
"Astaghfirullah!" Dion dan Prana berucap kompak.
Mereka berdua seketika menghentikan langkah kaki dengan serentak. Kedua pasang bola mata itu langsung membulat dengan sendirinya.
Detik selanjutnya, Dion menutup mata dengan kedua tangannya. "Anj*r! Gue gak mau liat. Gak! Gak mau pokoknya!" ujarnya beruntun sambil membalikkan badannya.
Lampu kamar itu belum juga dinyalakan. Kamar Anggi diselimuti kegelapan dan bau yang aneh. Namun, kedua manusia itu sepertinya sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi sedari tadi.
"Yon! Lo apaan sih? Katanya lo mau nemenin gue, kok jadi mau main kabur aja lo," gerutu Prana kesal karena teman laki-lakinya itu memanglah selalu menyebalkan.
Tanpa aba-aba Prana segera menarik kerah baju Dion bagian belakang supaya bocah tengil itu tidak kabur dari sana.
"Ini memalukan. Ah! Gue gak bisa, Pra. Kampret lo emang. Kenapa ngajak-ngajak gue segala sih? Lagian itu, kan istri lo sendiri," protes Dion tak mau kalah. Pasalnya, apa jadinya nanti bila ia melihat semua dengan mata kepalanya sendiri? Membayangkannya saja amat menggelikan.
"Apaan sih, lo kok nyalahin gue. Kan, lo sendiri tadi yang bilang suruh ngecek. Ini udah dicek, kok lo main tinggal aja." Prana kukuh pada tujuan awalnya. Dion memang mengesalkan. Yang menyarankan tadi siapa? Yang kabur duluan juga siapa?
"Kalau gue ada di sebuah cerita, fix gue gak bakalan mau ditempatin di adegan ini. Geli anj*r! Dan lo seenak jidat nyerempetin gue ke masalah ini," ujar Dion semakin sebal karena Prana terus memaksanya. Ia masih merasa merinding sejak masuk ke dalam ruangan besar itu.
"Kampret emang yang masukin kita ke adegan cerita macam gini. Gak mikir betapa gelinya kita apa?" Prana memprotes lagi. Cowok itu juga berulang kali mengedikkan bahunya geli.
"Yeu! Orang istri lo sendiri, masa geli? Aneh lo emang," cibir Dion lalu menoyor kepala Prana.
Sementara, Prana juga tak tinggal diam dan membalasnya dengan tak kalah keras. "Gue sendiri aja belom pernah itu sama Anggi. Ya gue geli lah, Nyet!" katanya dengan segala kepolosannya.
Dion yang mendengar itu segera tertawa lepas dan dengan cepat mulut tak tahu malu itu dibungkam oleh tangan Prana. "Bisa diem gak sih, lo? Kedengeran istri gue entar," peringatnya dengan mata mendelik.
"Kurang ajar lo sama gue, Pra. Tangan bau terasi aja bangga lo main taroh di hidung sama mulut gue. Lagian elu sih, nikah udah berapa tahun, tapi belum itu juga." Dion kembali cekikikan. Namun, kekehan itu kini dipelankannya atas perintah dari cowok di hadapannya.
Prana pun segera mencium kedua telapak tangannya secara bergantian. Benar saja, tangannya bau terasi. Mungkin, karena ia lupa belum mencuci tangannya dengan sabun setelah makan di kantor tadi. Dasar Mahaprana Virgo. Ganteng-ganteng, tapi bau terasi!
"Iya, ya?" Prana menyengir kuda.
"Ya mangap (maaf). Gue lupa belum pake sabun tadi," katanya masih dengan cengiran sok polosnya.
"Emang dasar lo! Ganteng-ganteng, tapi bau terasi. Biar apa coba? Bangga lo? Kalau gue jadi cewek sih ogah banget sama cowok bau terasi kaya lo. Mendingan sama Dion yang ganteng maksimal nan harum sepanjang hari." Dion menghirup udara sebanyak mungkin sambil memejamkan mata. Sudah seperti adegan di iklan-iklan televisi.
