
Tidak ada masalah apapun yang mereka temukan dalam perjalanan pelayaran ke kota pelabuhan Bohoq. Kota pelabuhan itu jauh lebih besar dari kota pelabuhan Merak, Kedatangan sepuluh kapal besar itu cukup menarik perhatian orang.
Tuan kota pelabuhan Bohoq sudah menantikan mereka di dermaga pelabuhan karena tuan kota Merak Jin Bo sudah mengirimkan surat melalui burung pengirim pesan. Tuan kota pelabuhan Bohoq adalah saudara dari tuan kota Jin Bo.
Tuan kota Jin Bo sudah menyampaikan bahwa Joan dan rekan-rekannya akan mendirikan cabang perusahaan jasa pengawalan dan jasa pengiriman kargo di kota pelabuhan Bohoq, tentu saja berita itu membuat senang tuan kota karena itu berarti akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat kota Bohoq dan pendapatan pajak bagi pemerintah kota Bohoq.
Setelah menyelesaikan segala urusan administrasi yang diperlukan dan membeli gedung untuk kantor jasa pengawalan dan pengiriman kargo Blue Phoenix, Mo Yi dan penjaga bayangan menurunkan dua puluh dua ekor kuda mereka dari kapal, kuda-kuda itu mereka bawa dari desa Genteng, mereka berencana melanjutkan perjalanan dari kota Bohoq ke ibukota kerajaan Sendawar. Joan membeli peta kerajaan itu seharga sepuluh keping tembaga, cukup murah untuk menolong mereka agar tidak tersesat di perjalanan.
Disinilah mereka harus berpisah, Jendral Loe Som Bong dan bawahannya akan melanjutkan perjalanan pelayaran mereka untuk menjelajahi dan menjalin persahabatan dengan negara-negara baru yang akan mereka temui dalam perjalanan mereka.
Jendral Loe Som Bong membawa dua kapal yang datang bersama dari desa Genteng sedang delapan kapal lain akan berlabuh di pelabuhan Bohoq. Anak buah Joan dari desa Genteng akan menunggu di sini sambil membenahi kantor cabang jasa pengawalan Blue Phoenix, juga membangun tempat tinggal pegawai yang akan ditempatkan di sini.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali dari kota Bohoq, Andi membeli sebuah gerbong kereta, dua ekor kuda diikatkan untuk menarik kereta itu. Andi tidak tega untuk membiarkan Joan naik kuda disepanjang perjalanan itu, dia sendiri tetap memilih naik kuda, seperti biasa Mo Ying yang menemani Joan di kereta. Sejak bersama Joan, Mo Ying merasa dia sudah bukan lagi bawahan pangeran ketiga tetapi saudari Joan karena dia yang selalu menemani Joan baik waktu tidur ataupun ketika berkereta seperti itu.
Jadi terlihat seperti pangeran ke tiga yang justru mengawal dirinya tapi tentu saja Mo Ying menyimpan pemikiran itu untuk dirinya sendiri, dia tidak menjadi sombong karena hal itu. Mo Ying tahu dia tetap hanya seorang bawahan dan kalau bukan karena kasih karunia yang dia terima dari pangeran ketiga, dia sudah lama mati.
Berapa hari berkuda sampailah mereka di satu kota, mereka pergi mencari penginapan, setelah membersihkan diri, mereka datang ke rumah makan di samping penginapan itu. Kehadiran dua puluh dua orang itu segera menarik perhatian puluhan mata yang ada di sana, dua orang perempuan muda dikawal dua puluh orang laki-laki tentu bukan hal biasa.
__ADS_1
Semua laki-laki itu berambut pendek tidak seperti laki-laki di negara itu yang biasa berambut panjang dan digelung, itu membuat orang yang memperhatikan mereka mengernyitkan dahinya, menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memperhatikan kesopanan.
