Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Sindiran Tajam


__ADS_3

...TERIMA KASIH SUDAH SETIA SAMA KISAH INI :D...


...Selamat menyambut mereka lagi...


***


"Mas, ngapain sih?"


Anggi segera membuka lebar kedua matanya setelah mengerjap dan mendapati wajah suaminya tepat di depan mukanya. Tentu saja terkejut. Pasalnya, ia belum mengumpulkan nyawa saat itu.


"Ngelihatin muka kamu yang semakin hari semakin cantik," katanya ceplas-ceplos.


Anggi yang menangkap kata-kata itu dengan telinganya langsung merona. Bagaimana tidak? Pagi-pagi sudah dapat gombalan maut dari suaminya sendiri.


"Apaan sih, Mas? Gombalan kamu itu nggak mempan, tau gak?" semprot Anggi sembari mendorong pelan bahu suaminya.


Prana menggeleng cepat. "Nggak tahu. Emang iya? Orang yang aku liat pipi-pipi gembul kamu itu udah kaya kepiting rebus. Nih, liat!" pungkasnya seraya menyodorkan sebuah cermin pada istrinya yang sudah tersipu malu dari tadi itu.


Cewek yang sedang digoda itu dengan cepat menepis cermin yang disodorkan padanya. "Ih, nyebelin!" gerutunya kesal melihat raut wajah suaminya yang terlihat menyebalkan itu.


"Cium dulu," katanya.


Anggi menggeleng cepat. Ekspresinya berubah ngeri saat melihat suaminya sudah memonyongkan bibirnya itu. "Ih! Gak mau. Aku juga belum gosok gigi, Mas," protesnya dengan polos.


Suami Anggi itu segera melepas tawanya. Kedua tangannya dengan gemas mencubit hidung istri mungilnya itu. "Emang harus ada ritual gosok gigi dulu apa sebelum cium?" cibirnya masih dengan gelak tawa yang kian menggelegar ke seluruh penjuru kamar.


Anggi segera memelototi suaminya yang super menjengkelkan itu. Sepertinya semakin hari, kadar nyebelin-nya semakin menjadi-jadi.


Dan cup!


Satu kecupan maut itu berhasil mendarat di bibir mungil Anggi dan secara langsung membuat gadis itu terperangah. Kedua bola matanya sampai membulat karena perlakuan mendadak dari Prana itu.


"Cielah, merah-merah lagi pipinya," goda Prana semakin membuat istrinya sebal. Sengaja. Ia memang suka melihat ekspresi sebal dari Anggi yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Tau, ah! Aku marah, ngambek," balas Anggi lantas melipat kedua tangan di depan dada.


"Ngambek aja sana, bentar lagi juga balik," ejek Prana sambil menyilangkan tangan di depan dada bidangnya, berusaha meniru gaya Anggi tadi.


"Ih! Mas Prana!"


***


Prana baru selesai dengan ritual paginya. Ia kini tengah mengobrak-abrik lemari jumbo di dekat ranjang, entah apa yang dicarinya. Raut wajahnya sudah berubah kesal saat benda yang dicarinya tak kunjung ditemukan.


"Cari apa sih, Mas?" tanya Anggi penasaran saat melihat suaminya sedang kebingungan itu.

__ADS_1


"Ini, Sayang. Kamu tau tuxedo-ku yang warna hitam nggak? Dari tadi nyari nggak ketemu," jelasnya sambil masih fokus dengan pakaian-pakaian yang digantung di depannya.


Anggi lantas mengerutkan kening. Ia berjalan mendekati suaminya dan menilik benda-benda di depan Prana itu. Benar saja sesuai dugaannya, Prana memang selalu saja tidak teliti.


Cewek itu menggeleng pelan dengan tempo yang cukup lama. "Ini apa?" katanya sambil meraih tuxedo yang digantung tepat di depan suaminya.


Prana yang melihatnya hanya bisa cengengesan tidak jelas. Begitulah suami Anggi itu, tak bisa teliti dalam banyak hal. Jelas-jelas benda yang dicari ada tepat di depannya, malah cari ke mana-mana.


"Makasih, Sayang," ucapnya dan segera mengecup puncak kepala istrinya.


Cowok itu lalu mengganti pakaiannya dengan cepat, berdiri di depan cermin jumbo, dan mulai membelah rambutnya yang masih setengah basah. Anggi yang memandangnya sampai tak berkedip. Rasanya Prana itu bukan manusia. Terlalu tampan. Bahkan, pangeran manapun mungkin tak ada yang dapat menandingi ketampanannya.


"Kenapa liatinnya kaya gitu?" tegur Prana yang ternyata menyadari dirinya sedang ditatap oleh istrinya sedari tadi.


Anggi segera menelan salivanya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu beralih pada rambutnya. "Anu, nggak papa," balasnya kikuk sembari meringis malu.


Prana menarik lengkung senyumnya. Tahu betul jika seperti itu ekspresinya, pasti istrinya itu sedang malu-malu karena tertangkap melihatinya diam-diam. Langkah kakinya perlahan mendekati Anggi, membuat cewek itu semakin panas dingin di tempat. Raut wajahnya menggambarkan kegelisahannya karena suaminya semakin mendekatkan diri padanya.


Dengan sigap Prana melingkarkan kedua tangan di pinggul istrinya. Tangan satunya lantas terulur untuk menyelipkan beberapa helai rambut istrinya ke belakang. Sorot matanya yang intens dan teduh segera bertemu dengan manik mata Anggi. Begitu kentara terlihat kalau cewek itu sedang gugup.