"Dih! Ganteng wangi apanya, lo? Pura-pura lupa, Mas dulu waktu kelas sepuluh yang kecirit (cepirit) di celana siapa, ya? Siapa sih? Lupa gue namanya. Terus waktu itu mana pas upacara lagi. Dan gara-gara dia, upacara mendadak bubar soalnya orang-orang pada gak tahan sama bau cepiritnya. Siapa sih, Yon yang kaya gitu dulu?" Prana melipat kedua tangannya di depan dada. Ia pura-pura lupa untuk menyindir cowok yang sedang berdiri di hadapannya kini.
"G*plek, lo emang!" Lagi, Dion menoyor kepala cowok ganteng itu, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Ya gak usah nyebar aib di sini, Bambang! Pembacanya jadi tau, anjr*t!" protesnya kesal.
Sementara, Prana hanya bisa cengengesan tidak tahu malu. "Ya, kan tujuan gue dialog kaya gini biar pada tau lo itu sebenernya kaya gimana. Cowok yang sok ganteng, padahal beuh. Gak usah ditanyalah," cibirnya semakin membuat Dion cemberut.
"Udah-udah. Ngapain malah bahas cepirit? Urus istri lo dulu, b*go!" Dion memarahi Prana karena obrolan mereka semakin melantur, ngalor-ngidul.
"Yang mancing siapa, Bambang?"
__ADS_1
"Ssttt. Diem! Suaranya semakin jelas, njr*t!" umpat Dion saat suara itu semakin menggila terdengar di telinganya.
Dan Prana pun tentu mendengarnya dengan jelas. "Yon, gue takut," ujarnya sambil memeluk lengan teman laki-lakinya itu.
"Apaan sih, lo main pegang aja! Bukan mahram. Jijay gue," tukas Dion tak tahu malu memang.
"Kenapa kita gak nyalain lampunya aja sih, Yon? Ribet," seru Prana.
Dion mengerutkan keningnya. "Lah, salah siapa, Nyet? Kok gue juga jadi kena," protesnya bingung.
"Ya udah, lo nyalain lampunya aja sono. Gue mager. Lo sih, bikin kamar gede amat. Jadinya, kan lampunya pada jauh," gerutu Dion kesal sekaligus kagum yang menjadi satu. Kamarnya memang luas dan besar. Namun, dalam hal seperti ini membuatnya semakin sulit saja.
"Ngongkon, ngengken, ngutus, lo ya sama gue." Prana memicingkan matanya menatap Dion yang dibalas oleh kerlingan mata oleh cowok itu.
*ngongkon, ngengken, ngutus (artinya sama): menyuruh
"Pengin cepet kelar kaga?" ujar Dion mulai malas menanggapi sahabatnya itu. Siapa yang salah di sini?
"Iya-iya," jawab Prana tak kalah malas lalu segera berjalan menuju sakelar lampu di ujung ruangan dekat pintu sana.
Dan, Tara! Semua terlihat semakin jelas sekarang. Akan tetapi, dua manusia itu justru serempak menutup kedua matanya. Entah apa dengan cowok-cowok aneh itu. Tingkahnya selalu tidak jelas.
"Gimana, Pra?"
"Gimana apanya?"
"Lah, gue kaga tau, M*nyet."
"Lah, ini gimana sih? Lo ke mana emang?"
"Gue gak ke mana-mana, Bambang. Lo di mana sih?"
"Gue tetep di sini dari tadi, k*mpret."
"Aaaa."
Ya, satu suara teriakan yang terdengar melengking dan memekikkan gendang telinga itu berhasil membuat Prana dan Dion melompat kaget secara bersamaan. Keduanya lantas perlahan membuka kedua matanya.
