Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Kekhawatiran Prana


__ADS_3

Prana mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kelas. Cowok itu celingukan di depan jendela kelas XII IPS 1. Namun, batang hidung manusia yang dicari-carinya tak kunjung kelihatan.


"Hayo loh! Ngapain lo ngintip-ngintip kaya gitu." Jesi yang baru saja datang itu langsung memergoki Prana yang sedang asyik dengan kegiatannya.


"Ngapain sih kaya gitu? Orang ini, kan kelas lo juga," cetus Jesi yang dibuat bingung oleh tingkah temannya itu.


"Oh! Gue tau. Pasti lo cari istri lo, kan?" tebak Jesi sekenanya. Dan cewek itu tidak salah. Prana memang sedang mencari keberadaan Anggi.


"Lo bisa kecilin suara lo gak sih, Jes? Kita di sekolah ini," balas Prana memperingati Jesi yang tidak sadar kalau suaranya sudah seperti toa masjid.


Jesi lantas cekikikan tidak tahu malu. "Ya maaf. Tapi, gue bener kan?" katanya, memancing cowok di hadapannya.


"Dia nggak masuk, Jes?"


"Lo itu suaminya, kan? Kok malah tanya gue." Jesi mengejek sambil mengamati kuku-kuku di jari tangannya dan sepatu yang ia ketuk-ketukkan ke lantai.


Prana lantas berdecak sebal. "Lo pasti udah tahu, kan tentang gue sama Anggi? Kenapa dia gak masuk?" Cowok itu mulai jengah karena Jesi tak kunjung memberi jawaban.


"Iya. Dia gak masuk, tapi gue gak bisa kasih tahu alasannya ke lo. Anggi lagi gak pengin ketemu sama lo," jelasnya jujur dan apa adanya. Memang Anggilah yang meminta sahabatnya itu untuk tidak memberitahu suaminya.


Ekspresi Prana berubah seketika. Hatinya segera menciut saat Jesi melontarkan kata-kata itu. Semarah itukah istrinya padanya?


"Jes, please. Tolong kasih tau gue. Gue perlu banget bicara sama dia. Gue ngaku kalau emang gue yang salah. Gue-"


“Gue minta tolong banget sama lo, Pra. Tolong, jangan ganggu Anggi untuk sementara waktu ini. Dia bener-bener lagi down. Gue sampai kasihan banget sama dia. Tolong," pinta Jesi membuat Prana benar-benar telah hilang harapan.


Setelahnya, cewek itu segera pergi dari sana, meninggalkan Prana yang masih dihantui bayang-bayang istrinya yang malang. Kedua lututnya terasa lemas seketika. Hatinya teriris mengingat kejadian semalam.


***


Prana benar-benar jengah dan suntuk dengan semuanya. Rumah besar nan megah itu terasa amat kosong dan sunyi. Bayangan wajah cantik istrinya yang polos terus melintas di pelupuk matanya setiap cowok itu memejamkan mata. Berharap tidur bisa melupakan semua bayang-bayang pegam yang terjadi akhir-akhir ini ternyata salah. Prana justru semakin dihantui rasa bersalahnya saat tak bisa menahan istrinya untuk pergi.

__ADS_1


"Kenapa gue jadi kaya gini?" Prana bermonolog sambil mengacak rambutnya kesal.


Cowok itu sudah berada di puncak frustrasinya. Ia rindu suara istrinya yang terkadang memekikkan gendang telinga saat cewek itu sedang ceria-cerianya. Ia rindu perhatian istrinya yang tak pernah ia hiraukan. Ia rindu cerita-cerita yang keluar dari mulut istrinya. Ia rindu aroma khas parfum istrinya. Ia rindu Anggi. Prana rindu semua hal yang ada pada istrinya, yakni Anggia Soraya.


Merasa tak betah dengan semuanya, cowok itu akhirnya memberanikan diri untuk menelepon Anggi. Namun, ternyata ekspetasi bahwa istrinya akan mengangkat telepon darinya tetaplah menjadi ekspetasi dan tak akan menjadi sebuah kenyataan. Sudah kali kesepuluh Prana mencoba menghubungi Anggi, namun ternyata cewek itu benar-benar masih belum ingin berurusan lagi dengan suaminya.


***


"Nggak coba lo angkat dulu, Nggi?"


Anggi menggeleng cepat. Keinginan untuk tidak berbicara selama sementara waktu dengan orang yang amat dicintainya itu sudah bulat. Hatinya terlanjur kecewa dengan sikap angkuh dari Prana.


"Gue lagi kesel banget sama dia, Jes. Takutnya gue malah ngeluarin kata-kata yang justru bikin dia sakit hati nanti," jelas Anggi seolah pasrah pada keadaan.


"Si Prana pasti kesepian tuh di rumah nggak ada lo, makanya nelponin terus," celetuk Dion ikut-ikutan nimbrung ke dalam topik pembicaraan.


"Aku minta maaf ya, Nggi soal kemarin." Bima pun turut serta dalam pembicaraan mereka.


