Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Tahu yang Terbaik


__ADS_3

Cowok itu sedang bersandar pada pintu mobilnya. Ia berkali-kali melirik arloji yang melingkar di pegelangan tangan kirinya. Namun, raut wajahnya masih santai dan setia menunggu seseorang di dalam rumah megah itu.


"Yuk!"


Cewek yang ditunggu-tunggunya pun datang. Ia mengenakan dress di atas lutut dan high heels berharga puluhan juta. Rambut ikal gantungnya tergerai ke belakang.


"Wajah kamu kok pucat gitu?" Cowok itu segera menangkup kedua pipi cewek di hadapannya. Ditempelkannya punggung tangannya pada dahinya.


"Kamu nggak papa?" Raut wajahnya yang santai tadi seketika berubah menjadi panik.


Cewek itu segera tersenyum tipis. "Nggak papa kali," katanya dengan suaranya yang serak.


Cowok itu beralih menatap punggung tangan cewek di depannya. "Itu tangan kamu kenapa?" Ia meraih tangan mungil itu.


"Aku beneran nggak papa," katanya lagi, meyakinkan cowok menyebalkan itu.


"Beneran? Ini bekas selang infus, kan? Kamu jangan bohong sama aku deh," desaknya supaya cewek itu mau segera mengaku.


"Cuma sakit biasa kok. Gak usah lebay gitulah. Jadi berangkat gak nih?" katanya mulai jengah karena cowok itu terlalu mengkhawatirkannya.


"Sakit apa? Kok kamu nggak ngabarin aku sih? Kalau kamu emang sakit, harusnya kamu ngabarin aku. Biar aku bisa anter kamu ke dokter. Kalau gini kan jadinya aku khawatir," protesnya dengan nada penuh penekanan di setiap kalimatnya, membuat cewek dengan rambut pirang itu mengangguk paham.


"Dress aku cocok nggak?" Cewek itu memutar tubuhnya, mencoba menunjukkan baju yang dipakainya. Jangan ditanya lagi bagus atau tidak, harganya yang selangit menjadikan dress itu terlihat berkerlipan.


"Kamu pakai apa aja udah cantik kok." Cowok itu tersenyum dan mencubit salah satu pipinya.


"Kamu suka gombal, ya? Udah ganteng, gak suka aneh-aneh, cowok baik-baik, komplit banget. Gak kaya aku yang nakal gini," katanya merendahkan dirinya sendiri. Ia selalu merasa tidak berguna bila disandingkan dengan cowok sebaik dirinya.


"Udahan dulu mujinya, udah hampir telat nih." Cowok itu segera membuka pintu mobil dan mengajak cewek itu untuk turut masuk bersamanya.


"Kamu kalau pakai jas itu gantengnya nambah."


Cowok itu hanya tersenyum menanggapi pujian cewek yang kini duduk di samping kursi kemudi.


***

__ADS_1


"MasyaAllah, Pak Virgo!"


Pria dengan beberapa uban di rambutnya itu berhamburan menghampiri cowok yang baru saja datang dengan setelan jas rapinya. Ia pun segera menjabat tangan cowok berparas tampan itu.


"Virgo saja," katanya.


"Ya, Virgo. Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu seramah mungkin.


Prana pun tersenyum membalasnya. "Baik, Pak Kean. Bagaimana dengan Bapak sendiri?" tanyanya balik.


Ya, Keanto namanya. Salah satu rekan Bakri di perusahaannya. Keanto juga merupakan orang yang paling berpengaruh di perusahaan Bakri. Dan Prana sangat mengerti hal itu. Cowok itu tahu bagaimana harus bersikap saat di hadapan orang-orang sepertinya.


"Saya tentu baik, Virgo. Kamu jangan salah melihat uban di rambut saya ini. Jangan pikir saya yang sudah tua ini akan lemah dan sakit-sakitan. Hal itu tidak akan terjadi pada saya selama saya masih punya semangat berbisnis," terangnya sambil tertawa lepas di hadapan Prana.


Cowok itu pun ikut-ikutan tertawa mendengarnya. Satu hal yang Prana takuti ialah orang-orang semacam Keanto itu ternyata bermuka dua dan punya rencana licik di balik topengnya. Maka dari itu, Prana selalu berhati-hati saat berhadapan orang-orang semacam itu.


"Ya sudah. Pak Kean silakan menikmati hidangannya terlebih dahulu. Saya ingin menemui teman-teman saya." Prana mempersilakan Keanto dan hendak undur diri.


"Semoga kamu yang memenangkan posisi itu, Virgo. Bapak sangat berharap itu padamu," ujar Kean sambil menepuk pundak Prana.


