
Sebelum baca, LIKE sama COMMENT dulu, boleh? Hehehe makasih yaa
***
Anggi mengerjap untuk yang kesekian kali. Cewek itu merasakan seperti ada sesuatu yang telah berhasil menghantam tubuhnya. Setiap bagian badannya terasa remuk sampai ke tulang-tulang.
"Aw!" pekiknya pelan. Menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Mungkin ia masuk angin, pikirnya. Tanda-tanda ini memang sama seperti saat Anggi diserang oleh penyakit bernama masuk angin itu. Badan terasa remuk, lemas. Kepala juga rasanya berat. Panas dalam segera menggerogoti tubuh bagian dalamnya.
"Mas Prana di mana, ya? Tumben, nggak bangunin aku," monolognya.
"Huek." Dan sekarang cewek itu ingin mual. Seolah ada sesuatu yang berhasil mengaduk-aduk perutnya. Anggi ingin segera memuntahkannya.
Dengan tempo secepat kilat, ia berlari ke arah kamar mandi. Sudah beberapa kali cewek itu berusaha untuk mengeluarkan isi perutnya. Namun, usahanya sia-sia. Nihil, karena Anggi tak bisa memuntahkan apa-apa.
"Kenapa rasanya mual banget, ya? Duh, gue bener-bener masuk angin nih kayanya." Anggi bicara pada dirinya sendiri.
Setelah acara mual-mualnya pagi ini selesai, ia segera keluar kamar mandi. Ia kira Prana akan ada di kamar, tapi ternyata suaminya itu tak kunjung terlihat batang hidungnya. Apakah suaminya ada meeting mendadak sepagi ini? Kenapa Prana tidak bilang padanya dulu?
"Sayang."
Suara bariton itu berhasil membuat Anggi menoleh cepat. Suaminya kini tengah berpakaian rapi. Seperti biasa, setelan jas dan celana kain yang memikat hati kaum Hawa. Rambutnya pun tertata rapi dengan sedikit polesan pomade sebagai sentuhan terakhir. Parfumnya yang khas selalu berhasil membuat istrinya terpikat dan ingin selalu berada di dekatnya.
"Mas? Kamu dari mana? Aku kira kamu udah ke kantor tadi," ujar Anggi.
Prana segera mengernyit. Ada sesuatu yang berbeda di wajah istrinya kini. "Istriku? Muka kamu pucat? Kamu sakit?" tanyanya dengan rasa khawatir yang berlebih yang segera menyerbu relung hatinya.
Anggi pun ikut mengerutkan kening. Ia menepuk jidat, dagu, lalu kedua pipinya. "Hah? Masa sih, Mas?" tanyanya balik.
Bayangan suaminya yang belakangan overprotective seketika terlintas di benaknya. Membuatnya segera bergidik ngeri. Jika suaminya tahu kalau saat ini ia sedang sakit, bisa-bisa Anggi akan terkurung di rumah megah ini sendirian. Ah, tidak. Anggi tidak mau itu terjadi padanya nanti.
"Iya, wajah kamu pucat, Sayang. Kamu sakit? Masuk anginkah? Atau pusing?" tanya Prana secara beruntun. Sungguh dan sumpah demi apa pun, Prana benar-benar cemas melihat wajah dan bibir istrinya yang pucat pasi pagi ini.
"Engga kok, Mas. Perasaan kamu aja kali. Mungkin, semalem aku kedinginan aja," jelasnya. Bohong, Anggi sudah berbohong kali ini. Ya, memang tak bisa sepenuhnya disalahkan. Toh, ini juga supaya suaminya tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Beneran?" Punggung tangan Prana ia tempelkan mula-mula pada jidat Anggi, lalu beralih pada lehernya.
"Badan kamu anget loh, Sayang. Bentar, aku bikinin jahe anget buat kamu, ya?" tawar Prana lantas dengan cekatan hendak berbalik badan, menuju dapur untuk membuatkan istrinya secangkir jahe hangat.
Namun, dengan segera pula Anggi menolak. "Nggak usah, Mas. Aku beneran baik-baik aja. Kamu mau ke kantor, kan? Udah, langsung berangkat aja. Nanti telat loh," suruh Anggi dengan legowo.
