Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Dongeng Puteri dan Pangeran


__ADS_3

"Mas?"


"Iya, Sayang."


Anggi mengerjap perlahan. Cewek itu membuka selimutnya dan berusaha untuk duduk di atas ranjangnya. Ia terus menatap suaminya yang sibuk sendiri dengan aktivitasnya.


"Badan kamu sampai anget gini lo. Nih, aku buatin jahe anget. Diminum ya," suruh Prana sambil menyodorkan segelas jahe hangat favorit Anggi bila sedang sakit.


"Kamu dari mana, Mas? Kok pake pakaian rapi?" tanya Anggi bingung lalu meneguk jahe hangat tersebut.


Prana segera tersenyum. "Itu nggak penting, Nggi. Kamu pikirin kesehatan kamu dulu. Dihabisin jahenya, kalau nggak aku marah sama kamu," ancamnya sambil mengulas senyumnya.


Senyum itu selalu berhasil menghipnotis Anggi ke dalam cintanya. Kepalanya yang pusing pun seketika hilang saat melihat senyum hangat itu. "Kok repot-repot sih, Mas? Aku bisa bikin sendiri kok," kata Anggi, tak enak bila Prana jadi capek-capek mengurusnya.


"Ssttt, aku nggak ngerasa direpotin kok. Justru aku yang harusnya minta maaf ke kamu. Aku ceroboh banget sampai kamu yang kena imbasnya gini. Maaf ya, Sayang. Aku sering banget nyusahin kamu," ujar Prana menatap istrinya dengan prihatin. Ia tak henti merutuki dirinya sendiri karena terlalu sering membuat kesalahan.


"Jangan bilang gitu, Mas. Aku nggak suka kamu terus-terusan nyalahin kamu. Lagipula, itu juga di luar kendali kamu. Aku maklum," balas Anggi seraya berusaha mengulas senyumnya.


"Kok kamu tahu aku sukanya jahe anget?" sambungnya.


Prana segera menegapkan badannya. "Ya tau dong. Suami siapa dulu nih?" ujarnya sambil mengusap-usap dagunya dan menaikkan alisnya sebelah.


Anggi pun jadi terkekeh melihatnya. "Makasih ya, Mas," ucapnya.


"Sama-sama, Sayang. Habis ini makan terus tidur lagi, ya. Aku udah buatin bubur tadi," ujar Prana lalu meraih semangkuk bubur di atas nakas.


"Kamu buat sendiri? Kok bisa?" Anggi menjadi terkejut mendengarnya. Cewek itu sama sekali tak menyangka kalau suaminya ternyata benar-benar jago dalam hal begituan.


"Wah, kamu ngeremehin aku nih? Sini, aku suapin. Coba dulu, baru boleh komentar," katanya sambil menyodorkan sesendok bubur ke mulut istrinya, membuat Anggi segera membuka mulut dan menerimanya.


"Enak banget, Mas. Rasanya pas." Anggi berkomentar sambil terkagum-kagum sendiri.


"Aku bilang juga apa. Jangan pernah ngeremehin suami kamu makanya," sindir Prana lalu mencubit hidung mungil istrinya, membuat Anggi segera bersemu.


Prana dengan telatennya terus menyuapi istrinya dengan bubur buatannya. Cowok itu sangat sabar mengurus Anggi. Memang sudah saatnya dia melakukan tanggung jawabnya dengan penuh kesungguhan. Hingga akhirnya Anggi berhasil menghabiskan bubur itu.


"Mau aku dongengin?" Prana segera beranjak dari kasur dan menuju rak buku berukuran besar di ujung ruangan itu. Ia terlihat sibuk memilih buku-buku yang terpajang di sana.


"Didongengin? Ya ampun, Mas. Emangnya aku anak kecil apa?" Anggi tertawa karenanya. Cewek itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kan, kamu emang anak kecil." Prana kembali ke kasur sambil membawa sebuah buku di tangannya. Ia lantas segera duduk menghadap istrinya.

