
Mereka berbincang sampai tengah malam, merencanakan untuk melihat dulu apa yang akan dilakukan oleh Kaisar.
Malam hari saat Joan mau beranjak tidur, dia mendengar ketukan di pintu, dia membuka pintu kamarnya dan keluar dari ruangannya, sekelebat bayangan terlihat didepannya menuju ke taman di samping kamarnya.
Joan mengikutinya dengan tenang karena mengerti orang itu tidak datang dengan maksud jahat.
Orang yang berpakaian putih dengan jubah biru itu sudah menunggunya dengan sikap hormat, berlutut dengan salah satu kakinya dan tangannya bertumpu di lututnya.
"Mo Yi memberi hormat bagi nona muda".
"Bangunlah, sudah berapa kali kubilang tidak perlu menghormat seperti ini".
"Bagaimana kabar kalian".
Mo Yi bangkit, berdiri dari tempatnya berlutut sambil berkata.
"Terimakasih nona muda, kami baik-baik saja".
"Tuan muda juga baik-baik, dia memberikan salam bagi nona muda".
"Tuan muda berpesan agar nona tidak terburu-buru dalam tindakan nona, ada hal yang tidak sama dengan apa yang terlihat saat ini".
"Oh ya, apa itu".
Joan jadi penasaran apa yang dimaksud oleh Mo Yi, dia tidak mengerti tetapi dia tidak bertanya lebih jauh, pelan-pelan saja nanti akan mengerti dengan sendirinya.
"Baiklah nona muda, aku akan pergi dulu"
Mo Yi menghilang dari tempatnya. Joan kembali ke kamar tidurnya sendiri.
Keesokan harinya jendral Wong datang dengan berapa orang perwira menjemput Joan dengan naik kereta. Nyonya Ouyang bersama Joan dalam satu kereta dan Jenderal Wong bersama Little Fox satu kereta yang lain.
Mereka berangkat ke istana, sesampainya di sana, mereka menunggu di luar Balairung istana sebelum dipersilahkan masuk oleh Kasim yang bertugas melaporkan kedatangan mereka.
"Jendral Wong Nge Dan beserta utusan dari desa Genteng dipersilahkan masuk kedalam ruangan".
Jendral Wong memimpin Joan dan Little Fox untuk masuk ke dalam, mereka lebih dahulu memberikan penghormatan kepada Kaisar.
"Hormat kepada Kaisar Yu Kang Kang yang mulia, semoga Kaisar panjang umur"
Kata mereka serempak.
Kaisar melambaikan tangannya mempersilahkan berdiri.
"Terimakasih".
__ADS_1
"Jendral Wong dan tamu utusan dipersilahkan duduk"
Kata Kasim kembali.
Dalam ruangan itu selain Kaisar, ada beberapa orang menteri dan jenderal militer, juga ada pangeran pertama, pangeran kedua dan berapa pangeran yang lain.
Jendral Wong berdiri dan melaporkan maksud kedatangannya.
"Hormat Kaisar, hamba melaporkan kedatangan hamba kembali dari tugas untuk menaklukkan desa Genteng ".
"Menurut investigasi hamba ternyata rumor yang menyatakan bahwa desa Genteng mau memberontak dan memisahkan diri dari kekaisaran Langit ternyata tidak benar".
"Tidak mungkin, sudah jelas mereka sudah membasmi pasukan prajurit yang kukirimkan sebelumnya, bahkan mereka juga sudah menawan jendral Loe Som Bong";
Pangeran pertama menyela laporan jendral Wong, dia mulai berpikir bahwa jendral Wong sudah disuap oleh Badan Otorita Desa Genteng.
"Maaf pangeran pertama, itu tidak benar. Semua pasukan prajuritmu masih hidup, bahkan jendral Loe Som Bong juga tidak ditawan oleh Badan Otorita Desa Genteng. Aku mohon untuk jendral Loe Som Bong bisa dipanggil masuk dalam ruangan ini".
"Dipersilahkan".
"Jendral Loe Som Bong dipersilahkan untuk memasuki ruangan";
Teriak Kasim mempersilahkan Jenderal Loe Som Bong untuk memasuki ruangan.
Pangeran pertama sangat terkejut dengan kejadian yang tidak terduga ini. Dia tidak mengira bahwa jendral Wong Som Bong akan kembali ke ibukota dengan membawa utusan dari Badan Otorita Desa Genteng.
Dia menjadi heran karena dia tahu selama ini jendral Loe Som Bong sangat setia dan patuh kepadanya.
Jendral Loe Som Bong memasuki ruangan dengan langkah tegap, memberikan hormat kepada Kaisar sambil melaporkan dirinya.
"Jendral Loe Som Bong memberi hormat kepada Kaisar, semoga Kaisar panjang umur".
"Bangkitlah".
jendral Loe Som Bong berdiri kembali dan kemudian duduk di samping jendral Wong Nge Dan
Kaisar kembali berkata kepada jenderal Loe Som Bong.
"Jendral Loe kami mendengar bahwa pasukan prajuritmu sudah dikalahkan dan kamu sendiri sudah tertawan. Apakah berita itu benar".
"Maaf Kaisar, berita itu sungguh tidak benar. Seperti jendral Wong, sebelum kami menyerang, kami terlebih dahulu menyelidiki keadaan desa Genteng dan hal yang kami lihat membuktikan bahwa dugaan pemberontakan desa Genteng itu tidak benar".