"Sayang."
"Udah. Nanti kalau kita debat, kamu yang malah rugi. Buang-buang waktu kamu cuma buat istri manja kamu ini. Mending buruan ke kantor dan laksanain tanggung jawab kamu di sana. Okay?" ujar Anggi sambil mengulas sebuah senyum tipis.
"Nggak, kok. Kamu nggak manja. Tapi, beneran ya kamu nggak papa?" Prana memastikan sekali lagi.
Dan Anggi lagi-lagi mengembangkan senyum. "Iya," jawabnya.
"Ya udah. Aku berangkat dulu. Kamu jaga diri baik-baik di rumah ya, Istriku. Inget, jangan ke mana-mana. Istirahat di rumah aja. Demi calon dede bayi kita," peringat Prana sembari mengedipkan sebelah mata dan selalu berhasil membuat hati Anggi meleleh.
Anggi terkekeh kecil mendengarnya. "Iya-iya. Bawel ih suamiku," balasnya masih dengan kekehan di akhir kalimat.
__ADS_1
"Nanti aku minta Mbak Ijah buat bikinin kamu jahe anget. Kamu cukup di sini aja. Istirahat. Aku berangkat dulu kalau gitu ya. Assalamu'alaikum," ucap Prana pada istrinya seraya mengecup pada kening.
Anggi pun mencium punggung tangan suaminya dan membalas salamnya, "Wa'alaikumussalam."
***
"Iya, Dev. Oke, gue ke sana sekarang."
Anggi baru saja menutup pintu rumahnya. Cewek itu sudah berpakaian rapi kali ini. Seperti biasa. Casual dan simple. Sweater abu-abu yang dipadukan dengan jeans hitam membuatnya terlihat menawan.
Abang ojek online sudah stand by di halaman depan. Setia menunggu cewek itu lantas mengantarnya ke tempat tujuan.
"Sesuai map ya, Mbak?" katanya.
Anggi pun mengangguk. "Iya, Mas. Agak cepet, ya. Buru-buru soalnya," pintanya.
Jujur, badannya masih lemas. Dua cangkir teh yang dicampur dengan TolakAngin sudah ia habiskan. Namun, tetap saja. Meski setidaknya rasa pusing itu lenyap, namun rasa mual dari dalam perutnya tak kunjung hilang. Ya, setidaknya sedikit lebih baik daripada tadi pagi.
Tak perlu memakan waktu lama, Anggi beserta Abang ojek online tadi sampai di tempat tujuan istri Prana itu. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Anggi melangkah masuk ke dalam gedung bertingkat bertuliskan nama salah satu perusahaan besar di kota tersebut.
Rasa gugup sekaligus gelisah segera menyelimutinya. Ia bahkan sampai berkeringat dingin sekarang.
"Bismillah," bisiknya pada diri sendiri.
Ia pun mulai menapakkan kaki pada ubin di dalam gedung dan di lobi cewek itu langsung disambut oleh Deva.
"Anggi!" panggilnya dengan wajah berseri.
Anggi pun melempar senyum. "Gimana, Dev?" tanyanya. Rasa kepo dan grogi menjadi satu kesatuan yang padu.
"Selamat! Kamu diterima," katanya lantas bersiap memeluk cewek itu.
Namun, Anggi segera menolak dengan isyarat bahasa tubuhnya. "Sorry, Dev. Makasih ya," ucapnya.
Raut wajah Deva mendadak berubah datar, namun detik berikutnya kembali berseri lagi. "Ya udah. Yuk, langsung ke dalem aja. Omku mau ketemu sama kamu," katanya.
Mereka lalu berjalan beriringan menuju ruangan yang dimaksud oleh Deva. Sungguh, gedung ini bisa-bisa lebih megah daripada gedung suaminya. Dan juga, sedikit lebih modern sepertinya. Anggi sampai dibuat tak berkedip saat manik matanya menyapu pandangan seisi gedung.
"Halo, Anggia!" Begitu sapanya pada cewek di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan omnya Deva.
