Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Kemurkaan Besar


__ADS_3

Sudah 3 hari ini sejak kepergian Prana dari rumah. Perasaan Anggi semakin tak keruan sekarang. Cewek itu baru saja mendapat pesan dari suaminya.


Kamu di sana jangan lupa makan ya, istriku. Jangan cari-cari aku. Aku baik-baik aja di sini.


Bulir air mata itu kembali menetes, entah sudah ke berapa kalinya. Anggi dulu memang sangat ingin dikirimi pesan-pesan romantis seperti itu dari suaminya. Namun, ia tidak kuasa saat membaca 2 kalimat terakhir di layar ponsel itu. Cewek itu selalu saja dan tak henti-hentinya memikirkan Prana.


Suamiku sudah makan belum ya? Apakah suamiku tidur nyenyak? Apa suamiku baik-baik saja di sana? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering memenuhi kepalanya, membuatnya jadi gelisah dan khawatir. Namun, apalah daya Anggi yang pada akhirnya hanya bisa berkirim doa dari sini.


Aroma harum masakan kini tengah menyelimuti ruangan dapur. Ijah sedang memasak bersama majikannya. Rasa-rasanya perempuan itu tidak tega melihat Anggi kian murung. Ia ikut prihatin dengan apa yang dialami seorang Anggia Soraya.


“Mbak Anggi. Saya turut prihatin ya.” Ijah menoleh pada Anggi dengan raut wajah yang menyiratkan ketidaktegaannya pada majikannya itu.


Anggi lantas tersenyum samar. “Makasih, Mbak," balasnya.


“Tuan Muda belum pulang juga?” Ijah bertanya dengan hati-hati. Perempuan itu takut menyinggung perasaan Anggi.


Anggi pun hanya bisa menjawab dengan menggeleng lemah. Ijah lalu mengusap punggung cewek itu, berusaha menenangkan suasana hatinya.


“Mbak Anggi yang sabar ya. Tuan Muda pasti pulang. Saya tahu betul sebenarnya Tuan Muda itu orang yang baik dan tidak pernah lari dari masalah. Tuan Muda hanya butuh waktu saja," terangnya membuat Anggi di sebelahnya mengangguk paham.


“Saya juga paham, Mbak Ijah. Terima kasih, Mbak Ijah mau bersimpati.”


“Sama-sama, Mbak. Saya sudah menganggap Mbak Anggi dan Tuan Muda sebagai keluarga saya sendiri. Saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”


Anggi lantas tersenyum padanya dan berhambur memeluk perempuan itu. Lagi-lagi Anggi bersyukur karena mempunyai orang-orang yang menyayanginya dan juga perhatian pada dirinya.


***


Sore harinya, Ica datang ke rumah Anggi. Ia dengar dari teman-teman Prana kalau Anggi dan Prana di-drop out dari sekolah. Perempuan itu jadi ikut banyak pikiran karena kabar tersebut.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


Anggi yang baru saja membersihkan kamar dan turun dari tangga lantas segera berlari kecil menuju pintu utama. Ia cepat-cepat membukakan pintu untuk tamu yang datang. Cewek itu kenal betul suaranya. Siapa lagi kalau bukan Ica, kakak iparnya?


"Wa'alaikumussalam, Mbak Ica." Anggi berhambur memeluk kakak iparnya itu. Rasanya rindu sekali bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Terlebih akhir-akhir ini ia merasa amat kesepian di rumah.


Kemudian, Anggi mempersilakan tamunya untuk masuk. Cewek itu berlari ke dapur membuat teh dan segera kembali menuju ruang tamu untuk menemui Ica.


"Nggak usah repot-repot, Nggi. Jadi ngerepotin deh Mbakmu ini," ujar Ica merasa tidak enak hati.


"Cuma teh aja kok, Mbak. Nggak ngerepotin," balas Anggi dengan ulasan senyum lebarnya, menenangkan hati siapa saja yang melihatnya.


“Mbak denger dari temen-temen kalian kalau kalian di-DO dari sekolah. Apa itu bener, Dek?” tanya Ica pada Anggi. Perempuan itu tak suka basa-basi. Ia ingin segera mendapatkan konfirmasi dari Anggi.


Anggi mengangguk. Matanya tiba-tiba jadi berkaca-kaca. Ica hanya bisa menatapnya dengan perasaan sedih. Hatinya teriris melihat keceriaan di wajah itu yang kini pudar karena satu insiden besar. Pasti tak mudah bagi Anggi untuk melewati semuanya.


