
Sebelum baca, LIKE sama comment dulu, boleh? Xixi, makasihh.
***
"Mas, hari ini aku izin keluar bentar ya."
Anggi sedang berselonjor kaki dengan punggung yang ia sandarkan pada sandaran tempat tidur. Sudah beberapa hari ini badannya terasa lemas, namun ia tidak ingin memberitahukan hal itu pada suaminya.
Mengapa? Karena bisa-bisa tingkat overprotective Prana semakin menggila. Dan Anggi tentu tak ingin terkurung seharian di kamar.
"Ke mana?" Prana tengah sibuk mempersiapkan segelas susu khusus untuk program hamil istrinya.
Selama Anggi menjalani program hamil, Pranalah yang mempersiapkan semuanya sendirian. Mulai dari memberi istrinya suplemen khusus, susu program hamil, dan berbagai nutrisi lainnya. Selain itu, ia juga rutin membacakan lantunan ayat suci Al-Qur'an untuk Anggi setiap malam setelah melaksanakan salat Tahajud berjamaah dengan istrinya. Hal inilah yang menjadi favorit Anggi daripada lainnya.
"Ke mal bentar, Mas. Mau beli sabun badan sama perlengkapan rumah lain. Soalnya kalau ke minimarket seberang jalan malah lebih mahal," jelasnya.
Prana melirik istrinya sebentar lantas kembali fokus mengaduk segelas susu di hadapannya. "Naik apa ke sana, Sayang? Aku anter aja deh. Nanti kalau udah siap, telfonin aku," tawar Prana.
Meski cowok itu punya jadwal yang amat padat hari ini, namun ia berniat akan berusaha untuk menyempatkan diri mengantar istrinya ke mal nanti. Pasalnya, ia sangat mengkhawatirkan Anggi. Apalagi cewek itu jadi sedikit lebih murung belakangan ini. Mungkinkah Anggi punya masalah yang ia simpan sendirian dari suaminya?
"Loh, jangan, Mas. Jadwal kamu, kan padet banget hari ini. Nanti malah ganggu kerjaan kamu lagi. Udah, biar aku naik ojek online aja," tolak Anggi dengan halus.
Prana meletakkan sendok di atas meja seusai merampungkan kegiatan mengaduknya. Ia lantas berjalan mendekati istrinya sambil membawa segelas susu yang ia buat tadi. "Kamu itu bandel ya. Sekali aku yang anter ya harus aku. Jangan pakai ojek online, Anggia. Gak baik. Kan, aku udah bilang berulang kali soal itu," katanya seraya menyodorkan segelas susu di tangannya pada Anggi supaya cewek itu segera meneguknya sampai habis.
"Gak usah, Mas. Beneran, lagian biasanya, kan aku juga pakai ojek online ke mana-mana kalau kamu lagi gak bisa nganter."
"Ya udah. Diminum dulu nih."
Anggi pun menyambutnya. Sambil meneguk susu di gelas, ia menatap wajah suaminya yang entah mengapa rasanya semakin tampan saja. Mau sampai kapan cewek itu mampu menahan rasa aneh dari susu itu? Rasanya malah ingin mual saja mencium aromanya.
"Dihabisin. Aku tau loh, kapan hari kamu nggak habisin susunya, kan?" peringat suaminya itu.
Anggi seketika tertegun mendengar kalimat suaminya tadi. Benar yang dikatakan Prana, Anggi memang sempat tidak menghabiskan susunya tempo hari. Bukan tanpa alasan, masalahnya rasa dari susu khusus program hamil itu menurutnya aneh sekali dan Anggi membencinya. Entah Anggi yang tidak terbiasa atau memang rasanya saja yang seperti itu.
Dengan sekuat tenaga yang ia bisa, istri Prana itu segera menghabiskan segelas susu sampai tak bersisa. Meski harus menahan rasa aneh, namun ia terpaksa mau tidak mau harus menghabiskannya. Pasalnya, Prana terus mengawasinya dari tadi.
"Ya habis rasanya aneh tau, Mas. Udah kaya jamu-jamunya orang zaman dulu. Emang nggak ada yang enak gitu apa?" protes Anggi tidak terima bila suaminya menyalahkannya. Yang salah itu rasa anehnya, bukan Anggi.
