingin sekali dia memberitahu pada suaminya. Namun, Vans pasti akan mengira dia berhalusinasi lagi. Jadi, lebih baik dia menyimpan sendiri dulu.


"Tidak ada kak, aku hanya merasa pusing saja tadi"


"Apa aku harus memanggil dokter??" tanya Vans.


Nisa menggeleng cepat, dia tidak memerlukan dokter. Dia juga merasa tidak percaya dengan dokter itu. Entah mengapa Nisa merasakan hal buruk padanya.


"Aku baik baik saja kak, tidak perlu memanggil Sila" ucap Nisa meyakinkan Vans.


"Mommy, beneran tidak apa apa. Jangan membuat aku takut my, aku gak mau kehilangan mommy" tangis Aeron kembali pecah.


"Tidak sayang, mommy baik baik saja"


:Biarlah aku sendiri yang tahu, dan menyelidiki siapa Sean Dirgantara itu. Aku yakin, dia memiliki ikatan dengan ku.' batin nisa

__ADS_1


__ADS_2