Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Budak Cinta?


__ADS_3

Di sinilah Prana membawa istrinya pergi. Restoran mewah bintang 5 yang seporsi menunya paling murah bisa mencapai 2,5 juta. Dan Prana mengajak Anggi ke sini untuk sarapan romantis bersama. Cowok itu bahkan memesan seluruh meja di restoran tersebut supaya bisa berduaan dengan istri yang paling dicintainya itu.


Seluruh penjuru restoran dihias dengan berbagai lampu dan dekorasi mawar-mawar yang sudah diberi aroma khas yang harum dan menenangkan. Lilin-lilin dengan api yang menyala diletakkan di atas semua meja, menambah kesan romantis. Lantunan melodi dari grup musik bayaran membuat siapa saja bisa betah dan ingin berlama-lama di sana. Foto masa kecil Anggi dan foto-foto pernikahan mereka dipajang di setiap sudut ruangan. Sungguh kesan yang terlampau mewah dan romantis.


Anggi tentu tertegun menyaksikan kejutan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh suaminya itu. Ia bahkan sampai mengerjapkan matanya berulang kali, kagum. Namun, sudah kesekian kalinya juga cewek itu membatin Prana karena membuat kejutan yang menurutnya konyol dan di luar dugaan ini.


“Mas. Kamu pesen semua meja cuma buat kita berdua?”


“Iya. Gimana? Suka nggak?”


Anggi perlahan melepas rangkulan tangan yang diberikan oleh Prana di pinggangnya. “Aku nggak suka. Ini berlebihan, Mas.” Ekspresinya yang awalnya ceria pun seketika berubah.


Prana langsung menciut mendengarnya. Hatinya berdesir saat istrinya mengucapkan kalimat itu. “Nggi, istriku, Sayang. Aku tahu kamu memang nggak suka hal beginian, tapi aku cuma pengin bikin kamu bahagia. Aku pengin kamu ngerasain ini semua dari aku. Sekali ini doang, Nggi. Tolong, terima ya.”


“Tapi, Mas.”


“Gini, aku punya persyaratan buat kamu. Selama seharian penuh ini kamu harus mau nurutin kemauan aku. Kamu harus mau nerima apa aja pemberian aku hari ini. Sebagai imbalannya, aku bakal nyiapin rencana honeymoon kita, kemanapun yang kamu mau nanti.”


“Kok gitu? Lagian soal honeymoon, sebenernya kalau boleh jujur aku masih ragu sama kamu, Mas. Aku takut kalau kamu ternyata nggak bakal pernah bisa mencintai aku.”


Cowok itu segera menangkup kedua pipi istrinya dan mengusapnya lembut. “Kamu harus percaya, Nggi. Aku bakal buktiin kalau aku bener-bener cinta sama kamu,” ikrarnya dengan kedua mata yang menyiratkan ketulusannya.


Tatapan Anggi menyelidik dan menerobos pasang bola mata itu, berusaha mencari kebohongan atau manipulatif di sana. Namun, nihil, Prana memang terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya.


“Deal?”


Anggi berpikir untuk sejenak. Kalau dipertimbangkan lagi menggunakan hati dan perasaannya, rasa-rasanya tidak tega melihat raut wajah kecewa suaminya karena ia menolak semua kejutan yang sudah disiapkannya sedemikian rupa. “Ya udah, aku mau,” terimanya kemudian.


Prana segera berseri dan cepat-cepat menuntun istrinya menuju satu meja bundar yang berukuran paling besar dan mewah di tengah-tengah ruangan. Dekorasi meja itu juga dihias sedemikian rupa dan amat memanjakan mata.


“Ini bener-bener bagus banget, Mas. Pasti mahal, ya?” Anggi mengedarkan pandang ke setiap detail penjuru restoran. Cewek itu masih tercengang sekaligus kagum dibuatnya.


“Udah, kamu nggak usah mikirin soal itu. Tugas kamu di sini cuma nikmatin semua fasilitasnya, oke? Dan satu lagi, pokoknya kamu nggak boleh nolak-nolak lagi.” Perlahan Prana mangambil tangan istrinya untuk digenggamnya. Salah satu perlakuan yang paling ia suka selama bersama Anggi.


Anggi hanya bisa menghela napas. “Hm. Iya-iya, Mas,” balasnya.


Detik berikutnya, para waiter dan waitress berdatangan dengan seragam yang senada dengan warna dekorasi yang mendominasi ruangan. Mereka pun disajikan berbagai hidangan mewah nan nikmat dan menggugah selera, seperti beef burger, spaghetti, beef steak, bahkan sampai masakan daging kuda, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin, Prana sudah memesan semua menu yang ada di restoran tersebut. Ia memang tahu betul kalau Anggi banyak makan.

__ADS_1


“Ini banyak banget, Mas. MasyaAllah. Siapa yang makan nanti?”


“Kamulah,” jawab Prana sekenanya. Cowok itu terkekeh sambil mencubit pipi istrinya.


“Ih, nggak sebanyak ini juga kali, Mas. Kamu makan juga ya.”


“Tapi, maunya disuapin istriku yang cantik ini.” Prana mencolek dagu Anggi membuat istrinya itu jadi geli sendiri.


“Ih, manja,” cibir Anggi sambil meninju pelan lengan suaminya.


