
Sebelum baca, LIKE sama comment dulu boleh? Xixixi.
***
“Lo gak salah. Si istrinya Pak Prana ini emang biasa banget, sih. Coba aja Pak Prana cari wanita lain di luar sana, pasti gampang banget dapetnya. Udah ganteng, masih muda banget, multitalenta lagi. Siapa yang gak kepincut coba? Gue nih ya, kalau ditawarin ya pasti mau bangetlah. Kalian pikirin deh, siapa yang berani nolak Pak Prana di zaman begini?”
Anggi masih punya telinga normal. Masih bisa mendengar apa yang sudah dikatakan pegawai-pegawai di sebelahnya. Yuni mendadak menatap istri atasannya dengan tatapan sendu. Salah besar dirinya karena membawa Anggi ke tempat berisi orang-orang sok cantik di sini. Harusnya mereka tak mengunjungi kantor bagian D itu. Sudah tahu isinya pegawai-pegawai caper yang suka kecentilan, tapi Yuni malah nekat mengajak Anggi ke sana.
“Nggi. Gak usah didengerin, ya omongan mereka? Mereka suka kaya gitu. Udah sok cantik sama kecentilan aja bangga.” Yuni membalas sindiran mereka dengan tak kalah tajam.
Anggi cukup menghela napas dan tersenyum tipis mendengarnya. “Nggak papa, Yun. Aku ngerti kok. Santai aja,” responnya dengan lapang dada.
Namun, salah satu dari mereka justru terlihat terpancing dengan kata-kata Yuni tadi dan tak segan menghampiri dua orang tersebut. Beberapa helai rambut panjangnya ia selipkan ke belakang. Raut wajahnya sudah dapat menyiratkan betapa angkuhnya dia.
“Jangan mentang-mentang lo kepala manajer di sini bisa seenaknya ngatain kita yang di bawah lo, ya. Sadar diri dong lo, Yun. Lo bisa naik jabatan karena siapa? Karena kita-kita juga, kan yang nyaranin lo ke Bos?” ujarnya dengan nada sarkas. Penampilannya terlihat sedikit berlebihan. Perhiasan ada di sana dan di sini. Lipstiknya merah, cerah dan sedikit mencolok. Cantik memang. Namun, apakah hatinya juga secantik hatinya?
“Sorry ya, Mel. Gue sama sekali gak butuh suara atau dukungan lo kok. Lagian, gue juga gak sampai ngemis-ngemis ke kalian, kan? Jadi, gak usah sok kaya gitu deh lo. Semua orang di sini juga udah pada tahu kelakuan asli lo itu kayak gimana. Cantik-cantik caper banget,” pancing Yuni. Perempuan itu terlihat benar-benar menantang, terlihat dari air mukanya dan terdengar dari intonasinya saat berbicara dengan perempuan di hadapannya yang ternyata bernama Amel itu.
Anggi semakin panik. Bagaimana jika sampai terjadi perang dunia di sini? Apalagi semua berawal karena dirinya. Jangan sampai terjadi keributan dan mengganggu yang lainnya. Ini nanti juga bisa jadi aib tersendiri bagi perusahaan suaminya jika Yuni dan Amel benar-benar semakin tersulut emosi dan melakukan yang tidak-tidak setelah ini. Ia harus bisa mencegah.
“Yun, Yun. Udah, tahan emosi. Inget, ini di kantor, banyak orang yang lihat. Jangan sampai mereka mikir yang enggak-enggak nanti,” bisik Anggi tepat di telinga Yuni sembari mengusap pundaknya, berharap bisa membantu meredakan emosinya yang mulai merambat sampai ke ubun-ubun.
Yuni menghela napas gusar. “Udah, Nggi biar gue-“
“Kenapa Nyonya Virgo yang cantik jelita? Anda malu kalau nanti orang-orang tahu kalau ternyata istri seorang Bapak Mahaprana Virgo yang tampan dan gagah punya istri seculun Anda, hah? Saya saranin Anda ngaca dulu deh, udah. Gak usah belagu jadi istri orang kaya gitu. Saya tahu kok kalau Anda dipungut sama Pak Prana, kan? Oh, apa Anda hamil di luar nikah, terus Pak Prana kasihan, terus akhirnya terpaksa menikahi Anda? Ya, ya, sepertinya memang begitu ya, Nyonya Virgo?” Amel semakin menjadi. Wajahnya ia majukan dan kedua matanya menatap tajam pada Anggi.