__ADS_1


Anggi langsung meninju lemas dada bidang suaminya itu. Cewek itu kesal sendiri karena Prana mengejeknya.


"Aduh! Sakit, Sayang. Kamu sakit gini aja tenaganya udah kaya Sumo aja, ya. Pantesan kalau lagi fit, udah kaya Hulk lagi marah," cibir Prana sambil tertawa renyah. Cowok itu suka sekali menggoda istrinya.


"Ih, kok Sumo sama Hulk sih. Orang cantik begini kok," puji Anggi pada dirinya sendiri.


"Iya dong cantik. Kan, istriku," ujarnya lalu segera mencubit pipi Anggi yang sudah merah itu.


"Mau didongengin apa, Tuan Puteri?" lanjutnya.


Anggi memajukan tubuhnya dan meneliti pasang mata cowok di hadapannya. "Eum, aku gak mau cerita di buku ini. Kuno dan mainstream banget," tolaknya sambil menunjuk buku di tangan Prana.


Suami Anggi itu pun segera mengerutkan kening. "Terus, cerita apa dong?" tanyanya polos.


Anggi langsung mengulas senyum lebarnya. "Aku mau kamu aja yang ngarang ceritanya. Boleh kan, Mas?" ujarnya bersemangat. Kedua matanya terlihat berbinar.


"Kok aku? Aku gak pinter bikin dongeng," katanya jujur. Cowok itu mendadak khawatir melihat lengkung senyum istrinya yang langsung mengendur.


"Ya udah deh. Sekarang kamu tiduran aja," suruh Prana lembut.


"Tapi, maunya di pangkuan kamu," protes Anggi, membuat Prana membulatkan kedua matanya. Namun, ia segera mengulas senyum setelahnya.


Anggi pun mengambil posisinya. Kepalanya ia letakkan bersandar pada kedua paha suaminya. Dan Prana juga turut membantu Anggi membenarkan posisinya supaya merasa nyaman.


Prana berdeham. "Suatu hari di sebuah negeri, hiduplah seorang pangeran yang hidup dalam bergelimang harta. Pangeran itu selalu mengidam-idamkan seorang istri yang tidak hanya cantik wajahnya, namun juga cantik hatinya. Setiap hari dia bermimpi bertemu dengan seorang puteri dari negeri seberang yang wajahnya selalu berseri dan memancarkan cahaya," mulainya.


Sementara, Anggi setia mendengarkan dan ingin tahu kelanjutannya. "Aku boleh tanya?" potongnya.


"Iya?"


"Pangerannya ganteng nggak?"


Prana langsung terkekeh. "Pangeran dari negeri itu merupakan pangeran dengan paras tertampan pada zamannya. Tubuhnya tinggi dan jalannya selalu tegap. Rambutnya selalu rapi. Bahkan, ketampanannya bisa sampai membuat para wanita di sana berpaling dari suaminya," jawabnya.


"Oh, ya? Ngeri juga dong."


"Iya, Sayang. Aku lanjut, ya yang tadi?"


Anggi mengangguk. Prana memundurkan badannya sedikit supaya bisa bersandar sambil membenarkan posisi kepala istrinya dengan penuh hati-hati.


"Pada suatu hari, Sang Pangeran bertemu dengan puteri di mimpinya dan saat itu juga pangeran merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Sang Raja pun memutuskan untuk menikahkan keduanya. Seluruh negeri mendadak bergemuruh. Kabar bahagia itu langsung sampai ke telinga para rakyat, bahkan sampai ke negeri-negeri tetangga." Prana melirik wajah istrinya, berharap Anggi segera memejamkan mata.

__ADS_1


"Kok berhenti, Mas?" protes Anggi sambil memandang wajah suaminya.


"Aku kira kamu udah tidur," katanya.


