Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Istana es.


__ADS_3

Paman We memimpin penerbangan itu ke Utara, tidak ada lagi serangan lain selama penerbangan itu, tunggangan terbang itu mendarat di pinggiran danau yang sangat besar, tampak ada sebuah pulau di kejauhan, udara terasa sangat dingin di tempat itu.


Paman We mengeluarkan sebuah perahu dari cincin ruangnya, itu sebuah perahu yang menggunakan pendayung. Joan tersenyum melihat perahu itu dan dia juga mengeluarkan sebuah Speedboat dari ruang dimensinya.


Paman We heran dengan perahu yang dikeluarkan oleh Joan, perahu seperti itu tidak pernah dilihatnya di manapun. Paman We menempatkan perahunya di air, dua belas anak buahnya yang tersisa segera menaiki perahu itu, Joan dan kelompoknya juga menaiki perahu mereka, Joan menaruh batu roh dalam ruang mesin perahunya.


Paman We heran karena dia tidak menemukan pendayung di perahu Joan. Dia tidak mengerti bagaimana perahu itu dapat berjalan tanpa pendayung.


Paman We menunjukkan jarinya ke arah pulau itu, anak buahnya segera mendayung perahu itu, belum sempat dia menurunkan tangannya. Perahu Joan segera melesat dengan kecepatan yang tinggi meninggalkan perahu paman We yang masih ada di pinggir danau, hanya dalam waktu dua dupa saja (satu dupa sekitar lima belas menit), perahu Joan sudah sampai di pulau tersebut sementara perahu paman We masih di tengah perjalanan.


Paman We benar-benar terpesona dan menginginkan perahu seperti itu, dia ingin mempelajarinya agar bisa membuatnya di waktu luang.


Untungnya Joan yang mengerti maksudnya, meninggalkan sebuah perahu untuknya saat mereka kembali dari tempat itu.


Joan tidak mengerti mengapa tidak langsung saja terbang ke pulau itu daripada naik perahu.


Paman We menjelaskan bahwa ada suatu kekuatan di pulau itu yang bisa membekukan tubuh tunggangan terbang sehingga mereka tidak dapat mengudara di atas pulau itu. Itu sebabnya mereka menggunakan perahu untuk pergi ke pulau itu.


Setelah turun dari perahu, paman We menyimpan kembali perahunya dalam cincin ruangnya. Dia memimpin mereka untuk berjalan masuk ke pulau itu. Yang mengherankan ternyata pulau itu sepenuhnya diselimuti oleh salju, berbeda keadaannya dengan daratan yang ada di pinggir danau, meskipun udaranya dingin tetapi tidak ada salju di sana.


Joan berpikir tentu ada sebuah formasi besar di pulau itu yang membuat tempat itu bersalju.


Benarkah pulau itu adalah tempat dimana orang tuanya dipenjarakan? Joan tidak melihat ada satu penjaga pun yang mereka temui sejauh itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada satu penjaga pun di sini paman".


"Oh itu tidak perlu, karena ada formasi ilusi yang mereka tempatkan di sini, jadi kalau orang tidak tahu rahasia tempat ini. Mereka hanya akan berputar-putar di padang salju ini saja".


Memang sejauh mata memandang, di pulau itu hanya terlihat hamparan salju putih saja meluas sampai tepi pulau itu.


"Kenapa paman bisa tahu".


"Kebetulan itu karena tuan tua lah yang membangun formasi ini dan tuan muda tahu kunci formasi ini, beliau juga sudah memberitahuku tentang kunci untuk membuka formasi ini".


"Hah".


Joan dan kelompoknya memandang dengan bodoh menanggapi ucapan paman We. Kalau mereka tahu kunci formasi itu, sebenarnya apa gunanya formasi ini.


"Ha ha ha, memang tuan muda dan nyonya sering keluar masuk tempat ini, mereka kadang berjalan-jalan keluar tapi mereka akan kembali ke tempat ini, istana dingin ini sudah menjadi halaman belakang mereka sendiri tetapi raja bodoh itu selalu berpikir bahwa dia sudah memenjarakan tuan muda dan nyonya ".


