Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Sadar


__ADS_3

Mereka segera menuju ke Puskesmas, kebetulan Puskesmas sedang sepi, hanya ada tabib Sun dan seorang tabib muda di sana. Little Fox segera meletakkan Andi di atas dipan kayu yang dilapisi kain tebal. Gadis itu masih memegang tangan Andi sambil menangis.


Tanpa memperdulikan gadis itu, tabib Sun segera memeriksa cedera di kepala Andi, memberikan sedikit perawatan.


"Sudah jangan kuatir, dia tidak apa-apa. Kepalanya memang terbentur tetapi tidak terlihat adanya luka hanya memar saja, biarkan dia beristirahat dulu. Berapa hari ini dia begitu sibuk, mungkin ini juga dampak dari kelelahan. Ayo keluar semua biarkan pasien sendirian dulu"


Little Fox segera menarik tangan gadis itu yang dengan enggan melepaskan pegangannya dan melangkah keluar dari ruang perawatan itu.


Joan sebenarnya ingin tinggal menjaga Andi tetapi dia merasa dia tidak berhak ada di sana, jadi dia hanya memandang Andi sejenak dan berbalik.


Tiba-tiba dia merasa ada yang memegang pergelangan tangannya, Dia menoleh dan melihat Andi lah yang memegangnya.


"Joan jangan pergi, aku sudah dapat mengingat semuanya sekarang. Aku sudah ingat siapa diriku dan aku juga mengingatmu. Terimakasih sudah menolong dan merawatku selama ini".


Joan melepaskan tangan Andi dan Andi tidak menolak hal itu karena dia tahu Joan perlu waktu untuk mencerna hal itu


Andi mau bangun untuk duduk tetapi Joan menahan bahunya.


"Istirahatlah dulu, jangan kemana-mana, aku akan memanggil tabib Sun untuk memeriksamu"


Joan menjawab dengan dingin tanpa ada kegembiraan yang tersirat dalam perkataannya.


Andi merasa sedikit kecewa dan tidak mengerti.


"Yo mana dia mengerti perasaan perempuan".


Joan keluar dan memanggil tabib Sun kembali.


"Tabib Sun, pasienmu sudah sadar, coba tolong lihat dia lagi"


Tabib Sun segera datang dan masuk ruang perawatan untuk memeriksa kondisi Andi kembali. Dia menanyakan berapa hal dan menyimpulkan.


"Syukurlah, kelihatannya kemalangan ini menjadi keberuntungan, akibat dari kebentur batu ini, ingatanmu jadi pulih kembali, selamat Andi"


"Terimakasih tuan Sun dan maaf namaku yang sebenarnya adalah Yohan tetapi sekarang aku tetap mau dipanggil Andi saja"


Little Fox dan gadis itu yang segera datang menyusul tabib Sun mendengar perkataan Andi dan mereka tercengang, dia mau dipanggil Andi dan tidak mau lagi dipanggil dengan nama aslinya lagi.


Gadis itu tidak memperdulikan hal itu, dia memegang tangan Andi dan sambil tertawa-tawa dia memegang tangan Andi.


"Syukurlah kakak sudah sadar, aku takut tadi waktu kakak jatuh dan pingsan, kakak kok jadi tampan sekarang, dulu kan jelek kayak cewek"


Dengan gayanya yang centil, gadis itu berbicara kepada Andi.


Andi tersenyum dan mengusap rambut gadis itu, dia melihat kepada Little Fox dan memperhatikan tidak ada Joan di ruangan itu. Tabib Sun juga sudah keluar dari ruangan itu


"Joan kemana?"


"Joan siapa kak?"


"Joan, nona muda yang bersama kita tadi".


"Oh namanya Joan, apa dia calon kakak ipar ku, ya kak? "


"Iya, kemana dia"


"Oh dia tadi pergi saat selesai meminta tabib Sun untuk memeriksa mu".


Kata Little Fox....


"Dan wajahnya terlihat murung saat dia pergi dari sini"

__ADS_1


Lanjutnya....


"Kenapa, harusnya kan dia senang karena aku sudah sadar. Itu kan menjadi harapannya selama ini".


