Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Secarik Kertas


__ADS_3

Sebelum baca bab ini, LIKE sama COMMENT dulu, boleh? Hehe makasih banyak yaa.


***


"Kamu lagi sakit, kan?"


Anggi terduduk di ujung ranjang. Cewek itu hanya bisa menunduk sembari meneguk teh hangat yang dibuatkan oleh suaminya sendiri. Ya, meski cowok itu kembali pada sikap dinginnya, namun ia tetap perhatian kepada istri yang amat dicintainya itu.


"Iya, Mas," ujar Anggi setelah tegukan terakhirnya lantas menatap Prana yang mengawasinya dari ambang pintu.


Tatapannya masih tajam, menusuk sampai ke tulang Anggi. Cowok itu perlahan mendekat lalu mengambil alih gelas kosong di tangan Anggi dan meletakkannya di atas meja. "Udah baikan?" tanyanya mendadak lembut.


Anggi mengangguk. Jujur, cewek itu sedang berusaha menyembunyikan rasa gemetarnya. Mengingat kejadian tadi, Prana pasti akan murka setelah ini. Cewek itu bahkan tak berani menatap kedua bola mata suaminya secara langsung. Ia hanya bisa memandang kerah baju Prana.


"Mas udah makan?"


"Kenapa tadi keluar?" tanya Prana balik tanpa menggubris pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya itu.


Anggi mendadak kikuk di tempat. Bagaimana ia harus menjawab? Apakah istri Prana itu harus menjawab kalau ia pergi karena mengambil job yang sudah jelas-jelas dilarang oleh suaminya? Tidak mungkin.


"Abis beli obat di luar tadi, Mas," jawabnya dengan sedikit terbata-bata.


Prana menyelidik manik mata cewek di hadapannya kini. "Kenapa harus sama cowok lain? Kenapa nggak telepon aku? Aku, kan suami kamu, Anggia." Cowok itu mulai menginterogasi. Kali ini masih tenang meski nadanya dingin.


Seketika Anggi tercekat. Panas dingin segera menyergap ujung kaki sampai ujung kepalanya. Bisakah suaminya tidak menginterogasinya seperti itu? Tapi, memang dia yang salah dan dia akui itu. Hanya saja sikap dingin Prana yang seperti ini yang ditakutinya.


"Aku takut ganggu pekerjaan kamu, Mas," jawabnya pada akhirnya.


"Dan akhirnya kamu milih jalan sama cowok lain di luar sana ketimbang aku? Lagipula, ada Mbak Ijah yang bisa beliin kamu obat, kan? Aku bolak-balik udah bilang, jangan keluar rumah dengan kondisi kamu yang seperti ini." Prana mulai memburu. Sekuat mungkin ia tak boleh terpancing emosi. Ia tak mau sampai melukai hati istrinya lagi kali ini. Sudah cukup Anggi tersakiti selama ini karena dirinya.


Anggi menggeleng lemah. Apakah suaminya itu sedang cemburu?


"Mas cemburu?" tanyanya spontan. Sungguh, Anggi benar-benar tidak sengaja saat melontarkan pertanyaan itu.

__ADS_1


"Iya. Aku cemburu," jawab Prana enteng.


Demi apa? Prana bisa cemburu? Cowok secuek, sedingin, dan sekaku dia bisa cemburu? Sebenarnya terbuat dari apa hati Prana ini?


"Mas tahu soal pelukan tadi?" Jujur, meski sangat takut menanyakan hal itu pada suaminya, namun Anggi tetap memberanikan diri. Sebenarnya juga ia sudah yakin kalau Prana tadi pasti melihatnya berpelukan dengan Deva.


"Ya. Aku tahu," jawab Prana. Singkat, padat, jelas, namun kaku.


Anggi kini mencoba memberanikan diri untuk menatap pasang bola mata suaminya. "Kamu nggak marah?" tanyanya kemudian.


Prana mantap menggeleng. "Dia lagi kangen sepupunya yang udah meninggal, kan? Aku bisa maklumin hal itu," katanya enteng. Sama sekali tak mempermasalahkan hal sepele tadi. Lagipula memang Anggi tak sepenuhnya bersalah. Pun dengan Deva yang sedang merindukan sosok sepupu.


"Jadi, beneran nggak marah nih?" tanyanya lagi, memastikan.


Namun, bukannya menjawab, Prana justru berbalik badan lantas berjalan menuju meja kecil di sebelah lemari pakaian. Diambilnya sesuatu dari atas meja. Secarik kertas. Setelahnya, ia kembali dan berdiri di hadapan Anggi lagi.


"Ini apa?" tanyanya sembari menunjukkan benda di tangannya itu pada Anggi.


"Itu-"


"Kontrak apa ini? Kamu nggak cerita ke aku?" tanya Prana dengan nada tajam.


Seketika Anggi merasakan hatinya berdesir tak mengenakkan. Jantungnya berdenyut dengan interval di atas rata-rata. Kedua telapak tangannya mendadak berkeringat. Prana pasti berubah dingin kembali karena itu, Anggi yakin seratus persen.


"Mas, maaf. Aku nggak berniat nyembunyiin itu dari kamu. Aku cuma-"


"Cuma apa?"