"Tau gak, Sayang? Aku tuh tiap jam, tiap detik bahkan, gak bisa berhenti muji kecantikan kamu. Dan kecantikan itu ada di sini," jari telunjuknya menyentuh hidung Anggi, "dan di sini," lantas menyentuh dada kanan istrinya.


"Kamu cantik luar dalam, Sayang. Aku mencintai hati kamu, bukan cuma paras kamu. Karena cuma hati kamu yang berhasil meruntuhkan egoku selama ini, Nggi. Kamu sebegitu istimewanya di hidup aku sampai aku gak bisa kamu jauh dari aku," tangannya meraih tangan Anggi lalu ditempelkannya pada dada kanannya, "hati ini milik kamu, Nggi, Sayang. Jantung ini berdetak untuk kamu," katanya menyelesaikan kalimat.


Anggi sedari tadi fokus mendengarkan setiap detail kata tersebut, kemudian meresapi maknanya satu per satu. Mendadak ia menarik ujung-ujung bibirnya, mencetak sebuah senyum indah. Pun dengan Prana yang turut mengulas senyum saat melihat karya Tuhan yang amat indah itu.


"Nggak bakal. Kamu nggak akan bisa pergi dari aku, Sayang. Aku yakin kita bakal sama-sama terus."


"Itu cuma pengandaian, Mas."


"Kalau kamu pergi, aku mati, Nggi."


"Kalau gitu jangan. Cari hati yang lain aja biar kamu nggak mati." Anggi sengaja memancing suaminya. Tak dapat dipungkiri memang kalau sebenarnya ia juga sangat takut melontarkan kalimat tadi.


Prana segera menempelkan telunjuknya ke bibir mungil Anggi. "Gak boleh ngomong gitu. Jangan diulangin, ya? Nggak akan pernah ada yang bisa gantiin kamu, Sayang," katanya dari hati terdalamnya.


"Semoga ya, Mas."


***


"Mas, aku tuh nggak cocok pakai pakaian kaya gini."


Ini sudah yang kesekian kali cewek itu melontarkan kalimat yang sama dan Prana belum juga bosa menjawabnya dengan jawaban yang sama pula.


"Kamu itu pakai apa aja tetep cantik, istriku," jawabnya seperti sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


Entah mengapa rasanya ingin terbang saja saat Prana mengucap kata 'istriku'. Rasanya berbeda sekali saat cowok itu memanggil namanya atau panggilan 'sayang' yang biasa ia berikan. Anggi lebih menyukai kata-kata yang menunjukkan kalau dirinya milik Prana.


"Mas? Aku boleh ngomong sesuatu nggak?"


"Iya?"


"Aku lebih suka dipanggil 'istriku' daripada cuma nama atau panggilan 'sayang' yang biasa kamu kasih ke aku," jelasnya terang-terangan.


"Ya udah, aku manggil kamu pakai kata 'istriku' aja ya?" Prana mengulang kalimat istrinya sebagai tanda persetujuan.


Dengan segera Anggi merekahkan senyumnya. Hatinya amat berbunga-bunga kali ini.


Keduanya lantas berjalan dengan anggun menuju gedung yang berdiri kokoh di hadapan mereka. Perlahan Prana mengarahkan tangan Anggi yang sedari tadi berada di lengannya untuk digenggamnya erat. Anggi refleks menoleh lalu mendapati suaminya sedang melempar senyum lebar padanya sehingga cewek itu pun ikut tersenyum karenanya.


Prana memang sudah jauh berbeda kali ini. Sifat dingin dan cueknya perlahan memudar dan hilang. Ya, meski terkadang masih sering muncul, namun tiap kali ia bersikap dan berlaku manis, seringkali langsung membuat Anggi seperti terbang bebas ke udara. Bahkan, ia sempat mengira kalau ini merupakan alam mimpinya yang tak pernah menjadi nyata.


"Tuan Muda Prana!" sambut seorang pria dengan kumisnya yang mulai tumbuh uban.


Prana menyambut jabatan tangan pria itu dan melempar senyum ramahnya. "Apa kabar, Om?" sapanya.


"Tentu baik, Tuan Muda." Ia melebarkan senyumnya. Namun, tak seperti tak mau melihat ke arah Anggi.


"Jangan panggil 'Tuan Muda'. Cukup Prana saja," balas Prana dengan rendah hati. Tangannya masih setia menggenggeam jari-jemari istrinya dengan kuat.


Barulah saat pria itu melihat gerak-gerik Prana lalu beralih pada tangannya yang menggenggam tangan Anggi, ia baru mau menatap kedua mata Anggi. Namun, tatapan itu seolah menyiratkan ketidaksukaannya pada cewek yang kini berstatus sebagai istri sah Prana.


"Ini istri saya, Om. Anggia Soraya." Prana memperkenalkan istrinya dengan begitu bangga, terlihat dari sorotan matanya.


Anggi pun segera mengulurkan tangan. "Anggi, Om," katanya sambil mengulas senyum ramah.


Bukannya menjabat tangan Anggi, pria itu justru mengalihkan pandang pada Prana kembali. "Nak Prana masih ingat anak saya? Yunita? Sekarang dia sudah lulus dari universitas ternama di luar negeri. Umurnya baru 21 tahun," ujarnya entah mengapa seperti membangga-banggakan anaknya di hadapan Prana.


Dan hal itu tentu menempatkan Anggi di posisi tidak nyaman. Seolah ia sengaja memanas-manasi istri Prana itu. Prana melirik istrinya dengan tatapan bersalahnya. Harusnya ia tadi tidak memaksa Anggi untuk ikut.


"Anak saya sepertinya juga masih menyimpan rasa untuk Nak Prana."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Halo, readers setia "PERNIKAHAN WASIAT"!


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.

__ADS_1


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2