Andi tidak mengerti apa yang ada didalam pikiran Joan, mengapa dia bersedih. Tentu saja laki-laki lambat memahami tetapi gadis itu mengerti


"Ehm... kayaknya kakak ipar salah paham".


"Salah paham apa?".


"Iya, salah paham, kakak ipar pasti berpikir aku adalah kekasih kakak saat melihat aku memeluk kakak".


"Habis kakak sekarang terlihat tampan sekali"...


"Hi, hi,hi"


Andi bangun dari tempat tidurnya dan berdiri, dia mengenakan sepatunya yang tadi dilepaskan oleh little Fox dan berjalan keluar dari ruangan itu. Adiknya tetap memegang tangan Andi, tidak mau melepasnya karena perasaan rindu pada kakak yang sudah hampir dua tahun tidak dilihatnya.


Andi membiarkannya dan berjalan bersama dengan Little Fox di belakangnya seperti pengawal mereka.


Mereka segera pergi ke rumah Joan dan sepanjang perjalanan, mereka menarik pandangan banyak orang. Penduduk desa itu segera meledak dalam gosip baru yang mendadak viral di warung-warung kopi.


Tuan Andi punya kekasih baru dan bagaimana dengan boss Joan. Maka ajang taruhan dibuka, apakah boss muda akan mengusir Andi segera atau tidak.


Taruhan berikutnya apakah Andi akan tetap mengejar Joan untuk menjadi kekasihnya meskipun dia sudah memiliki kekasih.


Tentu saja taruhan itu dilakukan diam-diam tanpa setahu boss Joan.


Joan tiba dirumahnya dengan perasaan yang campur aduk, hatinya tidak lagi tenang dan dia kehilangan kegembiraan yang selalu dia rasakan. Joan tidak bisa menipu perasaannya, dia tahu dia menyukai Andi tetapi dia tidak suka berbagi pria.


Seperti ayahnya yang setia dengan satu isteri, diapun menghendaki suaminya nanti juga demikian. Juga karena dia sudah mengetahui adanya banyak masalah dalam keluarga dengan isteri banyak. Isteri-isteri dan anak-anak yang saling berebutan kekuasaan bahkan tidak segan untuk meracuni bahkan membunuh saudara seperti cerita yang dia dengar dari Mo Yi mengenai hidup tuan muda mereka.


Ibu Joan yang sedang merajut baju terkejut melihat langkah Joan yang gontai, dia meletakkan jarum dan benang rajutannya, memanggil Joan untuk datang kepadanya dan memeluknya.


"Tidak, ibu".


Mulut Joan berkata tidak tetapi air mata mengkhianatinya dan itu membuka apa yang ada di hatinya. Air mata tanpa disadarinya sudah meleleh melewati pipi yang ranum itu


Joan membalas pelukan ibunya


"Ada apa Joan, mengapa tidak bercerita pada ibu, mungkin ibu dapat membantumu memberikan saran".


"Andi sudah sadar mak, tadi kepalanya terbentur batu lalu kami bawa ke Puskesmas dan kelihatannya Andi sudah dapat mengingat siapa dirinya".


Joan kalau di depan orang lain, dia memanggil ibu untuk menghormatinya tetapi kalau sendirian dia lebih suka memanggil emak, lebih enak.


"Kok kelihatannya? Apa kamu sudah pastikan bahwa dia benar-benar mengingat dirinya".


"Ya, kayaknya gitu mak, tadi dia sudah bilang dia sudah bisa mengingat semuanya, tapi aku tidak menanyakan lebih detail. Aku tinggalkan dia di Puskesmas".


"Lho kenapa kamu tinggalkan, kamu tidak menemani Andi di sana".


"Aku tidak bisa mak, aku tidak tahan melihat ada perempuan cantik bersamanya, kelihatannya perempuan itu dekat pada Andi. Emak kan tahu kalau Andi gak bisa dekat perempuan tetapi Andi tidak mengusir perempuan itu seperti yang biasa dia lakukan".


"Oh begitu, kamu cemburu ya".


"Ah emak, siapa yang cemburu ".


Wajah Joan bersemu kemerahan, matanya tidak berani melihat wajah emaknya. Joan menundukkan kepalanya.