Prana terkekeh kecil karenanya. "Iya, Istriku. Harusnya sih oke-oke aja ya rasanya. Tapi, ini resepnya memang khusus dari dokternya. Mau gak mau, kamu harus minum susu itu setiap hari sampai kamu berhasil hamil," terangnya.
Anggi mengerucutkan bibir segera. "Nggak adil. Masa aku harus minum susu kaya begituan, tapi kamu enggak. Kan, ini anak kamu juga. Ah! Aku tahu nih. Biar adil sesuai dengan sila Pancasila ke-lima yang berbunyi 'Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia', kamu juga harus minum susu itu. Gimana? Setuju?" tantang istri Prana itu seenak jidat.
Suaminya segera melotot kaget. Bagaimana maksudnya? Prana harus minum susu program hamil itu? Ada-ada saja Anggi ini.
"Maksudnya gimana, Neng? Masa Abang disuruh minum susu program hamilnya ciwi-ciwi? Entar kalau Abang bunting, kamu loh yang bakal kewalahan," balas Prana dengan santai dan mencoba melawak.
Anggi segera terkekeh kecil mendengarnya. Namun, seketika langsung menghentikan gelak tawanya dan mukanya berubah datar. "Bodo amat ya, Mas. Mau kamu bunting, mau kamu jungkir balik kaya apa juga aku nggak peduli. Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus minum susu itu." Cewek itu masih kukuh mengotot.
Hitung-hitung sebagai pelajaran bagi Prana supaya ikut merasakan rasa aneh dari susu yang diminumnya setiap hari serta sekali-kali memanfaatkan kesempatan untuk menjahili seorang pemilik perusahaan.
"Ih! Kok gitu sih. Tega banget sih, kamu sama suami sendiri," gerutu Prana kesal karena istrinya sedang berusaha mengerjainya.
"Biarin. Kamu juga tega tuh nyuruh aku minum susu nyebelin itu. Kamu minum atau aku nggak bakal mau minum susu itu lagi?" Anggi semakin mendesak.
Dan Prana jadi dibuat bingung sendiri kali ini. Haruskah ia menerima tantangan gila itu? Tidak masuk di akal. Tapi, mau bagaimana lagi? Toh, ini demi calon jabang bayinya juga. Ah, cuma susu doang. Gampang ini, ia mendorong dirinya sendiri dalam hati.
"Jangan gitu dong, Ayank Beb. Iya deh, Mas mau minum susunya. Bentar, Mas bikin lagi ya?"
"Nah, gitu dong. Itu namanya suami gentle," ujar Anggi lantas tekekeh puas setelahnya.
__ADS_1
Prana mulai menuang sesendok bubuk susu di meja ke dalam gelas, lalu menuang air, dan mengaduknya. Membayangkannya dari baunya saja ngeri sekali, apalagi nanti mencicipi langsung rasanya.
Dan kinilah saatnya cowok itu meneguk susu program hamil buatannya sendiri. Di sana istrinya sudah setia mengawasinya dan itu semakin membuat Prana merinding.
"Bismillah."
"Gimana, Mas? Enak?"
Prana selesai menghabiskan susunya. Ia seketika terdiam di tempat. Matanya melamun ke depan dan bibirnya tertutup rapat. Kita lihat saja habis ini, apakah ia akan menampungnya dalam perut atau justru memuntahkan semuanya.
"Enak kok," jawab Prana dengan santainya.
Padahal, aslinya, beuh udah pengin muntah aja tuh cowok. Nggak papa, nyenengin istri, katanya dalam hati.
***
"Iya. Makasih, Mas," ucap Anggi pada Mas ojek online.
Sampailah ia di mal yang biasa ia kunjungi di kotanya. Sebenarnya ia tidak terlalu suka pada mal karena Anggi lebih menyukai tempat-tempat alam yang tidak ramai dan menenangkan. Namun, ada suatu saat juga dia merasa kangen terhadap aroma mal yang khas, seperti bau AC-nya yang khas, aroma dari berbagai macam makanan dan minuman dari setiap stan yang ada, dan sebagainya.
