
Haiii!!!
Rasanya kalau ketemu kalian lagi, para pembaca setia "Pernikahan Wasiat" itu tuh kaya kalian menjadi Ironman, tau gakk hehe canda.
Pokoknya makasihh banget buat kalian yang masih stay di cerita ini dan lav yuu+++
***
Anggi celingukan di depan kafe mini di kota tempat ia tinggal bersama sang suami. Mau masuk, rasanya canggung. Nanti dia dikira orang hilang karena sendirian di sana. Apalagi kafe tampak begitu ramai dan isinya cowok-cowok semua.
"Duh, mana sih orangnya? Udah lima belas menit loh, nggak nongol-nongol idungnya," monolognya dengan nada gelisah.
Pasalnya, cewek itu sudah berdiri di sana sejak lima belas menit yang lalu dan kakinya mulai pegal dibuatnya. Ditambah dengan pasang mata cowok-cowok di dalam kafe yang terlihat mengarahkan pandang ke Anggi. Ya, namanya juga cantik luar dalam, siapa yang enggak kesemsem coba sama paras ayu istri Prana itu?
"Nah, itu dia orangnya. Huh, baru nongol sekarang," gerutunya lagi, namun ia lebih merasa lega karena orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Anggi!" panggil seorang cowok dari arah jalan raya yang baru turun dari mobilnya lantas berlari kecil menghampiri Anggi.
"Ke mana aja sih, lo? Lama banget," cibirnya kesal karena sudah dibuat untuk menunggu lama. Tahu sendiri, kan kalau menunggu itu sangat tidak enak?
Cowok itu segera mencubit hidung mungil Anggi saking gemasnya melihat ekspresinya yang seperti itu. "Sabar atuh, Neng. Abang tadi masih ada urusan bentar," katanya dengan nada yang terdengar seperti sedang menggoda Anggi.
Sontak Anggi mematung di tempat. Perlakuan tiba-tiba itu membuatnya terkaget-kaget. Bukankah cowok itu tahu kalau ia sudah menikah? Jelas terlihat di jari manis Anggi ada cincin yang melingkar di sana.
Ah, bodoh! Anggi, kan memang belum pernah bercerita. Lagipula soal cincin, siapa saja juga bisa memakainya, entah sudah menikah atau belum dan cewek seumuran Anggi zaman sekarang mana ada yang sudah berani menikah? Kalau ada, paling juga masyarakat desa atau pedalaman.
"Oh, gitu. Ya udah, yuk buruan masuk! Gue juga harus pulang sebelum maghrib nih," katanya terdengar terburu-buru.
Benar, masalahnya Prana selalu memeringati istrinya untuk tidak pulang selepas maghrib. Takut jika nanti terjadi apa-apa, katanya. Prana juga sudah sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Akan tetapi, cowok itu juga selalu berusaha menyempatkan diri untuk menemui Anggi untuk memastikan kalau istri tercintanya itu baik-baik saja.
"Iye-iye, bawel," celetuk cowok itu sambil cemberut.
Mereka lantas masuk ke dalam. Didahului oleh si cowok lalu diikuti Anggi di belakangnya. Jujur, Anggi juga masih canggung bila bertemu dengan cowok satu itu apalagi hanya berdua. Bagaimana tidak? Mereka saja baru bertemu sekali dan ini yang kedua kalinya.
"Pesen apa?" tawar si cowok.
"Ngikut aja deh, apa aja," jawab Anggi lalu duduk di seberang cowok tersebut.
__ADS_1
"Ngikut mulu lo. Kalau ikut Abang ke KUA mau nggak?" godanya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sungguh, bila seperti itu, dia amat tampan. Dan mungkin, ia lebih tampan dari suami Anggi. Porsi tampan yang sempurna dengan lekukan di kedua pipinya. Pakaiannya juga tergolong rapi dan khas anak muda. Walau begitu, Anggi tak pernah goyah karena cintanya hanya untuk Mahaprana Virgo seorang.
"Dih, apaan. Udah berapa banyak cewek yang lo goda kaya gitu coba?" balas Anggi dengan seringai senyum khasnya, membuat si cowok semakin melebarkan senyum.
