Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Saudara kembar


__ADS_3

"Brak!! Blam!" suara pintu Edo di gebrak lalu di hempasan hingga tertutup rapat.


Edo yang tengah memindahkan racikan obat ke dalam botol kecil jadi terkejut dan menyebabkan racikan itu terjatuh ke lantai.


"Astaga Sean!!" teriak Edo menatap botol racikannya pecah dengan racikannya berserakan di lantai.


"Kamu itu bisa gak sih, kalau masuk itu ketuk dulu atau panggil aku atau kamu bisa buka dengan pelan!" omelnya lagi.


Sean berdiri di hadapan Edo, menatap pria itu dengan tatapan aneh. Edo bergidik ngeri melihat tatapan mata Sean seperti itu kepadanya.


"Ada apa, kenapa kamu menatap ku begitu?" tanya Edo.


"Jawab pertanyaan ku dengan jujur Edo!"


"Siapa aku sebenarnya? apa aku bukan anak wanita itu?", tanya Sean menatap Edo lekat, membuat pria itu tercekat. Edo gelagapan, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Pertanyaan macam apa ini Sean, aku masih banyak pekerja "


Sean menarik tangan Edo yang mencoba menghindarinya. Meskipun masih kecil, Sean memiliki cukup tenaga untuk melawan Edo. Apalagi sejak kecil dia sudah di asa dan terbiasa dengan berbagai racun yang Jessi uji cobakan pada dirinya.


Sekarang, Sean sudah pintar dalam ilmu bela diri. Dia juga kenal akan segala racun.


"Katakan pada ku Edo, kau tahu aku sudah terlatih untuk bertindak tanpa ragu. Nyawa mu bukan lah hal yang berharga bagi ku Edo!" ancam Sean. Dia mendorong Edo ke dinding, kemudian menahan lehernya agar pria dewasa itu tidak bisa bergerak.


Edo yang tubuhnya tidak jauh lebih tinggi dari Sean terlihat kesulitan melawan Kungkungan tangan Sean. Pria ini juga tidak bisa bela diri.


Edo hanya pintar dalam meracik ramuan, dia juga pintar dalam ilmu kedokteran.


"Ba-baik aku akan memberitahu mu" gagap Edo.


Sean pun melepaskan Edo, dia mendorong Edo duduk ke kursi, matanya mengkilap seakan siap menerkam siapa saja yang mencoba menghalanginya.


"Sebenarnya, kamu itu bukan anak.."


Brak!


Ucapan Edo terhenti, tiba-tiba pintu terbuka. Jessi masuk ke dalam ruangan labor Edo. Dia menatap Sean yang sudah menjauh dari Edo.


"Ada apa ini?" Jessi merasakan suasana tegang di antara mereka.


"Tidak ada, Edo marah padaku karena sudah membuat racikannya pecah!" jawab Sean asal.


Jessi menoleh pada Edo, mencari kebenaran yang Sean katakan.

__ADS_1


Beruntung Edo mengangguk dan menatap Sean sinis. Dia tahu jantung Sean berdebar saat ini. Dia takut jika Edo membuka mulut soal kejadian barusan pada Jessi.


Jika itu benar, maka tamat lah riwayat Sean. Jessi pasti mengurungnya dan menyiksanya.


"Dia sangat nakal, dia ingin menjadi profesor seperti ku dan mengganggu ku yang sedang meneliti obat" karang Edo lagi.


"Apa itu benar?" tanya Jessi menatap Sean penuh selidik.


"Benar, aku ingin menjadi peneliti. Karen itu aku ingin masuk ke sekolah itu. Jika tetap tidak di perbolehkan, aku lebih baik tidak sekolah!" Sean berlalu begitu saja, meninggalkan ruangan Edo menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Sean langsung mengunci pintu agar Jessi maupun Edo masuk tanpa sepengetahuannya.


Kemudian Sean mengambil laptopnya. Dia mencari tahu soal Aeron. Beberapa kali dia bertemu dengan orang yang tidak dia kenal dan mereka memanggilnya dengan panggilan Aeron.


"Siapa Aeron?" gumamnya dalam hati. Tangannya terus scroll layar laptopnya ketika melihat sebuah profil keluarga yang terkenal di jagat raya.


"Vans Lusion? Nisa?"


Sean menekan zoom pada foto Nisa. Dia ingat dengan wanita itu, dia yang meneriaki nya waktu di rumah sakit. Dia juga yang Jessi sebut dengan wanita jahat.


