
"Gue gak mau."
Prana mulai jengah di tempat duduknya. Cowok itu memijat keningnya yang mendadak pening. Bukan soal kerjaan atau semacamnya karena Prana tentu tak pernah memusingkan itu. Siapa yang tidak tahu kalau mungkin kecerdasan dan IQ Prana bisa sampai di atas rata-rata normal.
"Gue bersyukur banget kalau lo emang udah move on dari Rena dan gue akui lo emang gentle. Tapi, Pra ini bukan soal egois lagi. Dan menurut gue, lo juga harus denger penjelasan dari Rena." Maman terus mendesak. Bukannya apa, Maman sudah tahu yang sebenarnya. Namun, cowok itu tak bisa memberitahu Prana karena takut salah paham dalam menyampaikannya. Ia ingin Prana mendengarnya langsung dari orangnya.
"Lo gimana sih, Man? Dulu lo larang-larang gue buat nemuin Rena supaya gue bisa belajar cinta sama istri gue dan pada akhirnya gue berhasil. Tapi, kok lo sekarang malah seolah-olah mihak Rena gitu. Gak inget apa sebodoh apa gue dulu karena terus nyari-nyari orang yang gak pernah mau tahu perasaan gue," ujar Prana mulai kesal dengan sifat Maman yang jadi berbolak-balik. Dulu memihak, sekarang malah memojokkan.
Maman menghela napas sebentar. "Bukannya gue mihak Rena, Pra. Lo salah paham sama gue. Gini, coba lo mikir kenapa cewek yang cinta mati sama lo tiba-tiba pergi gitu aja tanpa alasan yang jelas? Dia pasti punya alasan, Pra dan lo gak bisa nuduh dia yang enggak-enggak," terangnya, membuat Prana jadi berpikir keras saat ini.
Prana mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut teman laki-lakinya itu. Ia mendadak bimbang dan goyah memikirkannya. "Jadi, lo mau bikin gue berpaling dari istri gue lagi? Gila lo, Man. Gak bakal ngira lo bisa kaya gitu," telaknya sambil geleng-geleng kepala menatap Maman yang duduk di hadapannya.
"Pra, bukannya gitu. Lo salah paham lagi. Gue tentu sangat melarang lo kalau lo sampai nyakitin istri lo lagi. Itu udah sangat cukup, Man!" Maman menekankan nadanya di setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Terus kenapa lo nyuruh gue mau nerima dia di hidup gue lagi?" tanya Prana sinis, jengkel karena Maman mendesaknya seperti itu.
"Bukan nerima dia di hidup lo, Pra. Gue cuma pengin kasih saran ke lo, coba lo mau nurutin kemauan dia buat ketemu sama lo. Ini penting, Pra. Dan bukannya gue mihak dia atau pengin lo balik lagi sama dia. Gue cuma mau lo gak naroh dendam sama Rena. Gue cuma mau lo tahu alasannya dia pergi, udah cukup itu aja." Maman kembali mengungkapkan unek-uneknya dengan sejelas-jelasnya supaya Prana tidak berpikir yang tidak-tidak padanya lagi.
"Kapan? Di mana?"
***
"Halo, Mas? Iya, ini aku di supermarket. Lagi belanja keperluan. Mas pesen apa?" Anggi terus berbicara di telepon sambil mendorong troli belanjaannya. Cewek itu terlihat sibuk memilih barang-barang yang ia butuhkan.
__ADS_1
"Terserah kamu aja, Sayang. Pilih aja yang kamu butuhin. Ngomong-ngomong, uang 20 juta kemarin kok sisa banyak banget, ya? Kamu belanjanya kok dikit banget sih, Sayang? Aku itu cari uang buat nyenengin kamu, bukan buat pajangan di brankas." Prana terkekeh di seberang telepon, membuat Anggi jadi senyum-senyum sendiri.
"Ya kalau emang gak butuh, kenapa harus dibeli? Aku gini aja udah cukup kok, Mas. Kamu nggak perlu khawatir tentang kebahagiaan aku. Harta gak bisa bikin kita bahagia sepenuhnya. Tapi, keluarga kita yang bikin aku selalu bahagia," ujar Anggi sambil memasukkan beberapa cemilan untuknya, suaminya, juga tak lupa untuk Ijah. Cewek itu selalu memikirkan kebutuhan orang-orang di rumah juga.
"Kamu unik, ya. Beruntung banget punya kamu, Sayang. Eh, bentar aku mau meeting habis ini. Nanti pulangnya hati-hati, ya. Sampai ketemu di rumah. Love you," ucap Prana di telepon. Cowok itu sedang bersemu di tempatnya. Selalu seperti itu jika baru mengucapkan kata 'love you' pada istri kesayangannya.
