
Sepeninggal teman-temannya, Anggi kembali masuk ke dalam dan menuju kamar suaminya. Dilihatnya Prana sedang sibuk memasukkan barang-barangnya dari koper ke dalam lemari pakaian berukuran jumbo di samping ranjangnya. Istrinya itu pun segera menghampirinya tanpa pikir panjang.
Dengan cepat Anggi mengambil alih pekerjaan suaminya itu, membuat Prana sedikit terperanjat karenanya. Ia memilih bungkam dan terus fokus memasukkan baju-baju Prana ke dalam lemari di depannya. Sementara, Prana hanya bisa memandangi wajah istri yang sangat dirindukannya itu dengan perasaan yang tidak dapat dideskripsikan.
“Maafin aku ya, Nggi. Aku ini suami yang pengecut. Aku kabur gitu aja kemarin. Aku pergi dan-”
Anggi yang mendengar kalimat itu lalu segera memotong, “Udah, Mas. Yang penting kamu udah pulang sekarang. Jujur, aku lega kamu baik-baik aja meski nggak sama aku. Dan yang terpenting bagi aku ya cuma itu.”
Harusnya cewek itu sangat bahagia sekarang karena cowok yang sangat dirindukannya sudah kembali. Namun, entah mengapa tiba-tiba rasanya Anggi tidak selera melihat wajah suaminya itu. Mungkin, karena sikap yang ditunjukkan oleh Prana di hadapan teman-temannya tadi yang membuatnya merasa seperti itu. Prana memang terlalu berburuk sangka yang berlebihan pada Bima. Tak seharusnya ia seperti itu padanya.
Prana maju satu langkah dan berdiri menghadap istrinya dari samping. “Kamu di sini baik-baik aja kan, Nggi? Kamu nggak lupa makan sama istirahat cukup, kan? Aku khawatir banget sama kamu selama nggak ada di rumah,” tanyanya sambil membelai rambut halus milik Anggi.
Anggi hanya mengangguk untuk balasannya. Bohong, ia sebenarnya jadi sering lupa makan kalau saja Ijah tidak mengingatkannya. Cewek itu juga selalu merasa susah tidur karena terus memikirkan Prana. Akibatnya, Anggi jadi sering mengeluhkan tidak enak badan hampir setiap harinya. Kalau memang Prana khawatir, mengapa cowok itu tak kunjung kembali dan menunggu selama berhari-hari begitu?
“Mas kenapa sih kok benci banget sama Bima? Mas kenapa selalu bersikap kasar banget sama dia?” tanyanya gemas tanpa menengok pada suaminya. Cewek itu masih tak habis pikir dengan sifat Prana yang terlalu arogan terhadap Bima.
__ADS_1
Prana mendengus kesal karena istrinya membahas hal tersebut di saat suasana hatinya tak keruan seperti sekarang ini setelah kejadian di ruang tamu tadi. “Nggak usah bahas itu dulu, Nggi. Aku lagi males denger namanya,” balasnya dengan nada super ketus.
Anggi segera menghentikan aktivitasnya lalu berbalik badan dan menatap suaminya. “Tapi, aku pengin tau alasan Mas kenapa kaya gitu ke dia.” Nadanya kini terdengar dingin dan tegas, membuat Prana jadi syok mendengarnya.
“Anggia. Dia itu orang yang udah bikin semuanya jadi kacau. Aku yakin seratus persen kalau pelaku yang nyebarin berita tentang pernikahan kita itu dia.” Prana memegang bahu kanan istrinya dengan sedikit mengguncangnya sebagai isyarat untuk meyakinkannya bahwa Bimalah biang semua masalah ini.
Anggi menggeleng pelan seraya memandang wajah suaminya dengan tatapan tidak percayanya. “Kamu nggak bisa nuduh dia seenaknya dong, Mas. Aku kenal sifatnya. Apa pun alasannya, dia gak bakal ngelakuin itu,” bantahnya tegas. Tapi, memang Anggi tahu betul orang semacam Bima itu seperti apa. Bima merupakan orang yang tulus dan jujur. Cowok itu tak pernah mengumbar rahasianya ke orang lain selama ini.
Mendengar kalimat itu, Prana lantas tersenyum sinis dan berdecak sebal. “Kamu itu tertipu sama wajah sok polosnya, Anggi. Ada orang yang pinter nyembunyiin kelakuan aslinya. Banyak orang yang bermuka dua di sekitar kita, Aggia Soraya.” Prana masih keras kepala dan teguh pada keyakinannya. Entah mengapa cowok itu seperti mempunyai dendam kesumat pada Bima. Ia tak pernah bisa mempercayai cowok itu.
