
"Saya duluan ya, Mbak. Terima kasih atas obrolannya yang sangat mengedukasi tadi. Dadah dedek bayi!"
"Sama-sama, Dik. Semoga bahagia selalu ya."
Anggi undur diri. Cewek itu lalu melangkah menuju kasir untuk membayar pesanan matcha latte-nya yang sudah ia habiskan tadi. Namun, belum sampai ia menyodorkan sejumlah uang yang baru saja ia keluarkan dari dompetnya, seseorang tiba-tiba datang dan menyerobotnya.
"Maaf, Mas?"
"Aku aja yang bayar."
Detik itu juga Anggi berhasil membulatkan kedua matanya. Ia berkedip sejenak lalu berdeham setelahnya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi datar.
"Gak perlu. Gue bisa bayar sendiri," balas Anggi mendadak dengan nada dinginnya dan berhasil membuat cowok itu tertegun karenanya.
"Tumbenan kamu ketus gitu. Nggak kaya biasanya," katanya dengan kekehan kecil di akhir kalimat.
Anggi semakin kesal melihatnya terkekeh seperti itu. "Mbak, biar saya aja yang bayar," ujarnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna hijau pada pelayan kasir kafe tersebut.
"Anggi. Udah aku bayar ya udahlah," katanya lagi. Tangan cowok itu terulur mengambil kedua tangan Anggi beserta uang yang belum sempat pelayan kasir terima.
"Lo kenapa sih, Bim? Jangan harap gue bisa percaya lagi sama lo setelah kejadian tempo hari. Gue kasihan sama suami gue dan itu semua gara-gara lo yang gak bisa nahan emosi lo." Jarinya menunjuk tepat di depan wajah Bima.
Tentu cowok itu langsung tercekat mendengarnya. Pasalnya, ini baru pertama kalinya Anggi semarah itu padanya. Bima mengembuskan napasnya panjang. Ia memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali.
"Soal kejadian itu, sorry banget, Nggi. Gue gak bisa ngontrol emosi gue waktu itu dan gue ngaku kalau gue salah-"
"Emang lo salah, Bim. Gunanya apa sih selama ini lo pura-pura baik ke gue? Ke lainnya juga, hah? Mau cari muka lo? Gak gitu caranya, Bima." Anggi benar-benar muak melihat wajah cowok di hadapannya kini. Cewek itu berusaha meredam emosinya yang sudah meluap sebisa mungkin supaya tidak meledak.
"Anggi-"
"Anggi!"
Belum sempat Bima merampungkan kata-katanya, seorang cewek datang dari arah toilet dan langsung menghampiri keduanya. Tampaknya ia sudah tahu apa yang tengah terjadi di antara Bima dan Anggi.
"Lo gak bisa salahin dia." Cewek itu menoleh pada Bima sebentar dan dengan cepat menatap Anggi lagi.
__ADS_1
Pakaiannya sangat mini dan ketat. Bentuk tubuhnya sampai terlihat jelas. Lipstick-nya berwarna merah dan terlihat amat mencolok. Kalau bisa dibilang, cewek itu sudah seperti tante-tante yang sedang menemani om buncit ke hotel.
"Lo siapa, Nit? Gue gak ada masalah kok sama lo," ujar Anggi pedas. Cewek itu jengah melihat kehadiran cewek yang dari dulu sudah menyebalkan itu.
"Siapa lo bilang? Gue berhak bela pacar gue. Dan lo, Anggi. Gak usah deh lo caper-caper lagi ke Bima. Dia udah mantan lo, kurang lo punya suami kaya Prana?" Nita menarik salah ujung bibirnya, mencetak senyum sinis di sana.
Senyum sinis itu berhasil membuat emosi Anggi yang sudah ia redam jadi meletup lagi dalam dadanya. Kedua tangan Anggi mengepal kuat. Bagaimana ia bisa sabar bila sudah berhadapan dengan cewek semacam Nita itu?
"Gue udah sabar sama lo selama ini ya, Nit. Gue juga gak mau cari gara-gara lagi. Jadi, tolong jangan pancing gue," ujar Anggi dengan nada tegas dan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Udah-udah. Ini tempat umum, gak baik bertengkar di sini," lerai Bima yang menjadi panik melihat situasi di antara mereka semakin memanas.
"Gak, Bim. Cewek kaya gini harus dikasi penjelasan biar nggak semakin ngelunjak," kata Nita dengan nada super menyebalkan terdengar di telinga Anggi.
"Asal lo tau ya, Nggi. Gue udah ikhlas kasih Prana ke lo. Gue udah berhenti ngejar dia buat kebahagiaannya dia. Tapi, kayanya gue salah ngelepas dia buat lo setelah lihat kelakuan lo kaya gini. Kasihan Prana, dia punya istri sok suci kaya lo," ujar Nita terang-terangan sambil mengacungkan jari telunjungnya tepat di depan muka Anggi.
