Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Mengikhlaskan


__ADS_3

Hai! Masih setia menunggu puncak konfliknya nggak? Hehehe, sabar yaa


Maaf, author jarang up setiap hari.


Tapi, sekarang author usahain deh mau up setiap hari kaya dulu. Kasih semangatnya dongg, hehe. TERIMA KASIH.


***


“Mbak Anggi tau nggak mantannya Kak Prana itu-“


“Loh-loh, Nak Anggi ternyata datang juga toh.”


Suara berat dan serak itu memotong kalimat Tata. Seorang pria dengan rambut yang mulai tumbuh uban datang bersama dengan wanita di sampingnya dan segera menghampiri Tata dan Anggi yang sedang asyik mengobrol. Dua pasangan sepuh itu berpakaian rapi dan terlihat mewah.


“Eh, Mama, Ayah. Baru datang?”sapa Anggi dengan senyum sumringahnya.


“Iya, Sayang. Duh, cantiknya menantuku satu ini. Mama sampai pangling tadi saking ayunya anak dara,” puji sang mertua itu. Siapa pun yang menjadi menantunya bisa-bisa diabetes tiap hari karena pujian manis yang dilontarkan olehnya. Beruntung sekali Anggi mempunyai dua sosok orang tua kedua seperti Bakri dan Vina itu.


“Iya, Ma. Menantu kita, Nak Anggi ini memang cantik luar dalam luar biasa. Pantas Prana luluh dan cinta mati sama dia,” seru Bakri menambahi kalimat pujian dari istrinya tadi.


Tentu Anggi tersipu malu. Tak tahu harus merespon apa, cewek itu hanya tersenyum manis. Mereka terlalu berlebihan memang, namun Anggi menyukainya meski rasanya sedikit aneh. Bukannya apa, tapi bukankah itu tandanya mertuanya begitu menyanyanginya?


“Om sama Tante ini, Tata nggak dipuji juga?” goda Tata bercanda. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala karena om dan tantenya itu sangat berlebihan.


Mama Vina segera terkekeh. “Kalau anak dara satu ini jagonya menggoda dan merayu orang ya?” jeda bahak tawa, “tentu ponakan Tante satu ini juga nggak kalah cantik,” pujinya lantas mencolek dagu salah satu keponakan kesayangannya itu.


“Ya sudah, ayo kita ke depan. Tuh putra kebanggaan Ayah mau nyambut para tamu.”


Mereka lalu berjalan beriringan menuju barisan depan. Mendengarkan sambutan dari putra kebanggaan keluarga Bakri.


“Sayang, Tata, lebih hati-hati lagi ya, Nak. Jangan sampai Anggi tahu soal mantan Prana si Renata itu. Biarkan mereka melupakannya dan melanjutkan kehidupannya yang sudah bahagia sekarang,” bisik Vina tepat di telinga keponakannya itu dengan lembut.


Syukur orang tua Prana itu datang tepat waktu. Kalau tidak, tak tahu apa yang akan terjadi nanti.


Tata yang mendengarnya hanya bisa tersenyum meringis. “Maaf, Tan,” balasnya masih dengan cengiran kudanya.

__ADS_1


***


Suasana tiba-tiba mencekam di tengah-tengah lorong menuju kelas XII. Dua muda-mudi tampaknya sedang adu tatap, sama-sama intens dan menyelidik. Yang cowok berusaha untuk menyudutkan si cewek, membuatnya mau tidak mau harus menyandar pada tembok luar kelas. Sementara ia diapit oleh dua tangan kekar si cowok.


"Gue sama Prana nggak akan marah, Nit. Asal lo mau mengakui kesalahan lo itu," desak Bima dengan bulir peluh yang mulai membasahi pucuk kepalanya.


Ia tak akan menyerah sampai pacarnya itu mau mengakui perbuatan yang telah ia lakukan dan sembunyikan selama ini. Yang mana lagi kalau bukan tentang Prana dan Anggi yang di-dropout dari sekolah beberapa bulan lalu.


Nita mulai mendengus kesal. "Tapi, gue nggak ngelakuin itu, Bima. Harus berapa kali lagi gue jawab kalau itu bukan kesalahan gue. Lo tahu sendiri, kan kalau pelakunya itu udah jelas, si Intan," elaknya, masih tak mau mengaku.


Bima mulai jengah dan geram. Kedua tangannya mengepal di samping Nita, membuat cewek itu merasa ngeri sendiri. Bukan Nita namanya kalau menyerah. Ia akan terus membela dirinya sendiri, apa pun alasannya.


Namun, Bima juga bukan sosok yang mudah percaya pada orang semacam Nita. Ia harus bisa menguak semua, apa pun alasannya dan apa pun yang akan terjadi nanti.


"Gue udah sabar selama ini, Nit. Inget, lo udah kelas XII dan lo tahu, kan masa-masa itu berat banget. Kalau lo gak mau ngakuin perbuatan lo, gue bisa lapor ke BK dan kalau guru BK tahu alasan sebenarnya dan siapa pelakunya, pasti beliau nggak akan segan-segan kasih lo sanksi yang berat. Jadi, gue ingetin, jangan nambah beban lo di kelas XII ini, Nit," ancam Bima sambil menunjuk-nunjuk Nita.


Meski sama sebalnya, namun Nita juga takut pastinya. Cowok kekar seperti Bima pasti tak main-main tenaganya. Melirik urat yang terlihat jelas di lehernya saja sudah membuat bulu kuduk merinding.


