Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Rumah dan Arah


__ADS_3

Sebelum baca bab ini, LIKE sama COMMENT dulu, boleh?


JANGAN LUPA KASIH TAHU SEMUA TEMAN DAN KENALAN KALIAN BUAT BACA CERITA INI, YA?


Terima kasih banyak!


***


Anggi menyusuri tiap sudut kota dengan langkah-langkah kecilnya yang mulai berat. Air mata terus bercucuran, terjun dari kedua pelupuk matanya. Sampai orang-orang memandangnya dengan tatapan aneh.


Sungguh, Anggi benar-benar kehilangan arah saat ini. Rumah, tujuannya itu telah lenyap bersamaan dengan seluruh rasa yang mulai pudar. Tak disangka ternyata ia telah salah selama ini. Berulang kali cewek itu merutuki diri sendiri. Kesal, marah, kecewa, sedih, semua sudah berhasil tersusun menjadi satu kesatuan yang sempurna mengukir lara di hati Anggi.


Cewek itu menatap ke langit, seketika berpikir ingin menghilang saja dari bumi. Entah ke planet manapun, mars, jupiter, atau bahkan pluto. Ia sangat rela. Yang penting dia bisa melupakan semuanya, terutama sosok yang selama ini amat dikasihi dan dicintainya.


"Bodoh, Anggi! Bodoh!" Cewek itu memeras sebal kain celana kulotnya.


Kantung matanya bengkak, hidungnya merah, dan bibirnya pucat pasi. Ia tak peduli bagaimana orang-orang menatapnya bingung sekaligus aneh. Hingga pada titik di mana ia mati rasa. Tangisnya tiba-tiba berhenti dan air mata tak dapat lagi keluar dari muaranya.


Langkahnya akhirnya terhenti tepat di depan toko perlengkapan anak dan bayi. Pasang mata Anggi dengan segera menangkap benda yang tak asing dalam dunia bayi. Ya, popok dan botol susu. Ah! Andai saja Anggi sudah mengandung bayi suaminya, pasti cewek itu akan jauh lebih kuat sekarang. Karena bayinya pasti akan menyalurkan energi, memberi semangat untuknya dalam melewati hal ini.


Ponselnya tiba-tiba bergetar. Dengan segera ia meraihnya dari dalam saku lantas mengusap layar, dan mendekatkannya pada telinga. Di saat yang bersamaan, cewek itu juga berusaha mengontrol napas dan meredakan isakannya.


"Iya, Jes. Iya, lo bisa jemput gue nggak? Di alamat yang gue kirim di chat abis ini," katanya di telepon.


Seusainya, cewek itu kembali memasukkan benda teknologi itu ke dalam saku dan duduk di kursi panjang di depan toko. Bayangan itu masih setia bertengger di kepalanya. Bagaimana Prana memeluk cewek yang entah siapa dan bagaimana pula cewek itu mengecup pipi suaminya.


Makasih, Mas. Karena kamu ternyata lebih memilih ngasih duri mawar buat aku, katanya kecut dalam hati.


***


"Anggia? Istriku?"

__ADS_1


Anggi sama sekali tak menghiraukan panggilan suaminya. Cewek itu melenggang begitu saja, bahkan saat melewati Prana. Menatap saja tidak, hingga suaminya itu mendadak merasa cemas dan takut dalam waktu yang bersamaan.


"Istriku? Kita obrolin ini di atas, ya?" bujuk Prana, mengikuti langkah istrinya menuju tangga.


Anggi pun berhenti sehingga membuat Prana juga ikut berhenti. Cewek itu berbalik badan, tanpa menatap manik mata suaminya. Kali ini pemandangan lantai rumahnya menjadi lebih menarik dibandingkan dengan wajah Prana. Ia lantas menghela napas berat.


"Ya. Aku mandi dulu," balasnya dingin.


Setelahnya, cewek itu naik ke atas dengan perasaan campur aduknya. Tak tahu harus berbuat apa, namun yang pasti ia benar-benar malas menanggapi suami yang amat dicintainya itu. Dan untuk sekarang, ia jadi ragu akan perasaan cintanya itu untuk Prana. Semua seolah semakin mengabur dan Anggi menyadarinya.


Sementara, di sisi lain, Prana hanya bisa menatap punggung istrinya dengan pandangan dan pikiran kosong. Sebilah pisau telah berhasil menyanyat hatinya hingga hancur berkeping. Ia segera mengacak rambut frustrasi dengan kedua tangan.


"Anggia, kamu terlalu berharga untuk tersakiti. Maaf untuk yang kesekian kali, aku udah bikin kamu kecewa," monolognya.


***


Prana menunggu istrinya sambil duduk di ujung kasur. Bahkan, cowok itu sampai belum sempat mengganti pakaiannya. Ia tak peduli hal apa pun lagi selain kesalahpahaman antara ia dan Anggi.


Sedangkan, Anggi tak berselera menatap suaminya. Ia pura-pura sibuk menyisir rambut dan bercermin. Sesekali, ia sempatkan melirik pantulan bayangan suaminya dari cermin di hadapannya. Keheningan segera menyelimuti atmosfer ruangan. Mendadak rasa canggung menyergap keduanya.


"Kamu boleh jelasin apa pun, Mas. Aku bakal dengerin," ujar Anggi akhirnya, memulai pembicaraan.


