
Semua orang di desa Genteng terheran-heran plus terkagum-kagum dengan pertempuran model baru ini. Mereka sudah bersiap di gerbang desa, menantikan pihak musuh yang akan menyerbu desa Genteng.
Seharian menunggu, tidak ada seorangpun yang beranjak dari tempatnya. Mereka melihat pasukan musuh di hadapan mereka, alih-alih menyerbu, mereka malah berbelok masuk ke dalam hutan. Hanya beberapa orang yang mengetahui tentang rencana Joan untuk memikat pasukan musuh ini ke padang rumput halusinasinya.
Sebagian besar tidak tahu dan tidak mengerti akan hal itu. Jadi seharian mereka menunggu dengan was-was akan datangnya musuh tetapi para pemimpin mereka hanya meminta mereka untuk menunggu dan melihat saja hiruk-pikuk pasukan penyerbu yang silih berganti masuk kedalam hutan sepanjang hari.
Tidak ada satupun dari mereka yang kembali keluar dari hutan itu, semua penduduk desa tahu bahwa hutan di sebelah gerbang itu hutan kecil yang sebagian dipenuhi rawa-rawa. Mereka berpikir apakah pasukan penyerbu itu jatuh ke dalam rawa karena tidak ada yang kembali dan itu juga bukan sasaran penyerbuan mereka. Apa pasukan penyerbu itu tidak melihat mereka sedari pagi sudah menunggu, para penjaga desa hanya melihat punggung dari para pemimpin yang berdiri di depan.
Tidak ada satupun pemimpin yang memerintahkan mereka untuk menyerang, padahal tangan mereka sudah sangat gatal untuk mengayunkan pedangnya untuk membunuh musuh yang akan datang untuk membinasakan desa Genteng.
Para pemimpin mereka terlihat begitu santai, mereka bercakap-cakap di antara mereka. Tidak terlihat seperti orang yang akan masuk dalam pertempuran. Lebih terlihat seperti orang yang sedang menunggu kunjungan dari tamu-tamu yang akan berwisata ke desa Genteng.
Dari kejauhan terdengar suara derap kaki yang terdengar seperti suara drum yang bertalu-talu dari arah hutan itu. Pasukan penjaga desa langsung terlihat tegang, beberapa dari antara terlihat sangat gembira. Seharian mereka menunggu dalam ketegangan dan kecemasan, saat ini musuh akan berhadapan dengan mereka.
"Hoi, tidak tahukah kalian, kami sudah capek menunggu".
"Ayo kita berperang sekarang, kamu siap mempertahankan desa kami".
"Desa ini akan jadi pemakaman kalian, kami tidak akan ijinkan kalian untuk kembali ke ibukota".
Pikiran -pikiran itu itu ada di kepala mereka.
Mereka semakin kuat memegang senjata ditangannya. Siap menunggu perintah dari pemimpin mereka.
__ADS_1
Tetapi para komandan itu tetap diam ditempatnya tanpa terlihat tanda-tanda akan memberikan perintah penyerangan.
Pasukan musuh berbaris semakin mendekat. Tidak lagi terlihat kegarangan di wajah mereka justru yang terlihat adalah wajah yang sumringah seolah-olah mereka mendapatkan suatu hal yang menyenangkan. Wajah mereka tidak menunjukkan sedikitpun sikap permusuhan tetapi dari bahasa tubuh, mereka seperti seolah sedang menemui sahabat yang sudah lama tidak ditemui.
Yang mengejutkan, setelah sepuluh ribu prajurit dan dua ratus pembunuh bayaran Atap Langit itu sampai di depan pasukan penjaga desa, mereka berdiri tegap seolah sedang menunggu pimpinan mereka.
Dari kejauhan tampak tiga orang sedang berkuda menuju ke arah mereka yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan pasukan penjaga desa.
Tiga orang itu tiba di hadapan mereka, mereka melompat turun dari kudanya, mengejutkan salah satu diantara mereka adalah Joan, dia berjalan di depan dan dua orang mengikutinya. Jendral Loe Som Bong dan Letnan Jenderal Loe Soe Sha mengikutinya dari belakang, mereka menundukkan sikap hormat kepada Joan.
Tentu saja itu sukses membuat pasukan penjaga desa terheran-heran, tidak bisa membayangkan mengapa Jendral Loe Som Bong yang terkenal garang itu begitu mudah untuk ditundukkan. Meskipun mereka dahulu juga mengalami proses penundukkan seperti yang dialami oleh sepuluh ribu prajurit itu tetapi mereka tidak dapat mengingat hal itu. Itu hanya sekedar terlihat seperti mimpi.
Jendral Loe Som Bong dan seluruh pasukan prajurit nya dipimpin untuk masuk ke desa Genteng. Mereka semua disambut dengan meriah oleh penduduk desa, mereka berpikir bahwa Jendral Loe Som Bong sudah menyadari bahwa penduduk desa Genteng sebenarnya tidak berniat memberontak sehingga dia mau berdamai dengan mereka.
Kesan itulah yang sengaja ditanamkan oleh Joan kepada penduduk desa sehingga mereka menerima dengan senang hati itu. Penduduk desa yang diungsikan segera dibawa pulang kembali ke desa.