“Amel!” Yuni membulatkan bola-bola matanya. Nadanya meninggi dan membentak, membuat semua orang di ruangan itu menoleh ke arah sumber keributan.
Situasi semakin memanas dan pengap sepertinya. Sejauh ini Anggi masih diam. Namun, terlihat jelas kalau kedua tangannya mulai mengepal di samping paha.
Ekspresinya juga masih datar. Tak dapat dipungkiri kalau cewek itu sedang menahan emosinya yang semakin menjalar sampai ke ujung kepala. Sabar, Anggi. Jangan sampai bertindak nekat. Kendalikan emosi dan atur pernapasan. Ingat Prana yang sudah susah payah membangun perusahaan sejauh ini.
“Kenapa, Yun? Lo kenapa jadi sok belain Nyonya Virgo itu? Oh, gue tahu. Lo takut kehilangan jabatan lo itu, kan. Makanya, cari muka ke istri atasan lo. Pinter juga ternyata lo ya, Yun. Ternyata lo gak seg*blok yang gue kira selama ini,” cibirnya dengan disertai senyum sinis dan irinya. Di sini siapa yang bodoh? Bukannya kalimatnya sendiri itu justru menunjukkan betapa murahannya dia?
“Jangan sok tahu lo, Mel. Mau lo apa sih, hah? Lo pikir dengan caper kaya gitu lo bakal dapet perhatian dari orang-orang di sini? Enggak, Mel. Dengan begitu, lo justru udah nunjukin betapa murahannya lo sebagai wanita yang dinobatkan sebagai wanita tercantik di sini,” balas Yuni masih ingin menyemprotkan kata-kata pedas ke pegawainya itu.
Ya, walau mereka seumuran, tapi Yunilah yang memiliki jabatan tinggi di sini. Dari desas-desus yang berkeliaran di kantor, sih katanya Amel memang suka begitu. Menjatuhkan orang lain supaya dia terlihat yang paling baik di sini. Katanya juga, Amel memang sempat punya keinginan untuk menduduki jabatan Yuni saat ini. Namun, ternyata bos lebih memilih Yuni sebagai ketua manajer yang profesional daripada dirinya. Alasannya karena Amel hanya gila jabatan saja, namun tak mau tahu tanggung jawab profesinya.
“Yuni! Udah, Yun. Kita balik aja, yuk!” Anggi merangkul pundak Yuni dan mencoba membujuknya secara halus untuk segera keluar dari atmosfer yang semakin meradang ini. Orang-orang semakin penasaran dan terus menatap ke arah mereka. Sudah tak ada yang bisa fokus dengan pekerjaan masing-masing karena suara mereka terdengar lantang, sarkas, dan sangat mengganggu sepertinya.
“Kita gak bisa diem gitu aja, Nggi. Kamu punya harga diri,” kata Yuni mencoba membuat Anggi mengerti. Benar seperti apa yang diceritakan Pak Prana padanya selama ini. Istrinya itu punya hati yang lembut dan penyabar.
__ADS_1
Amel semakin melebarkan senyum sinisnya kali ini. Sepertinya ada salah satu kata yang terlontar dari mulut Yuni yang seolah dapat membuka pintu kemenangan baginya dalam situasi sengit pagi hari ini. Cewek itu berjalan perlahan, mondar-mandir di depan Anggi dan juga Yuni lantas bertepuk dengan hitungan yang lamban.
“Oh, jadi gitu ya, etika seorang pegawai pada istri atasannya? Baru tahu loh gue, kalau ternyata pegawai bisa manggil istri atasannya dengan nama doang. Tinggi juga nyali lo, Yun,” sindir Amel lagi-lagi dan ia berkata tepat di depan wajah perempuan yang berdiri di samping Anggi itu.
“Maaf ya, Mbak. Tapi, saya sama sekali nggak keberatan kok, kalau Yuni manggil saya nama. Justru saya lebih menyukainya karena saya memang bukan siapa-siapa di sini.” Akhirnya Anggi bersuara, demi membela Yuni tentunya. Ia tak ingin orang-orang salah tangkap atas sindiran Amel barusan.
