
Joan terkejut melihat banyaknya prajurit yang dikerahkan untuk mencarinya, bahkan ayahnya, Master Lung dan empat tetua Ji, Ro, Lu, Pat ada juga di sana. Satu sisi dia juga terharu melihat kesungguhan Andi dalam mencarinya.
Andi memegang tangan Joan dengan erat seolah takut kehilangan Joan lagi. Nyonya Be menceritakan kepada Joan bahwa Andi seperti kehilangan rasionalitasnya saat mengetahui hilangnya Joan, dia takut kalau Joan belum ditemukan malam itu, mungkin Andi akan jatuh dalam depresi.
Mereka semua segera kembali ke desa Genteng malam itu juga. Seluruh desa Genteng hidup dengan nyala lampu dan hampir seluruh penduduk desa itu tidak ada yang tertidur, mereka semua sangat gelisah mendengar nona pertama mereka menghilang.
Jadi saat berita bahwa Joan telah diketemukan dan mereka dalam perjalanan pulang kembali ke desa Genteng, semua orang berdiri berdesakan di gerbang desa.
Sinar suar ditembakkan dari tebing-tebing lembah Harau menandakan kedatangan rombongan prajurit yang kembali. Penduduk desa yang sudah bersiap, tidak lagi berdiri seperti gerombolan, mereka berbaris rapi, berjajar di kedua sisi jalan untuk menyambut kedatangan Joan.
Derap kaki kuda terdengar riuh dari kejauhan dan semakin mendekati gerbang desa, nampak panji-panji pasukan penjaga kota Krikilan di barisan paling depan, diikuti kereta kuda yang ditumpangi Joan dan nyonya Lam Be Mu. Andi kembali menaiki kudanya sendiri sejajar dengan kereta Joan.
Suara pekik sorak terdengar sepanjang jalan desa Genteng. Joan menjadi terharu saat mengetahui penduduk desa itu sudah berdiri seharian untuk menunggu berita itu.
Tiba di aula desa Genteng, Joan dan nyonya Be turun dari kereta. Joan langsung disambut ibu dan adik-adiknya, ibu dan adik bungsunya tidak bisa menahan air matanya dan mereka bergantian memeluknya.
Setelah beberapa pertukaran kata sambutan dari ketua Badan Otorita Desa Genteng dan Kepala sekolah Pedang Terbang, mereka kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Nyonya Be segera diantar menuju tempat penginapannya. Meskipun rombongan sekolah Pedang Terbang datang sebagai tamu resmi tetapi mereka tetap membayar biaya untuk konsumsi dan akomodasi selama mereka ada di desa Genteng.
Di rumah, Joan dikelilingi oleh keluarganya yang sebenarnya ingin mendengar tentang pengalamannya selama di ibukota tetapi saat ini mereka lebih tertarik untuk mendengarkan cerita kehilangan dirinya di hutan Pinus itu.
Mulanya Joan berpikir bahwa apa yang dia lihat adalah ilusi, bagaimana mungkin dia ada didaratan besar tiba-tiba ada di sebuah pulau tetapi kemudian dia menyadari bahwa kabut tipis itu adalah sebuah portal yang menghubungkan dia ke dunia atau tempat yang lain.
Joan mengeluarkan lukisan tentang keluarga yang terdiri dari tiga orang itu. Saat melihat lukisan itu, ibu Joan tiba-tiba menutup mulutnya dengan tidak percaya, matanya berkaca-kaca dan dia melihat suaminya dengan tatapan kosong.
Pak Joko memandang lukisan itu, dia mendesah dengan kuat seolah mau melepaskan beban di hatinya. Dia menatap setiap orang yang ada di sana, Isterinya, Andi, ke tiga anaknya, akhirnya berakhir pada Joan.
__ADS_1
"Semuanya, aku akan mengakuinya sekarang".
Mereka semua di ruangan itu memandangnya, tidak mengerti apa yang akan diucapkan kecuali istrinya. Joan merasa ketegangan, dadanya sedikit sakit. Andi yang berada disampingnya merasakan ketegangannya, dia memegang tangan Joan untuk menguatkannya. Andi merasa ada sesuatu rahasia yang akan terbuka malam ini. Pak Joko mendesah lagi sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Joan sebenarnya bukan anak kami".
Ibu Joan tidak bisa menahan dirinya lagi, dia menangis dan meninggalkan ruangan itu. Ketiga adik Joan tidak mengerti arti perkataan ayahnya, mereka hanya tertegun mendengar hal itu.
"Yah, Joan benar, kamu bukan anak kandung kami. Dalam perjalanan kami keluar dari ibukota, kami bertemu dengan sepasang suami istri yang membawa bayinya. Mereka tampak lelah dan tidak bersemangat, mereka sedang dalam pelarian karena dikejar oleh musuh-musuh mereka."