Little Fox terkejut dengan kehadiran Jenderal Loe Som Bong yang dia kenal sebagai pengikut yang paling setia dari pangeran pertama yang membenci saudara ketiganya.
Malam itu semua mereka berpesta dan bersyukur karena peperangan itu tidak terwujud. Penduduk desa sangat senang karena mereka terhindar dari kesulitan dan kesusahan perang.
Buat mereka tidak perduli bagaimana proses perdamaian itu terwujud. Yang paling penting adalah peperangan itu tidak terjadi sehingga mereka bisa kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa.
Para penjaga desa pun senang karena mereka tidak perlu bersimbah darah untuk mempertahankan desa tersebut, mereka kembali dengan tugas-tugas rutin mereka seperti biasanya.
__ADS_1
Keadaan di pos penjagaan kembali seperti semula, jalan baru ke arah hutan tidak terlihat lagi.
Ketenangan kembali seperti sediakala. Keesokan harinya pasukan prajurit dari provinsi Kubar dan kota Krikilan kembali ke daerah mereka dipimpin oleh Letnan Jenderal Loe Soe Sha. Dia melaporkan kepada pimpinannya bahwa mereka tidak jadi berperang karena Badan Otorita Desa Genteng tidak berminat untuk memberontak dan Jenderal Loe Som Bong masih tinggal sementara di desa Genteng untuk memantau kondisi desa Genteng.
Gubernur provinsi Kubar sangat senang dan menyambut baik berita tersebut. Dia senang bahwa provinsi Kubar terlepas dari dampak yang mengerikan kalau peperangan itu terjadi.
Hanya dia menyadari perubahan perangai Letnan Jenderal Loe, Gubernur melihat bahwa Letnan Jenderal Loe kelihatan lebih bisa menguasai diri daripada sebelumnya.
Hari-hari kembali berjalan seperti biasanya, ada ketenangan sebelum badai. Tidak adanya laporan ke ibukota menyebabkan kecemasan pada pihak pangeran pertama. Tidak ada satupun berita yang masuk, baik dari pasukan Jenderal Loe Som Bong juga dari pasukan pembunuh Atap Langit.
Hal ini menimbulkan masalah tersendiri bagi organisasi pembunuh Atap Langit karena mereka sudah kehilangan seperempat anggotanya. Penyerbuan pertama menghilangkan tiga ratus orang dan penyerbuan kali ini menghilangkan dua ratus pasukan elit mereka.
Mereka menjadi sangat penasaran, bertanya-tanya apa yang terjadi, mau bertanya kepada siapa? Apa kepada rumput ilalang! Tidak ada yang bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Kemana perginya semua orang itu, sepuluh ribu pasukan prajurit lenyap tanpa berita.
Pangeran pertama sangat marah sehingga dia meminta untuk mengirimkan kembali pasukan yang lebih besar. Kaisar yang menerima laporan juga heran akan hal itu karena dia tahu Jendral Loe Som Bong sangat bertanggung jawab, belum pernah sekalipun dia melalaikan tugasnya. Setiap Jendral Loe Som Bong melakukan tugasnya pasti dia akan memberikan laporan secara berkala minimal setiap minggu sekali tetapi ini sudah lewat tiga bulan tidak ada laporan sama sekali.
Mereka tidak berpikir bahwa Jendral Loe Som Bong akan membelot, keluarganya semua ada di ibukota dan untuk apa, dia berkhianat. Kedudukannya sudah sangat tinggi dan ada karir Perdana menteri yang menunggunya saat dia pensiun.
Apakah dia sudah mati tetapi bagaimana mungkin? Sepuluh ribu pasukan prajurit dengan dua ribu pasukan elit yang berilmu tinggi dengan pengalaman panjang di medan perang. Siapa yang akan dengan mudah mengalahkan mereka, apalagi penduduk desa kecil yang tidak memiliki pengalaman pertempuran.
Semua itu tidak masuk di akal mereka, Kaisar mensahkan perintah untuk mempersiapkan kembali pasukan prajurit berjumlah sejuta prajurit tetapi mereka akan dikirimkan bertahap, langkah pertama hanya seratus ribu prajurit, kalau tidak ada kemajuan maka pangeran pertama diberikan kewenangan untuk mengirimkan prajurit dengan jumlah yang lebih besar.
Pasukan prajurit di perbatasan dipanggil untuk memperkuat pasukan ini. Juga kali organisasi pembunuh Atap Langit mengerahkan hampir semua anggotanya untuk turun gunung.
__ADS_1
Mereka sangat penasaran dengan hilangnya anggota organisasi pembunuh Atap Langit di desa Genteng. Kali ini para pemimpin tertinggi ikut dalam penyerbuan tersebut.
Masyarakat Ibukota dikejutkan oleh mobilisasi prajurit yang begitu besar. Mereka bertanya-tanya apakah ada invasi dari negara asing yang sangat kuat dan mereka menjadi sangat heran saat tahu pasukan itu dipersiapkan hanya untuk menghancurkan sebuah kota satelit kecil yang hanya berpenduduk sekitar dua ribu orang.