Malam ini rumah Anggi memang ramai. Ada Jesi, Dion, dan Bima yang sengaja menjenguk sekaligus menemani cewek itu. Mereka amat prihatin terhadap kondisi salah satu sahabat mereka yang menjadi seperti itu. Alasan Anggi tidak masuk sekolah hari ini tak lain ialah karena cewek itu jatuh sakit. Mungkin, karena Anggi terlalu banyak memikirkan masalah hidupnya.


"Uluh-uluh. Manggilnya masih aku-kamu aja. Udah, kalian balikan sana aja lah," celetuk Dion sambil cengengesan tidak tahu malu. Bisa-bisanya cowok tengil itu bicara seenak jidatnya.


"Ngawur lo, Yon. Anggi, kan udah jadi Nyonya Virgo sekarang," semprot Jesi kesal sendiri melihat tingkah Dion.


Dion lantas cekikikan seperti bocah lima tahun. "Canda, Nweng. Bisa habis gue sama Prana nanti," katanya sambil bergidik ngeri.


Tawa pun akhirnya pecah di antara mereka semua.


***


"Sifat kamu tetep, ya Nggi. Selalu aja ngeyel kalau dibilangi. Kamu itu masih sakit, kenapa maksa diri kamu kaya gini sih? Toh, aku juga bisa beli semua sendiri."

__ADS_1


Bima tak henti-hentinya mengomeli Anggi. Pasalnya, cewek itu bersikukuh keluar rumah malam-malam begini. Padahal, sudah jelas kalau cewek itu sedang sakit dan butuh istirahat.


"Nggak usah lebaylah, Bim. Orang aku udah baik-baik aja kok. Sans," jelas Anggi meyakinkan Bima kalau dia memang sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


Mereka kini tengah berada di supermarket yang letaknya tak jauh dari rumah Anggi. Tadi Dion sempat meminta cemilan. Sedangkan, Anggi sedang tidak punya stok makanan di rumahnya. Jadi, berangkatlah mereka ke sini. Bima sudah melarang keras Anggi untuk tidak ikut bersamanya. Namun, cewek itu memang tidak bisa dilarang.


"Ya udah. Ini, pakai jaketku aja. Takutnya kamu malah tambah sakit nanti. Hawanya lagi dingin banget," ucap Bima seraya menyodorkan jaket yang baru ia lepas dari tubuhnya dan melingkarkannya pada badan mungil Anggi.


"Makasih, Bim."


"Anggi?"


Suara bariton itu berhasil membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara. Dan suara itu sudah tak asing lagi terdengar di telinga Anggi. Hatinya seketika berdesir mendengar suara itu memanggil namanya. Siapa lagi kalau bukan Prana?


"Nggi. Aku mau ngomong bentar aja, please." Prana mengubah air mukanya yang sebelumnya menatap sinis ke arah Bima, kini ia terlihat seperti orang yang baru saja putus harapan di hadapan istrinya.


Namun, bukannya merespon, Anggi justru cepat-cepat keluar sambil membawa barang-barang belanjaannya. Langkahnya tergesa-gesa, seolah sudah muak melihat wajah Prana. Prana yang merasa diacuhkan itu pun tak tinggal diam. Dengan segera cowok itu mengejar istrinya. Pun dengan Bima yang ikut menyusul keduanya.


"Nggi. Tolong, sebentar aja. Aku ngaku aku emang salah kemarin. Tapi-"


"Ayo, Bim. Kita pulang," ajak Anggi tanpa mau menatap muka Prana.


"Anggia. Aku mohon." Prana sudah benar-benar kehilangan akal. Cowok itu bahkan sampai bersimpuh, memohon-mohon di hadapan Anggi. Sampai-sampai ketiga insan itu kini menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Berdiri, Mas. Aku nggak mau orang-orang mikir macem-macem," ujar Anggi sambil membantu Prana berdiri.


Anggi lantas menghela napas berat. Cewek itu perlahan mau menatap manik mata suaminya. "Aku nggak bisa, Mas. Tolong, kamu ngertiin aku," katanya sambil memandang nanar suaminya.


Tak bisa dipungkiri bahwa bukan Prana saja yang sedang dilanda rindu, tapi Anggi juga tentunya. Namun, apa boleh buat. Cewek itu terlanjur kecewa terhadap suami yang sangat dicintainya itu. Ia butuh waktu.


"Nggi." Prana mencoba meraih tangan istrinya, tapi Anggi justru segera melenggang dari sana dan masuk ke dalam mobil Bima.

__ADS_1


"Jangan dipaksa," ucap Bima dengan perasaan tidak tega melihat Prana seperti itu. Prana benar-benar rapuh saat ini. Itulah yang ditangkap dari pengamatan Bima.


Detik berikutnya, mobil Bima melaju kencang meninggalkan jejak asap dan segala pikiran kacau dalam benak Prana. Cowok itu meraung sambil membeturkan kepalan tangannya ke dinding. Untuk kali ini, Prana sangat takut kehilangan seorang Anggia Soraya.


__ADS_2