Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Kaisar


__ADS_3

Sementara Kaisar berbincang dengan Joan, Little Fox bermanja-manja dengan ibunya. Joan semakin gelisah karena tidak mengerti arah pembicaraan Kaisar. Akhirnya dia memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Kaisar.


"Maaf tuan, ijinkan saya bertanya".


Kaisar dalam awal penyambutannya meminta Joan untuk tidak memanggilnya Kaisar tetapi seperti selir Ouyang, Kaisar justru meminta Joan untuk memanggilnya paman tetapi Joan belum berani untuk memanggil dengan sebutan yang sangat dekat itu, dia tetap memanggil tuan kepada Kaisar.


"Silahkan Joan".


"Ehm, begini tuan, bagaimana dengan Andi eh pangeran ketiga, apakah dia sudah dilepaskan dari penjara".


"Oh pangeran ketiga, jangan kuatir, aku tidak lupa tapi biarkan dulu anak keras kepala itu lebih lama di sana".


Kata Kaisar menggoda Joan, sebenarnya Andi sudah dibebaskan. Dari tadi dia sudah ada di sana, hanya dia menunggu untuk melihat apakah Joan akan merindukan untuk bertemu dia.


Andi berdiri di balik tirai di belakang ke dua orang tuanya. tirai itu cukup tebal sehingga Joan tidak bisa melihatnya.


"Tapi tuan ....".


Ucapan Joan berhenti karena tirai terbuka, Andi melangkah keluar dari balik tirai, dia menemui Joan yang tertegun karena tidak menduga bahwa Andi ada di balik tirai itu.


"Nona muda bagaimana kabarmu".


"Ehm baik, kamu sendiri bagaimana?'


"Aku baik-baik saja, terimakasih untuk perhatianmu padaku ".


"Siapa yang memperhatikanmu".


Kata Joan sambil tersenyum malu-malu.


Mereka kemudian duduk berdampingan, keduanya memang belum punya pengalaman berpacaran sehingga keduanya hanya duduk diam-diam saja.


Kaisar dan selir Ouyang melihat hal itu dan dengan penuh pengertian mereka diam-diam meninggalkan tempat itu sambil membawa pergi Little Fox.


"Nona muda, aku merindukanmu".


"Huss, tolong jangan panggil aku nona muda, panggil saja hambamu ini Joan, pangeran ketiga yang terhormat ".


"Joan, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menipumu, aku hanya takut...."


"Takut apa...., takut aku menagih pembayaran masak buburmu".


Joan menggoda Andi ...


"Tentu saja tidak, aku hanya takut engkau tidak mau menerimaku andaikata kamu tahu aku seorang pangeran dan aku juga tidak mau membuat jarak antara kita".


"Aku mengerti, aku tidak perduli siapa dirimu. Aku ....".


"Kenapa dengan dirimu....".


Karena gugup, Andi memotong ucapan Joan".


"Aku mencintaimu Andi tetapi aku kelihatannya tidak bisa menikah denganmu?".


"Kenapa Joan?, aku juga mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Mengapa kamu tidak bisa menikah denganmu?"

__ADS_1


Andi tidak mengerti kenapa Joan mengatakan hal demikian. Dari kecil sampai dewasa, dia tidak pernah dekat dengan perempuan kecuali ibu dan adiknya.


Dia menderita kutukan dari sejak dia lahir yang membuatnya sulit untuk menerima kehadiran perempuan dalam hidupnya, itu juga membuatnya tidak bisa menerima rangsangan bahkan dari perempuan yang tercantik dan menggairahkan.


Kegagalan dalam pengobatan yang dilakukan oleh ibunya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya atau orang lain di istana kecuali para penjaga bayangan yang juga teman dekatnya karena penjaga bayangannya sudah bersamanya sejak mereka masih kecil, membuatnya menjadi dingin terhadap perempuan.


Kehadiran Joan dalam hidupnya dan kebersamaan mereka selama di desa Genteng, mungkin juga akibat dari bubur dan air mistis yang selalu dimakan dan diminumnya selama di desa Genteng, perlahan-lahan memulihkan tubuhnya bahkan saat bersama Joan, dia bisa merasakan bahwa bukan hanya dia bisa menerima kehadiran Joan tetapi juga dia tahu bahwa kejantanannya juga mulai bangkit dengan sendirinya.


Dia rasa, dia tidak mungkin lagi berpisah dengan Joan tetapi mengapa Joan mengatakan bahwa dia tidak mungkin menikahnya, apa alasan sebenarnya dia mengatakan hal itu. Andi sungguh-sungguh menjadi bingung.


"Kenapa Joan?"


Andi menghadapkan dirinya pada Joan dan memegang ke dua tangannya.


Joan hanya menatapnya saja, matanya berkaca-kaca.


Andi semakin kalut, tangannya semakin keras mencengkeram tangan Joan.


"Eng, sakit".