“Nggak dosa kok kalau manjanya ke istri sendiri.” Prana mengedipkan sebelah matanya, membuat Anggi segera bersemu menatapnya.


Pasangan muda itu akhirnya sarapan di restoran super mewah tersebut. Momen-momen romantis itu mereka nikmati dengan tempo yang lamban, seolah tak ingin cepat-cepat mengakhirinya. Entah sudah keberapa kalinya Prana bersyukur melihat senyum yang tercetak di bibir mungil istrinya. Apalagi kalau penyebab senyum itu adalah dirinya.


***


Senja perlahan menyembunyikan dirinya dengan malu-malu. Anggi dan Prana tengah menikmati sejuknya semilir angin yang berembus menerpa kulit mereka. Di sinilah mereka kini, tempat yang selalu bisa membuat keduanya sama-sama nyaman. Ingin terus singgah dan tak mau cepat-cepat pulang.


Ombak laut di hadapan mereka kian lama berhasrat dalam berlomba-lomba untuk menjadi yang paling tinggi. Sesekali air datang dan berusaha menyeret tubuh muda-mudi itu. Namun, hal itulah yang justru membuat kupu-kupu terbang dengan antusias di perut keduanya.


“Anggi! Awas ya kamu. Kalau sampai sekalinya ketangkep kamu mau kabur lagi, aku gak bakal ngelepasin kamu. Aku janji mau nyulik kamu habis ini.” Prana kalang kabut berlarian menyusul langkah istrinya yang sudah jauh di depan sana.


Baru saja Prana mempercepat langkahnya, tubuh istrinya kini sudah berada di pelukannya. Tak perlu heran memang, Prana sudah biasa berlatih lari-larian seperti itu. Wajar kalau kemampuan berlarinya sudah seperti seorang atlet profesional saja.


“Ih, Mas! Lepasin!” Anggi terus berusaha melepas kedua tangan Prana yang melingkar dengan kuat di tubuhnya. Kesal, senang, bahagia, gembira. Semua menjadi satu-kesatuan yang sangat istimewa.


“Gak mau. Kan, aku udah janji tadi.” Kini giliran Prana yang mengejek istrinya. Cowok itu benar-benar tak mau melepaskan istrinya saat ini.


Barulah beberapa menit kemudian, ia melepas pelukannya. “Ya udah. Kita minum di bar sana dulu, yuk! Kamu pasti capek, kan?” Tanpa menunggu persetujuan dari Anggi, cowok itu langsung menarik pergelangan tangannya begitu saja.


“Kamu kok jalannya cepet banget sih, Mas? Aku sampai gak bisa ngikutin langkah kamu nih,” protes Anggi, iri terhadap suaminya.


Prana lantas terkekeh kecil. “Ya udah. Aku pelan-pelan nih.” Cowok itu menyelaraskan langkahnya di samping Anggi, membuat cewek itu segera tersenyum.


“Tuan Muda! Apa kabar?” Salah satu pegawai di bar dekat pantai itu menyapa dengan ramah tamah, membuat Anggi kagum dibuatnya.


“Saya baik. Kalian di sini gimana? Betah?” Prana balik bertanya.

__ADS_1


“Kami baik dan sangat menikmati kerja di sini, Tuan Muda,” jawab mereka hampir serentak. Ada sekitar 4 sampai 5 pegawai di bar tersebut.


“Wah-wah! Ini pasti Nona Anggia, ya. Cantik sekali, Tuan Muda. Tuan Muda pasti sangat bersyukur memiliki istri secantik dia.” Pegawai yang lain ikut-ikutan nimbrung. Anggi pun membalasnya dengan senyuman khasnya dan sedikit malu-malu.


“Pesan yang biasanya, ya.”


“Siap, Tuan Muda.”


Tak lama setelahnya, pesanan mereka datang. Ada dua gelas yang sudah diisi oleh minuman favorit Prana selama berlibur ke pantai tersebut, yakni es kelapa muda yang khas dan tidak akan pernah ada di tempat lain.


“Mereka kok kenal banget sama kamu, Mas? Manggilnya juga Tuan Muda. Jangan-jangan. Mereka pegawai kamu, Mas?”


Prana tersenyum dan mengangguk. Semua bar yang terdapat di pinggir pantai tersebut merupakan bisnis milik Prana. Dia sendiri yang membangun semuanya dengan susah payahnya sendiri dari nol.


“Kamu hebat banget sih, Mas. Aku sampai gak tau mau gimana lagi muji kamu.” Anggi menatap wajah suaminya itu dengan terkagum-kagum.


“Dan kamu harus mulai kebiasa sama semua hal yang menyangkut aku ya, Sayang.” Prana tersenyum dan mengecup pipi istrinya.


***


“Sayang, ayo bikin anak.”


“Mas! Kamu apa-apaan sih? Malu didenger orang.”


“Ayo. Aku mau kamu seorang, Sayang.”


“Nggak di sini juga, Mas.”


“Tapi, aku maunya sekarang.”


***


Halo! Semoga kalian sehat selalu, ya! Tetap jaga kesehatan:)


Makasih udah setia sama kisah mereka.


Dukung author, yuk! Dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, dan tambahkan karya ini ke FAVORIT supaya auhtor makin semangat lagi, xixi.

__ADS_1


Terima kasih dan sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2