"Iya. Semangat kerjanya, Mas." Anggi menutup teleponnya.
Cewek itu lantas mempercepat aktivitasnya karena ia belum memasak hari ini. Seusai merasa barang-barang yang ia butuhkan sudah masuk ke dalam troli belanja, Anggi segera menuju kasir dan membayar barang belanjaannya.
Ia kadang suka melamunkan suaminya yang unik. Bagaimana bisa Prana justru ingin cewek itu menghabiskan hartanya? Adakah cowok seperti itu yang tersisa di muka bumi ini? Bukannya Anggi tidak mau menikmati kerja keras suaminya, namun ia hanya ingin belajar berhemat karena hal itulah yang selalu diajarkan ayahnya sejak kecil.
Ngomong-ngomong soal ayah, Anggi jadi teringat satu hal. Waktu itu Anggi masih berusia belasan tahun. Ia dan Noto, yakni ayahnya tengah bersantai di teras sambil menghitung tabungan yang Noto miliki. Cewek itu suka melihat ayahnya rajin menabung. Namun, ia juga sering prihatin karena tabungan ayahnya tak kunjung penuh juga di dalam celengan.
Begitulah kira-kira kata-kata yang dilontarkan ayahnya. Setiap kali mengingatnya, Anggi selalu menitihkan air mata dan jadi rindu pada sosok pria yang amat dicintainya selain suaminya. Dan begitulah yang Anggi alami kini saat berdiri di depan kasir.
"Mbak kenapa?" tanya pelayan kasir yang mendadak cemas melihat Anggi menitihkan air mata.
Anggi pun yang tersadar segera menghapus bulir air matanya yang tersisa. "Nggak papa, Mbak. Saya tiba-tiba teringat sama almarhum ayah saya," balasnya sambil tersenyum tipis pada pelayan kasir itu.
"Kalau bicara soal ayah memang selalu bikin terharu ya, Mbak. Saya jadi ingat suami saya yang baru sebulan meninggal. Dia itu sayang banget sama anaknya, anak kita. Suami saya meninggal karena menyelamatkan bayi kita yang saat itu hampir tertimpa pohon yang tiba-tiba tumbang di pinggir jalan. Kalau saja suami saya nggak cekatan menyelamatkan bayi kita, mungkin bayi kita yang tidak selamat. Tapi, ternyata suami saya yang pergi duluan," ujar pelayan kasir itu sambil meringis meratapi nasibnya.
Anggi jadi ikutan terharu. Cewek itu mengusap bahu perempuan di hadapannya. "Yang sabar ya, Mbak. Saya turut berduka cita," katanya dengan tulus. Ia juga bisa merasakannya.
__ADS_1
"Saya nggak papa kok, Mbak. Justru saya bangga dan bersyukur punya suami seperti dia. Saya juga berjanji pada diri saya untuk tidak menikah lagi untuk menjaga ketulusan cinta saya sama dia," ujarnya, membuat Anggi langsung tersenyum kagum. Ia mendadak ingin mencontoh kesetiaan pelayan kasir tersebut.
"Kalau Mbak sendiri? Cantik begini, pasti sudah punya cowok. Saya yakin deh kalau cowoknya Mbak itu cowok baik. Orang Mbak sendiri aja sebaik dan seramah ini," katanya sambil terkekeh kecil.
Anggi pun jadi ikut terkekeh karenanya. "Saya sudah menikah, Mbak," balasnya, membuat Mbak pelayan kasir sedikit terkejut.
"Wah, nikah muda ya, Mbak? Sudah punya rencana buat momongan?" tanyanya mencoba memancing Anggi.
Cewek itu lantas tersenyum malu. "Belum, Mbak," jawab Anggi jujur dan dengan polosnya.
"Waduh, Mbaknya ini. Punya momongan itu seru lo, Mbak. Bisa bikin ramai keluarga, pasti jadi sempurna kalau sudah punya momongan itu. Bahagianya nambah-nambah," ujar Mbak pelayan kasir dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. Dan kalimat itu langsung menyindir Anggi, membuat cewek itu jadi berpikir sejenak.
***
Halo! Kabar baik, kan kalian?
Kira-kira Anggi sama Prana bakal punya momongan kapan, ya? Eh, tapi soal Rena tadi gimana?
Yuk! Dukung author dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutan kisah mereka. Oke?
COMMENT pendapat dan saran kalian buat bab ini, dong ya? Biar gak sider juga, hehe.
TERIMA KASIH BANYAK!
__ADS_1