
Setelah makan, Joan mengeluarkan lukisan gambar keluarganya, membalik untuk melihat peta atau mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai denah lokasi karena gambar itu merujuk kepada alamat sebuah rumah di ibukota.
Joan melihat pada gambar denah itu, mengeluarkan token yang dia ambil dari rumah di pulau itu, memperhatikannya lagi, dia tidak mengerti untuk apa token itu digunakan. Joan memasukkan kembali gambar dan token itu ke cincin penyimpanannya.
Setelah menyelesaikan makanannya, mereka pergi mencari tempat penginapan, mendapatkan penginapan itu di dekat alamat yang tertulis di denah dalam gambar itu. Joan memutuskan untuk berjalan kaki bersama Andi ke alamat tersebut.
Itu membawa mereka ke sebuah rumah kuno yang sangat besar, terlihat sudah lama tidak didiami karena kunci gembok yang terpasang di pintu gerbang itu terlihat sudah berkarat dan ada terlihat kertas pengumuman yang ditempel pada pintu itu. Meskipun kertas itu sudah usang tetapi masih sedikit terbaca, isinya menyatakan bahwa rumah itu disegel oleh aparat keamanan, juga keluarga yang mendiami rumah itu didakwa telah melakukan kejahatan kepada kerajaan. Disampingnya kertas pengumuman itu juga ada dua gambar foto laki-laki dan perempuan, ada kata buronan di bawah gambar laki-laki dan perempuan itu.
Andi dan Joan memperhatikan kedua gambar itu, meskipun terlihat buram tetapi Joan masih mengenali bahwa itu gambar foto dari laki-laki dan perempuan yang ada dalam lukisan foto keluarga yang dimilikinya.
Joan terkejut melihat kedua gambar wajah buronan itu, dia tidak mengerti mengapa mereka dinyatakan sebagai buronan karena tidak ada kalimat yang menjelaskan kesalahan mereka dalam kertas pengumuman itu.
Andi mengajak Joan untuk pergi ke belakang bangunan itu, memperhatikan terlebih dahulu keadaan sekelilingnya, saat dirasakan tidak ada orang disekitar tempat itu. Andi memegang tangan Joan dan membawanya untuk melompati tembok rumah itu.
Kondisi halaman rumah itu dipenuhi oleh rumput dan semak yang cukup tinggi, menegaskan bahwa rumah itu memang sudah lama tidak ditempati. Andi mendorong pintu rumah yang ternyata tidak terkunci, masih ada perabotan dalam rumah itu yang dipenuhi dengan debu, terlihat sangat tua.
Joan melihat-lihat sekelilingnya tetapi dia tidak menemukan satu gambar foto pun di dinding. Andi dan Joan masuk ke dalam berkeliling dari satu kamar ke kamar lainnya, melihat di lemari masih ada pakaian di dalamnya, juga alat-alat masak masih ada pada tempatnya seolah-olah orang-orang di rumah itu pergi tergesa-gesa sehingga tidak membawa satu barangpun dari rumah itu.
Tidak mendapatkan apa-apa di sana, itu membuat Joan sangat kecewa, dia merasa putus asa, sepertinya harapannya untuk bisa menyingkap jati dirinya menemui jalan buntu. Andi menatapnya dengan prihatin tapi dia tahu tidak ada gunanya untuk memberikan kata-kata penghiburan bagi Joan pada saat itu. Andi hanya memeluk Joan erat dalam pelukannya.
__ADS_1
Dalam keheningan itu tiba-tiba dari balik tembok itu melompat ke dalam rumah itu sepuluh orang bersenjatakan pedang, mereka segera mengepung Andi dan Joan. Andi melepaskan pelukannya pada Joan, dia memandang kepada pengepungnya, sebelum sempat bertanya, seseorang sudah menyerangnya yang mudah saja Andi menghindari serangan itu dan berbalik untuk menendang orang itu tepat di dadanya. Seorang yang lain mendekati Joan, dia pikir Joan adalah target yang mudah tetapi belum sampai pada tujuannya, Andi sudah tiba di depannya dan memukul orang itu dengan tinjunya. Joan juga tidak tinggal diam, meskipun tidak memakai jurus yang mewah tetapi kecepatan dan kekuatannya cukup mengejutkan ke dua puluh orang itu.
