Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Bersiap


__ADS_3

Andi bangun dari tidurnya pagi ini dengan perasaan tertekan, dua hari dia bangun dengan sakit kepala dan mimpinya membawa ketidaknyamanan dalam perasaannya.


Andi mempercayai Joan tetapi dia yang tidak mempercayai dirinya sendiri, dari kecil dia tidak suka didekati perempuan kecuali ibu dan adiknya. Dari kecil dia selalu menolak jika dimandikan oleh pelayan perempuan, dia selalu mandi sendiri. Andi juga tidak suka bersekolah, dia belajar diistana bersama dengan pasukan penjaga bayangan yang bertumbuh besar bersamanya, hanya ada satu perempuan diantara mereka, itupun karena Mo Ying bersikap tomboi dari masa kecilnya, dia juga tidak dekat dengan Mo Ying.


Andi tidak punya teman perempuan, jadi dia tidak tahu cara menyenangkan perempuan, itu sebabnya dia mendekati ayah dan ibu Joan untuk bisa mempererat hubungannya dengan Joan.


Meskipun hubungannya dengan Joan sekarang sudah lebih dekat tapi dia masih belum bisa meyakinkan dirinya bahwa Joan sungguh mencintainya.


Menepuk dahinya sendiri, dia bergumam.


"Ah sudahlah, tidak usah dipikirin. Biarkan air menemukan jalannya sendiri".


Andi membereskan barang bawaannya, mengintip kembali ke ruang penyimpanannya untuk melihat apa yang kurang. Memastikan bahwa tidak ada lagi yang kurang, dia pergi ke ruang kerja Kaisar dan berpamitan. Kasim meneriakkan namanya untuk memberitahukan kedatangannya.


"Pangeran ketiga mohon ijin menghadap Kaisar"


Andi berjalan masuk ruang kerja Kaisar dan menekuk kakinya menghadapi Kaisar


"Menghadap yang mulia Kaisar, semoga Kaisar panjang umur".


Andi memberikan penghormatannya kepada Kaisar.


"Berdirilah"


"Terimakasih Kaisar, hamba datang untuk mohon restu".


"Aku memberikan restuku, pergilah dengan kejayaan dan pulanglah dengan kemenangan ".


Kasim memberikan beberapa gulungan dekrit dan surat-surat keputusan kepada pangeran ketiga. Pangeran ketiga menerima dan memasukkan semua surat dan gulungan itu ke dalam ruang penyimpanannya.

__ADS_1


"Terimakasih yang mulia, hamba siap membawa kejayaan bagi kekaisaran Langit. Mohon pamit".


Kembali dia memberikan penghormatannya dan kemudian dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Kaisar memandangnya dengan wajah puas kepada putera yang sangat dicintainya itu.


Andi keluar ke gerbang istana, dia menaiki kudanya yang sudah disiapkan oleh Mo Yi, Sepuluh penjaga ada bersamanya.


Mereka menghela kudanya dan pergi ketempat kediaman selir Ouyang untuk menjemput Joan.


Saat mereka tiba di kediaman selir Ouyang, kereta kuda dengan enam ekor kuda penghela sudah disiapkan, tampak selir Ouyang, Little Fox, Ocha, Joan........... dan siapa itu, lha itu pangeran pertama tampak sedang berbicara dengan Joan.


Kekuatiran Andi menjadi lebih besar, kudanya belum benar-benar berhenti, dia sudah melompat dari kudanya langsung menjatuhkan dirinya di antara pangeran pertama dan Joan. Joan merasa tindakan Andi sangat keren, melompat dari punggung kuda ke tempatnya berdiri sejauh sepuluh meteran.


Andi langsung merengkuh Joan ke dalam pelukannya dan menciumnya di depan orang banyak. Wajah Joan langsung memerah, dia mendorong Andi dengan marah.


"Kamu...., huh".


"Baik Puteri Agung, aku akan pergi dulu, kita akan bertemu lagi di desa Genteng".


Setelah itu dia mencambuk kudanya dan melesat meninggalkan kerumunan orang itu.


