
Dengan terhuyung-huyung, pangeran pertama berjalan menyusuri lorong-lorong istana menuju ke kediaman permaisuri.
Dengan tidak sabar dia masuk ke dalam ruangan itu dengan memanggil-manggil ibunya.
"Ibu Permaisuri, ibu permaisuri....".
"Ada apa nak, kamu mabuk lagi ya, ada apa, kenapa kamu terlihat begitu cemas".
"Pangeran ketiga Bu, pangeran ketiga sudah sembuh dari kutukannya".
"Huss, jangan keras-keras mengatakannya, apa kamu mau semua orang diistana ini mendengarkan suaramu".
"Maaf Bu, aku begitu cemas, bagaimana kalau dia benar-benar pulih. Ayah Kaisar pasti akan mempercayakan jabatan putera mahkota kepadanya ".
Pangeran pertama melembutkan suaranya, dia lupa kalau di sekelilingnya tidak bebas dari mata-mata yang akan mencari tahu kelemahannya.
"Kenapa kamu begitu panik, apa kamu sudah memastikan kebenarannya ".
"Ya bu, itu kekasihnya yang baru dianugerahi gelar Puteri Agung oleh Kaisar telah memastikannya, dia mengatakan bahwa pangeran ke tiga sudah bisa mengangkat pohonnya dan dia sangat kuat sehingga bisa melakukannya berapa kali dalam sehari".
"Oh benarkah!!!".
Mendengar perkataan pangeran pertama, permaisuri jadi membayangkan penampilan Pangeran ketiga yang adalah anak tirinya.
"Ibu, ini buruk sekali, bukankah kakek mengatakan bahwa tubuhnya tidak mungkin dipulihkan. Kenapa bisa seperti itu".
Pangeran pertama tidak menyadari kalau ibunya lagi melamun.
"Oh ya ya, itu memang kecil kemungkinannya tetapi bukan berarti tidak mungkin, tetapi kamu juga tidak perlu kuatir".
"Bagaimana aku tidak kuatir ibu, kalau pangeran ketiga benar-benar pulih".
"Tenang lah nak, meskipun tubuh pangeran ke tiga belum tentu Kaisar akan mengangkatnya menjadi putera mahkota".
__ADS_1
"Kenapa ibu?".
Pangeran pertama heran mendengar perkataan ibunya.
"Aku mendengar dari Kasim yang menjaga pintu paviliun kecil, kemarin terjadi perdebatan antara Kaisar dengannya karena Puteri Agung menolak untuk menikahi pangeran yang memiliki selir, dia hanya mau memiliki suaminya sendirian. Bagaimana Kaisar bisa menyetujui permintaan yang sangat egois itu".
"Nak ini merupakan kesempatan bagimu, tidak usah menentang hubungan mereka, justru kita harus lebih keras mendorong Puteri Agung untuk bersikukuh dengan pendiriannya untuk tidak mengijinkan pangeran ketiga menikah lagi ".
"Kalau itu terjadi, bukankah pangeran ketiga tidak punya kesempatan untuk memenuhi persyaratan Kaisar untuk menjadi putera mahkota, sebab sebagai putera mahkota bukankah dia harus memilih selir dulu sebelum menikahi permaisurinya".
Pangeran ketiga langsung merasa tercerahkan.
"Ya, cobalah juga untuk mendekati Puteri Agung".
"Mengapa aku harus mendekatinya, bukankah ibu katakan kita harus mempererat hubungan mereka".
Pangeran pertama tidak mengerti dengan maksud ibunya, dia menjadi bingung apa maksud ibunya sebenarnya. Mengapa dia harus mendekatinya, dia sama sekali tidak tertarik kepada Joan, meskipun cantik tetapi untuk ukuran kecantikan di ibukota, Joan hanya biasa-biasa saja. Pangeran pertama sebenarnya agak heran, ada banyak perempuan bangsawan yang jauh lebih cantik dari Joan yang mendekati pangeran ketiga tetapi selama ini tidak ada satupun yang bisa menarik perhatian pangeran ketiga.
Kembali pangeran pertama tercerahkan, ibunya benar-benar hebat sampai bisa memikirkan sejauh itu
"Ya bu, aku paham sekarang. Aku akan kembali ke acara pesta di istana".
"Ya tapi cuci dulu wajahmu dan jangan minum lagi, bagaimana engkau akan menarik perhatian gadis itu kalau terlihat berantakan seperti ini".
"Baik bu".
