
...Assalamu'alaikum, teman-teman!...
MOHON MAAF SEKALI karena author jadi lama update dan hari ini pun update-nya tengah malam.
Soalnya author juga harus "nyambi" urusan lain huhu.
MAAF BANGET BANGET BANGET
Tapi, author akan selalu berusaha kasih yang terbaik kok buat kalian.
Gapapa, kan? Dimaklumin, kan?
SEMANGAT-in dongg hehe, jangan lupa LIKE+VOTE juga yaa
Terima kasih sudah setia dan SELAMAT MEMBACA
***
"Anak saya sepertinya juga masih menyimpan rasa untuk Nak Prana."
Pria itu melirik Anggi sekilas. Dan lirikan itu berhasil menusuk punggung Anggi seketika. Bukannya suudzon, tapi sepertinya pria itu memang tidak menyukai istri Prana tersebut. Begitu kentara dari kilatan tatapannya untuk Anggi yang sudah seperti menyimpan dendam kesumat.
Namun, Anggi tentu hanya bisa diam dan terus berusaha menarik ujung-ujung bibirnya. Meski begitu, tak dapat berbohong kalau matanya menyiratkan ketidaknyamanannya berada di tengah-tengah mereka.
Prana lantas melirik Anggi, seakan paham kalau cewek itu sedang memakai topeng senyumnya, ia mengeratkan genggaman tangannya.
"Saya ingat, Pak. Dan soal rasa, maaf sekali, bukan bermaksud menyinggung Om sama putri Om, tapi saya sudah sangat mencintai istri saya ini," ujarnya sambil mengusap bahu kiri istrinya.
Anggi sedikit terhenyak karena Prana ternyata memiliki niatan untuk membelanya. Setidaknya kata-kata itu membuat suasana hatinya sedikit lebih lega. Meski tak dapat dipungkiri kalau pria itu masih menatapnya dengan pandangan penuh benci.
"Ya sudah, saya dan istri mau ke dalam dulu, Om. Sampai bertemu di dalam," pamitnya.
Pria itu hanya mengangguk dan sama sekali tak selera menatap cewek di sebelah Prana. Apa sebenarnya salah Anggi? Padahal, ia tak tahu apa-apa tentang mereka.
"Sayang? Istriku?" Prana menoleh.
"Iya?"
"Kalau nggak nyaman sama acaranya langsung bilang aja, kita pulang," katanya memberi penawaran. Benar, Prana sedang mengkhawatirkan perasaan istrinya.
Hah, Anggi mendesah dalam hati. Rasanya sepertinya memang berada di penjara saat ini. Di satu sisi, ia memang sedikit merasa tidak nyaman. Baru datang saja sudah disambut dengan sindiran-sindiran halus seperti tadi. Bisa jadi tadi hanya permulaan saja, kan? Namun, di sisi lain, ia tentu tak ingin merepotkan suaminya. Apalagi ini merupakan acaranya, acara Prana, acara peresmiannya sebagai pemilik baru perusahaan.
Dengan ketegaran hati cewek itu tersenyum tipis. "Enggak kok, Mas. Gak usah khawatirin yang tadi. Aku bener-bener nggak papa. Ini, kan acara kamu. Udah, sekarang cukup pikirin diri kamu aja. Aku bisa jaga diri," jawabnya dengan hati yang lapang.
__ADS_1
"Yakin?" Prana menatap istrinya lekat-lekat.
"Iya, Mas." Anggi semakin mengembangkan senyum dan secara langsung membuat perasaan Prana menjadi lega.
"Ya sudah, aku mau nyamperin tamu undangan. Kamu mau ikut apa gimana?" tawar Prana dengan kelembutannya.
Anggi terlihat menimbang-nimbang. "Eum, aku di sini aja deh. Oh, kalau nggak tuh sama cewek-cewek," katanya sembari menunjuk gerombolan wanita di sudut ruangan. Dilihat dari perawakan dan penampilannya, sepertinya usia mereka tak jauh dari Anggi. Maka dari itu, ia tak sungkan untuk bergabung.
