
Pelayan perempuan itu membawa mereka kesebuah ruangan-ruangan
VIP yang sudah dipesan oleh Andi sebelumnya, pelayan itu mempersilahkan mereka duduk di atas bantal tipis menghadapi meja pendek, rupanya itu tempat yang kalau di Indonesia disebut lesehan.
Sementara pelayan mencatat menu makanan yang dipesan, Joan kaget sekaligus senang sebab selain makanan yang umum di negara Kekaisaran Langit. Joan juga menemukan menu makanan yang akrab di hadapan matanya.
Sayur asem, botok, ikan asin, nasi uduk, tahu, tempe dan rujak cingur, minumannya ada sinom, beras kencur bahkan juga wedang uwuh, juga makanan lain yang nama-nama menu makanan itu tidak asing ditelinga nya, cuma belum tahu bagaimana rasanya.
Pelayan perempuan itu mengatakan bahwa nyonya pemilik paviliun Nusantara itu akan menemui mereka setelah mereka menyelesaikan makanannya.
Saat makanan itu disajikan, Joan mencicipinya terlebih dahulu satu persatu sebelum memakannya dan saat dia menemukan bahwa rasanya tidak terlalu jauh dengan rasa yang dia ingat pada masa hidupnya yang pertama, Joan merasa antusias. Andi yang baru pertama kali mencoba makanan itu terlihat cukup penasaran tetapi terlihat dia cukup antusias untuk memakan semua makanan itu sehingga tidak ada lagi yang tersisa.
Pelayan datang membereskan meja, Joan memesan minuman hangat wedang jahe untuk mereka berdua. Pelayan itu juga menempatkan satu gelas wedang uwuh untuk nyonya pemilik paviliun itu.
Nyonya pemilik paviliun itu datang dengan diiringi seorang pelayan pribadinya. Nyonya itu sudah cukup sepuh, sisa-sisa kecantikan terlihat jelas diwajahnya yang sudah mulai dipenuhi keriput, wajahnya memang terlihat njawani.
"Selamat siang nyonya".
Andi dan Joan berdiri dari tempat duduknya untuk menghormati nyonya pemilik paviliun. Nyonya pemilik paviliun itu sangat tersentuh melihat kesopanan anak-anak muda di hadapannya".
"Selamat siang, silahkan duduk kembali ".
Nyonya pemilik paviliun itu duduk di atas bangku kecil yang dibawa oleh pelayan pribadinya, Andi dan Joan duduk kembali di bantalnya.
"Perkenalkan namaku Po Ni Yem, aku pemilik paviliun Nusantara ini, maaf siapa anak berdua ini".
__ADS_1
"Saya Andi dan nona muda ini bernama Joan, kamu datang menemui nyonya karena ada hal yang ingin kami tanyakan".
"Oh tuan muda Andi dan nona manis ini bernama Joan. Nama yang bagus, nama yang bagus, jadi apa yang kalian mau tanyakan tetapi maaf kan, meskipun aku sudah tua tetapi tidak semua hal aku tahu jadi aku hanya akan menjawab apa yang aku tahu".
"Ah nyonya sungguh sangat rendah hati, tentu kami bertanya tentang apa yang nyonya tahu".
Kata Joan mendengar pernyataan nyonya Po.
Mereka berbincang sepanjang siang itu, nyonya Po menjawab dengan ramah semua keingintahuan Joan, ternyata nyonya Po adalah generasi kelima dari keturunan Po Ni Djan.
Keluarga mereka merantau ke negara Kekaisaran Langit dengan menggunakan kapal laut, berlayar berbulan-bulan. Keluarga mereka yang saat pergi berjumlah dua puluh orang, hanya tersisa lima orang ketika sampai di kekaisaran Langit.
Mereka berlayar dengan navigasi sederhana menggunakan petunjuk bintang-bintang dan kompas yang pernah diperoleh ayah mereka dari orang asing berambut jagung yang pernah ditemuinya dalam suatu perjalanan.
Joan menduga bahwa orang berambut jagung itu pasti berasal dari Eropa di dunia yang dikenalnya dulu.
Orang yang berasal dari negara yang sama sudah dipastikan sangat senang ketika bertemu dengan orang-orang sebangsanya sehingga dia menjadi lebih ramah terhadap Joan.