Di lihat dari ekspresi wajahnya, tidak ada tanda tanda kalau Nisa itu orang jahat.


Deg.


Seakan dia melihat dirinya sendiri berada di antara kedua orang yang tersenyum bahagia pada kamera.


"Siapa mereka, apa mereka orang tua ku? lalu kenapa mereka tidak mencari ku. Kenapa mereka membiarkan aku bersama Jessi. Kenapa?? kenapa aku yang mereka lupakan???"


Brak!!


Seketika laptop yang tadi utuh langsung bercerai berai menjadi serpihan besar.


Sean marah, dia sangat marah pada orang orang yang mungkin adalah keluarganya.


"Kalian bahagia, sementara aku menderita di sini. Jahat!!!!!" teriak Sean histeris.


Jessi dan Edo mendengar amukan Sean. Mereka hanya berdiri di depan pintu kamar Sean. Mendengar semua ungkapan hati Sean.


"Bagus, luapkan semuanya. Benci mereka, dan bantu aku membalaskan dendam ku" gumam Jessi di dalam hati. Dia merasa senang dengan perubahan sikap Sean. Dia sudah berhasil mendidik anak itu menjadi keras dan penuh dendam.


Selama ini Jessi memang sengaja menyiksa dan menjelekan Nisa di hadapan Sean. Dia sengaja tidak memberitahu kalau mereka ada orang tuanya.


...----------------...

__ADS_1


Aeron baru saja tiba di rumah, dia di sambut oleh Nisa di ruang tengah.


"Dari mana saja kamu Aeron. Pergi tidak bilang dan tidak menghubungi mommy jika pulang terlambat." omel Nisa.


Aeron tidak menjawab, dia hanya mendengar Omelan yang sangat dia rindukan ketika mommy nya sakit.


'Maaf mommy Aeron belum bisa bilang sekarang. Nanti, setelah Aeron menemukan jawaban dari kecurigaan Aeron, Aeron pasti akan memberitahu mommy', janji Aeron di dalam hatinya.


"Kenapa diam saja, jawab mommy Aeron!" desak Nisa.


"Tenang lah Nisa, Aeron pergi bersama ku" jawab Abay. Dia baru muncul setelah memarkirkan mobilnya di dalam bagasi. Malam ini Abay berniat akan menginap di rumah Nisa dan Vans.


Nisa menoleh, emosi nya semakin memuncak mengetahui Abay bersama putranya dan tidak memberinya kabar.


"Apa kalian ingin membuat jantung ku lepas? aku sejak tadi mengkhawatirkan kamu, tapi kamu tidak memikirkan aku!" Nisa mulai terisak, sesak yang sejak tadi dia tahan kembali muncul dan membuat air matanya luruh.


"Mommy, Aeron tidak bermaksud"


"Sudah Aeron, lebih baik kamu istirahat dulu. Biar paman yang akan bicara dengan mommy kamu" kata Abay.


Dengan berat hati, Aeron berlalu menuju ke kamar nya. Dia ingin menjelaskan pada mommy nya agar tidak salah paham. Namun, Aeron tidak tahu harus memulai dari mana.


Akhirnya, dia pun memutuskan untuk berlalu ke kamar dan membiarkan Abay yang menjelaskan pada Nisa.


"Mau jelaskan apa lagi?" ketus Nisa menghapus kasar air matanya.


Semenjak tidak menggunakan aromaterapi itu. Nisa sering merasa cemas dan sering mimpi buruk soal Aeron. Karena itulah dia menjadi seperti ini.


"Tenang dulu Nisa, aku akan mengatakan pada mu apa yang sudah terjadi" Abay membawa Nisa duduk. Lalu menceritakan segala nya.


Sejak awal, Nisa sudah memberitahu abay soal apa yang dia alami. Ternyata, dia memiliki pemikiran yang sama dengan Nisa.


Abay juga mencurigai sila, dan merasa aneh dengan apa yang terjadi selama 12 tahun belakangan ini.


"Jadi, Aeron melihat saudara kembar nya?" tanya Nisa syok saat tahu dia melahirkan anak kembar.


Aneh nya dia malah tidak ingat bola melahirkan anak kembar. Setelah abai menjalankan soal dupa itu, barulah Nisa mengerti. Dia ikut membuat rencana dengan abay.


"Kita harus menangkap nya dan membawa putra ku kembali" kata Nisa sedih.


"Putra? apa Aeron di bawa seseorang?"


Deg.

__ADS_1


__ADS_2