Nita mengembus napas gusar. "Kalau gue emangnya kenapa, Bim? Emang ada sangkut pautnya sama lo? Emang apa perlunya lo maksa-maksa gue buat ngaku begini? Emang lo siapanya mereka, Bima?" balas Nita dengan ekspresi judes nan menyebalkannya, memancing.


Bima mulai melepaskan kedua tangannya dari tembok. Ia mundur sedikit untuk menciptakan jarak di antara keduanya.


"Oh, temen doang? Yakin lo nggak cemburu sama Anggi, hah?"


"Dia mantan gue, Nit. Gue emang sayang sama dia, sayang banget. Tapi, gue rela kok kalau dia harus sama Prana. Karena cinta bukan tentang saling memiliki, Nit. Karena cinta lebih dari itu. Cinta menurut gue itu mengikhlaskan."


Bagaikan sebuah anak busur yang baru dilepaskan dan tepat mengenai jantung hati Nita, kalimat itu berhasil menohoknya. Ia jadi ingat bagaimana ia sangat menggilai Prana dulu. Ia bahkan rela mengorbankan banyak hal demi Prana.


Namun, ternyata saat itu Prana sudah menaruh hati pada gadis lain dan gadis itu ialah Renata, sahabatnya sendiri. Tapi, itu memang dulu dan sudah berakhir sekarang. Kini, ia justru ingin membantu sahabatnya, Renata untuk mendapatkan Prana kembali.


"Ya, lo emang bener, Bim. Tapi, satu hal yang lo harus tahu, gue ngelakuin itu karena kecemburuan buta gue waktu itu, Bim. Gue khilaf," terangnya kali ini jujur.


"Kalau khilaf, akui perbuatan lo itu, Nit. Nggak ada salahnya lo mau mengakui sebuah kesalahan. Manusia emang tempatnya salah. Tapi, minta maaf juga gak buruk, Nit. Nggak usah malu mengakui," tutur Bima, membuat Nita jadi mulai membuka pikirannya.


Memang ada benarnya juga perkataan Bima. Ia terlalu jahat dulu. Dan perbuatannya itu sudah merenggut impian masa depan Prana dan Anggi. Akan tetapi, untuk Renata, ia sudah terlanjur berjanji, Nita harus menepati janjinya untuk kembali mempersatukan Rena dan Prana.

__ADS_1


"Pertama-tama, lo harus minta maaf ke Intan, Nit. Karena dia udah menanggung semuanya sendirian. Gue udah tahu semuanya, dia yang cerita sendiri ke gue dan gue paham kenapa dia ngelakuin itu semua. Gue tahu lo yang paksa dia, tapi gue nggak marah sama lo, Nit. Kedua, lo minta maaf ke Prana sama Anggi dan gue yakin kalau mereka juga pasti mau maafin lo karena mereka orang baik, Nit," sarannya.


Sementara Nita hanya mengangguk sebagai jawaban.


***


"Mas?"


Sembari membelai lembut rambut harum suaminya, Anggi berusaha untuk menyusun kata-kata. Ia berulang kali menarik napas pelan dan dihembuskannya lagi. Begitu terus sampai ia menemuka kata-kata yang cocok.


"Ya, istriku?"


"Aku boleh minta izin sama Mas nggak?"


Prana yang mendengarnya sontek mendongak cepat. Posisi mereka seperti biasa. Prana tiduran dengan paha istrinya sebagai bantal di depan ruang keluarga. Mereka tengah menonton acara televisi bersama malam ini.


"Minta izin apa, Sayang?" tanyanya lembut.


Anggi bergumam sesaat. "Aku... boleh cari kerja nggak?" katanya pelan-pelan.


"Cari kerja?" Prana segera merengut, mengingat istrinya putus sekolah, bagaimana ia mau cari kerja nanti?


"M-maksudku, cari kerja yang bisa dikerjain di rumah gitu, Mas. Aku punya kenalan, temen cowok, dia nawarin aku buat kontrak penulis sama dia. Katanya, kalau aku bisa bikin naskah yang menarik dan berhasil buat pembaca jatuh cinta, naskah aku bakal diterbitin dan aku bakal dapet royaltinya, Mas," jelasnya sambil terus mengusap rambut hitam legam suaminya.


Kini, Prana bangkit dan duduk menghadap istrinya. Ia menatap lamat-lamat wajah Anggi yang selalu cantik natural itu. "Tapi, aku masih sanggup biayain keluarga kita, Istriku. Kamu nggak perlu repot-repot kerja kaya gitu. Cukup istirahat di rumah aja. Lagipula, kan kamu juga lagi ngejalanin program hamil. Biar hasilnya maskimal, kamu gak boleh capek, Sayang," katanya khawatir dengan kondisi fisik istrinya. Dan, teman cowok? Ia tentu akan cemburu padanya kalau mereka bekerja bersama dan menjadi sering bertemu dengan alasan urusan pekerjaan.


"Tapi, aku nggak bakal kecapean kalau cuma nulis dan duduk di rumah kok, Mas. Lagian, aku bukannya bermaksud begitu, Mas. Aku cuma pengin ngasah dan ngembangin skill aku lagi," kata Anggi dengan nada memohonnya. Sorot matanya menunjukkan keseriusannya untuk ingin mengambil tanda tangan kontrak tersebut.


"Pokoknya nggak boleh. Titik."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?

__ADS_1


COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2