Selir Ouyang melihat hal itu, dia langsung menjewer telinga Andi.


"Ah ibu, sakit".


"Dasar anak nakal, tidakkah kamu sadar, kamu mempermalukan Joan dengan tindakanmu. Lihat dia marah sekarang, pergilah, bereskan kekacauan yang kamu buat sendiri. Ibu tidak mau membantumu".


Selir Ouyang segera meninggalkan mereka dan masuk kedalam rumahnya, Ocha mengikutinya dari belakang.


Andi langsung merasa kepalanya menjadi sakit lagi, pusing dia!.

__ADS_1


Dia marah melihat pangeran pertama berbicara dengan Joan, tindakan yang dia lakukan secara spontan. Tidak dipikirkan bahwa itu akan membuat Joan menjadi marah.


Semua penjaga bayangannya berbalik badan dengan diam-diam. Mereka menaiki kudanya masing-masing, Mo Yi dan Mo Yan duduk di atas kursi kusir kereta kuda Joan.


Little Fox naik ke atas kudanya sendiri. Andi menjadi serba salah, dia mau naik di kereta Joan tetapi dia tidak berani, dia takut Joan akan menutup pintu dan menolaknya. Kalau itu benar terjadi, betapa malunya dia diperlakukan seperti itu di depan anak buahnya. Akhirnya dia menaiki kuda yang tadi sudah mau ditinggalkannya di rumah.


Little Fox mengangkat tangannya memberikan tanda untuk rombongan itu segera berangkat, sepuluh orang berkuda di depan kereta dan sepuluh berkuda di belakang kereta. Rombongan itu meninggalkan rumah selir Ouyang.


Selir Ouyang menatap rombongan itu yang semakin menjauh, dia melambaikan tangannya kepada Joan yang memandang dari jendela kereta itu, Joan tersenyum kepadanya.


Selir Ouyang tahu Joan tidak akan marah untuk hal kecil itu tetapi dia setuju untuk Andi diberikan sedikit pelajaran untuk perilakunya yang tidak terhormat itu.


Andi memacu kudanya sejajar dengan kereta, dia melirik ke arah jendela kereta tetapi Joan sudah menurunkan tirai jendela itu sehingga dia tidak melihat apa-apa. Dalam kereta, Joan sedang santai makan kuaci sambil minum teh, dia senyum-senyum sendiri mengetahui Andi yang terlihat lesu mencoba untuk melihatnya.


Pasukan penjaganya juga menahan senyuman mereka melihat tuan mudanya yang sedang susah hati karena memikirkan cara untuk bisa berbaikan dengan nona muda mereka.


Saat rombongan itu tiba di gerbang kota tampak rombongan berkuda lain sedang menunggu mereka.


Rombongan Joan berhenti, Joan turun dari kereta kudanya dan menemui nyonya Lam Be Mu yang memang sudah janjian untuk bertemu di gerbang kota.


Nyonya Be, ketua sekolah Pedang Terbang dan beberapa guru dan siswa sudah bertukar janji dengan Joan beberapa hari lalu untuk pergi ke desa Genteng melihat sekolah di desa Genteng. Sesuai janjinya, nyonya Be membawa guru-guru yang akan membantu pengajaran di desa Genteng.


Juga dia membawa beberapa siswa untuk mengikuti kegiatan pertukaran pelajar, sekembalinya dari desa Genteng, nyonya Be akan membawa juga beberapa siswa dari desa Genteng termasuk kedua adik laki-laki Joan.


Sesudah berbincang sejenak, nyonya Be dan Joan masuk ke dalam kereta Joan bersama dengan dua orang guru perempuan. Joan masih mendiamkan Andi.


Andi hanya bisa melihat dengan rasa tidak berdaya, dia menyapa nyonya Be dan mengantarnya naik ke atas kereta. Sekolah Pedang Terbang membawa dua kereta besar yang dapat mengangkut masing-masing dua puluh orang dan limapuluh orang berkuda.


Segera rombongan yang menjadi semakin besar ini bergerak untuk meninggalkan ibukota kembali ke desa Genteng.

__ADS_1


__ADS_2