"Sayang? Kamu ngapain?" tanya Prana dengan mimik muka kikuknya.
"Lo ngapain, Anggia Soraya?" Dion ikut menimpali.
Ketiga manusia itu sama-sama saling pandang dengan tatapan bertanya-tanya mereka. Terlebih dengan Anggi yang sama sekali tidak tahu menahu apa-apa.
"Lah, seharusnya aku di sini yang tanya. Kalian ngapain? Main nyelonong masuk kamar, tanpa ketuk tanpa apa," tanya Anggi balik dengan nada yang mengisyaratkan kebingungannya.
Prana segera menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa besar di samping ranjang. Cowom itu lantas menilik benda di depan Anggi.
__ADS_1
"Kamu dari tadi ngapain?" tanyanya lalu menoleh ke arah ranjang istrinya. Lekukan itu juga masih terlihat bertutupkan selimut tebal.
"Makan tahu lontong, Mas. Kamu kenapa sih? Tiba-tiba ke sini. Mana ngajak Dion segala," tanya Anggi masih dengan kerutan kening di dahinya.
"Lah, terus ini apaan, anj*r?" ujar Dion ikut mendekati keduanya sambil menunjuk lekukan mencurigakan di ranjang Anggi itu.
"Huh-hah." Anggi mengipas lidahnya yang panas karena baru saja selesai merampungkan acara makan malamnya dengan tahu lontong kesukaannya.
"Apa-apaan sih, kalian ini? Gak jelas banget," kata Anggi lantas bangkit, meraih segelas susu di nakas dan segera meneguknya sampai habis tak bersisa.
"Ini apa, Sayang?" tanya Prana semakin penasaran karena sesuatu di atas kasur itu.
Anggi mengernyit dan setelahnya berjalan perlahan menuju kasur berukuran jumbo di tengah-tengah ruangan.
"Ini?" Tangan Anggi menunjuk lekukan yang dimaksud oleh kedua cowok itu.
Dion dan Prana langsung mengangguk secara bersamaan. Sementara, Anggi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang absurd itu.
"Nih, liat sendiri." Anggi pun dengan cepat menarik selimutnya.
Ketiga orang itu segera cengo melihatnya. Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilihatnya di depan mereka itu.
"Kampr*tttt! Kucing kawin ternyata?" Prana dan Dion saling tatap kompak dan mengumpat bersamaan. Apa-apaan ini? Hanya karena kucing kawin dan Anggi yang makan tahu lontong pedas saja mereka langsung berpikiran negatif? Memalukan.
"Astaghfirullah! Aku gak tau kalau mereka lagi itu. Tadi aku kira cewek-cewek. Ternyata cewek-cowok?" Anggi berujar dengan muka polosnya.
"Ya Allah, Sayang. Kamu itu bikin kita khawatir dari tadi. Kucing siapa sih ini? Kok kamu bisa bawa ke sini?" tanya Prana dengan perasaan yang tidak dapat didefinisikan.
"Tadi aku nemu di depan rumah. Ya udah, aku ambil aja daripada gak ada yang ngurus. Taunya mereka kurang ajar karena main kawin seenaknya di kasur aku." Anggi berkacak pinggang sambil memandang kedua kucing tidak tahu malu itu.
Dion geleng-geleng kepala. "Benar-benar memalukan. Kalian semua menyeret aku ke dalam situasi seperti ini? Tak bisa dimaafkan. Udah, gue mau keluar. Sekali lagi, memalukan!" pungkasnya lalu segera keluar dari ruangan itu dengan muka tertekuk.
Di sisi lain, Prana hanya bisa menyengir menatap Anggi. Sementara, istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala pelan.
***
[Baca sampai akhir, ya]
Hai-hai! Semoga hari kalian menyenangkan.
Coba comment di bawah aja pendapat kalian tentang bab ini wkwkwk.
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini. Biar gak sider aja hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.
__ADS_1