Sebentar saja semua orang itu sudah dibuat pingsan oleh Andi dan Joan. Andi membangunkan seseorang diantaranya dan bertanya kepadanya;
"Siapa kalian, kenapa datang menyerang kami".
"Kami aparat keamanan di kota ini, kalian menerobos masuk ke dalam rumah yang sudah kami segel, itu berarti kalian pasti berhutang baik dengan orang-orang yang tinggal di sini".
"Aparat keamanan".
Joan terkejut mendengar hal itu, ternyata kedatangan mereka memang sudah dipantau, tetapi kalau mereka aparat keamanan, mengapa tidak bertanya-tanya dulu malah langsung menyerang mereka, apalagi orang-orang ini tidak mengenakan baju seragam. Untungnya mereka tidak membunuh mereka, kalau itu terjadi konsekuensinya pasti akan besar sekali.
"Tidak perlu bertanya lagi, kami sudah mengawasi rumah ini selama bertahun-tahun, untuk menjaga kalau ada orang yang akan datang ke tempat ini, kedatangan kalian sudah membuat kami curiga bahwa kalian pasti ada hubungannya dengan penghuni rumah ini, apalagi perempuan muda ini mirip dengan gambar foto buronan itu".
Kata orang itu kembali, Joan pikir dia bisa mengorek keterangan dari penjaga keamanan kota ini, jadi dia mengintrogasi orang itu dan akhirnya dia mendapatkan cerita yang lengkap tentang apa yang terjadi di rumah itu.
Penjaga itu menceritakan bahwa rumah itu milik adik Raja sebelumnya di kerajaan Sendawar. Paman raja ini dituduh telah terlibat dalam pemberontakan sehingga seluruh keluarganya dibasmi dibawah perintah raja yang berkuasa saat itu yang berarti dia adalah keponakan paman raja itu, tetapi seorang anak dan menantunya berhasil meloloskan diri dari pembunuhan itu sehingga mulai saat itu mereka dijadikan sebagai buronan.
Peristiwa itu sebenarnya sudah terjadi cukup lama sekitar tujuh belas tahun yang lalu tetapi raja itu tetap kuatir dengan tindakan balasan dari kedua orang yang dinyatakan sebagai buronan itu sehingga raja mengirim pembunuh bayaran untuk mengejar dan membunuh ke dua orang itu yang dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi, juga raja sudah memerintahkan untuk mengawasi rumah itu setiap hari.
__ADS_1
Andi menoleh kepada Joan dan berkata kepadanya.
"Sepertinya kita tidak bisa berlama-lama lagi tinggal di kota ini".
"Ya benar, kita harus segera meninggalkan kota ini".
Joan menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Andi, Andi menepuk kepala Penjaga keamanan itu untuk membuatnya pingsan kembali.
Andi dan Joan segera meninggalkan tempat itu, kembali ke penginapan nya untuk mengajak Mo bersaudara meninggalkan tempat itu, Joan dan Mo Ying tidak lagi menggunakan kereta, mereka melepaskan kuda-kuda mereka dari kereta itu karena lebih cepat mengendarai kuda daripada membawa kereta itu bersama.
Mereka segera berkuda untuk meninggalkan kota tersebut, sesampainya di gerbang kota, Joan menukarkan token mereka dengan uang deposit mereka.
Kelihatannya berita tentang diri mereka belum bocor ke telinga penjaga kota itu karena tanpa kesulitan, mereka bisa dengan aman meninggalkan kota itu.
Meninggalkan gerbang kota, mereka dengan cepat menghela kuda-kuda mereka menjauhi kota itu.
Belum lama mereka meninggalkan gerbang kota itu, sekelompok prajurit mendatangi gerbang kota dan bertanya kepada penjaga kota tentang Joan dan kawan-kawan.
Prajurit itu segera melaporkan kepada komandannya yang segera memobilisasi pasukan untuk mengejar mereka, dua ratus prajurit berkuda bersenjata lengkap segera terlihat meninggalkan kota untuk mengejar kelompok Joan
__ADS_1