Ia mulai melangkahkan kaki menuju ke dalam. Untuk beberapa saat ia menghirup aroma khas dari dalam gedung tinggi tersebut.
"Pagi, Pak Satpam," sapanya pada penjaga di depan pintu masuk.
Ia memang sudah kenal dengan beberapa satpam di sana. Jadi, tak heran bila Anggi seramah itu pada mereka.
"Pagi, Neng Anggi. Neng Anggi kok sendiri aja? Gak sama suaminya?" tanya satpam itu, basa-basi.
Ya, mereka juga sudah tahu bahwa Anggi menikah muda karena cewek itu memang sering membawa Prana bersamanya ke sana. Jadi, para satpam dan pekerja lainnya juga mengenali Prana sebagai suami dari Anggi.
"Lagi kerja, Pak suami saya," jawab Anggi ramah.
Anggi segera tersenyum mendengarnya. Mendengar kata 'dedek bayi' semakin membuatnya bersemangat hari ini. "Doain ya, Pak," katanya, meminta doa supaya program hamilnya dilancarkan.
"Siap, Neng."
Setelahnya, Anggi segera masuk. Ia menimbang-nimbang akan masuk ke stan mana dulu. Dan sepertinya stan minuman boba menjadi tujuan pertamanya kali ini.
"Beli minum dulu bisa nih kayanya. Mumpung haus juga," monolognya.
Tak mau menunggu waktu lama lagi, Anggi berjalan menuju stan yang dimaksudnya. Ia melihat daftar menu untuk memilih menu apa yang akan ia pesan nanti. Sebenarnya, tak perlu membaca menu bagi Anggi untuk memesan. Karena membaca menu pun, ia pasti selalu memesan satu menu favoritnya, yakni Mango Milk Tea.
"Mas, satu Mango-"
"Mango Milk Tea, kan?" Belum sempat Anggi menyelesaikan kalimat, cowok di dalam stan sudah menyahut.
Siapa lagi kalau bukan si barista. Cowok itu memang sudah sangat hafal dengan menu kesukaan Anggi karena setiap kali ke sana, istri Prana itu selalu memesan satu menu, yakni Mango Milk Tea favoritnya. Tak ada yang lain, meski si barista sudah membujuknya untuk memesan menu-menu favorit yang lain di stan tersebut.
"Tahu aja deh Masnya," tukas Anggi yang terkekeh mengetahui kalau si barista ternyata sampai hafal menu yang akan ia pesan.
"Ya jelas hafal. Lha wong Mbaknya musti pesen satu itu doang kok setiap kali ke sini," sindir Mas Barista sambil tertawa.
Anggi jadi malu sendiri. Pasalnya, orang-orang jadi memfokuskan perhatian mereka pada Anggi seorang. Suasana mendadak jadi kikuk karena obrolan tersebut.
"Gimana Mas Jodoh? Eh, Mas Suami maksudku. Nggak ikut ke sini, Mbak?" tanyanya basa-basi.
Anggi hanya menggeleng sebagai jawaban. Seharusnya sih, si Mas Barita tidak perlu membicarakan tentang Anggi dan suaminya di khalayak umum. Kalau begitu, semua orang jadi tahu kalau Anggi menikah muda. Tidak masalah sebenarnya soal menikah mudanya, akan tetapi takutnya orang-orang salah menangkapnya.
Tahu sendiri, kan setiap orang punya sudut pandang yang berbeda-beda? Ada yang menangkap dari sisi positif, namun tak sedikit juga yang langsung menangkap dan menelan mentah-mentah pikiran negatif mereka sendiri.
__ADS_1
"Silakan, selamat menikmati, Neng," ujar Mas Barista sambil menyerahkan satu cup Mango Milk Tea pesanan Anggi pada cewek itu.
Anggi menyambutnya, lalu mengucapkan terima kasih, dan segera pergi karena ia sudah membayar di awal tadi.
Istri Prana itu lantas segera menuju minimarket di bagian dalam untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. Mulai dari sabun, shampoo, beberapa sendok, handuk kecil, dan sebagainya. Dan ketika sudah selesai mengambil semua barang yang ia butuhkan, ia menuju kasir untuk membayar total belanjaannya.