Cowok itu segera mengeluarkan jari-jarinya, sok-sokan seperti sedang menghitung beneran. "Eum, nggak banyak sih. Tujuh mungkin," jawabnya, entah ngasal saja atau benar adanya.
"Udah gila, lo! Tujuh nggak banyak?" komentarnya sambil geleng-geleng kepala, tak paham lagi dengan cowok satu ini.
"Kurang malah," ujarnya ceplas-ceplos sambil cekikikan tidak jelas.
"Udah-udah, ganti topik, fokus, jadinya gimana nih?" ujar Anggi mulai serius. Sementara cowok itu sepertinya masih belum mau diajak serius, terlihat dari sorotan matanya yang menunjukkan bahwa ia ingin terus menggoda Anggi.
"Jadi, abis ini gue ke rumah orang tua lo, minta restu. Abis itu kita ke KUA, nikah." Begitu saja terus, sampai Anggi sudah semakin jengkel di kursinya.
"Serius, Dev," ujar Anggi malas.
Ya, cowok tersebut tak lain adalah Deva. Cowok yang pernah ditemui oleh Anggi di mal tempo hari. Masih ingat, kan waktu itu ada cowok yang tiba-tiba datang dan ingin berkenalan dengan Anggi? Lalu, ia pura-pura meminjam handphone pada Anggi, padahal ia ternyata diam-diam memasukkan nomor Whatsapp-nya di kontak Anggi. Iya, dialah Deva, orang yang ternyata juga menawari kontrak penulis pada istri Prana itu.
"Gimana jadinya?"
"Ya, seperti yang udah gue bilang kapan hari, gue bisa bantu lo jadi penulis kontrak di perusahaan om gue. Om gue bilang, perusahaannya lagi cari orang yang punya skill menulis yang bagus. Entah itu artikel, jurnal, buku, apa pun. Mereka lagi butuh itu. Dan ya, seperti yang udah gue lihat dari snap Whatsapp dan beberapa media sosial lo yang sering banget upload tulisan-tulisan gitu, ternyata dilirik sama om gue dan dia suka. Yaudah, gue tawarin ke lo, Nggi," jelasnya pada Anggi.
Anggi mengangguk tanda paham. "Terus, tindak lanjutnya entar gimana?" tanyanya.
"Setelah lo berhasil bikin satu artikel tentang perusahaan om gue yang menarik dan berbobot, lo bisa langsung kontrak di sana dan dapet royalti pastinya. Ini kesempatan emas buat lo, Nggi. Gue yakin banget lo pasti juga udah mimpiin ini dari dulu, kan? Nah, makanya om gue mau kasih ini ke lo dan katanya, orang yang bakal terpilih itu orang yang beruntung banget soalnya perusahaan om gue ini emang gede, kemajuan dan perkembangannya lagi pesat banget sekarang. Dan ini jadi peluang lo buat jadi penulis besar. Gimana? Lo mau nggak? Ya, kalau lo nggak mau, gue masih ada temen sih yang bisa gue tawarin buat ambil job ini," katanya panjang lebar.
Anggi semakin bimbang dibuatnya. Ia harus bagaimana sekarang? Haruskah ia mengambil kesempatan itu? Haruskah Anggi membangkang suaminya sendiri? Atau menurut saja dan mengorbankan mimpi yang ia susun selama ini? Cewek itu menggigit gigir bawahnya, menandakan bahwa dirinya tengah bingung dan gelisah.
"Lo kenapa? Kok, kayanya gelisah gitu?" tanya Deva refleks melihat raut wajah cewek di hadapannya.
Anggi mendongak dan menatap Deva, masih dengan air mukanya yang menunjukkan kebimbangannya yang tak keruan. "Eum, jadi gini, Dev. Gue itu sebenernya pengin... banget ambil job itu. Dan lo tadi bener, kesempatan itu merupakan mimpi besar gue selama ini. Gue pengin banget jadi penulis besar dari SMP. Ini termasuk cita-cita gue juga. Tapi, ada satu hal yang nggak bisa gue elak, Dev. Ada satu orang istimewa yang nggak ngizinin gue buat ambil itu dan gue takut kalau gak dapet ridha, nanti malah hasilnya nggak maksimal." Anggi menumpahkan unek-uneknya.