"Oh maafkan aku".


"Tapi kenapa?".


Joan menatapnya kembali dan sambil menahan tawanya, Joan berkata;


"Ya karena Kaisar sudah mengeluarkan titah untuk ku".


"Titah apa Joan, aku akan meminta Kaisar membatalkannya".


"Tentu saja, kenapa tidak!".


Kata Andi dengan tegas, dia lebih rela meninggalkan gelarnya sebagai pangeran ketiga daripada harus kehilangan Joan.


"Ha ha ha".


Joan tidak bisa menahan tawanya.


"Mengapa kamu tertawa".


"Aku mungkin tidak bisa menikahimu Andi karena Kaisar sudah mengeluarkan titah untuk memberikanku pernikahan dengan salah satu pangeran".


"Aku kan....."


Barulah Andi menyadari kalau Joan sedang menggodanya. Andi adalah nama yang diberikan Joan kepadanya, Kaisar tidak memiliki pangeran yang bernama Andi, tentu saja Kaisar tidak akan menikahkan Andi dengan Joan tetapi pangeran Yu Han Ney yang mungkin menikah dengannya.


Andi pun spontan memegang bahu Joan lalu menciumnya. Joan pun gelagapan, awalnya dia mencoba mendorong dada Andi tetapi kemudian dia pelan-pelan mulai menikmati ciuman itu sampai membuatnya nyaris tidak bernafas sehingga mukanya memerah.


"Hmph....".


Joan tersengal-sengal mencoba untuk bernafas.


Andi yang mendengar itu segera melepaskan mulutnya dari Joan.


Joan memukuli dada Andi dengan muka yang cemberut.

__ADS_1


Ciuman pertamanya sukses dicuri oleh Andi. Senang, tentu saja karena dilakukannya dengan orang yang dicintainya.


Andi merasakan manisnya bibir Joan, merasa ketagihan tetapi saat dia mau melakukannya lagi. Joan segera mendorongnya karena melihat Kaisar dan selir Ouyang sedang masuk ke dalam ruangan paviliun itu.


Melihat wajah Joan yang memerah, Kaisar dan selir Ouyang tersenyum.


Joan bertambah malu...


"Tuan, bibi".


Joan memberikan hormat kepada kedua orang tua itu.


"Ayolah Joan, kamu panggil selir ku bibi, kenapa panggil aku tuan. Panggil aku paman juga".


Kata Kaisar dengan santai tidak terlihat lagi kewibawaannya sebagai Kaisar tetapi lebih seperti orang tua pada umumnya.


Pandangan Joan pun berubah lebih hormat kepada Kaisar, mulanya Joan marah terhadap Kaisar karena dia pikir Kaisar tidak bijaksana, mendengarkan hasutan pangeran pertama dan memenjarakan Andi.


Joan teringat apa yang dikatakan oleh Mo Yi bahwa apa yang terlihat belum tentu apa yang terjadi.


"Hem".


Kaisar berdehem melihat Joan yang terdiam.


"Oh maaf tu.... eh Paman".


"Ha, ha, ha, ha"


Kaisar senang sekali karena Joan mau memanggilnya paman. Dia tidak lagi merasa iri terhadap selirnya. Kadang memang orang kalau sudah tua itu sering sifatnya jadi kayak anak-anak lagi.


Kaisar mengajak mereka untuk duduk, Joan dan Andi menunggu ayah dan ibunya duduk dulu baru mereka berdua duduk bersama di hadapan mereka.


"Bagaimana? Kudengar dari Little Fox bahwa Joan mau menolak anugerah yang aku berikan".


Kata Kaisar terhadap Joan.


"Tidak paman, maksud ku Kaisar. Em paman".


Joan jadi salah tingkah.


"Aku memang ingin paman mempertimbangkan kembali untuk menganugerahkan gelar Puteri Agung kepadaku karena aku ingin menjadi warga biasa saja, aku tidak ingin mendapatkan sorotan orang dan maafkan, terus terang aku tidak berniat untuk tinggal di ibukota. Aku mau kembali ke desa Genteng sebab disanalah rumahku".


"Hmph"


Kaisar mengernyitkan dahinya heran dengan permintaan Joan, biasanya orang suka untuk menerima anugerah dari Kaisar karena itu bisa mengangkat kehormatan keluarga.


"Aku tidak mungkin mencabut gelar yang sudah kuanugerahkan tetapi tidak masalah untuk kamu kembali ke desa Genteng".


"Terima saja Joan, aku tahu kamu tetap ingin rendah hati tetapi gelar itu tidak akan mengubah apapun dari dirimu. Hanya memang pamanmu harus menganugerahkan gelar itu kepadamu agar kamu layak untuk menikah dengan anak kami".


"Tapi paman, aku belum tentu setuju untuk menikah dengannya?".


"Apaaaa".


Mereka bertiga serentak berteriak.....

__ADS_1


__ADS_2