Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Misi Rahasia


__ADS_3

...Alhamdulillah, akhirnya author balik lagi nih, teman-teman....


...Jadi, gimana? Udah siap menyambut Prana sama Anggi lagi?...


***


"Untung lo dateng tepat waktu, Pra."


Dion menatap sahabatnya itu dengan lekat. Melihat sesuatu yang aneh di muka gantengnya. Seperti, ah, dia tak bisa menerka-nerka saja.


"Wajah lo kenapa berseri-seri gitu, Man?" tanya Dion penasaran.


Pasalnya, dari tadi Prana sudah senyum-senyum sendiri di tempat duduknya. Seolah ada kupu-kupu berterbangan di perut cowok itu. Membuatnya terbang dan berbunga-bunga.


"Berseri-seri gimana? Gak kok, biasa aja," balas Prana santai. Namun, semburat merah itu tak juga hilang dari kedua pipinya.


"Jujur lo sama gue," desak Dion tak sabaran. Cowok itu turut mengulas senyum jahilnya pada Prana.


Sementara Prana menatapnya jijik. "Apaan sih lo, Yon? Jijik gue liatnya," katanya dengan jujur. Masalahnya, wajah Dion mendadak menjadi seperti om-om nakal bila berekspresi seperti itu.


"Jijik-jijik gini, tapi lo suka, kan," goda Dion lantas mencolek dagu sahabatnya itu.


Nahas, Prana segera menangkis tangan Dion dari dagunya. Raut wajahnya semakin menyiratkan keheranannya dengan teman cowoknya yang satu itu. Terkadang normal, terkadang usil, terkadang sangat nakal, terkadang sok-sokan berlagak h*mo juga.


"Gak usah colek-colek. Najis banget gue sama lo," ujar Prana sekenanya.


Dan saat itu juga Dion mencebik, pura-pura bersedih atas perkataan Prana tadi. "Udahlah, tinggal jujur apa susahnya sih," protesnya dengan gemas.


"Oh! Gue tau nih, lo abis itu ya sama istri lo si Anggi itu?" tebak Dion asal-asalan. Namun, benar adanya.


Prana memang tengah memikirkan itu sejak dari tadi. Bukannya mesum, dia hanya senang saja mengingat ia sudah menuntaskan salah satu kewajibannya, yakni memberi nafkah batin pada istri yang amat dicintainya itu. Prana jadi merasa memiliki Anggi seutuhnya. Rasanya seperti, ah, tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Bagaimana cara mengungkapkan rasa bahagia yang kian membuncah dalam hatinya itu?


Prana mengangguk samar sebagai jawaban. Dion yang melihat responnya lantas tak dapat mengendalikan rasa girangnya. Ia sampai bangkit, melompat-lompat, dan berteriak heboh. Seakan dialah yang mengalaminya.


Tangan Prana segera menarik paksa pergelangan tangan teman gilanya itu. Ia sampai dibuat geleng-geleng kepala melihatnya. Siapa yang menanggung malu di sini? Prana tentunya. Sahabatnya itu tak pernah punya urat malu sepertinya. Bahkan, di tempat seramai ini sekalipun.


"Malu-maluin tau gak lo? Di sini gue yang malu, anjr*t!" umpat Prana, kesal dengan Dion yang semakin tidak waras itu.

__ADS_1


"Ya habis lo sih, Pra. Gue, kan jadi jantungan dengernya. Pantesan, dari semalam lo gak ngangkat telepon gue. Ternyata itu alasannya. Anyway, selamat atas malam ke berapa nih?" Dion sengaja menggantung kalimatnya.


"Baru pertama."


"Baru pertama? What? Serius lo? Selama ini lo nikah ngapain aja, Mahaprana Virgo?" cibir Dion tak tahu malu.


"Lo kira nikah cuma isinya itu doang apa? Bersihin dulu tuh otak lo. Isinya kotor mulu perasaan," ejek Prana sambil menoyor kepala Dion dengan kerasnya.


Sementara Dion hanya bisa meringis tanpa mengeluh. "Ya maaf, Pak Bos. Lagian lo sih, kenapa gak dari awal aja coba?" tanyanya lagi-lagi tak tahu malu.


Prana melotot segera mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Dion yang tidak bisa di-filter itu. "Gak papa. Ada beberapa alasan waktu itu. Udah-udah, kenapa jadi bahas ini sih?" protesnya mendadak sadar kalau pembicaraan mereka ini terlalu vulgar.


"Geli juga sih gue, Pra."


"Yeu! Yang mancing duluan siapa coba?" semprotnya balik.


"Jadi, gimana? Bima udah dapet info apa aja dari si cabe-cabean itu?"