“Bela aja terus mantan kamu itu. Lagipula, ini semua juga gara-gara kecerobohan kamu, kan. Kalau kamu bisa jaga mulut kamu untuk gak cerita sana-sini apalagi ke Bima, semuanya bakal baik-baik aja. Semua gak akan jadi berantakan kaya gini.” Prana sudah jengah dengan semua pernyataan istrinya. Cowok itu bahkan sampai tidak sadar kalau sudah memancing emosi Anggi.
Anggi terperangah saat suaminya itu melontarkan kata-kata yang sangat menusuk dan menohoknya. “Jadi, Mas nyalahin aku? Mas, kamu itu harusnya bisa buka mata sama hati kamu. Coba inget-inget, apa kamu pernah mikirin perasaan aku waktu itu? Apa kamu pernah peduli sama aku dulu? Aku juga butuh tempat untuk berbagi unek-unek aku, Mas. Bener ya ternyata kalau kamu itu cowok berhati dingin, kaku. Aku nggak yakin kalau kamu bakalan bisa berubah.” Anggi meluapkan kekesalannya dan menekankan nada di setiap kata-katanya. Tatapannya begitu tajam menghunus pasang bola mata suaminya.
Prana mendadak tertegun. Apa yang sudah dilakukannya? Cowok itu sama sekali tidak ingin Anggi lagi-lagi terluka karena dia. Ia tidak sadar kalau kalimatnya tadi secara tidak langsung sudah menyinggung sekaligus menyakiti perasaan istrinya. Seluruh badannya mendadak lemas. Hatinya berdesir seolah ada suatu benda semacam silet yang mengirisnya.
__ADS_1
Cowok itu mengambil tangan Anggi untuk digenggamnya. “Aku minta maaf, Anggi. Aku terlalu kebawa emosi,” ujarnya menyesal. Sorotan matanya mendadak sendu saat menatap manik mata Anggi yang sudah diisi oleh kilatan amarah sekaligus kecewa.
Namun, Anggi justru menatapnya kesal dan melepas genggaman tangan suaminya. “Aku mau ke dapur dulu bikin teh buat Mas. Kamu mandi dulu aja sana,” katanya judes lalu melenggang dari hadapan Prana dengan perasaan yang berkecamuk.
***
Anggi terus mengaduk teh di depannya dengan pandangan kosong. Raut wajahnya menjadi suram semenjak percakapannya dengan Prana tadi. Cewek itu sampai tidak sadar kalau teh buatannya sudah mulai dingin. Isi kepalanya kini hanya ada kata-kata suaminya tadi. Cowok itu menyalahkan dirinya? Bagaimana bisa? Tidak ingatkah Prana bagaimana perlakuannya padanya dulu?
Sementara, di sisi lain Prana baru saja datang dari arah tangga. Meski ragu, cowok itu berusaha memberanikan untuk mendekati istrinya yang sedang marah padanya itu. Ia lalu memeluk tubuh mungil Anggi dari belakang tanpa aba-aba dan tanpa persetujuan.
Anggi terperangah mendapat perlakuan tersebut. “Apaan sih, Mas? Kamu mau merayu aku? Maaf, tapi usaha kamu itu nggak mempan.” Anggi menanggapi perlakuan suaminya dengan ketus, membuat Prana mendadak kaget karena istrinya belum pernah seketus itu padanya.
Prana lantas segera melepas pelukannya dan menatap Anggi dengan lekat. “Maafin aku, istriku. Aku kan udah ngaku salah tadi,” ucapnya dengan penuh ketulusan. Cowok itu khawatir melihat perlakuan Anggi yang berubah padanya. Ia amat ceroboh dalam hal ini.
Anggi berbalik badan dan hanya menatapnya datar sekilas. Cewek itu menyodorkan teh pada Prana dengan kasar dan langsung pergi begitu saja menuju kamarnya, menginggalkan suaminya yang masih terpaku di sana. Prana mendadak bersedih melihat Anggi seperti itu. Padahal, Prana tadi sangat berharap kalau ia dan Anggi bisa bermesraan sekembalinya ia dari apartemen. Namun, ternyata dialah yang menghancurkan ekspetasinya sendiri.
__ADS_1