Joan terdiam mendengarnya, ia sebenarnya ingin lari mendapatkan ibunya tetapi dia ingin mendengarkan kelanjutan cerita ayahnya. Ia sungguh-sungguh ingin mendengarkan kejelasan tentang siapa dirinya.
"Ayah dan ibumu menitipkan dirimu kepada kami, saat itu kami belum memiliki seorang anakpun, jadi kami dengan senang hati menerimamu tetapi mereka katakan bahwa kamu agak lambat dalam merespon dan mereka kuatir bahwa kamu akan menderita keterbelakangan mental. Tetapi ibumu sudah jatuh hati saat melihatmu, jadi kamu mengabaikan hal itu. Kami tetap menerimamu dengan senang hati. Joan itu memang namamu yang sebenarnya yang diberikan oleh kedua orang tua kandungmu".
"Liontin yang kamu pakai itu diberikan oleh kedua orang tuamu sebelum mereka meninggalkanmu. Mereka berjanji akan menjemputmu kalau mereka berhasil menyingkirkan musuh-musuhnya, tetapi sampai hari ini mereka tidak pernah kembali".
"Maafkan kami Joan, sebenarnya kami memiliki keinginan yang egois, kami benar-benar menyayangimu sehingga kami tidak ingin mereka kembali untuk menjemputmu".
Joan sedikit marah mendengar perkataan jujur pak Joko, kalau mereka tidak ingin orangtuanya menjemputnya kembali bukankah itu secara tidak langsung, pak Joko dan isterinya menghendaki agar orang tua kandungnya tidak selamat dari pengejaran musuh-musuhnya.
Tetapi Joan tidak bisa marah terhadap mereka, justru dia sangat berterimakasih. Meskipun perkataan terakhir pak Joko terdengar egois tetapi itu karena mereka sangat menyayanginya.
Dia memiliki keterbelakangan mental sejak bayi, betapa merepotkannya memelihara bayi yang seperti itu, dia terlambat berbicara dan berjalan. Orang tua nya sudah mengerti kondisinya tetapi mereka masih mau menerima dan merawatnya sepenuh hati. Bagaimana dia bisa marah terhadap mereka.
"Terimakasih ayah atas kejujuranmu. Aku menyayangimu, aku akan tetap menjadi anakmu meskipun mungkin aku akan menemukan orangtuaku yang sesungguhnya".
__ADS_1
Joan memeluk ayahnya sambil mengatakan hal itu. Adik-adiknya menangis dan semua datang memeluknya.
"Kakak Joan jangan tinggalkan kami, hiks hiks hiks".
"Tidak kakak tidak akan meninggalkan kalian, kalian akan tetap menjadi adik-adik ku".
Joan melepaskan pelukannya, dia mengusap air matanya dan berjalan menuju ke kamar ibunya. Ibunya sedang duduk dipinggir ranjang, menangis sambil menangkupkan wajahnya di atas bantal.
Joan berjalan sampai di depan ibunya. Joan berlutut di depannya, dia mengambil tangan ibunya dan menciuminya sambil menahan tangisnya. Ibu Joan yang merasakan tangannya ditarik dan diciumi Joan, mengangkat kepalanya dari bantal, memandang Joan dengan tidak percaya, dia pikir Joan akan marah saat mendengar kenyataan tentang orang tua kandungnya.
"Maafkan ibu Joan".
"Tidak ibu, Joan yang meminta maaf, Joan yang selama ini sudah menyusahkan ibu. Joan menyayangi ibu. Ibu selamanya akan menjadi ibu Joan apapun yang akan terjadi nanti".
Kata Joan menjawab perkataan ibunya sambil terus menciumi tangan ibunya. Ibu segera mengangkat tubuh Joan. Joan cepat bangkit berdiri. Mereka berpelukan, ibu Joan sangat gembira mendengar perkataan Joan. Dia menciumi wajah Joan.
"Ibu sangat mencintaimu, kamu akan tetap selalu menjadi anak pertama kami".
"Ya bu, aku akan selalu menjadi anakmu. Ibu tidak perlu bersedih lagi. Selamanya aku akan jadi anakmu".
Malam itu ditakdirkan menjadi malam yang sangat panjang. Esok harinya semua orang bangun dari tidurnya dengan lingkaran panda di mata mereka.
Selamat malam, jangan tidur terlalu malam ya biar tidak ada mata panda besok. Kalau sempat coba lihat juga novel pertama ku dengan judul Kesempatan Kedua.
Oke, terimakasih dan jangan lupa bahagia
__ADS_1