***


Anggi tengah menikmati udara sejuk sore hari di balkon kamar Prana yang kini telah menjadi kamarnya juga. Pemandangan itu tetap saja indah saat dipandang. Entah mengapa debar jantungnya belum kunjung mereda kala mengingat malam itu. Tentu menjadi malam yang sangat berkesan baginya.


Kemampuannya dalam dunia tulis-menulis pun tengah ditingkatkannya. Beberapa cerpen telah berhasil ia rampungkan dan ia simpan rapi ke dalam satu folder di laptopnya. Entah kapan akan ia publikasikan ke khalayak umum, yang penting dia sudah punya banyak cerita yang ingin ia bagikan kepada orang-orang.


Pemandangan seorang pemulung di pekarangan rumahnya mendadak membuyarkan fokusnya terhadap buku di hadapannya. Ia segera berdiri dan mengintip apa yang tengah terjadi di sana.


Terlihat sepeti Ijah tengah memarahi pemulung itu. Rasanya tak tega melihatnya membungkuk-bungkuk dengan karung berisi barang rongsokan di pundaknya itu.


Tanpa pikir panjang lagi, kakinya tergerak untuk turun ke bawah dan langsung menghampiri keduanya. Ia mendekati pemulung yang tengah berdiri di depan Ijah dengan muka yang ditundukkan itu.


"Ada apa, Mbak Ijah?" tanya Anggi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ini, Mbak. Mau minta sumbangan katanya. Daripada Tuan Muda marah nanti, lebih baik saya usir saja pemulung ini, Mbak Anggi," jelas Ijah pada majikannya itu.


"Sudah, jangan. Biar aku aja yang ngatasin ini," bisik Anggi ke telinga Ijah.


Paham dengan maksud majikannya, asisten rumah tangga itu segera undur diri lantas masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Anggi dengan pemulung yang diselimuti rasa canggung itu.

__ADS_1


"Ada apa, Nek?" tanyanya lembut.


Nenek pemulung itu sudah berani mengangkat kepalanya. Mendengar kelembutan suara Anggi membuat hatinya adem. Ketakutan yang ia rasakan saat diusir oleh Ijah tadi seketika sirna. Tergantikan oleh ketenangan melihat aura yang terpancar dari wajah cewek berumur belasan tahun di depannya.


"Sungguh bersih dan bercahaya wajahmu, Nak," ujar pemulung itu dengan spontan.


Mendadak Anggi bingung lantas segera mengulas senyum ramahnya. "Mari, Nek saya antar ke dalam. Nenek sudah makan belum?" tanyanya dengan penuh perhatian.


Nenek pemulung itu hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Anggi. Dengan cekatan istri Prana itu segera memapah nenek tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia memperlakukan tamu tak diundang itu dengan sabar dan penuh kehati-hatian.


***


"Gimana, Nek? Suka sama masakannya?" tanya Anggi, memancing si Nenek tadi untuk berkomentar atas masakan yang ia buat barusan.


Nenek yang kini duduk di samping Anggi itu mengangguk sambil mengulas senyum. Anggi yang melihatnya pun turut senang. Susah sekali rasanya membujuk Nenek untuk mau makan. Merasa tak enak hati pada Anggi dan juga orang-orang di dalam rumah.


"Nak Anggi tinggal sendiri di sini?" tanya Nenek dengan suara seraknya.


"Saya tinggal bersama suami saya, Nek. Nenek tinggal di mana?" tanya Anggi balik.


"Nenek kelihatan capek. Saya pijat kakinya, ya?" tawar Anggi dengan tulus.


Nenek diam saja. Namun, Anggi tak perlu menunggu jawaban dari Nenek untuk niatnya tadi. Dan Nenek pun sepertinya tak masalah. Ia justru tak berhenti tersenyum menatap cewek di hadapannya itu.


"Sungguh bersih dan tulus hatimu, Nak," puji Nenek.


Anggi segera malu-malu mendengarnya. Ia terus fokus memijat titik-titik pegal di kaki Nenek. Cewek itu tahu betul kalau tenaga Nenek sudah terkuras habis karena berjalan dengan jarak yang cukup jauh sedari pagi sembari memunguti barang-barang bekas yang didapatnya dari tong sampah. Neneklah yang menceritakan itu tadi. Dan pekerjaan itulah yang harus dinikmatinya setiap hari.


"Kasihan kamu, Nak Anggi. Banyak sekali ujian yang datang padamu, kan? Dan ujian terberat itu belum datang. Perlu waktu yang tepat sebelum peristiwa besar itu datang dan kamu harus bersiap-siap dari sekarang, Sayang."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Halo, readers setia nan baik hati!


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?

__ADS_1


Apa tuh kira-kira maksud perkataan Nenek? COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2