Setidaknya kepalanya jauh lebih dingin saat ini dan ia bisa berpikir jernih, tak tersulut api amarah. Apa pun penjelasannya nanti, Anggi sudah menyiapkan diri dan membentengi perasaannya. Insya Allah juga, Anggi akan ikhlas. Dan cewek itu juga sudah meyiapkan jalan tengah yang terbaik untuk dirinya dan suaminya nanti bila terpaksakan oleh keadaan.


Prana mengembuskan napas. Cowok itu memandang punggung istri Anggi yang membelakanginya. "Istriku. Semua yang kamu lihat tadi salah paham. Kami sama sekali nggak melakukan apa-apa," mulainya dengan perasaan berdebar tentunya.


Suami Anggi itu sudah menyusun kata-kata dengan rapi di otaknya, untuk disampaikan pada istrinya. Namun, semua segera buyar saat Anggi menanggapi, "Apa aku harus percaya sama kamu?"


Boom! Sebuah peluru berhasil menembus jantung hatinya, tepat sasaran. Mengapa pertanyaan menyakitkan itu yang harus keluar dari bibir istrinya? Prana lemah dan kehilangan daya. Sungguh, ia seketika menjadi cowok sekaligus suami paling lemah saat ini.


"Anggi, tolong kamu harus percaya sama aku. Dia mantan aku," jelas Prana lagi. Dari nadanya terdengar jelas kalau cowok itu sedang lemah saat ini.

__ADS_1


Anggi memandang pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. Seketika desiran tak mengenakkan segera menyelimuti dada. Mendengar kata 'mantan' sudah mampu membuat hatinya teriris. Lengkap sudah, pelukan itu, ciuman itu, dan juga kenyataan yang ternyata cewek itu merupakan mantan suaminya.


"Lalu?" tanya Anggi lagi, berusaha tak tersulut emosi. Ia harus membicarakan hal ini dengan kepala dingin, tak boleh egois.


"Lalu, dia datang ke kantor, menemuiku. Dia Renata, cewek yang pernah kamu sebut sahabat baru kamu, Istriku."


Tunggu! Jadi, Renata? Cewek penderita pneumothorax akut itu? Jadi, semua kisah yang pernah diceritakan cewek itu tentang Prana? Jadi, cowok yang disebut mantan oleh Renata saat itu merupakan suaminya sendiri? Apa-apaan ini. Anggi seolah-olah dipermainkan oleh takdir.


Okay. Anggi menghela napas panjang. Ia menenangkan diri. Cewek itu tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Anggi tahu betul bagaimana keadaan Renata, begitu pula Prana yang ternyata mantan sahabatnya sendiri. Istri Prana itu sangat mengerti kalau penyakit yang diidap oleh Renata bukanlah penyakit main-main.


Mereka pasti masih sama-sama saling mencintai. Anggi pernah melihat ketulusan cinta seorang Renata untuk suaminya sendiri dari binar matanya saat cewek itu menceritakan tentang Prana. Dan Anggi sadar diri. Cewek itu juga tak boleh egois. Anggi tahu betul apa yang terbaik untuk mereka bertiga.


"Kamu boleh talak aku, Mas," ujar Anggi tiba-tiba.


Prana membelalak seketika. Tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh istrinya. Dengan kedua kaki yang berat, cowok itu bangkit dari duduknya lantas perlahan mendekati istrinya.


"Istriku? Kamu masih terbawa emosi. Tenangin diri kamu dulu. Jangan sampai amarah dalam diri kamu mengalahkan akal dan logika," kata Prana pada Anggi. Menganggap istrinya itu hanya sedang emosi saja, tak sungguh-sungguh mengatakannya.


Anggi lantas segera menatap manik mata Prana dan pandangan mereka bertemu. "Mas, aku sama sekali nggak lagi kebawa emosi. Aku memang udah ikhlas, Mas. Aku gak boleh egois. Mas, kamu masih cinta sama Renata, kan? Dan pneumothorax itu nggak bisa dianggap remeh. Dia jauh lebih butuh kamu daripada aku," terangnya dengan secuil perasaan lapangnya.


Demi apa pun, Anggi sebenarnya sama sekali tak rela membagi apalagi memberikan cinta suaminya seutuhnya pada orang lai. Akan tetapi, bila keadaannya sudah seperti ini, Anggi tak bisa berbuat apa-apa. Sosok seperti Renata pasti lebih membutuhkan belaian kasih dan cinta dari seorang laki-laki yang ia cintai daripada dirinya. Sekiranya itulah yang ada di pikiran Anggi kini.


"Anggi! Kamu apa-apaan, sih? Apa pun alasannya, aku nggak bakal pernah talak kamu. Sampai kapanpun," tolak suami Anggi itu dengan tegas. Cowok itu benar-benar marah pada istrinya kali ini. Prana tak habis pikir dengan sikap Anggi yang mendadak egois seperti ini. Tidakkah ia memikirkan perasaan Prana secuil pun?


"Kamu pikirin lagi, Mas. Tolong. Ini demi kebaikan kita semua. Dan untuk ngasih kamu waktu untuk hal ini, aku akan tinggal di rumah lama aku supaya kamu bisa lebih matang memikirkannya."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Satu kalimat buat bab ini?

__ADS_1


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


__ADS_2