Pangeran pertama berbalik untuk mencuci mukanya dan minum obat untuk meringankan mabuknya dan dia segera kembali ke acara pesta itu.
Joan yang sedang berbincang-bincang dengan Melly, Bai Ji Gur, Mona dan beberapa perempuan muda yang baru dikenalnya terkejut juga saat melihat pangeran pertama datang kembali. Wajahnya sudah terlihat lebih segar seperti dia baru mencuci wajahnya. Juga berganti pakaian baru sehingga terlihat lebih elegan daripada saat dia mabuk tadi.
Andi belum juga kembali, sudah hampir satu jam dia belum datang, mungkin Kaisar memiliki urusan yang benar-benar penting. Joan tentu saja tidak ingin mengganggu Andi untuk urusannya dengan Kaisar. Dia dengan sabar menunggu.
Pangeran pertama mendekati Joan, kali ini sikapnya jauh lebih sopan sehingga itu cukup mengundang rasa penasaran Joan. Mengapa pangeran pertama seperti menjadi orang yang berbeda.
__ADS_1
"Selamat malam nona-nona, maaf mengganggumu kalian lagi, boleh aku duduk di sini".
Pangeran tidak lagi mengusir teman-teman Joan, sebaliknya dia menawarkan dirinya untuk duduk bersama mereka. Tentu saja teman-teman Joan tidak keberatan dan walaupun mereka keberatan, kan tidak mungkin juga untuk mengusirnya. Pangeran pertama kan terhitung sebagai tuan rumah dalam acara itu.
"Silahkan pangeran, tidak ada yang dapat melarangmu kalau pangeran mau duduk di sini".
Kata Joan dengan rasa asam di perkataannya. Pangeran pura-pura tidak memperhatikan hal itu, sebaliknya dengan senyum lebar, dia duduk di berseberangan dengan Joan di meja bundar itu.
Joan tidak ingin memperhatikan pangeran pertama, dia tidak benar-benar ingin berbicara dengannya. Pangeran pertama seolah tidak memperhatikan ketidaksenangan Joan dan bersikap seperti dia bertemu dengan teman baiknya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pangeran pertama memiliki kecakapan dalam berbicara sehingga sebentar saja dia bisa memancing percakapan dengan beberapa perempuan muda itu.
Tawa riang sesekali terdengar dari kumpulan orang di meja tersebut sehingga sedikit banyak memancing perhatian dari orang-orang yang ada di acara pesta tersebut.
Joan sesekali menjawab pertanyaan pangeran pertama dan dia harus jujur bahwa pangeran pertama memang orang yang cukup memiliki pengetahuan dan teman bicara yang baik. Berbeda dengan Andi yang lebih pendiam, lebih banyak berkerja daripada berbicara.
Saat mereka sedang asyik berbincang, pangeran ke tiga datang. Dari kejauhan dia bisa melihat kemeriahan di meja tempat Joan duduk.
Dia terkejut melihat pangeran pertama ada diantara para perempuan muda itu, tampaknya sesekali dia berbicara dengan Joan.
Andi sedikit merasa cemburu melihat Joan terlihat tertawa bersama teman-teman perempuan yang lain mendengar gurauan pangeran pertama. Joan jarang tertawa saat bersamanya.
Andi memperhatikan mereka dari kejauhan tetapi dia menekan kecemburuannya. Dia tahu Joan tidak akan begitu mudah berpaling kepada pangeran pertama apalagi Andi tahu prinsip Joan mengenai pernikahan.
Pangeran pertama memiliki banyak selir, jadi tidak mungkin Joan akan tertarik padanya. Andi berjalan perlahan menghampiri meja tempat Joan duduk.
Memperhatikan kedatangan pangeran ketiga, pangeran pertama sengaja meninggikan suaranya.
"Terimakasih Puteri Agung, kamu sungguh teman bicara yang menyenangkan. Lain kali kuharap kita berdua bisa bertemu lagi atau apakah besok kamu ada waktu, kita semua yang ada di sini bisa pergi bersama ke taman kekaisaran."
"Kita bisa pergi bersama, hebat sekali, aku pasti ikut ".
Kata salah satu perempuan muda di meja tersebut. Siapa perempuan muda di negara itu yang tidak memimpikan bisa dekat dengan pangeran pertama. Meskipun semua orang tahu kalau pangeran pertama seorang playboy tetapi siapa bisa menyingkirkan godaan untuk bisa diperhatikan oleh salah satu calon Kaisar berikutnya.
__ADS_1