"Wah-wah, Pak Mahaprana Virgo. Jasnya rapi sekali. Harganya berapa tuh? Rambutnya itu loh, pakai pomade apa, hah? Gayanya udah kaya bapak-bapak CEO saja." Salah satu cowok yang berdiri di depan meja hidangan segera menceletuk saat melihat Prana datang hendak menghampirinya.


"Hus, tuman!" balas Prana sambil mengulas senyum tipisnya.


"Lah, kan emang CEO tuh cowok tengil," balas salah satu teman cewek lainnya.


"Oh iya, lupa deng. Kan, abis ini emang mau jadi CEO ya," cetus cowok itu lagi dan terbahak di akhir kalimatnya.


"Yon, Yon. Jes, Jes. Kata siapa? Gue gak gila jabatan. Lagian lo tahu sendiri, kan kalau gue itu lebih suka nikmatin bisnis-bisnis yang udah gue bangun sendiri," tukas Prana sembari meraih hidangan dessert di depannya lalu langsung mencomotnya.


"Yaelah, Pra. Semua orang juga pasti udah pada tahu kali kalau lo yang bakal gantiin posisi bokap lo di perusahaannya," celetuk Jesi yang masih menikmati minuman dingin di tangannya.


"Nah, bener. Lo gak kasihan apa bokap lo udah sepuh gitu, tapi lo gak mau nerusin perjuangan dia bangun perusahaan segede gini? Semua orang juga pada tahu, Pra. Lo itu pinter, cerdas, pemikirannya maju. Lo itu orang yang paling cocok dan pantes buat dapetin jabatan itu," jelas Dion membuat Jesi mengangguk setuju.


"Gue selalu tahu mana yang terbaik, Yon, Jes. Termasuk hal-hal kecil dalam hidup gue. Makanya, gue beruntung banget punya temen-temen yang terbaik kaya lo-lo pada," ujar Prana lalu segera merangkul kedua temannya itu.

__ADS_1


"Apaan sih lo, gak nyambung tau gak?" cibir Jesi sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, ya dong. Untung lo punya temen kaya kita. Kalau nggak lo pasti udah salah pergaulan tuh temenan sama orang-orang gak jelas di luaran sana," kata Dion seraya menaikkan alisnya sebelah.


"Boleh-boleh," balas Prana lalu manggut-manggut.


"Tuh tuh, Si Pengkhianat dateng tuh," celetuk Dion yang menyadari kehadiran cowok bersama dengan cewek yang ikut berjalan di sampingnya.


"Hus! Jangan ngomong gitu lo. Nggak elok, biarin aja udah dia kaya gitu," tegur Jesi sambil menyenggol lengan Dion yang suka bicara ceplas-ceplos itu.


"Prana. Udah dateng aja lo ternyata. Bersemangat banget kayanya," sapa sekaligus sindir cowok yang baru saja datang bersama pasangannya.


Prana pun tersenyum sinis. "Gue gak gila jabatan, sekali lagi gue tegasin," balasnya tegas, membuat cowok di hadapannya ikut tersenyum sinis mendengarnya.


"Semoga lo beruntung," katanya lagi, namun dengan nada yang tidak mengenakkan terdengar di telinga orang-orang di sekitarnya.


"Baik, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu di ruangan ini yang saya hormati. Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena hadirin sekalian sudah berkenan hadir di acara yang sudah ditunggu-tunggu ini. Seperti yang sudah saya informasikan sebelumnya bahwa hari ini merupakan salah satu hari yang sangat besar dan penting dalam kehidupan saya. Hari ini saya akan putuskan siapa yang layak untuk mendapatkan posisi sebagai CEO perusahaan dan menggantikan saya." Bakri yang baru saja datang di hadapan para tamu undangan langsung menyambut mereka dan segera memulai.


"Gue yakin pasti nama lo yang bakal disebutin, Pra," bisik Dion pada telinga Prana.


"Kalau menurut gue sih jangan kepedean dulu, ya. Soalnya kalau gak, bisa malu sendiri tuh udah gaya-gaya sebelumnya, eh ternyata bukan dia," celetuk cowok tadi yang mendengar bisikan Dion itu.


***


[Baca sampai akhir, ya]


Hai! Semoga sehat, ya kalian.


Gimana? Udah ada pancingan teka-tekinya belum? Hehehe.


Yuk! Dukung terus author-nya dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE ke teman-teman kalian, dan tambahkan karya ini ke FAVORIT supaya author makin semangat lagi!


COMMENT dong, tanggapan kalian tentang bab ini. Saran juga boleh.


TERIMA KASIH BANYAK!

__ADS_1


__ADS_2