
Komplek rumah kediaman keluarga Melly tidak jauh dari danau. Itu sebabnya Melly hanya berjalan kaki, lagian Melly berasal dari desa, dia lebih suka berjalan kaki kemana-mana asal tidak terlalu jauh dari rumahnya, lebih sehat dan gratis.
Hanya butuh berapa menit untuk sampai di rumah Melly, komplek itu terdiri dari berapa rumah, ada tembok yang mengelilinginya, sesampainya di depan gerbang, para penjaga yang mengikuti mereka segera membubarkan diri kembali ketugasnya masing-masing.
Melly mengajak Joan, Little Fox dan Ocha ke dalam rumah utama yang terlihat lebih besar dibandingkan rumah-rumah yang lain.
Saat mereka masuk ke dalam ruang tamu, ada berapa orang yang sedang duduk di sana. Gadis yang menampar dirinya sendiri itu ada duduk disebelah seorang perempuan paruh baya yang terlihat sedang mengoleskan minyak ke pipi gadis itu yang terlihat bengkak memerah.
Saat melihat Joan masuk ruangan itu bersama Melly, dia segera bangkit dari tempat duduknya dan berteriak;
"Itu gadis kampung yang memukuliku, kakak, mengapa kamu membawanya kembali? Penjaga cepat datang ke sini, bunuh anak kampung ini untuk ku".
Joan memandangnya seperti orang bodoh, dia melihat gadis yang berteriak dengan panik, tidak memperhatikan bahwa Melly masuk dengan menggandeng tangan Joan.
Sebelum Melly sempat berkata apa-apa, tuan Wang yang duduk di depannya segera berdiri dan menempeleng pipi gadis itu sehingga pipinya menjadi bengkak kembali.
"Diam, siapa yang kamu sebut sebagai gadis kampung, kamu tidak tahu siapa perempuan muda ini".
"Nona muda, terimalah salam hormat ku".
Tuan Wang membungkukkan badannya sedikit untuk menunjukkan penghormatannya.
Semua orang di ruangan itu menjadi terhenyak melihat tuan Wang begitu menghormati Joan seperti bawahan terhadap atasan. Siapa tuan Wang! dia adalah salah satu pedagang kaya di ibukota yang dihormati banyak orang tetapi sekarang dia menundukkan diri pada bocah yang seumuran dengan puterinya.
"Tuan Wang, lama tidak bertemu".
Jawab Joan sambil menunjukkan penghormatannya pada tuan Wang.
Gadis itu tidak percaya bahwa tuan Wang akan menampar pipinya kembali, dia menangis tersedu-sedu dipelukan ibunya sambil melihat drama yang terjadi dihadapannya.
"Siapa nona muda ini?".
Tanya tuan Bai kepada tuan Wang.
"Dia Joan, sahabat ku, juga pemilik desa Genteng".
Kata Melly dengan bangga.
"Oh jadi kamu Joan yang sudah merampas tanah kakak ipar dengan tipu daya, kebetulan kamu ada disini, aku akan menuntut mu atas perampasan tanah".
Tuan Wang dan Melly terperangah mendengar perkataan tuan Bai, mereka tidak pernah mengatakan hal yang demikian kepada keluarganya. Tuan Wang menceritakan bahwa tanah mereka seluruhnya sudah dibeli oleh Badan Otorita Desa Genteng dengan harga yang wajar karena tuan Wang ingin kembali ke ibukota untuk berkumpul dengan Melly.
"Adik Ipar, apa yang kamu katakan. Aku sudah berkali-kali menceritakan bahwa tanahku sudah dibeli oleh Badan Otorita Desa Genteng dengan harga yang pantas. Mereka tidak pernah merampas tanah kami".
__ADS_1
"Kakak ipar tidak perlu kamu menutup-nutupi kebenaran. Wang Junior dan kakak ipar perempuan sudah menceritakan kebenarannya padaku bahwa Joan menindasmu dan menipumu agar kamu tidak bisa lagi menanam padi mistik di lahan sawah mu sehingga kamu terpaksa menjualnya".
"Itu benar, padi yang ditanam sebelumnya sangat hijau dan subur tetapi sejak kami mengambil alih lahan itu, tanaman padi yang kami tanam, daunnya selalu menguning kecoklatan seperti dimakan hama. Pasti, Badan Otorita Desa Genteng yang merusak tanaman padi kami".
Sela tuan muda Wang Junior yang tiba-tiba muncul di ruangan itu.
"Tidak, itu tidak benar...."
Wajah tuan Wang menjadi pucat, dia mencoba untuk membela Joan.
"Tidak perlu menutupinya ayah, biarpun dia teman Melly tetapi keadilan harus ditegakkan, kebetulan dia ada di sini, segera tangkap dia paman, sebelum dia melarikan diri".
Melly langsung berdiri di depan Joan seakan mau melindunginya. Little Fox dan Ocha juga berdiri dan memasang kuda-kuda bersiap untuk melawan. Joan tenang-tenang saja karena dia punya jurus rahasia untuk mengatasi hal itu. Bagus juga kalau punya bawahan di ibukota.
"Penjaga! masuk dan tangkap mereka bertiga".