“Wow-wow! Yang satu gak punya etika, sok paling berkuasa dan yang satunya lagi sok-sokan membela. Nyonya Virgo ini merendah untuk meroket atau merendah untuk mempermalukan diri Anda sendiri? Sudah jelas-jelas Anda memang bukan siapa-siapa di sini. Lalu, mengapa kemari? Punya kepentingan apa memang? Oh, saya tahu, Nyonya. Nyonya ini memang sengaja punya niatan untuk mempermalukan diri beserta dengan suami Anda, kan? Udahlah, Nyonya. Anda itu bukan siapa-siapa kalau tidak menikah dengan Pak Prana,” kata-kata satire yang ditujukan untuk Anggi itu semakin membuat Yuni meradang di tempat.
Kedua tangannya mengepal kuat di samping paha. Mata-matanya pada melotot. Tenggorokannya mengering dan kuku-kukunya serasa ingin mencabik-cabik muka yang ada di depannya itu.
“Rekan-rekan saya yang tercinta. Saya perkenalkan, istri dari pemilik perusahaan kita, Pak Prana. Seorang yang cantik luar biasa, tak ada tandingannya, bertalenta, berprestasi, dan baik hati. Seorang yang mendadak kaya karena dinikahi pria konglomerat, yang dipungut dari keluarga kecil yang tak punya apa-apa. Seorang wanita yang menyandang sebagai murid malang yang dikeluarkan dari sekolah. Sambutlah dengan senang hati, Nyonya Anggia Soraya!”
Plak!
Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi Amel sampai-sampai membuat perempuan itu tersungkur ke lantai. Tak mungkin tenaga cewek sekuat itu. Anggi, Yuni, dan seluruh orang di dalam ruangan itu segera membuka mulut lebar-lebar. Mereka serentak terkejut bukan main. Anggi segera menoleh ke arah orang yang sudah menampar Amel beberapa detik yang lalu.
Betapa terkejutnya dia saat ekor matanya menangkap sosok lelaki yang ia kenal selama ini. Prana, si pemimpin perusahaan sedang berdiri di hadapan semua orang dan juga istrinya. Dengan muka yang merah padam dan dada yang naik turun tidak keruan.
“M-Mas Prana!”
Tak ingin menunggu lagi, cewek itu segera berhambur menghampiri suaminya yang masih diselimuti emosi.
“Mas! Kamu apa-apaan sih?” protes Anggi yang langsung marah mendapati suaminya berlaku kasar pada Amel tadi.
“Mbak Amel, maafin suami saya. Mari, saya bantu,” tawar Anggi yang merangkul Amel untuk mengajaknya keluar dan berniat menenangkan perempuan itu.
Akan tetapi, Amel terlanjur terluka dan amat malu saat ini. Perempuan itu menangkis kedua tangan Anggi dengan kasar lalu segera berlalri, meninggalkan ruangan sial*n itu. Pasti hati dan fisiknya sangat terluka kali ini dan istri Prana itu sama sekali tak tega melihatnya seperti itu. Perlakuan Prana tadi terlalu kasar dan sangat berlebihan bagi Anggi.
“Mas.”
“Kalian kembali kerja. Dan buat lo, Yun. Makasih banyak karena udah bela istri gue.”
Yuni mengangguk samar dengan ekspresi yang ngeri menatap atasannya itu. Setidaknya kini ia menjadi lega karena Pak Prana datang dan segera mengatasi semuanya.
Tanpa aba-aba, Prana langsung menarik pergelangan tangan istrinya dan mengajaknya keluar. Anggi hanya bisa menurut. Ia turut menatap suaminya dengan ngeri. Pasalnya, air muka itu belum berubah sejak di kantor bagian D tadi. Dan cara Prana menarik tangannya menjadi sedikit kasar kali ini. Bahkan, cewek itu harus menahan sakit karena cekalan tangan dari suaminya cukup kuat.
“Mas? Kamu kenapa, sih?” Akhirnya, Anggi berani bersuara setelah beberapa menit menahan rasa takutnya.
Prana lantas menghentikan langkah yang secara langsung juga membuat Anggi berhenti. Ia berbalik badan, menatap manik mata istrinya dengan tatapan setajam elangnya. Jujur, tatapan itu selalu berhasil membuat Anggi lemas sekaligus deg-degan di tempat. Apalagi sudah sekian lama suaminya tak menatapnya seperti itu.
“Ada apa sama kamu? Kamu udah kayak bukan suamiku yang biasanya, Mas. Mas Prana yang aku kenal nggak akan sekasar tadi,” ujar Anggi, meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
Prana lantas menghela napas gusar. “Justru aku yang seharusnya tanya gitu ke kamu!” balasnya dengan meninggikan nada suaranya. Tentu hal itu membuat Anggi tersentak kaget.