"Joan jangan buru-buru menyimpulkan sesuatu, apa yang kamu lihat belum tentu seperti yang kamu duga. Temui Andi dulu dan bicarakan dugaanmu, kalau memang benar perempuan itu kekasihnya. Beranikan hatimu untuk menemuinya, kan bagus kalau Andi sudah sadar dan mengingat siapa dirinya. Berani mencintai itu harus juga berani menerima kalau dia ternyata bukan jodohmu. Kau bisa tetap berteman dengannya atau dia bisa menjadi saudaramu. Mencintai dengan tulus itu tidak harus memiliki".

__ADS_1


"Ah emak ini, kayak pernah punya pengalaman ditolak saja atau emak memang benar-benar pernah ditolak pacarnya ya".


Joan menggoda emaknya.


"Dasar anak nakal beraninya menggoda ibunya"


"Ha ha ha"


"Hi hi hi".


Joan tertawa bareng ibunya.


"Sana cuci mukamu dulu, sebentar ibu menemanimu untuk bertemu dengan Andi, mungkin dia masih dirawat di Puskesmas ".


"Ya mak".


Baru mau masuk kamar mandi, di pintu terdengar ketukan


"Tok, tok, tok"


"Permisi..... Joan ada bu".


Adi dan kedua saudaranya berdiri di depan pintu".


"Ada Andi, ayo masuk dulu ke dalam".


Mereka bertiga segera masuk ruangan itu dan gadis itu masih memegang tangan Andi.


Ibu melihat gadis itu memegang tangan Andi dan Andi juga tidak terlihat melakukan perlawanan, meskipun sudah menasehati Joan untuk tidak memikirkan penolakan Andi, tetap saja sebagai seorang ibu yang merasa hati anaknya dipermainkan, ibu merasa sedikit marah tetapi tetap dengan sopan ibu menyuruh mereka untuk masuk dan duduk di sofa di ruang tamu itu.


"Silahkan duduk dan anggap saja ini rumah sendiri, asal jangan digadaikan saja ya nak".


"Iya Bi, kata Little Fox dan saudarinya.


"Sebentar ya Joan masih ada di kamar mandi, sebentar pasti keluar. Tunggu saja dulu".


Tidak lama Joan keluar dan duduk di samping ibunya.


Ibu Joan menunggu Joan datang dan baru menanyakan hal yang sedari tadi tersimpan di benaknya.


"Andi, maaf ibu masih memanggilmu Andi sebab ibu belum tahu namamu yang sebenarnya. Selamat ya karena kamu sudah menemukan ingatanmu".


"Iya bu, Joan. Aku memang sudah dapat mengingat semuanya. Namaku sebenarnya adalah Yohan dan aku berada dari ibukota. Aku tuan muda dari rumah makan Selera kita dan ini adalah adikku, namanya Joel panggilannya Ijul tetapi orang biasa menyebutnya Little Fox dan yang ini".


Andi eh Yohan berhenti bicara sejenak, melihat gadis disebelahnya dengan rasa sayang yang tidak disembunyikannya yang sukses membuat hati Joan merasa berdarah-darah. Andi mengacak rambut gadis itu.


"Gadis ini namanya Rossa biasa dipanggil Ocha, ini adik kami yang bungsu dan perempuan satu-satunya. Ibu, Joan tolong tetap panggil aku Andi. Itu namaku yang resmi di tempat ini, boleh ya".


"Blep...."


Ganjalan di hati Joan langsung lepas, dia melihat ibunya dan ibunya pun melihatnya, mereka kemudian bersama-sama tertawa.


Ketiga bersaudara itu terheran-heran, tidak mengerti apa yang ditertawakan oleh Joan dan ibunya. Setelah menenangkan dirinya.


"Oh kami senang karena kamu sudah mengenali keluargamu dan tentu saja kami akan tetap memanggilmu Andi karena kami sudah akrab dengan nama itu, apalagi Joan yang memberikan nama itu kepada mu".


Gadis itu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Andi. Dia berdiri dan membungkuk sedikit untuk memberi hormat ibu dan Joan. Little Fox juga berdiri dan melakukan hal yang sama.


"Bibi, kakak ipar"


Wajah Joan memerah dan sambil pura-pura marah dia berkata;

__ADS_1


"Siapa kakak iparmu".


__ADS_2