Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Bahagia Memiliki Kamu


__ADS_3

...Siapa yang nunggu chapter ini? Hehehe...


...Siapin perasaan kalian buat baca bagian ini....


...Selamat membaca semua....


***


"Bim? Sayang?"


"Iya?"


"Kamu percaya sama aku, kan?" Nita menyentuh tangan Bima dengan lembut dan hati-hati.


Bima segera mengerutkan kening. "Maksudnya?" tanyanya tidak mengerti.


"Oke. Aku mau terang-terangan kali ini, Bim. Dan aku yakin kalau kamu pasti bisa ngertiin aku, iya kan?" ujar cewek itu dan semakin mengeratkan pegangan tangannya.


"Terang-terangan soal apa, Nit?" tanyanya bingung sekaligus penasaran.


"Eum, perkara lama sih ini. Tapi, aku pengin banget cerita ke kamu. Lagipula, kita, kan juga udah pacaran cukup lama. Rasanya emang kamu kayanya perlu tahu soal ini, Bim. Kamu satu-satunya cowok yang bakal ngerti soal ini," jelas Nita sambil menatap teduh ke arah pacarnya, yakni Bima.


Bima semakin dibuat penasaran oleh pacarnya selama kurang lebih dua bulan ini. Rasanya, ia seperti mengerti apa yang akan diceritakan oleh cewek itu. Namun, Bima harus tetap bersikap biasa saja dan seolah tak mengerti apa-apa.


"Tapi, kamu jangan marah, ya? Aku pengin kamu mau dengerin dulu alasan aku. Baru kamu boleh komentar," tambah Nita dengan nada memohonnya.


Bima pun mengangguk dan mengulas senyum khasnya. "Iya, Sayang. Aku nggak akan motong dan aku nggak bakal marah sama kamu," responnya seraya membalas genggaman tangan pacarnya itu.


"Waktu Prana sama Anggi di-DO dari sekolah, kamu tahu nggak siapa pelaku yang udah nyebarin foto-foto mereka?" tanya Nita dengan ekspresi polosnya yang dibuat-buat.


"Siapa, Sayang? Aku nggak pernah tahu soal itu sampai sekarang," balas Bima dengan nada yang menyiratkan rasa penasarannya.


"Kamu beneran jangan marah ya, Sayang?" ulang Nita lagi.


"Iya."


"Pelakunya Intan, anak kelas XII MIA 7. Cewek yang bapaknya lagi sakit keras di rumah sakit, Bim. Dia dalang dari semua ini," katanya menjelaskan.


Spontan, Bima langsung membelalakkan kedua matanya. Cowok itu kurang lebih tahu sosok Intan itu seperti apa. Mereka pernah bergabung dalam satu unit dan menjadi partner panitia suatu acara unit. Apa benar yang dikatakan Nita? Antara percaya atau tidak percaya, keduanya berbeda tipis sekarang bagi Bima.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Bima meminta penjelasan.

__ADS_1


"Aku punya bukti rekaman suara waktu Nita ngaku kalau dia pelakunya selama ini. Kamu tahu sendiri kan, Bim kalau situasi di sekolah mendadak bersitegang semenjak kasus Prana sama Anggi? Banyak di antara mereka yang gak percaya sama isu itu. Banyak anak yang lebih percaya sama Prana dan Anggi, soalnya emang agak janggal aja. Ya, meskipun emang kenyataannya gitu, tapi kan itu tetep jadi privasi mereka yang seharusnya nggak diumbar ke publik apalagi kalau yang nge-publish itu orang lain. Mereka juga jadi saling curiga. Mau gak mau harus ada orang yang cari tahu soal ini, Sayang. Jadi, selama ini aku sama temen-temen sibuk cari tahu soal pelakunya. Ini nggak adil, kan buat Prana sama Anggi sendiri? Main di-DO gitu aja tanpa alasan yang jelas," terangnya panjang lebar. Entah benar atau tidak ucapannya itu, namun berhasil membuat Bima bingung sendiri. Siapa yang benar dan siapa yang salah dalam persoalan ini memang sulit ditentukan.


"Kamu yakin, Sayang? Aku pribadi pernah kenal sama Intan, kayanya dia bukan tipe cewek yang kaya gitu deh. Entah percaya apa enggak, tapi aku ragu kalau Intan pelakunya," ujar Bima dengan jujur.


Nita menghela napas berat. "Aku tahu kalau kamu pasti juga bakal ngeraguin ini. Tapi, emang kenyataannya gitu, Bim. Semua orang gak bisa cuma dilihat dari cover-nya aja. Kita nggak pernah bisa tahu apa isi hatinya yang sebenernya, kan?" katanya masih berusaha meyakinkan pacarnya itu. Memang ratunya ular, bisa-bisanya cewek itu mencari kambing hitam atas masalah yang disulutnya sendiri.


"Bener juga sih, kamu. Ya udah, aku percaya sama kamu. Terus, rencana kamu setelah ini apa, Sayang?"


"Aku bakal bawa bukti ini ke hadapa Pak Brama, kepala sekolah supaya bisa ditindaklanjuti lagi. Kasihan Prana sama Anggi harus menanggung malu seumur hidup," ujar Nita dengan amat bersemangat dan antusias.


***


Prana menggendong tubuh istrinya dengan susah payah. Cowok itu bahkan harus mengeluarkan tenaga ekstra saat menaiki setiap anak tangga menuju kamarnya.


"Aku berat ya, Mas?" tanya Anggi dengan polosnya.


Sementara Prana hanya bisa meringis dan detik berikutnya, cowok itu mengembangkan senyumnya. "Ah, enggak kok," jawabnya bohong. Sejujurnya tubuh Anggi selalu berat dalam gendongannya.


"Sampai." Prana menurunkan tubuh istrinya di atas ranjang jumbo itu.


Anggi sudah deg-degan duluan. Cewek itu masih panas dingin di tempat. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya istri Prana itu akan tidur seranjang dengan suaminya.


"Ini malam pertama kita yang tertunda, ya?"


Cewek itu bangkit dari berbaringnya dan perlahan duduk. "Eum." Anggi menggigit bibir bawahnya. Ya Allah, rasanya cewek itu ingin menghilang saja dari bumi. Bukannya apa, istri Prana itu tidak nyaman jantungnya berdebar seperti ini.


"Nggak perlu takut. Aku gak akan kasar," kata Prana lalu naik ke atas ranjang dan duduk dengan perlahan sambil menghadap istrinya.


Cowok itu mengecup kening istrinya. Kemudian, ia beralih membisikkan sebuah doa ke telinga Anggi lantas meniup ke ubun-ubun cewek itu dan kembali mengecup keningnya dengan amat lembut dan dengan tempo yang cukup lama.


"Bismillah ya, Sayang. Semoga bisa jadi berkah buat keluarga kita," kata Prana sembari mengusap punggung tangan istrinya.


Anggi pun mengangguk samar. Perlahan, lampu kamar berukuran luas itu meredup. Jangan membayangkan apa yang terjadi. Yang jelas malam itu menjadi malam yang indah dan panjang bagi pasangan suami-istri muda itu.


***


Anggi menggeliat di kasurnya. Cewek itu mengerjap perlahan dan langsung terperanjat saat melihat wajah itu tepat berada di depan matanya saat ia pertama kali membuka matanya.


"Maling!" teriaknya refleks. Cewek itu bahkan sampai memukuli lengan cowok di sampingnya.


"Astaghfirullah! Aw! Sakit, Sayang. Kamu kenapa sih?" eluh Prana yang mendapat serangan mendadak dari istrinya itu.

__ADS_1


"Ya Allah, Mas? Kamu ternyata? Aku kira maling," kata Anggi dengan polosnya sambil mencebik.


Sementara Prana hanya bisa terkekeh melihat tingkah istrinya itu. "Kamu tuh selalu lucu, ya. Nggak inget apa semalem kamu tidur sama aku?" katanya masih dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.


"Aku tidur sama Mas? Ya Allah, iya ya? Soalnya aku mimpi aku lagi tidur di kamarku sama Miaw, Mas," jelasnya sambil meringis.


"Miaw?"


"Iya, kucing aku aku temuin di depan rumah kapan hari," jawab Anggi polos.


"Ya Allah, aku kira siapa. Eum, makasih ya, Sayang buat semalam," ucap Prana sambil menatap teduh kedua mata istrinya. Cowok itu lalu meraih kedua tangan istrinya dan dikecupnya bergantian.


"I-iya." Semburat merah kini menghiasi kedua pipi Anggi. Rasanya malu sekali saat mengingat apa yang terjadi semalam. Cewek itu mendadak merasa menjadi istri paling bahagia dan paling beruntung di dunia. Prana memperlakukannya dengan sangat lembut.


"Ya udah. Kamu bersihin badan dulu sana. Kita salat Subuh. Aku mau ke dapur, bikin teh hangat buat kamu," suruh Prana yang langsung dibalas kernyitan oleh istrinya.


"Kok kamu yang bikin? Biar aku aja, Mas yang bikin. Kamu aja yang mandi duluan," tolak Anggi.


"Nggak boleh. Pokoknya harus aku yang bikin teh sekalian sama sarapannya pagi ini."


"Tapi, kan-"


"Gak boleh bantah perintah suami."


Anggi menghela napas kesal. "Iya-iya," balasnya malas.


Prana tiba-tiba berdiri di atas ranjang dan menarik kedua tangan istrinya supaya cewek itu mau segera bangun dari kasurnya.


"Udah, bangun terus mandi. Jangan sampai salat Subuhnya telat," tegur Prana yang dibalas anggukan kepala patuh oleh istrinya itu.


Sepeninggal Anggi, Prana jadi senyum-senyum sendiri mengingat semalam. Bahagia yang mungkin terlampau itu kian menyeruak dalam dada. "Aku bahagia memilikimu, Anggia Soraya," monolognya.


***


[Baca sampai akhir, ya]


Halo, readers! Semoga hari kalian menyenangkan, ya.


COMMENT dong buat Prana sama Anggi, hehe


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?

__ADS_1


COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini. Biar gak sider aja hehehe.


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2