Anggi segera tertegun. Tatapan tajam itu semakin membuatnya terpaku di tempat. Rasanya ia ingin menghilang saja dari bumi saat ini. Ia sangat ingin menghindar dari semua ini. Tapi, ia tentu tak bisa. Anggi sudah terjebak di dalamnya.


"Aku udah ngelarang kamu ikut beginian, kan? Tapi, kamu sama sekali nggak mau dengerin aku? Anggi, apa susahnya, sih kamu tinggal duduk manis di rumah terus jaga kesehatan kamu. Udah, itu aja. Aku nggak minta apa-apa dari kamu, Istriku," ujar Prana dengan tatapan sendunya. Ia sama sekali tak bisa marah kali ini. Mengingat istrinya juga yang sedang kurang enak badan. Ia juga lemah bila menatap dua manik mata istrinya itu. Prana tak bisa lagi menyakiti hati istrinya yang amat lembut itu.


"Maafin aku, Mas. Aku cuma pengin ngasah bakat aku aja. Lagipula, kan job yang aku ambil itu bisa dikerjain di rumah. Jadi, aku pikir nggak ada salahnya aku ambil job itu. Maaf karena sebagai istri, aku nggak bisa patuh sama kamu. Aku terlalu kemakan sama egoku sendiri, Mas," jawabnya sambil memohon supaya Prana mau memaafkannya. Ia tak pernah sanggup bila suaminya itu marah kepadanya. Prana merupakan kelemahannya dan Anggi menyadari hal tersebut.

__ADS_1


Prana mengacak rambutnya gusar. Air mata perlahan keluar dari ujung matanya. Namun, dengan cepat ia menghapusnya. Tak mau bila istrinya sampai melihat air mata itu. Akan tetapi, terlambat karena Anggi sudah melihatnya. Cewek itu mendadak lemas. Suaminya kini menangis karenanya. Kenapa gue sebodoh ini? gerutunya pada diri sendiri dalam hati.


Cowok itu hanya bisa merasakan kekecewaan yang tidak dapat ia ungkapkan secara langsung pada istrinya. Prana hanya mau Anggi sekali ini saja menurut padanya. Dan yang dilakukan istrinya itu sudah melukai hatinya. Untuk pertama kalinya, Anggi membuatnya kecewa besar.


"Kamu istirahat. Aku siapin makan di bawah," suruh Prana.


Hanya kalimat bernada dingin itu sajalah yang Prana tinggalkan sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang dari balik pintu. Demi apa pun, Anggi tak berniat melukai hati suaminya. Ia hanya ingin melakukan hal yang ia suka. Namun, secara langsung caranya itu sudah membuat suaminya kecewa.


Mungkin, Prana tidak marah atau membentaknya. Namun, dapat dipastikan seratus persen kalau cowok itu sedang menyimpan rasa kecewanya sendirian. Begitulah Prana sebagai seorang suami bagi Anggi. Meski terluka, ia akan berusaha untuk tidak menyakiti hati istrinya yang sudah rapuh dahulu.


***


Anggi membuka mata. Cewek itu seketika kelabakan mencari-cari sosok yang setiap hari tidur di sampingnya. Namun, kini sosok itu tidak ada, tidak seranjang dengan dirinya. Mungkin ia sedang ke bawah untuk ambil air, batin Anggi.


Setelah makan malam dengan disuapi oleh suaminya, ia tertidur. Prana memang kembali dingin dan kaku, namun cowok itu tetap memberi perlakuan yang menunjukkan rasa perhatiannya pada sang istri. Meski makan malam mereka jadi hening dan canggung.


Anggi pun bangkit dari ranjang, mengenakan sandal bulunya lantas berjalan menuju keluar kamar. Setidaknya badannya sudah tak seremuk tadi. Namun, tetap saja, terkadang rasa mual itu kembali datang dan mengganggunya.


Perlahan tangga demi tangga ia turuni. Cewek itu berbelok ke arah dapur untuk memastikan kalau suaminya sekarang berada di sana. Namun, batang hidung sosok yang dicarinya itu ternyata tak ada di sana. Sontak Anggi terkejut dan mendadak kebingungan sendiri. Lantas, di mana Prana sekarang?


Tiba-tiba istri Prana itu tergerak untuk menilik di ruang keluarga. Mungkinkah suaminya di sana? Namun, mengapa semalam ini menonton televisi?


Dan benar saja. Prana berada di sana. Namun, bukan untuk menonton televisi, melainkan ia ternyata tidur di sofa di ruangan tersebut. Detik itu juga mata Anggi berkaca-kaca. Sekecewa itukah suaminya padanya? Anggi bodoh. Anggi bodoh. Anggi bodoh. Ia terus menyalahkan diri sendiri. Andai Anggi mau menurut, pasti semuanya akan jauh lebih baik-baik saja.


Ya, kini Anggi hanya bisa berharap semoga besok suaminya sudah tak marah lagi padanya dan kembali pada sikapnya yang manis seperti biasanya.


***


[Baca sampai akhir, ya]


Satu kalimat buat bab ini?


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?

__ADS_1


__ADS_2