Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Sepihak


__ADS_3

Beberapa jam ditunggu, tidak ada laporan dari garis depan, tidak juga ada yang kembali. Dua ribu pasukan elite dari pangeran pertama yang menunggu tidak lagi sabar untuk menunggu.


"Jendral A Bong, sudah lama tidak ada kabar dari pasukan letnan jenderal Loe, jangan-jangan mereka sudah melarikan diri".


"Lari kemana ini, jalan satu-satunya untuk keluar-masuk menuju desa Genteng hanya melalui jalan ini, mungkin mereka sudah membelot".


Tidak ada satupun dari pasukan itu yang percaya bahwa delapan ribu prajurit itu akan kalah dari pasukan yang dimiliki desa Genteng.


Mereka lebih percaya bahwa tidak ada sama sekali laporan yang diberikan oleh pasukan Letnan Jenderal Loe ini karena mereka melarikan diri atau bahkan membelot.


Mereka mendengar percakapan bernada keberatan dari pasukan yang berasal dari provinsi Kubar untuk menyerang desa Genteng juga keberatan dari pemerintah provinsi saat mereka menyampaikan maksud tujuan mereka untuk meminta tambahan pasukan untuk membantu menyerang desa Genteng.


Tebakan mereka nyaris benar karena pasukan prajurit yang dipimpin Letnan Jenderal Loe memang membelot tetapi tidak seperti dugaan mereka karena pasukan prajurit ini membelot bukan dengan sukarela tetapi oleh pengaruh cap jiwa yang dikerjakan oleh Joan dalam ruang dimensi pertaniannya.


Sebenarnya kemampuan ruang dimensi mencap jiwa hanya maksimal seribu orang sehingga untuk mencap jiwa delapan ribu pasukan prajurit itu akan menemui kesulitan jika dilakukan secara normal.


Itulah sebabnya Joan memodifikasi caranya. Dia memakai aray halusinasi untuk mengalihkan perhatian pasukan prajurit itu untuk memasuki padang rumput yang berisikan tanaman bunga dan rumput yang mempunyai efek memperkuat halusinasi sehingga prajurit itu menjadi seperti orang mabuk.


Strategi ini diberikan oleh Blue saat mereka berkomunikasi untuk merundingkan cara menghadapi penyerbuan ini. Mengingat penyerbuan oleh pasukan pembunuh Atap Langit yang menimbulkan beberapa korban terluka, Joan tidak ingin ada satupun dari penduduk desa yang ada dibawah perlindungannya menjadi korban akibat dari ketidaksukaan orang lain terhadapnya.


Penduduk desa setiap pagi berlatih beladiri tetapi bagi Joan itu bukan untuk dipakai dalam pertempuran tetapi sebagai bagian dalam menjaga kesehatan tubuh dan sarana untuk pembelaan diri atau membela kepentingan orang yang lemah.


Selama orang-orang ini ada dalam jangkauan pengawasannya, dia benar-benar tidak mau ada seorangpun terluka atau mati. Kalaupun mereka bertugas di luar, dia selalu mewanti-wanti mereka agar sedapat mungkin menghindari perkelahian dan menjaga diri baik-baik agar tidak ada yang menjadi korban.


Itu sebabnya Joan menginginkan mereka untuk terus meningkatkan kemampuannya karena di benua Etam itu, hanya kekuatan yang dihormati. Meskipun demikian, Joan selalu memesankan kepada mereka untuk tidak menjadi sombong dan tetap rendah hati.


Mereka memasuki ruang ilusi sehingga mereka bisa diatur untuk masuk bergantian dalam kelipatan seribu orang prajurit.

__ADS_1


Saat mereka keluar, mereka keluar diujung jalan keluar yang berbeda dari pintu masuk, disana sudah ada penjaga bayangan yang akan membawa mereka ke gerbang desa. Joan tidak mengganti nama-nama prajurit itu karena dia tidak memiliki rencana untuk membuat mereka menjadi prajurit pembantu di desa Genteng.


Joan berencana untuk mengembalikan mereka kembali ketempat asal kediaman mereka sehingga para prajurit ini tidak menyadari bahwa dalam jiwa mereka sudah diberikan tanda kepemilikan yang membuat mereka mematuhi perintah Joan.


Untuk pasukan prajurit elit milik pangeran pertama, Joan memiliki rencana sendiri. Joan hanya mau mengambil orang-orang dengan latar belakang perampok dan pembunuh untuk menjadi penjaga desa itu.


Untuk prajurit, dia tidak memiliki niat untuk merekrut mereka menjadi pasukan miliknya yang tinggal di desa itu karena dia tahu bahwa mereka tulus mengabdi kepada negara untuk melayani dan melindungi masyarakat. Sayangnya banyak dari abdi negara yang seharusnya menjadi pengayom dan pelindung masyarakat justru menjadi alat penguasa untuk menindas masyarakat yang seharusnya mereka layani.