Lantas, Deva manggut-manggut, paham dengan yang dimaksud oleh Anggi. Tapi, ia juga semakin berpikir kalau sudah seharusnya Anggi mengambil keputusannya sendiri. Lagipula, dengan melarang Anggi mengambil job itu, berarti orang istimewa tersebut sudah menghambat bakat yang ada di diri Anggi, don**g?
"Gini, deh. Lo emang yakin, kalau semisal nggak ambil kesempatan ini, lo nggak nyesel? Sedih gitu? Coba lo pikir lagi deh, Nggi. Di luar sana banyak banget orang mati-matian buat ngejar cita-citanya supaya bisa jadi penulis besar. Ada yang sampai merantau ke ibu kota dengan uang pas-pasan. Ada yang udah nyoba ngelamar sana-sini, tapi gagal karena perusahaan punya kriteria ribet, aneh-aneh, dan sebagainya. Sedangkan, lo? Lo langsung ditawari kontrak, Anggia. Coba renungin. Mungkin, ini jalan lo menuju kesuksesan, kan?" Deva tak menyerah, ia tetap ingin Anggi mengambil kesempatan itu. Ia tahu betul dari dua manik mata cewek itu kalau ia benar-benar menginginkan pekerjaan ini.
__ADS_1
Anggi merenunginya dalam-dalam. Kata-kata Deva dan Prana seketika seakan sahut-menyahut di telinga Anggi lantas bersarang di kepalanya. Kegelisahan dan kebimbangan semakin menjadi. Mana yang harus ia pilih sekarang? Suami atau cita-cita?
Cewek itu mengembuskan napas panjang. "Oke, gue ambil. Tapi, gue bisa, kan kalau kerja dari rumah? Setidaknya biar orang di rumah nggak khawatir lagi sama gue," ujarnya.
"Bisa, tapi lo tetep harus konsultasi sama om gue buat tema yang akan lo ambil di setiap tulisan lo nanti. Nanti gue yang temenin, lo nggak perlu khawatir," jelasnya, membuat Anggi sedikit lebih lega.
Setidaknya, ia bisa bekerja di rumah sehingga Prana tak perlu terlalu mencemaskannya. Namun walau begitu, Anggi sudah mengambil keputusan untuk tidak memberitahu suaminya tentang hal ini. Kalau tidak, bisa-bisa ia akan kena murka dan tidak boleh menulis lagi.
"Makasih, Dev."
***
"Uluh-uluh, sahabatku ini. Cantik bener. Yuk-yuk, langsung masuk aja. Pasti capek, kan?"
Nita menyambut kedatangan cewek yang sepantaran dengannya di apartemennya. Aura cewek itu terlihat amat muram, mungkin karena baru keluar dari rumah sakit dan baru sembuh.
"Yuk! Duduk di sini aja. Sini, barang lo gue masukin kamar lo," kata Nita sembari membawa barang-barangnya ke dalam kamar yang akan digunakan oleh si tamu cewek nantinya.
"Lo sendirian di sini, Nit? Ini bener, gue nggak ngerepotin lo nanti?" kata cewek itu tak enak hati.
"Lo, mah kaya sama siapa aja. Tuan putri Renata nggak perlu khawatir. Semua aman, udah gue persiapin. Termasuk lo sama Prana nanti, cielah," katanya menggoda sahabatnya itu.
Rena segera tersenyum malu mendengar nama sosok yang amat ia cintai selama ini. "Tapi, beneran, kan kalau Prana nggak punya cewek lagi? Takutnya malah gue jadi pelakor lagi," katanya, memastikan. Takut bila Rena nanti justru akan mengganggu Prana dan cewek barunya.
"Aman, Ren. Prana masih setia nunggu lo."
***
[Baca sampai akhir, ya]
Kira-kira Nita sama Rena mau ngapain, sih?
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.
__ADS_1