"Halo, Om. Saya Anggi," ucapnya pada pria tersebut. Ia pun tak lupa juga menjabat tangannya sambil mengulas senyum seramah mungkin.
"Selamat datang di perusahaan kami. Oh, ya. Sebelumnya, selamat ya kamu sudah menjadi bagian dari perusahaan ini," katanya dengan senyum amat lebar.
Anggi lantas tersenyum canggung, meski tak dapat dipungkiri kalau cewek itu amat bahagia sekarang. "Makasih, Om," balasnya ramah.
***
"Huek."
Anggi kembali merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Rasa mual itu kembali datang dan amat mengganggunya.
"Kamu kenapa, Nggi? Sakit?" tanya Deva padanya, khawatir.
__ADS_1
Anggi menoleh pada cowok itu lantas tersenyum tipis. "Nggak papa. Masuk angin biasa," jawabnya.
"Ya udah. Aku anter kamu sampai rumah," kata Deva seolah Anggi akan langsung menyetujui.
Istri Prana itu menggeleng cepat. "Eh, nggak usah, Dev. Gue bisa pulang sendiri kok," tolaknya dengan tak enak hati.
"Nggak papa, Nggi. Gue mumpung free ini. Santai aja, nggak usah gak enakan gitu," ujar Deva. Meyakinkan cewek itu untuk mau menurut.
"Tapi, Dev-"
"Udah nggak papa."
***
"Makasih ya, Dev. Sorry ngerepotin."
"Sama-sama, Nggi. Santai aja," balas cowok itu sambil mengulas senyum hangatnya.
"Anggi? Boleh peluk?"
Anggi tertegun sejenak. Dan belum sempat ia mengizinkan, cowok itu sudah mendekapnya terlebih dahulu. Istri Prana itu seketika mematung di tempat. Haruskah ia melepas dekapannya?
"Sorry, Nggi. Aku cuma lagi kangen sama ade sepupu perempuan aku. Dia juga seumuran kamu gini," kata Deva sembari perlahan melepas pelukannya.
Detik itu juga Anggi terdiam. "Iya, Dev. Nggak papa. Ade sepupu lo? Sorry, udah nggak ada?" tanya Anggi bersimpati.
Deva mengangguk sebagai jawaban. "Aku lagi kangen banget sama dia. Kita dulu deket banget, udah kaya saudara kandung. Soalnya aku emang anak tunggal, Nggi," kata Deva menjelaskan pada Anggi.
Anggi lantas mengangguk pelan. Paham dengan apa yang dirasakan cowok di hadapannya itu. Ia pun memaklumi atas tindakannya tadi.
"Ya udah. Aku balik, ya. Sorry aku udah lancang tadi," katanya sekaligus berpamitan.
"Nggak papa. Hati-hati, ya."
Deva pun berlalu, meninggalkan asap jejak kendaraannya. Anggi berbalik badan dan begitu terkejutnya dia saat mendapati Prana sudah berada di ambang pintu sekarang.
"Mas Prana?" sapa Anggi dengan perasaan khawatir setengah mati. Khawatir bila saja suaminya melihatnya bersama Deva tadi.
"Baru pulang? Udah malem loh ini," tanya Prana kembali dengan nada ketusnya.
Sungguh, Anggi seketika tercengang dan diam seribu bahas. Sudah lama sekali suaminya tidak bersikap seperti itu padanya. Dan sekarang, Prana mulai kembali pada sikapnya yang dulu. Oh, Tuhan. Selamatkan Anggi dari murka suaminya nanti.
Cewek itu melangkah lebih jauh, mendekati suaminya yang sedang bersidekap dada di ambang pintu. "I-iya, Mas. Maaf aku pulang malem tadi," balas Anggi dengan segala kegugupannya.
"Masuk sekarang," perintah suaminya itu dengan kaku, ketus, sekaligus dingin.
Boom! Kena juga kamu, Anggi. Lalu, bagaimana ia harus menjelaskan nanti?
***
[Baca sampai akhir, ya]
Satu kalimat buat bab ini?
__ADS_1
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?