Banyak orang saat masih merintis kekuasaan memberikan janji-janji manis untuk melayani dan berjuang bagi kepentingan masyarakat, melayani dengan hati tetapi saat kekuasaan sudah ditangan, kenyamanan membuat mereka lupa memelihara motivasi awal mereka.


Menunggu tanpa kepastian akhirnya membuat para prajurit itu menjadi jenuh.


"Para komandan pasukan, siapkan diri kita akan menyerbu masuk meskipun belum ada laporan dari garis depan".


"Ayo maju dan kalahkan musuh-musuh kita. Mereka harus tahu kekuatan pasukan elite dari pangeran pertama. Jangan permalukan diri kalian".


Kali ini Jendral A Bong memimpin sendiri pasukannya. Dua ribu pasukan kavaleri berkuda dan didukung oleh dua ratus pembunuh bayaran Atap Langit segera menyerbu melalui jalan yang ditinggalkan oleh pasukan Letnan Jenderal Loe sebelumnya.


Tidak seperti pasukan Letnan Jenderal Loe yang sempat berhenti di depan pintu gerbang desa, mereka sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang situasi di daerah itu karena tidak ada satupun yang pernah ke desa Genteng.


Mereka segera berbelok dan menyusuri jalan di dalam hutan itu. Dugaan bahwa pasukan Letnan Jenderal Loe membelot menjadi semakin kuat karena tidak ada tanda-tanda bekas pertempuran di sepanjang jalan yang mereka lalui.


Tidak ada korban, tidak ada bercak darah, tidak ada senjata yang tertinggal, hanya ada jejak-jejak kaki saja di tanah yang berdebu.


Mereka tiba di padang rumput yang luas yang dipenuhi oleh tanaman bunga, seperti pasukan prajurit yang datang sebelumnya.


Sama seperti para prajurit di bawah pimpinan Letnan Jenderal Loe, prajurit yang dipimpin komandan itu masuk ka taman bunga itu dan lenyap barisan per barisan pasukan sampai orang terakhir, tidak terkecuali dua ratus orang pembunuh dari organisasi pembunuh bayaran Atap Langit.

__ADS_1


Jendral A Bong yang terakhir tiba, terkejut melihat semua pasukannya lenyap dari garis pandangnya. Sebagai jenderal yang sudah berpengalaman dalam banyak peperangan, dia selalu berhati-hati dengan apa yang dia akan lakukan.


Jendral A Bong turun dari kudanya dan dia memeriksa lokasi yang ada di sekitarnya tetapi dia tidak menemukan keanehan apapun, semua tampak normal di hadapan nya.


Dengan membawa tombaknya, dia melangkahkan kakinya ke dalam taman bunga itu dengan kewaspadaan yang tinggi. Jendral A Bong mulai merasakan sensasi keharuman yang aneh menyelimuti dirinya, dia merasa tenang juga nyaman.


Biasanya hatinya selalu gelisah, dia sudah lama sulit tidur, jiwanya tidak bisa tenang karena dia sadar bahwa dia banyak melakukan hal-hal yang buruk bersama pangeran pertama. Saat itu dia benar-benar merasakan damai, dia merasa melankolis, tanpa sadar air matanya meleleh.


Ingatannya melayang ke masa kecilnya saat dia ada di kampung bersama dengan kedua orang tuanya, menggembalakan ternak sapi di padang rumput. Itu masa-masa yang menyenangkan, bebas dari segala bentuk intrik kekuasaan.


Jendral A Bong merasa sangat lelah, dia ingin beristirahat dari semua persoalan hidupnya. Hari itu dia merasa menemukan oase setelah mengembara begitu lama dalam padang gurun kehidupan.


Dia jatuh terduduk dengan air mata yang terus meleleh di pipinya membasahi janggutnya.


Dia meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya. Menarik kepalanya diantara kedua lututnya dan menangis terisak-isak.


Jendral A Bong tidak pernah menangis sejak dari dia keluar dari desanya untuk menempuh karier militernya, hari ini semua beban pikirannya benar-benar terlepas dari hatinya.


Dia merindukan hari dimana dia benar-benar bisa kembali hidup sebagai orang merdeka yang hidupnya tidak diatur orang lain.


Tidak diperalat untuk melaksanakan tugas yang bertentangan dengan nuraninya. Dalam awal karir nya, mulanya dia melayani dengan ketulusan dan kejujuran . Seiring dengan peningkatan kedudukannya, mulai dia goyah dan tergiur dengan tawaran -tawaran untuk bermain dengan kekuasaan.


Akhirnya dia bergabung dengan pangeran pertama yang menjanjikan kedudukan sebagai perdana menteri kalau pangeran pertama berhasil menjadi Kaisar.


"Get On"


Suara lembut yang mengoyak jiwanya terdengar di udara.

__ADS_1


__ADS_2