Tidak tepat juga untuk mengurus orang lain meskipun hal itu tidak sopan karena mereka tidak mengganggu mereka, jadi masalah itu tidak menimbulkan dampak apa-apa bagi mereka
Pelayan segera datang dan menunjukkan menu, Joan memesan berapa menu secara acak dan meminta pelayan untuk segera menyajikannya, dia memberikan sekeping uang perak kepada pelayan sebagai tips yang menerimanya dengan senang hati dan bergegas untuk menyediakan pesanan mereka.
Joan memperhatikan keadaan sekelilingnya, saat matanya beredar, dia memperhatikan ada seseorang yang memperhatikan mereka, dia melihat dari sudut matanya, seorang laki-laki paruh baya. Joan pura-pura tidak memperhatikannya tetapi sepanjang sesi makan itu, dia tahu kalau laki-laki itu terus melihat ke arah meja mereka. laki-laki itu ada bersama beberapa orang lainnya, dia berbicara dengan pria lainnya sambil berbisik dengan suara rendah.
Saat mereka sedang makan, seorang laki-laki tua dengan rambut panjang dan janggut acak-acakan datang untuk meminta sedekah.
"Tolong tuan beri aku makanan, aku sudah berapa hari tidak makan".
"Sialan, kenapa kamu berdiri di situ, pelayan bagaimana rumah makan kalian ini, kenapa pengemis busuk ini, kalian biarkan mengganggu tamu".
Pelayan segera datang untuk mengusir laki-laki tua itu tetapi Joan memanggil pelayan itu.
"Pelayan jangan usir dia, sajikan makanan untuknya, aku akan membayarnya nanti".
__ADS_1
Pelayan itu menarik laki-laki tua itu ke sudut ruangan, menempatkannya di meja yang agak jauh dari tamu-tamu yang lain dan melayaninya, dia sebenarnya tidak senang melakukannya tetapi nona itu sudah memberinya tip yang besar jadi dia menguatkan hatinya untuk melayani laki-laki tua itu
Joan tidak memusingkan hal itu,m, Joan tetap menikmati makanannya, salah satu makanan yang dia makan sangat pedas yang membuat Joan berkeringat deras, dia mengambil saputangan dan mengelap wajahnya kemudian dia menarik liontin kalungnya keluar dari bajunya untuk mengelap lehernya yang jenjang.
Saat Joan mengeluarkan liontinnya, mata laki-laki tua itu terbelalak, meskipun dari kejauhan, dia tetap bisa melihat dengan jelas bentuk liontin itu, wajahnya seketika menegang.
"Wajah perempuan muda itu terasa sangat familier dan liontinnya juga seperti milik nona, siapa dia?".
Laki-laki ini lebih intens lagi melihat Joan tetapi yang dilihat tidak memperdulikan, Joan terus menikmati makanannya sambil mendecapkan mulut yang terasa panas tapi nikmat.
Andi memperhatikan cara makan Joan dengan senyuman di wajahnya, meskipun cara makan Joan tidak seperti gadis-gadis bangsawan yang makan dengan pelan sambil menutupi mulut dengan sapu tangan tetapi bagi Andi tidak ada yang salah dengan apapun yang dilakukan Joan, semua tetap indah dimatanya.
Setelah selesai makan, Joan membayar harga makanan mereka bersama apa yang dimakan laki-laki tua itu, dia juga memberikan tambahan tip kepada pelayan itu yang membuat matanya berbinar-binar karena tip kali ini lebih besar dari gajinya sebulan. Joan mau memberikan uang kepada laki-laki tua itu tetapi orang yang terakhir itu tidak ada lagi di mejanya.
Joan agak sedikit heran, perasaannya dia tidak melihat laki-laki tua itu melewati mereka tetapi jelas laki-laki tua itu tidak ada lagi di sana. Joan berhenti memikirkannya.
Mereka segera kembali ke kamar untuk beristirahat, mereka harus menjaga kondisi fisik agar tetap kuat karena perjalanan ini masih panjang tetapi kebanyakan dari penjaga itu tidak tidur, mereka berkultivasi sepanjang malam, meskipun tidak tidur, dengan berkultivasi mereka mendapatkan manfaat dua kali lipat daripada sekedar tidur.
__ADS_1
Malam itu mereka beristirahat tanpa gangguan.