"Jendral, kamu..... kamu berkhianat".
Pangeran pertama kembali memotong perkataan jendral Loe Som Bong seperti yang dia lakukan sebelumnya kepada jenderal Wong Nge Dan.
__ADS_1
"Diam, belum giliran mu untuk berbicara ".
Kata Kaisar kepada pangeran pertama.
"Silahkan diteruskan Jendral ".
Lanjutnya...
"Baik Kaisar, aku setia pada kekaisaran Langit, prestasi militerku selama ini sudah membuktikannya"
"Aku tidak bisa begitu saja menyerang tanpa menyelidiki lebih dulu apa yang sebenarnya telah terjadi. Apalagi desa Genteng bukan musuh negara kita tetapi bagian dari bangsa kita sendiri".
"Desa Genteng dua kali diserang oleh pasukan pembunuh bayaran yang diperintahkan untuk membunuh pangeran ke tiga. Pangeran ke tiga diserang dan terluka parah pada waktu mencari badak bercula tiga sebagai obat untuk racunnya di hutan larangan setahun lalu ".
"Nona muda Joan menolong dan merawatnya tetapi pangeran ketiga mengalami amnesia selama kurang lebih enam bulan. Nona muda Joan tidak tahu bahwa orang yang ditolongnya adalah pangeran ketiga sampai berapa hari lalu, baru dia tahu kebenarannya dari jendral Wong Nge Dan".
Jendral Loe Som Bong menuturkan cerita yang sudah dipersiapkan Joan sebelumnya.
"Para pembunuh itu bukan hanya mau membunuh pangeran ketiga tetapi juga berusaha untuk membunuh semua orang yang ada di desa Genteng tetapi pada akhirnya mereka justru menjadi orang yang dikalahkan".
"Jadi tidak benar kalau pangeran ketiga bermaksud untuk mendirikan negara kecil yang terpisah dari kekaisaran Langit karena nona muda Joan, bahkan seluruh penduduk desa Genteng tidak ada yang tahu identitas sesungguhnya dari pangeran ketiga yang mereka panggil dengan nama Andi karena pangeran ketiga lupa akan namanya ".
"Benarkah begitu? Bagaimana hasil penyelidikanmu sendiri jendral Wong".
Tanya Kaisar setelah mendengar penjelasan jendral Loe Som Bong.
"Siap Kaisar, memang benar penduduk desa tidak ada yang mengetahui bahwa Andi yang mereka kenal adalah pangeran ketiga. Setelah aku mengenali pangeran ke lima, Little Fox barulah aku menyadari bahwa Andi yang mereka cari adalah pangeran ketiga".
"Pangeran ke lima dan juga semua perwira tinggi yang datang bersamaku bisa memberikan kesaksian yang sama dengan ku".
"Lalu selama kamu tinggal di sana, apa yang membuatmu percaya bahwa mereka tidak berniat untuk memberontak, kudengar dari pangeran pertama bahwa Badan Otorita Desa Genteng telah merekrut para pembunuh dari organisasi pembunuh Bayangan hitam ".
Tanya Kaisar kepada jenderal Loe Som Bong setelah mendengarkan penjelasan jendral Wong.
"Siap Kaisar,
"Siap Kaisar, mereka hanya membela diri dari serangan musuh yang menyerbu desa mereka, Badan Otorita Desa Genteng sangat dihormati oleh pejabat-pejabat pemerintah di kota Krikilan dan provinsi Kubar. Saat ini mereka adalah pembayar pajak terbesar di provinsi Kubar, Kaisar bisa bertanya kepada walikota Krikilan atau Gubernur provinsi Kubar "
"Untuk organisasi pembunuh Bayangan hitam yang bergabung dengan desa Genteng, itu bukan karena mereka sengaja direkrut tetapi sebaliknya mereka menggabungkan diri dengan sukarela karena melihat kemajuan pembangunan di desa Genteng. Badan Otorita Desa Genteng juga memperlakukan mereka dengan baik. Justru organisasi pembunuh Atap Langit lah yang menyerbu desa Genteng dibawah perintah pangeran pertama untuk membinasakan desa Genteng dan merampas kekayaan mereka ".
"Kurang ajar, berani-beraninya kamu memfitnahku. Berapa adikku membayar mu".
Pangeran pertama menjadi emosi mendengar penjelasan dari jendral Loe Som Bong.
"Tidak ada yang membayarku pangeran pertama. Semua orang di ibukota tahu aku setia kepada pangeran pertama. Aku banyak melakukan hal kotor untuknya tetapi setelah tinggal di desa Genteng untuk berapa bulan, aku menyadari bahwa ada hal yang lebih penting dari kekayaan yaitu ketenangan hidup".
__ADS_1
"Jendral Wong bisa memastikan hal itu juga. Penduduk desa itu begitu rukun, damai dan meskipun mereka hidup sederhana tetapi tidak pernah ada pertengkaran di desa itu. Terus terang, kalau Kaisar berkenan, berikan aku titahmu untuk menjadi kandidat komandan militer di sana".
Jendral Loe menyelesaikan penuturannya dengan permohonan untuk bisa menjadi komandan pasukan prajurit yang akan ditempatkan di desa Genteng. Kaisar tentu saja belum mengerti apa yang dimaksud jendral Loe karena yang dia tahu desa kecil seperti desa Genteng tidak seharusnya memiliki wilayah militer.