"Lalu, menikahlah mereka di kemudian hari. Namun, entah mengapa pangeran justru merasa berat menerima puteri tersebut sebagai istrinya. Rasanya ia belum bisa jatuh cinta padanya. Sang Pangeran pun mendadak bersikap dingin, cuek, kaku, dan membosankan. Namun, Sang Puteri tak mau berhenti untuk berusaha mencairkan sifat suaminya itu." Prana terus bercerita, sementara Anggi tak kunjung menutup matanya.


"Lanjut, Mas. Terus, puterinya berhasil membuat pangeran jatuh cinta nggak?" pinta Anggi tak sabar menunggu kelanjutannya.


Prana segera mencetak lengkung senyum di bibirnya. "Hari demi hari puteri melayani suaminya dengan sepenuh hati. Ia sama sekali tak mengenal kata menyerah. Ia bertekad untuk bisa mengambil hati Sang Pangeran. Sampailah pada titik klimaks, Sang Pangeran mengata-ngatai puteri karena menurutnya perlakuan istrinya itu terlalu berlebihan dan membuatnya risih. Jadilah Sang Puteri sakit hati dan pulang pada orang tuanya di negeri seberang. Pangeran mendadak dilanda kegelisahan sepeninggal istrinya. Ia tak bisa tidur sepanjang malam. Sesuatu yang mengganjal terus bersarang di kepalanya. Pangeran mendadak menyesal karena sudah menyia-nyiakan Sang Puteri. Ia sadar bahwa ia tak bisa hidup tanpa istrinya itu," sambungnya.


"Terus, akhirnya gimana ya, Mas? Kasihan ya puterinya. Tapi, aku salut banget sama perjuangannya. Dia terus berusaha meski ditolak berkali-kali." Anggi berkomentar. Cewek itu turut larut ke dalam dongeng dari suaminya.


"Aku juga salut banget sama Sang Puteri. Dia wanita tertangguh yang pernah aku temui," tambah Prana membenarkan pendapat istrinya.


"Sampailah pada suatu ketika, Sang Pangeran mendadak sakit keras karena terlalu sering memikirkan istrinya. Sang Puteri yang mendengar kabar itu pun tak tinggal diam dan segera kembali. Ia sangat mencintai suaminya, ia tak ingin bila sampai kehilangan pangeran. Dan pada akhirnya Sang Pangeran menyatakan cintanya pada istrinya. 'Aku mencintai kamu, istriku. Sekarang dan untuk selamanya,' katanya." Prana kembali melirik Anggi yang sudah mulai memejamkan kedua matanya.


"Dan seperti pangeran itu, aku juga akan terus mencintai kamu, Nggi. Apa pun yang bakal terjadi nanti, aku janji," ikrarnya. Cowok itu mencoba mengguncang pelan lengan istrinya dan ternyata Anggi sudah benar-benar terlelap dalam mimpinya sendiri.


Prana pun ikut tidur dalam posisi duduknya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak bergerak sedikit pun supaya tidur Anggi tidak terganggu olehnya.


***


"Apa, Ren? Lo mau balik ke sini? Kenapa?" Maman sedang berbicara di telepon. Cowok itu mendadak panik mendengar pernyataan orang di seberang telepon.


"Nggak bisa, Ren. Prana udah ngelupain lo, tolong lo hargai dia," cegahnya tegas. Namun, orang itu tak juga menyerah.


"Oke kalau itu mau lo, gue akan coba kasih tau Prana. Tapi, kalau emang dia gak mau, gue minta tolong banget sama lo. Tolong jangan paksa dia dan jangan ganggu hidup dia lagi," katanya kemudian.


***


[Baca sampai akhir, ya]


Halo! Kabar baik, ya kalian?


Gimana nih? Kira-kira apa yang bakal terjadi, ya?


Yuk! Dukung author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE, tambahkan cerita ini ke FAVORIT supaya author makin semangat nulis, hehe.


COMMENT yang banyak, ya? Biar nggak sider, xixi.


Terima kasih banyak!

__ADS_1


__ADS_2