
"Dia nona muda keluarga Bai, orang itu memang terkenal sombong, dia selalu merasa dia gadis tercantik di ibukota. Aku sudah lama tidak suka terhadapnya".
Kata Ocha kepada Joan. Dia meneruskan perkataannya;
"Nama lengkapnya Bai Ji Gur, ayahnya Bai Jing An, kepala pengadilan di ibukota, dia pengikut pangeran pertama. Bai Jing An suka sekali menindas rakyat, tidak heran anaknya seperti itu".
"Ya, kami sedang berusaha mencari-cari bukti kesalahannya tetapi dia cukup licin sampai hari ini, kami belum punya bukti-bukti yang kuat untuk menjatuhkannya".
Sambung Little Fox.
"Nona muda Bai suka kepada kakak ke tiga tetapi kakak ke tiga tidak pernah menghiraukannya, kalau dia tahu kakak ipar saingan cintanya pasti dia akan lebih bersemangat membunuh mu, ha ha ha ha";
Little Fox menggoda Joan.
Joan bergeming mendengar gurauan Little Fox, kenapa harus cemburu, dia tahu sifat dingin Andi terhadap perempuan kecuali dirinya.
"Kalau dia suka pangeran ketiga, mengapa dia terlihat tidak mengenali kalian";
Tanya Joan dengan rasa penasaran.
"Itu karena kami dari kecil tidak pernah tinggal di istana, kami tinggal bersama kakek dari pihak ibu kami"
Sambung Little Fox.
Joan jadi lebih penasaran mendengar penjelasan little Fox.
"Mengapa kalian tidak tinggal di istana kekaisaran ".
"Ya itu perjanjian ibu dengan ayah. Ayah Kaisar menikahi ibu karena pernikahan politik, ibu membuat perjanjian pranikah dengan ayah Kaisar bahwa dia akan menyerahkan anak laki-laki sulungnya kepada Kaisar tetapi anak-anak berikutnya menjadi milik keluarga ibu".
"Itu sebabnya kami tinggal di luar istana dan ibu kadang datang untuk tinggal bersama kami, meskipun ibu tidak mencintai ayah Kaisar tetapi ayah Kaisar bersikap baik kepadanya dan berjanji bahwa anak mereka akan menggantikan dirinya menjadi Kaisar berikutnya".
Joan mulai sedikit mengerti kesulitan Andi. Andi sendiri memang enggan untuk menggantikan posisi Kaisar tetapi dia juga berpikir akan kewajibannya sebagai seorang anak dan harapan kakek dari pihak ibunya yang menginginkan dia menjadi putera mahkota.
"Kalau kakak berkunjung ke rumah kami, dia selalu merasa iri dengan kebebasan yang kami miliki, sedang dia selalu diatur oleh protokoler istana. Dari sejak kecil sudah tidak memiliki kebebasan pribadi. Harus belajar mengenai tata kenegaraan, belajar bahasa-bahasa asing, belajar dan latihan beladiri terus, nyaris tidak ada waktunya untuk bermain".
__ADS_1
"Hem, kadang kamu kasihan kalau melihatnya, dia selalu terlihat murung tetapi sebenarnya kami juga kadang iri dengannya tetapi begitu mendengar dia menceritakan semua yang dideritanya. Itu membuat kami jadi bersyukur karena ibu tidak mengajak kami untuk hidup di istana".
Sambung Ocha...
"Meskipun ayah Kaisar tetap memberikan kami gelar Puteri dan pangeran kepada kakak ke lima tetapi kami tidak pernah menggunakannya, hanya keluarga istana dan beberapa orang saja di ibukota yang tahu kami adalah anak-anak Kaisar tetapi kami memang lebih senang menyembunyikan hal itu karena kami bisa bebas pergi kemana saja tanpa ada protokol yang justru membuat kami justru menjadi orang tawanan seperti kakak ketiga".
"Dug, dug, dug"
Suara derap langkah kaki dari banyak orang terdengar dari luar rumah makan itu. Suara nyaring seorang gadis membelah udara melebihi kecepatan berjalannya.
"Nona pertama, itu mereka orang kampung yang sudah menghina nona muda ".
Rupanya itu suara dari teman gadis yang menampar dirinya sendiri dihadapan Joan, dia datang kembali bersama dengan seorang nona muda yang terlihat anggun dan juga cantik, pipinya bulat dan ada lesung pipit yang indah ke dua sudut mulut nya.
Kedua gadis muda itu diiringi oleh beberapa pengawal yang berbadan tegap dengan membawa tombak sebagai senjata mereka. Mereka datang menghampiri tiga sekawan kita.
Teman gadis pertama itu segera menjulurkan tangannya, menunjuk ke wajah Joan yang sedang duduk di depannya sambil menyeruput teh nya dan melemparkan potongan roti kecil-kecil ke dalam kolam untuk memberi makan ikan-ikan emas dan Koi.
"Ini nona pertama, dia yang sudah menampar nona muda sehingga dia menjadi demam saat ini".
Teman gadis itu yang rupanya adalah seorang dayang nona muda itu merasa jengkel karena melihat Joan cuek saja dan sama sekali tidak memperhatikan perkataannya.
Joan berpikir pasti nona pertama ini sama arogannya dengan nona muda tadi.
Joan tetap diam sambil memperhatikan ikan-ikan yang berebutan untuk memakan potongan roti yang dia lemparkan ke danau.
"Maaf nona muda, apakah adikku tadi sudah menyinggung dirimu, aku datang meminta maaf padamu jika betul itu yang terjadi ".
Nona pertama menyapa Joan sambil membungkukkan badannya sedikit dan mengepalkan kedua tangannya untuk menunjukkan penghormatannya kepada Joan
Joan terkejut melihat kesopanan nona pertama yang sungguh sangat bertolak belakang dengan nona muda tadi.
"Apakah benar mereka ini bersaudara"; pikir Joan.
Joan juga merasa suara perempuan itu menimbulkan rasa keakraban di hatinya. Dia mendongakkan kepalanya dan memandang wajah perempuan muda itu.
__ADS_1
Joan kaget dan senang, dia segera bangkit berdiri, melangkahkan kakinya dan memeluk nona pertama di hadapannya dengan gembira.
"Melly.....".
"Joan"....
"Kamu ada disini"
"Kamu ada di sini ".
Keduanya berseru hampir bersamaan dengan kalimat yang sama.
Semua orang terkejut melihat perkembangan suasana tersebut. Dayang itu langsung merasa ketakutan ketika dia mengetahui ternyata orang yang dia sudah tuduh menganiaya nona mudanya adalah kenalan nona pertamanya.
Dia langsung berdiri agak menjauh dari tempat itu untuk menyembunyikan dirinya, kalau ada lobang di sana, pasti dia akan melompat ke dalamnya.
Joan dan Melly berpelukan lama tanpa berkata-kata. Keduanya tenggelam dalam kerinduan akan masa-masa mereka bersama.
Sejenak kemudian mereka saling melepaskan pelukan mereka. Joan mengajak Melly untuk duduk, dia memperkenalkan little Fox dan Ocha sebagai sahabatnya di ibukota.
Mereka bertiga duduk bersama, Little Fox dan Ocha hanya mendengarkan kedua sahabat masa kecil itu bernostalgia menceritakan saat kebersamaan mereka di desa Genteng.
Melly sudah mendengar perkembangan pesat desa Genteng, jadi dia bertanya banyak hal kepada Joan, menanyakan berita tentang hal-hal baru yang ada di desa mereka yang belum dia ketahui.
Melly meminta maaf kepada Joan untuk ayah dan kakaknya yang dia tahu sudah berusaha untuk merugikan Joan. Itu membuat Joan semakin mengagumi Melly yang bisa memisahkan persahabatannya dengan urusan keluarganya.
Melly tinggal bersama kakek, neneknya dari keluarga Wang dan Bai Jing An adalah menantu dari kakek Melly, isterinya adalah adik dari tuan Wang. Mereka semua tinggal dalam kompleks perumahan keluarga Wang.
Melly tahu adik sepupunya ini punya perangai yang buruk dan sombong, selalu menindas orang lain yang lebih lemah darinya. Melly bersyukur bahwa Joan sudah memberikan pelajaran bagi adiknya itu.
Saat adik sepupunya melaporkan berita itu kepada ibunya dan memerintahkan beberapa pengawal untuk kembali ke rumah makan itu untuk memberikan pelajaran pada Joan. Kebetulan dia ada disana, jadi Melly menawarkan diri untuk melihat siapa orang yang sudah membantu dirinya untuk mendidik adiknya itu.
Untungnya hal itu membuatnya bertemu kembali dengan Joan, kalau tidak, mungkin selamanya dia akan sulit bertemu dengan Joan.
Kemudian Melly mengajak Joan untuk kembali ke tempat tinggalnya. Joan dan Melly berjalan di depan sambil bergandengan tangan dan Little Fox, Ocha dan pengawal kediaman keluarga Wang mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Ilustrasi rumah makan di atas di pinggir danau.