Cewek itu tak tinggal diam, ia langsung menepis kasar jari telunjuk Nita dari hadapannya. "Lo bilang kasih dia ke gue? Emang sejak kapan Prana mau sama lo? Sejak kapan kalian pernah menjalani hubungan? Gak pernah denger gue," balas Anggi tak kalah pedas dan menohok.
Benar saja ucapannya. Memangnya sejak kapan Prana dan Nita berhubungan? Bisa-bisanya cewek itu bilang kalau melepas Prana untuk Anggi.
Bima yang berada di tengah-tengah mereka jadi bingung harus melakukan apa. Bodohnya dia tadi lupa kalau ia sedang bersama Nita ke kafe tersebut. "Nit, udah." Bima berusaha menahan Nita supaya tak melanjutkan makiannya.
"Gak peduli gue lo mau ngomong kaya apa lagi. Asal lo tau aja, Mas Prana bisa kok nerima gue dengan apa adanya gue sekarang ini. Lo aja yang sangsi." Anggi mengerlingkan kedua matanya. Sifat lembutnya mendadak hilang entah ke mana. Nita berhasil memancing amarahnya kali ini. Ia tak bisa bersabar lagi.
"Pede lo? Bim, sorry kalau ini nyakitin lo. Tapi, gue harus bilang sekarang. Lo gak tahu, kan selama ini kalau suami yang lo bangga-banggain itu pernah ngamar sama gue?"
"Makasih ya, Nggi. Setidaknya gue pernah ngerasain Prana sebelum lo."
Boom! Dengan cepat Anggi membuka mulutnya lebar-lebar dan refleks menutupnya dengan kedua tangannya. Kalimat itu berhasil membuat jantung Anggi seakan baru saja ditembus oleh peluru tajam dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Hatinya seketika berdenyut. Kedua kakinya lemas dan pertahanannya sudah hampir runtuh. Air mata mulai mengalir perlahan dari ujung pelupuk matanya.
"Nita! Lo apa-apaan sih?" protes Bima dengan nada marahnya saat melihat Anggi seperti itu. Tentu cowok itu tidak tega. Dan dengan cepat tangannya menyentuk bahu Anggi sambil berusaha menenangkannya.
"Gue bilang apa adanya, Bim. Anggi juga harus tahu, kan? Katanya istrinya." Nita sudah tak peduli lagi dengan perasaan cewek di hadapannya. Bagaimana bisa sesama perempuan justru saling menyakiti dan tak ingin memahami perasaan masing-masing?
"Tapi, nggak gitu juga, Nit. Lo gak mikirin perasaannya Anggi gimana?" Bima jadi mengungkapkan kekesalannya. Cowok itu tak habis pikir kalau Nita bisa sekejam itu pada Anggi.
__ADS_1
Sementara Anggi hanya bisa menangis dalam bungkamnya. Cewek itu menutup mulutnya rapat-rapat, tak ingin orang lain jadi terganggu karenanya. Tak usah ditanya lagi bagaimana suasana hatinya kini. Bisa membayangkannya sendiri, kan? Pasti kesal, kecewa, marah, kacau, campur aduk. Semua jadi satu kesatuan yang berhasil merobek-robek hatinya.
Bima terus menenangkan Anggi. Sedangkan, Nita hanya memandang keduanya sinis. Setelah beberapa detik, Anggi mulai menenangkan diri. Ia tak mau berlarut meresapi kesedihannya di sini, mengingat kafe ini merupakan tempat umum. Cewek itu menepis kedua tangan Bima secara perlahan.
"Gue gak papa. Gue bisa sendiri."
"Sayang?"
Tepat sekali waktunya. Prana tiba-tiba datang dan langsung menghampiri ketiga manusia itu karena merasa janggal. Melihat istrinya yang baru menyeka air mata, cowok itu segera mendekatinya dan berusaha bertanya ada apa.
"Sayang? Kamu kenapa?" tanyanya cemas. Prana menatap Bima dan Nita secara bergantin dengan tatapan tajamnya.
"Aku mau pulang, Mas," jawab Anggi sembari sesenggukan. Cewek itu menepuk kantung matanya yang sembab.
"Ya udah, ayo aku anter," ujar Prana lalu segera melangkahkan kaki mendahului istrinya.
"Nggak sama kamu, Mas. Aku pengin sendiri," kata Anggi, membuat Prana melongo di tempat.
"Tapi, kenapa?"
"Aku nggak papa."
***
[Baca sampai akhir, ya]
Halo! Semoga hari kalian menyenangkan.
Mulai tegang nggak nih? Kira-kira Anggi bakal gimana, ya? Kalau kalian jadi Anggi, apa yag akan kalian lakukan? Comment-comment.
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian buat bab ini, dong. Biar gak sider hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.
__ADS_1