Nyonya Po Ni Yem menitipkan salam kepada pak Joko, juga oleh-oleh kerupuk Uli dan rengginang. Andi terheran-heran saat mengetahui bahwa rengginang itu berasal dari nasi yang dijemur dan dikeringkan. Joan memberikan sekantong beras mistik kepada nyonya Po Ni Yem dan berjanji akan mengirimkannya kembali jika nyonya Po Ni Yem menyukainya.
Nyonya Po Ni Yem tahu bahwa beras mistik itu merupakan beras yang biasanya hanya dikonsumsi oleh istana dan tua-tua sekte besar. Jadi dia sangat senang menerima beras mistik itu, dia lebih terkejut karena desa Genteng merupakan produsen beras mistik satu-satunya di Kekaisaran Langit.
Nyonya Po mengantarkan Andi dan Joan sampai ke pintu depan, mereka berpelukan sejenak dan nyonya Po berpesan agar mereka bisa datang kembali dikemudian hari, pintu rumahnya akan selalu terbuka bagi Joan.
Joan langsung merasakan keakraban seperti terhadap keluarga sendiri. Joan berjanji akan mengusahakan untuk mengunjungi nyonya Po Ni Yem jikalau dia datang kembali ke ibukota.
__ADS_1
Andi mengantarkan Joan kembali ke rumah selir Ouyang, setelah itu dia kembali ke istana untuk menyelesaikan urusannya, Andi meminta Mo dan Mo Yan untuk mempersiapkan keberangkatan mereka kembali ke desa Genteng.
Kaisar mengundang Joan untuk datang ke istana keesokan harinya dalam rangka penganugerahan gelar Puteri Agung secara resmi dalam persidangan di Istana, juga pesta penyambutan sekaligus juga perpisahan untuk Joan karena Joan akan kembali ke desa Genteng.
Dalam acara tersebut hadir semua pejabat setingkat menteri, perdana menteri dan juga guru bangsa. Guru bangsa ini adalah kakak dari Kaisar terdahulu.
Setelah Kasim yang melayani Kaisar membacakan dekrit pemberian gelar Puteri Agung kepada Joan yang berlutut di hadapan Kaisar membelakangi para pejabat istana yang berdiri dibelakang Joan.
Kasim itu memberikan lembaran dekrit itu kepada Joan yang menerimanya dengan ke dua tangannya sambil berkata dengan lantang.
"Terimakasih kepada Kaisar atas anugerahnya, hamba yang rendah ini menerimanya dengan sukacita. Kiranya Kaisar panjang umur ".
Semua pejabat segera menyahuti perkataan Joan.
"Semoga kiranya Kaisar panjang umur".
Sesudah itu Joan bangkit berdiri dan kembali ke tempat duduknya, acara penganugerahan gelar itu disambut dengan sukacita oleh keluarga selir Ouyang.
Ada yang senang, ada yang marah juga. Itu pangeran pertama yang marah terhadap Joan karena telah merusak rencana besarnya. Dia tidak menduga bahwa orang kepercayaannya, jendral Loe Som Bong akan membelot dan meninggalkan ibukota untuk menjadi komandan pangkalan militer angkatan laut di pantai Kersik.
Lebih lagi jendral Wong Nge Dan yang terkenal sombong dan tinggi hati juga mengajukan diri untuk menjadi gubernur jenderal di wilayah pantai Kersik. Bukankah itu berarti mereka otomatis memberikan perlindungan tambahan bagi desa Genteng.
Bagi pangeran pertama, gelar Puteri Agung dan gelar Adipati Daerah Otonomi Khusus juga terlalu berlebihan kalau itu dipakai sebagai penghargaan untuk Joan dan ayahnya.
Hanya pangeran pertama tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya sempat menjadi sorotan karena terbukti memerintahkan organisasi pembunuh bayaran Bayangan hitam dan Atap Langit untuk membunuh pangeran ketiga. Meskipun Kaisar tidak mengatakan apapun tentang hal ini tetapi dia tahu, dia tidak bisa memancing kemarahan ayahnya lagi.
__ADS_1
Itu sebabnya dia tidak berani bertindak lebih jauh lagi