Tuan Bai berteriak memanggil para penjaga tetapi seiring dengan suara langkah penjaga yang mau memasuki ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara tua yang berwibawa.
"Stop, semua penjaga kembali ke depan rumah".
Satu orang tua yang berumur sekitar enam puluh tahun memakai cheongsam putih terlihat memasuki ruangan itu. Laki-laki tua itu masih terlihat enerjik dan bersemangat.
"Bai Jing An bodoh, kalau kamu mau ke neraka pergilah sendiri, jangan seret keluarga ini bersamamu".
Melly berkata dengan lembut dan dia segera memeluk tangan kanan kakeknya dengan manja.
Kakek nya mengelus rambut Melly, mendorongnya dengan lembut, kemudian dia memberikan penghormatannya kepada Joan dan Little Fox bersaudara.
Joan, Little Fox dan Ocha membalas penghormatan itu.
Little Fox dan Ocha memang adalah putera-puteri Kaisar tetapi mereka tidak punya kedudukan di istana jadi para pejabat tidak perlu harus berlutut menyambut mereka.
"Maafkan kami yang punya mata tapi tidak bisa melihat ini, Kami memang layak menerima hukuman".
Kata kakek Melly lagi.
"Si...siapa mereka ini, mengapa ayah kelihatannya sangat menghormati mereka ".
Pikir keluarga dari Melly.
"Ayah mertua, siapa mereka, bukankah gadis itu dari desa Genteng yang kecil, kenapa ayah begitu menghormatinya".
Tuan Bai menjadi takut ketika melihat ayah mertuanya yang adalah menteri kehakiman di istana kekaisaran memberikan penghormatan kepada ketiga anak muda yang berpakaian sangat sederhana dan tidak terlihat seperti keluarga kekaisaran.
__ADS_1
Jabatan ketua kehakiman ibukota diperoleh tuan Bai oleh karena mertuanya, jadi dia sangat menyegani ayah mertuanya.
"Kamu punya telinga tetapi tidak kamu pakai untuk mendengarkan dan punya mata tapi tidak melihat".
"Bukankah kamu dengar Kaisar sudah menganugerahkan gelar Adipati kepada penguasa Badan Otorita Desa Genteng dan juga gelar Puteri Agung kepada gadis yang kau sebut dari desa ini. Apakah kamu mau melawan titah Kaisar, kamu memang patut dihukum mati dengan mau menghakiminya".
Tuan Bai Jing An terkejut sehingga tidak terasa badannya menjadi gemetar. Dia memang mendengar berita itu tetapi karena kemarahannya melihat puterinya pulang dengan wajah bengkak dan mengaku kalau baru dianiaya oleh seorang gadis kampung. Dia menjadi marah dan melupakan cerita yang baru seminggu lalu didengarkannya.
Tuan Bai Jing An dengan gemetar berlutut di hadapan Joan.
"Hamba menghormati Puteri Agung, maafkan hamba yang tidak mengenal Puteri Agung".
"Dan kamu tahu siapa mereka berdua".
Kata kakek atau menteri Wang Gi Ro kepada tuan Bai Jing Ang.
Tuan Bai Jing An menjadi lebih takut lagi mendengar perkataan menteri Wang
"Se..se...siapa mereka".
Katanya dengan lemah.
"Mereka adalah putera dan Puteri Kaisar, Pangeran ke lima dan Puteri kecil yang sangat disayangi Kaisar, mereka pemilik jaringan rumah makan Selera Kita"
Ucapan menteri Wang sontak mengagetkan semua keluarga Wang. Jangankan putera Kaisar, sebagai pemilik dari rumah makan Selera Kita saja, itu sudah harus membuat mereka menundukkan kepala mereka, sebab semua orang di ibukota tahu rumah makan itu milik selir Ouyang yang sangat dicintai oleh Kaisar dan anak dari Jendral Besar yang sangat berjasa di negara Kekaisaran Langit.
"Ampun tuanku maafkan aku yang punya mata ini namun buta".
Tuan Bai Jing An kembali berlutut diikuti oleh seluruh keluarga Wang yang berada di ruangan itu segera ikut berlutut untuk menghormati keluarga kekaisaran.
Little Fox segera mengangkat tangannya.
"Berdiri lah, tidak perlu semua penghormatan ini, kami datang dengan Joan sebagai teman Melly, tidak perlu lakukan hal seperti itu lagi kepada kami"
"Hanya aku perlu mengingatkan mu tuan Bai Jing An, kalau aku mendengar kamu bersikap semena-mena lagi, maafkan aku kalau aku tidak akan memandang menteri Wang Gi Ro dan aku akan membunuhmu sendiri dengan tanganku"
Kata Little Fox dengan keras.
Semua anggota keluarga Wang terutama sepupu Melly yang tadi mengadukan Joan menjadi takut dan dia segera datang untuk meminta maaf kepada mereka bertiga terutama pada Joan
Tuan muda Wang yang merasa sangat menyesal, dia merasa telah membuang emas ke mulut babi, coba dulu dia menuruti ayahnya untuk mendekati Joan
Kalau bisa beristrikan Puteri Agung, itu pasti mimpi yang menjadi nyata. Sayangnya memang dia hanya bisa sekedar bermimpi untuk selamanya.
__ADS_1