Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Cemburu


__ADS_3

Anggi kini tengah berbaring di ranjang ruangan bernama UKS. Kepalanya terasa berdenyut sejak dirinya dibopong oleh beberapa temannya dari lapangan menuju UKS. Ya, Anggi pingsan karena terlalu kelelahan berlari saat jam pelajaran olahraga. Ingat, kan tadi pagi Anggi tidak sarapan karena merelakan roti itu untuk suaminya? Dan suaminya itu justru membuatnya sakit hati karena tidak mau memakan bekal buatannya.


Seusai membuka matanya, cewek itu mendudukkan diri untuk minum air mineral yang sengaja disediakan di nakas samping ranjangnya. Gerakannya terhenti saat mendengar decit sepatu memasuki ruangan tempat ia beristirahat. Seketika raut wajahnya berubah bingung, cengo saat melihat ternyata orang yang masuk adalah suaminya.


"Mas Prana?" Anggi memanggil dengan memelankan suaranya.


Dengan cepat Prana menunjukkan bahasa tubuh yang menyiratkan kepada Anggi untuk diam. "Jangan panggil Mas," tegurnya kali ini dengan nada lembut.


Cowok itu pun mendekati istrinya dan duduk di samping ranjangnya sembari menyentuh dahi Anggi dengan punggung tangannya. Anggi pun seketika terpaku dan membiarkan suaminya mengecek suhu tubuhnya dari dahi, leher, hingga pipinya. Degup jantung Anggi sampai tak terkontrol mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.


"Udah baikan?" tanya Prana masih dengan nada lembut. Sungguh, rasanya Anggi ingin sekali memeluk suaminya karena suara itu amat menyejukkan hatinya. Cewek itu sangat suka bila Prana berbicara dengan nada yang halus dan lembut.


Anggi mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya. Ia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa sekarang ini.


"Mau dibuatin teh hangat?" Anggi menggeleng. Meski istrinya menolak, Prana tetap kukuh ingin membuatkan teh hangat untuk Anggi.


Cewek itu menatap sendu suaminya. "Apa aku harus sakit dulu supaya kamu seperti ini setiap hari, Mas?" gumamnya. Sialnya, Prana menoleh. Sepertinya, cowok itu mendengar gumamannya. Bodoh! maki Anggi sendiri dalam hati.


Setelah membuat teh hangat, Prana segera memberikannya pada Anggi. Cowok itu bahkan membantu istrinya untuk minum. Momen yang langka, bukan?


"Lo harus bisa jaga diri lo sendiri. Jangan ngerepotin gue."


Baru saja Anggi terbang dan kini ia harus jatuh lagi karena kata-kata dingin penuh penekanan yang terlontar dari mulut Prana. Mengapa cowok itu tidak bisa sebentar saja memanjakan dan membahagiakan istrinya? Jadi, perhatiannya tadi karena terpaksa?


Anggi pun mengangguk. Cewek itu bertanya-tanya, mengapa suaminya cepat sekali berubah? Apa dia punya dua kepribadian? Tidak mungkin. Prana itu memang unik. Sebentar lembut, sebentar dingin. Susah sekali ditebak.


"Mau ke rumah sakit?"


Tuh, kan! Baru saja dibilang. Tidak, Anggi tidak boleh goyah karena nada lembutnya kali ini. Bisa saja suaminya itu berpura-pura lagi.


Anggi membalas tawaran suaminya dengan menggeleng mantap. "Nggak usah, Mas. Lagian aku baik-baik aja, kok. Sana, Mas Prana balik ke kelas aja. Bentar lagi bel," suruhnya. Cewek itu benar-benar kesal terhadap suaminya.

__ADS_1


Sayangnya, Prana mengangguk dan benar-benar pergi dari sana. "Kamu kok nggak peka sih, Mas!" gerutu Anggi saat batang hidung Prana sudah menghilang dari pintu UKS.


***


Sepulang sekolah, Anggi bergegas menuju kelasnya. Bukan untuk mengambil tas karena tasnya sudah diantar ke UKS tadi oleh Jesi. Namun, untuk menemui suaminya dan mengajaknya pulang bersama. Kakinya terasa lemas saat berjalan dan mulai menaiki tangga.


Langkah Anggi terhenti saat ia melihat Prana di sana. Bukannya senang, cewek itu justru memasang raut wajah sedih. Bagaimana tidak? Prana kini sedang duduk berdua di depan kelas mereka bersama seorang cewek. Dan cewek itu merupakan cewek yang sedari lama menyukai suaminya, yakni Nita. Bahkan, mereka terlihat cekikikan bersama.