"Itu karena mereka menunggumu, mereka tidak tahu kemana harus mencarimu tetapi mereka percaya bahwa nona pasti akan mencari mereka, nanti kalau bertemu dengan mereka, kamu akan mengerti dengan sendirinya".


Kata paman We dengan tenang. Tentu saja Joan tetap tidak mengerti tetapi dia tidak mau menanyakan hal itu lebih jauh lagi. Mereka berjalan terus di tengah hamparan salju yang luas itu, ketika mereka sudah berjalan sejauh setengah pulau itu, paman We memerintahkan mereka untuk berhenti, dia membuat serangkaian gerakan dengan tangannya dan...


"Weng"


Tanah itu bergetar sejenak, kemudian seperti sihir, sebuah istana muncul di hadapan mereka. Paman We menarik sebuah lonceng kecil di depan pintu itu, seorang penjaga membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk, sepertinya penjaga itu sangat mengenal paman We.

__ADS_1


Di dalam istana itu ada berapa puluh penjaga dan juga pelayan.


"Mereka semua orang tuan muda".


Kata paman We menerangkan kepada Joan. kelompok Joan terheran-heran mendengar hal itu, bagaimana tempat tahanan itu kok malah menjadi vila peristirahatan bagi tahanan di sana dan ternyata tahanan yang ada hanya tuan muda Arthur dan nyonya Yoan saja, Joan berpikir bahwa raja Sendawar itu masih memiliki hati yang baik. Mungkin seseorang sudah menghasutnya.


Seorang pelayan mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu, anehnya meskipun istana itu disebut istana dingin tetapi suhu dalam istana itu malah hangat sehingga teh yang disajikan masih tetap panas setelah beberapa saat.


Menunggu beberapa saat, pelayan itu datang bersama seorang laki-laki dan perempuan paruh baya. Laki-laki itu cukup tampan dan masih terlihat gagah dalam usianya yang terlihat sekitar empat puluh tahun, perempuan itu juga masih terlihat cantik dan memiliki tubuh yang proporsional yang enak untuk dipandang.


Laki-laki dan perempuan itu berdiri mematung saat mereka melihat Joan, ada kemiripan pada profil wajah perempuan itu dengan Joan, Joan seperti melihat wajahnya sendiri.


Joan berdiri dari tempat duduknya, dia mau memanggil perempuan itu "ibu" tapi lidahnya terasa kelu, dia hanya dapat berdiri, diam tetapi hatinya yakin bahwa perempuan yang ada di hadapannya ini adalah ibunya hanya dia tidak tahu apakah ini ibunya di dunia ini atau ibunya di dunianya yang sebelumnya.


Perempuan itu akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Joan, laki-laki itu masih berdiri di tempatnya dengan tatapan mata yang masih terpaku pada Joan. Berdiri di depannya, perempuan itu menarik Joan dalam pelukannya, Joan sedikit terperangah tetapi akhirnya dia juga memeluk perempuan itu, mereka menangis dalam diam.


Menenangkan hatinya perempuan itu menjauhkan diri sedikit dari Joan, memandang wajahnya seakan mau memastikan bahwa perempuan muda di hadapannya adalah benar-benar anak yang dirindukannya. Saat dia melihat di telinga kanan Joan ada tanda lahir kecil yang dia tahu, dia sekarang benar-benar yakin bahwa Joan adalah anaknya, anak kandungnya.


"Maafkan kami nak, sudah membuatmu menderita selama ini".


Bisiknya lembut kepada Joan, perempuan itu berpaling kepada laki-laki itu lalu memanggilnya.


"Ayah, dia benar-benar Joan anak kita, lihat tanda lahir di telinganya".

__ADS_1


Laki-laki itu datang menghampiri mereka, dia terlihat mau memeluk Joan tetapi dia masih merasa canggung, melihat hal itu, Joan segera berinisiatif untuk memeluk ayahnya terlebih dahulu. Laki-laki itu pun membalas pelukan Joan.


"Anakku.....".


__ADS_2