"Ya udah, kalau ada apa-apa langsung cari aku aja. Aku di sebelah sana," kata Prana seraya menunjuk ujung ruangan bagian depan. Persis di dekat pintu utama.
Anggi mengangguk dan akhirnya mereka berpisah. Dengan ragu Anggi melangkah, mendekati gerombolan yang dimaksudnya tadi. Semoga pilihannya sudah tepat untuk bergabung bersama mereka.
"Hai! Boleh gabung nggak?" sapa Anggi ragu-ragu.
Sontak semua mata tertuju pada cewek dengan gaun soft pink panjang yang menyapu lantai. Begitu anggun dan auranya langsung memancar. Rambutnya yang tertata rapi juga membuat mereka segera terkesima.
"Halo! Kamu istrinya Kak Prana, kan?" sapa salah satu dari mereka. Lengkung senyum pun tercetak di bibir tipisnya. Parasnya tak kalah cantik dengan Anggi. Terdengar dari sapaannya untuk Prana, sepertinya mereka memiliki hubungan saudara.
"Iya. Kamu saudaranya Mas Prana?" kata Anggi membalas cewek dengan gaun biru dongker selutut itu. Sepertinya usianya berada di bawah Anggi, terlihat dari wajahnya yang masih sangat muda.
Namun, bila dilihat dari segala sisi, beberapa di antara mereka justru melempar tatapan tidak suka ke arah istri Prana itu. Terutama cewek dengan gaun merah mencolok yang berdiri sebagai primadona di tengah-tengah mereka.
"Wah, ternyata ini Mbak Anggi. MasyaAllah, baru bertemu sekali aja aku udah langsung takjub banget sama Mbak. Nggak salah Kak Prana milih kamu jadi istrinya," pujinya. Anggi seketika terbang ke udara. Kata-kata itu otomatis sudah menyanjungnya.
"Oh, ini istrinya Prana yang katanya bidadarinya keluarga Om Bakri itu?" sahut salah seorang dari mereka, sengaja memotong kalimat Anggi. Tepat sekali, cewek dengan gaun merah tadi. Raut wajahnya sudah bisa menggambarkan rasa irinya pada sosok yang tadi sedang disanjung.
"Enggak kok, aku bukan bidadari. Aku cuma manusia biasa, kayak kalian," balas Anggi segera seraya mengulas senyum ramah. Sebisa mungkin cewek itu harus bersikap ramah di antara mereka. Apalagi banyak keluarga besar Prana datang di acara sebesar ini.
"Hus, kamu itu emang bener kok bidadarinya keluarga Om Bakri. Yang diucapin Yunita tadi nggak salah," tukas cewek yang disangka saudara Prana tadi. Ia kini berdiri tepat di samping Anggi. Pandangannya tak dapat menipu kalau ia benar-benar kagum dengan sosok Anggi.
Oh, jadi ini yang namanya yang Yunita. Cantiknya paripurna sih, pintar juga. Sepertinya akan sangat cocok bila disandingkan denga Prana yang memang sama-sama multitalenta.
"Boleh juga." Yunita meneliti Anggi dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan dinginnya.
"Gue denger, lo nggak ngelanjutin sekolah? Kenapa?" pancingnya. Terlihat jelas dari sorotan matanya kalau ia sedang berusaha untuk memancing perhatian Anggi.
"Yun, kenapa sih?" cewek yang berdiri di samping Anggi itu segera mencela.
"Kenapa apanya? Gue, kan cuma tanya," sanggahnya.
"Lo tau sendiri, kan, Yun. Lagian, Kak Prana juga sama-sama nggak ngelanjutin sekolah kok." Cewek itu sudah mulai tersulut mendengar kata-kata Yunita. Sementara Anggi hanya bisa mengelus pundaknya supaya tak melakukan lebih.
"Udah-udah," lerai Anggi dengan perasaan khawatirnya.
__ADS_1
"Ya, tapi, kan Prana itu bisa mimpin perusahaan. Kalau bidadari ini, bisa apa?" Sorotan mata itu mengejek. Kesal sekali melihatnya. Namun, Anggi tetap berusaha tegar. Toh, memang ia sudah menduga sebelumnya. Benar, kan kalau tadi hanya permulaan? Ternyata ada yang lebih ahli di bidangnya di dalam ruangan megah ini.
"Masa suaminya sempurna gitu, tapi istrinya ecek-ecek kaya gini?" yang lain menimpali.
Anggi terdiam. Kata-kata itu langsung menohoknya dan menyudutkannya. Seperti bilah pisau yang ditancap lalu dicabut lagi dari dadanya. Perih dan sesak. Kira-kira seperti itulah rasanya. Dan Anggi harus mampu berdiri tegak dengan dua kakinya yang mulai lemas.
Tak ada yang salah memang dari perkataan mereka. Semua dibenarkan oleh Anggi. Apalah dia yang hanya gadis biasa yang dipungut dari kehidupan sebatang kara dan dipaksa menikahi sahabat cowoknya yang tidak tahu apa-apa?
"Kalian apa-apaan sih? Terutama lo, Yun. Gak malu apa sama gelar lo sekarang? Percuma sekolah tinggi kalau gak tahu sopan santun," semprot cewek yang sedari tadi menjadi benteng Anggi. Rasanya ia ingin mencakar-cakar wajah cewek di hadapannya kini. Yunita memang seperti itu dan tak akan pernah berubah.
"Gue bangga kok punya Anggi."
Suara bariton itu berhasil membuat semua terdiam. Kedua tangan itu dimasukkannya ke dalam saku. Lantas ia menghampiri dan merangkul pinggul Anggi.
"Kenapa, Yun? Iri, ya?" Prana menatap Yunita yang sudah berubah kikuk sekarang.
"Kalau iri bilang, dong. Malu ngungkapinnya? Kalau malu, kenapa lo tadi nggak malu nyudutin istri gue? Seolah-olah lo ratu di sini. Seolah-olah lo paling pinter. Ngaca, Yun! Lo gak akan pernah bisa menyandang gelar lo itu tanpa bantuan bokap gue."
Boom! Kalimat tamparan itu berhasil membuat Yunita menggigit bibir bawahnya. Wajahnya sudah merah panas. Kata-kata itu berhasil menjatuhkannya ke jurang. Bodoh sekali dia, tak tahu saja kalau dari tadi Prana sudah diam-diam mengawasi istrinya dari jauh. Tentu Prana juga tak akan tinggal diam bila istrinya dihina seperti tadi.
Di sisi lain, ada yang merasa seperti melambung di udara karena sebuah pembelaan tulus. Rasanya ia tak dapat mendeskripsikannya. Yang jelas Anggi sangat bahagia melihat suaminya dengan berani membelanya seperti itu.
"Maaf, Pra."
Ya, cukup dua kata itulah yang terucap dari mulut tajamnya sebelum akhirnya ia melarikan diri dari kerumunan mereka. Malu tentunya karena Prana berhasil membuatnya kehilangan kalimat-kalimat kebanggaannya.
Dengan sigap cowok itu segera menggandeng Anggi untuk menjauh dari mereka. Tak ingin lagi istrinya diperlakukan seperti itu. Sungguh, Prana berani bersumpah kalau hatinya ikut tersayat melihat Anggi disudutkan tadi. Seolah ribuan jarum berhasil menancap di jantung hatinya, meninggalkan perih melihat raut wajah istrinya yang menjadi muram.
"Istriku, aku minta maaf ya? Aku gak bisa nolong kamu dari mereka tadi," ucap Prana sambil menangkup dua pipi istrinya dengan tangan.
Anggi tersenyum tipis. "Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah, Mas," katanya lagi-lagi dengan keteguhan hati.
"Aku gak bisa liat kamu digituin lagi, Nggi. Aku juga ikut sakit kalau kamu sakit."
***
[Baca sampai akhir, ya]
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.
__ADS_1