Kakinya terasa semakin lemas saat menyaksikan pemandangan itu. Anggi pun mengurungkan niatnya dan segera memesan ojek online untuk pulang ke rumah.


***


"Wah, Mbak Ica!" sapa Anggi riang.


Ica pun menyambutnya dan mengajaknya masuk. Lalu, mereka berjalan beriringan menuju dapur.


"Kok nggak pulang sama suamimu?" tanya Ica sambil mengerutkan keningnya.


Belum ada lima detik, Prana tiba-tiba datang dengan pakaian lusuhnya. Cowok itu terlihat sayu dan lemas. Sepertinya amat kelelahan.


Anggi yang menyadari kehadiran suaminya pun segera menyalimi tangannya. "Mas mau dimasakin apa?" tanyanya lembut dan penuh perhatian.


Namun, Prana tidak selera menjawab. Suami Anggi itu justru melenggang menuju kamarnya. Bukan, ia menuju kamar Anggi ternyata. Anggi menoleh dan menatap Ica. Seolah paham, Ica pun memberi isyarat pada Anggi untuk menyusul suaminya ke atas.


"Kok Mas ke sini?"


Sambil melepas seragamnya, Prana menjawab, "Lo mau kakak gue lihat kita pisah kamar? Setiap keluarga gue ke sini, lo harus pura-pura kalau kita bahagia dan baik-baik aja. Ngerti, kan?"


Anggi tercengang mendengar kalimat suaminya. Sebentar, cewek itu masih berusaha mencerna setiap kata-katanya. Detik berikutnya, ia mengangguk paham.


***

__ADS_1


Suasana ruang makan di dalam rumah megah milik Prana itu mendadak canggung. Hanya terdengar denting sendok dan piring yang bersautan menggema di segala sudut ruangan. Ica terlihat sungkan untuk memulai. Anggi pun sama seperti Ica. Sedangkan, Prana sendiri sepertinya memang tidak ingin ada pembicaraan di antara mereka. Terlebih untuk hal-hal yang menyangkut rumah tangganya.


"Jadi, kapan punya momongan?" Ica akhirnya memulai.


Dan benar saja, Prana langsung mengubah mimiknya. Ia menatap tajam ke arah Anggi yang tengah duduk di seberang Prana lalu beralih menatap kakaknya yang duduk di ujung meja menengahi mereka.


"Ayolah, Mbak. Kita masih SMA. Mbak Ica mau Anggi gendong bayi ke sekolah? Kan, nggak mungkin. Bisa-bisa kita langsung dikeluarin dari sekolah." Jawaban itu membuat Anggi melirik suaminya. Ia kemudian mengangguk tanda setuju saat menatap mata Ica.


"Kita mau nunda momongan sampai kita lulus SMA dulu. Setelah itu, kita bakal pikirkan lagi gimana ke depannya," lanjut Prana.


***


"Mas tadi pagi kok nggak nunggu aku?" Dengan jantung yang amat deg-degan, Anggi mencoba berani untuk bertanya.


"Tadi ada urusan." Cukup kalimat itu saja yang digunakan Prana untuk menjawab pertanyaan istrinya. Dan seperti biasa, nadanya dingin dan sangat kaku.


Kini, suasana ruang keluarga itu menjadi tegang. Awalnya, mereka saling diam sebelum akhirnya Anggi memulai obrolan dan justru membawanya ke dalam suasana yang sangat dibencinya. Anggi duduk bersebelahan dengan Prana di sofa dengan jarak lima jengkal. Terlihat sedikit aneh, bukan?


"Urusan ap-"


"Lo gak perlu tau."


Cewek itu mengembuskan napas pelan. Butuh kesabaran memang untuk mengobrol dengan tipe suami semacam Prana itu. Tiba-tiba ingatan pemandangan di depan kelas tadi melintas di pelupuk matanya. Ia jadi ingin bertanya pada suaminya mengenai hal tersebut.


Anggi bergumam. "Tadi Mas ngobrol sama Nita, ya? Kayanya seru banget. Nita masih suka sama Mas?" tanyanya ragu. Tangannya sampai gemetaran.


Prana menutup buku bertema bisnis di tangannya dengan kasar. Anggi pun sedikit terkejut melihat respon suaminya yang seperti itu. Cowok itu mendekati Anggi hingga embusan napasnya terasa di pipi sebelah kiri istrinya. Jantung Anggi kembali berdebar hebat karena jarak mereka kini tidak sampai sejengkal.


"Sejak kapan lo jadi kepoan kaya gini? Udah, lo gak perlu tau soal apa-apa."


"Apa jangan-jangan lo cemburu?"

__ADS_1


Ya jelas, Anggi cemburu.


__ADS_2