“Mbak sebenernya sudah menduga kalau cepat atau lambat semuanya pasti terbongkar. Mbak turut prihatin sama kalian, ya.” Ica mengusap lembut bahu adik iparnya. Ia juga ikut berkaca-kaca melihat wajah murung itu.


Deg! Anggi lupa kalau Ica belum tahu tentang kepergian Prana. Cewek itu jadi berdebar mengingat suaminya yang pergi dari rumah 3 hari yang lalu.


“Mas Prana pergi, Mbak. Aku juga nggak tahu dia ke mana,” jawabnya sambil meringis.


Ica lantas segera berapi. Perempuan itu jadi geram mendengar respon adik iparnya. “Jadi, anak itu kabur? Bener-bener keterlaluan dia. Gak pernah bisa dewasa," gerutunya sambil menunjukkan muka kesalnya. Bisa-bisanya Prana pergi di saat kondisi mereka seperti ini.


Anggi mengambil tangan Ica seraya menatapnya takut. “Aku mohon, Mbak. Tolong jangan kasih tau hal ini ke Ayah sama Mama. Aku gak mau mereka banyak pikiran,” mohonnya dengan nada penuh penekanan. Cewek itu mengkhawatirkan kesehatan mertuanya karena mengingat usia mereka sudah tidak muda lagi.


Ica ragu untuk menerima permintaan Anggi. Perempuan itu kasihan pada adik iparnya. Sedangkan, Prana justru sama sekali tidak bisa dipercaya. Bagaimana ia harus diam saja melihat mereka seperti ini?


Detik berikutnya ia tersenyum tipis lalu membalas, “Kamu tenang aja, Nggi. Mbak Ica nggak akan ngasih tau mereka.”

__ADS_1


***


“Ayah, Mama!”


Ica berlarian ke sana kemari mencari keberadaan orang tuanya. Perasaannya berkecamuk, campur aduk. Pikirannya tak lepas dari bayang-bayang wajah Anggi yang malang sejak dari rumahnya tadi.


“Iya, Sayang. Ada apa?” Vina baru turun dari tangga di ujung ruang tamu yang terlewat luas itu. Wanita itu baru selesai membersihkan dirinya.


Bakri pun tak lama setelahnya juga datang dari ruangan kantornya. Ketiganya lantas segera duduk dan berkumpul di ruang keluarga. Ica langsung menceritakan semua kegundahannya. Perempuan itu sebenarnya sama sekali tak bermaksud untuk mengingkari janjinya pada adik iparnya tadi. Akan tetapi, Ica sangat tahu apa yang terbaik untuk masalah ini. Orang tuanya, terutama Vina merupakan kelemahan terbesar bagi Prana selama ini.


“Bener-bener keterlaluan anak itu. Kita ke apartemennya sekarang. Ayah yakin kalau dia sembunyi di sana.” Pasang mata Bakri sudah merah dan membulat. Kedua tangannya juga mengepal kuat karena menahan emosi yang meletup di dalam dadanya


***


Bakri, Vina, dan Ica benar-benar pergi ke apartemen Prana. Di perjalanan menuju sana, Ica terus memperingati Bakri. Ica jadi khawatir melihat air muka ayahnya yang merah padam sedari rumah tadi.


“Nanti waktu di sana, tolong Ayah jangan terbawa emosi, ya. Ingat darah tinggi Ayah. Ayah harus mikirin kesehatan Ayah," peringat Ica. Namun, ayahnya itu sama sekali tak menggubris. Kini Bakri tengah sibuk memikirkan kelakuan anak laki-lakinya.


Tak lama setelahnya, ketiga orang itu cepat-cepat menaiki lift menuju apartemen milik Prana. Terutama Bakri yang sangat geram pada Prana. Pria itu sudah seperti macan yang hendak menyergap mangsanya.


Bel itu berbunyi berulang kali. Bakri memencetnya dengan tidak sabar. Dadanya sampai naik turun karena Prana tak kunjung membuka pintu.


"Sabar, Mas." Vina terus mengelus punggung suaminya, berusaha meredam emosinya.


Plak!


Satu tamparan berhasil mendarat dengan mulus di pipi kanan Prana saat cowok itu membuka pintunya. Terkejut? Tentu saja. Tamparan dari Bakri begitu terasa panas di pipinya, dilakukan secara tiba-tiba dan tanpa aba-aba sebelumnya.


Sementara, Vina dan Ica yang sedari tadi setia berdiri di belakang Bakri hanya bisa membuka mulut lebar-lebar, syok karena melihat kejadian tersebut.

__ADS_1


“Dasar bod*h! Selalu lari dari masalah. Dewasa, Prana!”


__ADS_2