Kemudian, cewek itu bergegas keluar dan hendak mengunjungi food court karena cacing-cacing di dalam perutnya sudah menari-nari meminta makan.
"Mbak-Mbak!" panggil seorang cewek yang datang dari arah minimarket tadi.
Dengan cepat Anggi menoleh ke belakang. Siapakah gerangan yang memanggilnya? Atau Anggi saja yang mengira kalau dia dipanggil dan ternyata bukan, melainkan orang lain?
"Mbak manggil saya?" tanya Anggi untuk memastikan. Siapa tahu orang yang dipanggil cewek tersebut bukan dirinya.
Cewek itu berlari kecil ke arah Anggi. Tangannya terlihat membawa beberapa lembar uang. "Iya, Mbak. Ini tadi kembalian Mbak. Mbaknya kelupaan, terus saya akhirnya berniat untuk memberikan kembalian ini pada Mbak saja daripada nanti butuh ternyata," kata cewek itu menjelaskan maksudnya memanggil Anggi.
"Waduh, makasih banyak ya, Mbak. Jadinya ngerepotin," ucap Anggi sembari tersenyum hangat.
Cewek itu membalas senyumnya. "Sama-sama, Mbak. Lain kali jangan sampai kelupaan, ya. Itu nominalnya lumayan banyak loh bagi saya," tegurnya sambil terkekeh kecil.
"Siap, Mbak. Oh ya, gimana kalau Mbak makan sama saya? Kebetulan saya mau ke food court. Barangkali Mbak juga sedang lapar?" tawar Anggi. Hitung-hitung sebagai balas jasa atas kejujuran dan kebaikan cewek di hadapannya kini.
"Ya sudah. Boleh, Mbak," jawab cewek tak dikenal tersebut dengan senang hati.
***
"Jadi, Mbaknya ini namanya Rena, toh?"
Cewek yang kini duduk berhadapan dengan Anggi di salah satu food court di mal tersebut mengangguk.
"Jangan panggil 'Mbak'. Kita, kan seumuran, Nggi," katanya sambil haha-hihi.
"Iya juga ya. Oh ya, kira-kira ada perlu apa pindah lagi ke kota ini? Bukannya kata Mbak, eh, Rena tadi lebih betah di kota yang baru?" tanya Anggi sembari memotong ayam geprek di atas piring di depannya.
"Iya, Nggi. Emang lebih nyaman aja di kota yang baru. Tapi, aku masih punya keperluan di sini," jawabnya, menjelaskan.
Anggi lantas mengerutkan kening. "Keperluan apa, Ren kalau boleh tahu?" tanyanya dengan hati-hati. Siapa tahu kalau Rena ingin menjaga privasinya.
Dengan senang hati Prana menjawab dan membeberkan, "Iya. Aku masih ada keperluan penting di sini. Soal mantanku. Dulu kita berpisah gara-gara keegoisan aku sendiri. Aku sakit dan aku gak pengin ngasih tahu dia. Soalnya, waktu itu mamanya udah pernah bilang ke aku buat jauhin anaknya. Katanya, anaknya mau dijodoin sama cewek lain dan menikah muda."
"Dijodohin? Memangnya siapa ceweknya, Ren? Terus kamu gak mau perjuangin cinta kamu sama dia?"
Rena mengangguk samar. "Iya, Nggi. Dia dijodohin mama sama ayahnya. Untuk berjuang, aku kayanya emang gak bisa, Nggi. Aku mah siapa? Alhamdulillah-nya, ternyata dia sampai sekarang belum jadi dijodohin dan menikah," jelasnya.
"Serius? Berarti, masih ada kesempatan dong, Ren?" Anggi menanggapi dengan antusias. Bila dirinya berada di posisi Rena, ia pasti juga akan sangat bersedih hati.
Rena lagi-lagi mengangguk. "Dan sekarang aku pengin merjuangin cinta aku lagi. Doain ya, Nggi," katanya sekaligus meminta doa pada Anggi.
"Aku doain ya, Ren. Semoga bisa dapetin cinta kamu lagi," balas Anggi seraya mengulas senyum paling ramahnya.
***
[Baca sampai akhir, ya]
Satu kalimat buat bab ini?
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK.