Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Mengerti


__ADS_3

Akhirnya keluarga tiga orang ini berkumpul kembali, rasa haru memenuhi hati setiap orang yang ada di tempat itu. Penjaga Mo bersaudara menjadi sedikit tertekan karena mereka merindukan hal seperti itu juga, mereka masing-masing adalah anak yatim-piatu yang dipungut di jalanan, mereka sama sekali tidak mengerti asal usul diri mereka tetapi meskipun begitu mereka bersyukur bahwa mereka masih diberikan kesempatan hidup dengan baik dan saat ini mereka menjadi saksi sejarah dari pertemuan Joan dengan orang tuanya.


Setelah menenangkan diri, ayah Joan mempersilahkan mereka yang ada di sana untuk duduk, Joan mengambil kursi di tengah ayah dan ibunya. Joan memperkenalkan Andi dan penjaga Mo bersaudara.


Pada saat Joan memperkenalkan Andi, Andi berdiri dari kursinya dan memberikan hormat kepada kedua orang tua Joan. Kedua orang tua Joan sudah memperhatikan dari tadi laki-laki muda yang berdiri terus di dekat Joan, mereka merasa laki-laki muda ini bukan orang biasa, pembawaannya tenang dan terlihat di matanya, dia menyayangi Joan.


Andi tidak bisa diam lagi, dia malu kalau Joan memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya, jadi sebelum Joan berbicara lebih jauh, dia membuka mulutnya dan berkata;


"Saya Andi, tuan dan nyonya Arthur, ehm ini bukan nama asli, nama ini diberikan Joan kepadaku. Nama asliku adalah Yu Han Ney tetapi aku lebih suka dipanggil Andi saja. Maaf tuan dan nyonya Arthur kalau aku ceroboh tetapi aku dan Joan sudah lama saling mengenal dan kami lebih dari seorang teman. Aku senang karena Joan boleh bertemu kembali dengan kalian sebagai orang tua kandungnya maka ijinkanlah dengan segala kerendahan hatiku, aku mohon kalian mengijinkan Joan untuk aku meminang Joan menjadi isteriku".


"Uhuk, uhuk".


Joan terbatuk-batuk, tidak pernah dia mengira Andi akan mempergunakan pertemuan pertama dengan orang tuanya untuk mengajukan lamaran pernikahan untuknya.


"Ehm anak muda, bukankah terlalu cepat, kamu mau membawa anak kami pergi. Kami baru bertemu kembali dengannya setelah sekian belas tahun tapi kamu sudah mau membawanya pergi dari kami"


Jawab tuan Arthur yang juga tidak menduga bahwa perkenalan anak muda ini akan menjadi lamaran langsung.


"Maaf bukan itu maksudku tuan, aku bukan mau membawa Joan pergi, tapi....tapi...".


Andi kebingungan untuk meneruskan perkataannya, tuan dan nyonya Arthur tertawa, tidak menduga bahwa Andi akan menjadi kikuk.


"Ha, ha, ha".


Bukan hanya tuan dan nyonya Arthur tetapi semua orang diruangan itu ikut tertawa melihat kepolosan Andi. Tuan Arthur menenangkan dirinya lalu menjawab Andi kembali.


"Tidak apa-apa, aku hanya menggodamu saja. Tenanglah, aku mengerti maksudmu, asal Joan juga menyukaimu, kami orang tua hanya mengikuti saja".


"Siapa yang bilang aku menyukainya ".


Kata Joan tiba-tiba. Terkejut mendengar perkataan Joan, wajah Andi langsung memucat....


"Apa maksudmu Joan, aku tidak mengerti....".


"Ha, ha, ha".

__ADS_1


Kembali tuan Arthur tertawa melihat kegugupan Andi...


"Maksudku sudah jelas, aku bukan menyukaimu, hanya mencintaimu saja".


"Cup"


Kata Joan sambil memberikan ciuman ringan di pipi Andi, yang dicium langsung memerah wajahnya seperti anak gadis yang pemalu.


"Ha, ha, ha"


Meledak lagi tawa orang-orang di ruangan itu, Andi kembali terdiam dan merasa ingin melarikan diri dari ruangan itu tetapi hatinya merasa hangat karena Joan berani menyatakan cintanya di depan orang-orang itu terlebih di hadapan orang tuanya.


"Baiklah, kami sudah mengerti dan menerima lamaranmu tapi kita kesampingkan dulu hal itu, kami mau menceritakan dahulu kepada Joan, mengapa kami dulu meninggalkannya".


Andi menjadi tidak enak hati, memang rasanya terlalu terburu-buru untuk meminang Joan saat ini tetapi dia tidak bisa menahan hatinya saat mendengar bahwa Joan adalah keturunan raja Sendawar, jangan-jangan Joan sudah ditunangkan dengan seorang pangeran dari bayinya.


Dari tanggapan orang tua Joan, sepertinya hal seperti yang dipikirkannya itu tidak ada, jadi Andi dapat menenangkan perasaannya.


"Kekisruhan ini bermula saat Raja tua akan meninggal dunia".


Pandangannya menerawang jauh....


Kepala pelayan menyampaikan surat panggilan dari istana untuk tuan muda Arthur, menerima surat itu, membaca isinya kemudian menyerahkannya kembali kepada kepala pelayan untuk disimpan. Arthur melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya, menaiki kudanya yang sudah disiapkan oleh seorang pelayan.


Arthur menuju ke istana, sudah berapa waktu raja tua terbaring sakit karena usia tua, saat itu Arthur menjabat sebagai panglima perang kerajaan Sendawar. Raja menyayangi Arthur lebih dari anaknya sendiri sehingga itu memancing kecemburuan dari pangeran yang lain apalagi raja belum menetapkan putera mahkota.


Ada kecurigaan dari pangeran yang lain bahwa raja akan menyerahkan kedudukannya kepada Arthur, itu membuat pangeran pertama yang berpotensi untuk menjadi raja berikutnya merencanakan hal yang jahat kepadanya.


Arthur memang memiliki peluang besar untuk menjadi raja karena dia memegang kekuasaan sebagai panglima tertinggi kerajaan Sendawar tetapi sebenarnya Arthur tidak memiliki ambisi untuk itu, bahkan dia sedang berencana untuk mengundurkan diri.


Arthur baru saja menikah dengan anak perempuan dari kepala sekte kuno yang tersembunyi di pegunungan Batu Putih, Arthur bertemu dengannya saat dia sedang berperang melawan pemberontak yang mau menjatuhkan raja Sendawar.


Saat itu Arthur jatuh dalam jebakan musuh, dia melarikan diri dalam keadaan terluka parah, untungnya anak kepala sekte kuno itu menemukan dan membawanya ke sektenya. Arthur tidak sadarkan diri selama seminggu, perempuan muda itu merawatnya sampai dia sembuh kembali dan cinta bersemi di antara mereka.


Setelah Arthur kembali kepada pasukannya dan kemudian merebut kemenangan dengan menghancurkan markas pemberontak itu, Arthur melamar perempuan muda itu dan menikahinya tetapi isterinya mengajukan syarat untuk persetujuannya bahwa dia ingin hidup damai tanpa kekuatiran melihat Arthur pergi berperang. Arthur menyetujui hal itu, lagipula dia juga sudah jenuh berperang.

__ADS_1


Arthur baru saja kembali ke rumahnya setelah mengantar isterinya yang sedang hamil muda isterinya yang ketempat tingal keluarganya di sekte kuno itu. Dia baru saja kembali ketika panggilan raja itu datang kepadanya.


Sementara itu di istana, pangeran pertama mendengar bahwa raja tua memanggil Arthur untuk datang, dia pikir dia harus mencegah Arthur untuk bertemu raja tua. Dia segera meminta ijin untuk bertemu raja tua, Kasim memberitahukan kepada raja dan raja mengijinkan pangeran pertama untuk menghadapnya.


Raja sedang terbaring lemah di ranjangnya, pangeran pertama memberikan hormat kepada raja. Raja melambaikan tangannya untuk meminta pangeran pertama mendekat kemudian raja menyuruh semua orang yang ada di ruangan itu untuk keluar terlebih dahulu.


"Kemarilah, ayah mau mengatakan sesuatu kepadamu".


"Ya ayahanda, hamba siap mendengarnya".


"Apakah Arthur sudah kembali dari pegunungan Batu Putih".


"Ya ayah, dia sedang dalam perjalanan ke tempat ini".


"Baguslah kalau begitu, ayah minta kamu untuk berkerja sama dengannya agar kerajaan ini bisa menjadi kerajaan yang besar dan....".


Belum selesai dengan perkataannya, pangeran yang mendengar ayahnya memintanya untuk berkerja sama dengan Arthur sudah menduga perkataan apa yang akan diucapkan kepadanya. Kilatan kekejaman melintas dimatanya, dia menarik belati kecil yang ada di pinggangnya, dengan cepat menutup wajah ayahnya dengan bantal dan dia menusukkan belati itu ke tubuh ayahnya.


"Crap"


"Argh"


Suara raja teredam oleh bantal itu, saat itulah Arthur yang baru datang melihat kejadian itu, dia segera menyerang pangeran pertama, pangeran pertama menghindari serangan itu dan berlari ke sudut ruangan, Arthur cepat-cepat menghampiri raja, dia menyingkirkan bantal itu. Raja terengah-engah menahan rasa sakit yang hebat, pisau itu masih menancap di dadanya, Arthur memegang gagang pisau itu untuk mencabutnya, raja memegang tangannya dan mencegahnya untuk mencabut pisau tersebut, sebaliknya dia berkata dengan suara yang semakin lemah.


Arthur mendekatkan telinganya untuk mendengarkan perkataan raja, raja menyerahkan sebuah token kepadanya.


"Simpan ini, ini token kekuasaan tertinggi dari pasukan rahasia kita".


Pangeran pertama yang sudah mau bersiap pergi, melihat Arthur yang berusaha menarik pisau itu keluar dari tubuh raja, segera berteriak.


"Pembunuhan..... raja dibunuh".


Suara itu mengagetkan para pengawal yang berjaga di luar, serempak mereka masuk kamar raja hanya untuk menyaksikan Arthur yang masih memegang pisau dan tangan raja yang memegang tangannya, itu membuat kesan seolah raja sedang menahan tangan Arthur yang menusuknya.


Tepat saat itu raja menghembuskan nafasnya, Arthur sadar sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sana, dia memasukkan token yang diberikan raja tua kepadanya dan segera melarikan diri.

__ADS_1


Para pengawal agak ragu-ragu untuk menahannya karena mereka tidak percaya Arthur akan membunuh raja tua. Pangeran pertama berteriak dengan marah


"Kenapa diam saja, kejar dan bunuh dia".


__ADS_2