Cowok itu tak sadar kalau suaranya tadi meninggi pada Anggi. Ia masih terbawa emosi dari ruangan tadi. “Istriku, Anggi. Itu tadi benar-benar aku, Sayang. Aku gak bisa diem gitu aja kalau ada orang yang nyakitin istriku, apa pun alasannya,” katanya, kini nadanya melembut.
Anggi menggeleng lemah. “Nggak, Mas. Bukan gitu caranya. Aku nggak suka kamu kaya tadi, Mas. Apalagi itu ke cewek. Aku bisa ngerasain banget apa yang dirasain Mbak Amel tadi. Dia pasti sangat terluka. Dia juga harus menanggung malu di hadapan banyak orang, Mas. Apa kamu nggak pernah mikirin itu?” tanyanya dengan nada penuh penekanan.
Prana tahu benar apa yang sedang dirasakan istrinya saat ini. Kasihan pada Amel yang sudah ditamparnya tadi. “Anggia. Udah cukup kamu bersikap kaya gitu, Istriku. Perjuangin harga diri kamu, Nggi. Kamu istimewa, kamu berhak dihargai dan dihormati sesama manusia. Cukup kamu bela orang-orang kaya mereka. Tegas, Anggia! Pikirin perasaan kamu dulu sebelum mikirin perasaan orang lain,” tutur suaminya itu dengan tatapan nanar ke arah istrinya.
“Tapi, nggak gitu caranya. Kita masih bisa obrolin baik-baik. Kita seharusnya bisa mengalah, Mas. Karena orang yang punya harga diri itu adalah orang yang mampu bersikap dewasa. Orang yang nggak gampang tersulut emosi dan pemaaf. Tolong, Mas kamu ngertiin itu.” Anggi menjelaskan pendapatnya. Namun, Prana masih belum bisa menerimanya mentah-mentah.
Karena menurutnya, tidak semua hal bisa disikapi dengan cara seperti itu. Karena setiap manusia memiliki hak untuk membela diri dan mempertahankan harga diri. Karena tidak setiap manusia punya kadar kesabaran yang sama. Karena ada yang memakai hati dan ada pula yang memakai logika.
Prana menyetabilkan emosinya kali ini. Tak ingin lagi berdebat dengan istrinya sendiri. Ia mengembuskan napas panjang. “Kamu kenapa ke sini, Nggi? Bukannya aku udah bilang, jangan ke sini apalagi tanpa izinku. Sekarang kamu udah tahu, kan gimana orang-orang di sini? Itu alasan aku gak pernah mau ngizinin kamu ke sini, Istriku. Mereka cuma pengin bikin kamu sakit hati,” katanya, meminta keterangan dari Anggi.
Anggi jadi teringat satu hal, yakni tujuan awalnya datang kemari. Ia membuka totebagnya lantas mengeluarkan sekotak bekal dari sana. “Aku bawain bekal, Mas. Kamu belum sarapan, kan?” ujarnya lalu menyodorkan kotak bekal itu pada suaminya.
Suami Anggi itu seketika mengeluarkan bulir air mata dari pelupuk matanya. “Kamu dateng ke sini cuma mau anter sarapan ini buat aku, Istriku?” ucapnya, mempertegas pernyataan istrinya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Iya, Mas. Dimakan, ya mumpung masih anget,” kata Aggi.
Prana segera menggandeng Anggi sembari perlahan duduk di lantai. Anggi yang awalnya bingung lantas mengikuti apa yang dilakukan suaminya. “Kok di sini, Mas?” tanyanya polos.
“Nggak papa. Biar romantis.”
“Suapin dong, Istriku.”
Tak menunggu lama, Anggi segera menyuapi suaminya dengan menu sarapan yang ia bawa pagi ini dengan begitu telaten dan penuh perhatian. Tak sadar, Prana kembali menitihkan air mata sambil menyambut suapan istrinya.
“Loh, Mas. Kok nangis?” tanya Anggi mendadak khawatir karena bulir air mata itu semakin suaminya menjadi.
Sambil terisak, Prana segera memeluk erat istrinya. “Makasih, Nggi. Makasih, Istriku. Kamu udah ngajarin aku banyak hal selama ini,” bisiknya dengan tulus dan air mata jadi berjatuhan di pakaian istrinya.
***
[Baca sampai akhir, ya]
Tiga kata untuk Prana? Hehe.
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK.