
Sebelum baca bab ini, LIKE sama COMMENT dulu, boleh? Hehe makasih banyak yaa.
***
Pagi ini Prana bangun terlebih dahulu daripada istrinya. Cowok itu memutar kepala, memandang wajah istrinya yang semakin hari semakin memancarkan aura kecantikan luar dalamnya. Untuk sejenak suami Anggi itu mengembuskan napas.
Semalam Prana tak bisa tidur. Cowok itu tahu kalau semalam istrinya menghampirinya di ruang keluarga. Namun, ia pura-pura sudah terlelap dalam mimpi supaya tak dilempari pertanyaan oleh istrinya.
Semalam juga suami Anggi itu bolak-balik masuk kamar untuk mengecek suhu badan istrinya. Memang sebegitu khawatirnya Prana terhadap Anggi. Prana sama sekali tak mengeluh. Justru ia merasa gagal menjadi suami yang tak bisa menjaga istrinya.
Dan soal kebohongan Anggi, jujur Prana amat kecewa karena istrinya itu tak mau jujur padanya. Namun, bagaimanapun juga, Anggi tak bisa marah padanya. Anggi terlalu lembut untuk disakiti. Anggi terlalu rapuh untuk merasakan sakit untuk kesekian kalinya. Prana sangat mencintai Anggi, sekarang dan untuk selamanya.
"Istriku, kenapa aku bisa segila ini karenamu?" monolognya sambil menatap wajah pucat istrinya.
Sesekali ia mengusap rambut Anggi dengan lembut, lantas sebagai penutup, ia kecup kening itu dengan tempo yang cukup lamban. Entah mengapa ada sesuatu yang menahannya kali ini. Rasanya ia benar-benar tak bisa jauh dari istrinya. Namun, ia tentu tak bisa karena ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Pada akhirnya, dengan berat hati cowok itu turun. Mengambil menu sarapan yang ia siapkan sendiri. Prama membuat dua porsi. Satu porsi untuknya dan satu porsi yang lain untuk istrinya tentunya. Cowok itu lantas melahapnya hingga habis. Setelahnya, ia kembali ke kamar untuk meletakkan senampan sarapan di atas nakas beserta segelas susu hangat untuk Anggi.
Setelah semua urusannya pagi ini selesai, cowok dengan rambut rapi dan aroma tubuh super wangi itu segera berangkat ke kantor. Meninggalkan istrinya yang masih terlelap dalam mimpi-mimpinya sendirian di rumah.
"Mas?" Anggi mengucek mata sembari mengumpulkan nyawa.
Ia kira suaminya masih ada di kamar. Setidaknya untuk pamit dan memberikannya sebuah kecupan. Namun, ternyata ekspetasinya itu hanyalah sebuah ekspetasi. Prana sudah berangkat tanpa membangunkannya. Anggi jadi semakin yakin kalau suaminya itu pasti masih marah padanya.
"Kenapa sih lo, Nggi? Kenapa lo gak bisa nurut dikit aja sama suami lo? Kalau lo ga bandel, semua nggak akan jadi kaya gini." Anggi semakin merutuki dirinya sendiri. Ia mengusap muka dengan kedua tangan dengan gusar.
Rasa-rasanya ia ingin teriak sekencang mungkin sekarang. Namun, ia tak bisa karena suaranya tercekat di kerongkongan. Semua menjadi semakin rumit dan menggelisahkan. Terutama sikap Prana yang membuat Anggi tak bisa untuk tidak memikirkannya sedetik saja.
Kacau. Istri Prana itu benar-benar menyesal setengah mati. Tak ada gunanya ia menjalani kontrak kerja bersama dengan omnya Deva bila mendapat restu dari suaminya saja tidak. Lagi, Anggi mengembuskan napas berat. Dadanya kian sesak karena kesalahan yang ia buat sendiri. Seketika ia menjadi tidak selera makan.
Melihat menu sarapan di atas nakas yang ia pastikan dibuat oleh suaminya sendiri itu justru membuatnya mual. Dengan terpaksa ia memakan sedikit makanan itu lantas menghabiskan segelas susu di sampingnya.
__ADS_1
"Apa gue ke kantor Mas Prana aja, ya? Sambil bawa cemilan ke sana. Kali aja Mas Prana udah nggak marah lagi sama gue," monolognya dengan antusias yang tinggi.
Ajaib. Anggi mendadak bersemangat membayangkan hal itu. Ya, mungkin suaminya tak akan marah lagi bila ia membawakan cemilan ke kantor untuknya. Dengan cekatan ia membersihkan diri, memakai pakaian sederhananya, lantas berlari ke dapur untuk membuat salad buah kesukaan Prana.
Ijah yang melihat majikannya sedang susah payah di dapur itu segera membantu tanpa diperintah. Jujur, Ijah mengagumi Anggi sebagai istri idaman. Ia bahkan sampai iri dan merasa insecure padanya. Ia juga amat bahagia bila Prana dan Anggi bersama-sama setiap hari. Apalagi saat Prana memperlakukan Anggi dengan sangat manis dan perhatian.
Perempuan itu diam-diam memang mengamati perhatian yang diberikan oleh Prana untuk istrinya. Siapapun yang mendapatkan perlakuan seperti itu dipastikan langsung meleleh dan terpikat. Rasanya mereka benar-benar cocok saat bersandingan.
"Mbak Anggi mau ngantar ini ke kantornya Tuan Muda?" tanya Ijah sembari mengambilkan kotak bekal untuk Anggi.
Anggi lantas tersenyum dan mengangguk. Ia kini masih sibuk mengutak-atik berbagai macam buah-buahan dengan toping keju dan mayonaise di atasnya.
"Nggak mau saya saja yang ngantar, Mbak? Mbak Anggi pasti masih lemes habis sakit, kan?" tawar Ijah dengan perasaan cemas, lantas menyerahkan kotak di tangannya pada Anggi. Pasalnya, majikannya itu baru saja pulih dari sakitnya kemarin.
Anggi menggeleng pelan sambil mengulas senyum. "Nggak usah, Mbak. Aku beneran udah nggak papa, kok. Cuma masih agak mual aja," jawabnya.
Ijah mengerutkan kening. Tatapannya lantas menyelidik Anggi dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan hampir mendetail. "Mbak?" panggilnya.
"Iya, Mbak Ijah. Kenapa?" tanya Anggi balik sembari menutup kotak bekal dengan perlahan.
Istri Prana itu segera tertegun. Mungkinkah yang dikatakan Ijah itu benar? Ah, tak mungkin. Anggi yakin kalau rasa mualnya itu karena masuk angin biasa. Toh, belakangan cewek itu memang sering begadang untuk menulis diam-diam supaya tak diketahui oleh suaminya.
"Ah, enggak mungkin, Mbak. Saya cuma masuk angin biasa. Biasanya kalau lagi masuk angin emang suka gini, mual-mual," balas Anggi dengan enteng dan menyepelekan.
***
Di sinilah Anggi sekarang. Gedung yang menjulang tinggi itu berada tepat di hadapannya. Dengan penuh semangat ia masuk ke dalam sambil membawa kotak bekal di dalam totebag di tangannya. Tak lupa ia melempar senyum ke seluruh staf maupun atasan di sana.
"Permisi. Ruangan kantor suami saya di mana, ya?" tanya Anggi pada staf di bagian resepsionis.
Setelah pegawai itu menunjukkan di mana letak ruangan kantor suaminya, Anggi segera melenggang dari sana dan menuju ruangan yang dimaksud. Bayangan senyum yang tercetak di bibir suaminya itu langsung melintas di pelupuk mata.
__ADS_1
Ia lantas sampai di depan ruangan. Dengan rasa antusias Anggi memutar knop yang kebetulan tidak terkunci.
Brak!
Anggi berhasil menjatuhkan totebag berisi salad buah yang dibawanya dari rumah tadi. Kedua tangannya refleks menutup mulut dan dua bola matanya membulat seketika. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depannya sekarang ini. Hatinya terguncang hebat. Air mata segera meluncur dari pelupuk mata.
"Anggia!" panggil Prana yang baru melepas pelukannya dari Rena.
Ciuman tadi, meski hanya di pipi, namun berhasil membuat hati Anggi tersayat-sayat. Anggi benar-benar kehilangan rasa percaya saat ini juga. Suaminyalah yang telah berhasil menghilangkan rasa kepercayaan itu darinya.
Tanpa sepatah kata apa pun Anggi segera berlari sekuat yang ia mampu. Untuk sekarang ini ia benar-benar tak ingin melihat wajah Prana dan sumpah demi apa pun ia amat kecewa terhadapnya. Sampai-sampai rasa cinta itu memudar dari relung hatinya.
"Anggi! Istriku!" panggil Prana yang berusaha mengejar istrinya.
Anggi lantas kelelahan dan berhenti di parkiran kantor. Air mata sudah menghujani pakaiannya bagian atas. Wajahnya seketika merah dan matanya sembab. Ia lantas memutar badan dengan tenaga yang sudah habis.
"Jadi, ini alasan kamu marah sama aku? Supaya kamu bisa punya alasan buat berduaan sama cewek tadi? Iya, Mas?" tanya Anggi dengan napas tersenggal. Ia bahkan sampai tak kuasa menatap wajah suaminya.
Prana pun bercucuran air mata. Ia sama sekali tak menyangka kejadian ini akan terjadi padanya. "Istriku, tolong dengerin aku dulu, ya? Kamu percaya sama aku, kan?" Prana berusaha membujuk dengan perasaan campur aduknya. Bayangan kehilangan sosok Anggi berhasil membuatnya ketakutan.
"Rasa kepercayaanku sama kamu udah hilang, Mas. Oke, kalau kamu pilih dia. Aku ikhlas," kata Anggi, pura-pura berlapang hati. Sungguh, Wallahi, Anggi sama sekali tidak ikhlas. Namun, bila suaminya saja sudah seperti itu, apa yang dapat dilakukannya?
"Anggia, tolong. Ini cuma salah paham. Kita obrolin ini di rumah, ya? Kita ke mobil sekarang," katanya lantas bergegas menuju mobil.
Namun, kata-kata Anggi segera mencegahnya melanjutkan langkah. "Aku pulang sendiri. Aku mau ke rumah temen dulu dan kamu nggak perlu cari aku," kata Anggi setelahnya benar-benar menjauh dari Prana yang sudah susah payah memanggil namanya.
Apa lagi ini? Semua semakin berantakan dan menyulitkan. Inikah filosofi duri yang sebenarnya? Duri-duri tajam itu telah berhasil tertancap di hati Prana dan juga Anggi. Mereka mendadak kehilangan arah. Terlebih Anggi yang amat terluka saat ini.
***
[Baca sampai akhir, ya]
__ADS_1
Satu kalimat buat bab ini?
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?